Pagi datang tanpa tangisan. Fakta itu membuat Rafka membuka mata perlahan, lalu mengernyit. Biasanya, pukul enam lewat sedikit, dunia sudah dimulai dengan suara Elio yang protes karena perutnya lebih cepat bangun daripada tubuhnya. Biasanya ada langkah kaki tergesa, botol s**u yang hampir jatuh, dan suara Anggita yang setengah menguap sambil tertawa kecil. Akan tetapi pagi ini—sunyi. Rafka menoleh ke samping. Dia tersenyum kecil saat melihat istrinya, Anggita, masih tidur. Bukan tidur kelelahan seperti biasanya, tapi tidur lelap yang wajahnya damai, alisnya rileks, bibirnya sedikit terbuka. Rambutnya berantakan di bantal, satu lengannya melintang di dadaa Rafka, seolah tubuhnya masih mengklaim tempat itu sebagai miliknya. Rafka tersenyum lebar. Wajahnya bahkan sedikit memerah. Ingatan

