Hari-hari di rumah sakit berjalan pelan, seolah waktu sengaja diturunkan kecepatannya. Bagi Anggita, setiap bangun tidur rasanya seperti kembali dari medan perang kecil. Tubuhnya masih nyeri. Perutnya terasa tertarik setiap kali ia bergerak meski hanya sedikit saja. Jahitan bekas operasi sesar membuatnya harus ekstra hati-hati, bahkan untuk sekadar menarik napas lebih dalam. Rasa sakit itu tidak selalu datang sebagai tusukan tajam. Kadang ia hanya berupa denyut pelan yang menetap, mengingatkan Anggita bahwa tubuhnya baru saja melalui sesuatu yang besar. Sesuatu yang mengubah hidupnya. Namun, dia tidak menyesal karena di setiap gerakan kecil itu—Rafka ada. Pria yang menikahinya hanya dalam waktu dua Minggu setelah mereka bertemu di reuni itu, membuatnya merasa kalau melahirkan tidak seburu

