Pelukan Perpisahan

1458 Kata
Rey berusaha menekan tawa melihat wajah panik Laura. Kenapa sangat menyenangkan mengganggu dosen muda dan cantik di depannya ini. “Tidak terjadi apa pun, jika itu yang membuatmu terganggu, Laura,” ucapnya menenangkan. Rey menggeleng-gelengkan kepala saat melihat Laura mendesah penuh kelegaan. “Lalu bagaimana aku bisa berakhir di kamarmu?” “Karena malam itu kau cukup mabuk. Temanmu entah ada di mana, sementara aku tidak tahu alamatmu. Satu-satunya pilihan yang kumiliki adalah membawamu ke tempatku. Setelah dipikir-pikir, seandainya aku tahu di mana alamatmu aku akan tetap membawamu ke tempatku.” Pernyataan itu membuat kedua mata Laura melebar. “Apa maksudmu?” “Maksudku adalah, jarak rumahmu dengan klub itu lumayan jauh yang sekarang membuatku bertanya-tanya, sebenarnya kenapa klub itu?” Padahal Laura bisa saja memilih klub lain yang jauh lebih dekat, kenapa wanita itu justru memilih tempat yang jaraknya sangat jauh? Rey menatap Laura dan mengamatinya lekat. Pakaian yang sopan dengan kacamata yang menutupi keindahan matanya. Penampilan yang sekarang amat kontras dengan wanita sexy bergaun merah yang ia temui waktu itu. Dan itu akhirnya memberikan sesuatu pada Rey untuk dipikirkan. Pemahaman akhirnya merasuki kepalanya. “Kau takut seseorang mengenalmu?” tebaknya tepat sasaran. Beberapa saat lamanya Laura tidak mengatakan apa pun, tapi akhirnya wanita bermata belo itu mengedikkan bahu seolah ingin memberikan jawaban ambigu. “Memangnya kenapa jika seseorang menemukanmu di klub?” tanyanya, bingung dengan jalan pikiran Laura. Memangnya apa yang salah jika seorang dosen bersenang-senang? Apa itu melanggar peraturan? “Akan sangat memalukan jika salah satu mahasiswaku melihatku mengunjungi klub malam. Aku tidak suka masalah, menghindarinya akan lebih mudah.” Rey menggeleng-gelengkan kepala, takjub dengan jalan pikiran Laura yang unik. “Kau tahu kan? Tidak ada peraturan yang mengikat saat kakimu menjejak keluar dari kampus? Demi Tuhan Laura, setiap orang berhak bersenang-senang. Kenapa itu mengganggumu?” “Karena aku tidak suka pandangan mereka saat menatapku.” Apa? Rey menatap Laura lurus-lurus, tidak sedetikpun mengalihkan pandangan dari wanita itu. Laura memang cantik dengan bulu mata lebat yang membingkai matanya yang indah. Kulitnya yang putih bak porselen mempertegas keindahan yang dimiliki Laura. Sepanjang pengamatannya Laura selalu mengenakan pakaian yang menutupi kulitnya. Apa mungkin wanita itu sengaja melakukannya? “Jadi kau menyamar,” tukasnya, akhirnya mengerti alasan dibalik penampilan kaku dan monoton Laura. “Tidak, memang seperti inilah diriku.” “Aku sangat meragukannya.” “Aku tidak membutuhkan penilaianmu. Aku bukan wanita yang waktu itu kau lihat. Inilah diriku yang sebenarnya Rey, apa kau terkejut?” Rey menyembunyikan senyumnya. Laura mungkin menikmati perannya sebagai dosen yang kaku, tegas dan dihormati, tapi ia tahu setiap orang memiliki sisi gelapnya. Laura mungkin tidak menyadarinya atau tidak mau mengakuinya. “Bagaimana kehidupanmu selama kuliah? Kau kuliah di kampus top dunia, melakukan one night stand dan menghibur diri di klub bukanlah hal asing, Laura. Pastinya kau pernah melakukan salah satunya?” Atau mungkin keduanya, pikir Rey. “Dan tolong jangan salah paham, aku mengatakan ini bukan untuk menghakimimu, hanya berusaha memahami alasanmu yang aneh dan sangat tidak masuk akal.” “Lalu kenapa kau bertanya?” tukas Laura, terdengar marah. “Seperti yang kukatakan, hanya berusaha memahami jalan pikiranmu.” “Tidak semua orang ingin dipahami.” “Aku tahu, tapi memahamimu adalah tantangan yang terlalu sulit untuk ditolak, jadi, apa kau benar-benar tidak pernah melakukannya?” Laura mengangkat satu tangannya. Seorang pelayan restoran menghampiri meja mereka. Laura menatap Rey. “Aku lapar sekali, bagaimana kalau kita memesan makanan sekarang?” Apa Laura sedang berusaha mengalihkan pembicaraan? Rey mengangguk tidak kentara. “Tidak masalah.” Keduanya menyebutkan pesanan masing-masing. Momen keheningan yang tercipta di antara mereka dimanfaatkan Rey untuk mengamati Laura saat wanita itu sedang sibuk mengamati pengunjung. “Aku tidak pernah melakukan keduanya.” Rey tersentak. “Sama sekali?” gumamnya takjub. Laura tersenyum, tapi senyum itu tidak menyentuh matanya. Rey bisa melihat kepedihan bermain-main di matanya yang cokelat keemasan. “Aku terlalu sibuk bekerja dan belajar. Saat tidak memiliki kelas aku suka menghabiskan waktu di perpustakaan atau melakukan pekerjaan untuk memenuhi biaya hidupku.” “Bagaimana dengan keluargamu? Mereka tidak membantumu?” Rey tahu ini sama sekali bukan urusannya, hanya saja saat menatap mata Laura ia bisa melihat kerapuhan wanita itu dan itu sudah cukup menghidupkan sikap posesif yang selama ini tidak pernah ia sadari ia miliki. “Aku sudah tinggal sendiri sejak berusia 18 tahun.” Usia yang sama ketika ia memutuskan melakukan hal yang sama. Tebakannya tentang Laura waktu itu benar. Wanita yang duduk di depannya ini memiliki luka yang mungkin sama dengan yang ia miliki. Pemikiran itu dengan cepat menumbuhkan emosi asing tak bernama yang membuat ruang dalam dadanya bergelenyar aneh. Rey harus menekan kuat-kuat keinginan untuk memeluk Laura hanya karena ia merasa harus melakukannya. “Kenapa kau melakukannya?” tanyanya, meski Rey sudah bisa menebak alasannya. Hanya ada satu alasan kenapa seorang anak merasa harus tinggal sendiri dan meninggalkan rumah yang seharusnya menjadi tempat aman dan juga tempat pulang. Laura menatap Rey seolah sedang mempertimbangkan sejauh mana dia bisa menceritakan kisah hidupnya. Ketika Rey pikir wanita itu tidak akan menjawab, Laura kembali mengejutkannya. “Kurasa mereka tidak menginginkanku. Aku bukan anak yang mereka inginkan. Cukup tentang hidupku, malam itu…aku telanjang, bagaimana….” “Bagaimana kau bisa telanjang, itukah maksudmu?” sambung Rey, membantu Laura menyelesaikan kalimatnya. Rona merah menjalari leher wanita itu. Untuk ukuran wanita dewasa dengan pendidikan mengagumkan Laura benar-benar payah dalam mengelola perasaannya. “Tolong pelankan suaramu,” gerutu Laura. Rey terkekeh. “Lihat wajahmu, orang-orang mungkin berpikir kalau kita sedang membicarakan sesuatu yang panas.” Laura menyentuh wajahnya dengan panik yang justru membuat semburat di wajahnya semakin parah. “Lihat, sekarang wajahmu seperti tomat masak.” “Tidak.” Perdebatan kecil mereka dihentikan oleh pelayan yang datang untuk mengantarkan pesanan mereka. Rey menahan senyumnya saat melihat Laura mendesah lega. “Kau mabuk dan muntah,” ujar Rey, begitu pelayan menjauhi meja mereka. Laura meringis. “Aku benar-benar mengacaukan semuanya, ya?” “Berapa banyak yang kau minum sebenarnya Laura?” Laura mencoba mengingat-ngingat. “Seingatku aku hanya meminum minuman yang kau suguhkan.” Mata Rey menyipit, kecurigaannya mengambil alih. “Pria yang mengajakmu berdansa waktu itu, apa dia memberimu sesuatu?” Laura menelengkan kepalanya, tampak berpikir keras. “Aku…tidak ingat, ingatan tentang malam itu benar-benar kabur. Jadi aku mabuk berat dan muntah itukah maksudmu?” Rey mengangguk. “Itu sebabnya tubuhmu sepolos bayi saat bangun.” Laura mengigit bibirnya dan Rey tahu wanita itu sedang bergumul dengan apa pun yang sedang dia pikirkan. Rey mulai menghitung dalam hati. Satu, dua, ti… “Apa kau yang melepas… pakaianku?” Ternyata itu yang mengganggunya. “Ya, apa itu mengganggumu?” Laura menutup telinganya. “Aku tidak ingin mendengar yang selanjutnya. Apa…hanya itu?” “Memangnya menurutmu ada lagi yang terjadi?” Laura tampak ragu, tapi juga bertekad dalam satu waktu. Bulu matanya yang lentik mengedip beberapa kali. “Apa… aku mengatakan sesuatu yang aneh saat sedang tidak sadarkan diri?” “Tidak.” Laura menyipitkan matanya. “Kau yakin? Karena kau menjawab cukup cepat.” “Itu karena jawabannya sudah jelas. Nah, karena rasa penasaranmu sudah terobati, waktunya makan.” Rey menunjuk meja mereka yang penuh dengan makanan. Laura sudah membuka mulutnya untuk berbicara, tapi akhirnya mengurungkan niatnya saat melihat Rey sudah mulai mengunyah makanannya. Baiklah, mereka bisa membicarakannya nanti, pikirnya sebelum ikut menyuap makanannya sendiri. *** “Kali ini aku bawa mobil, jadi kau tidak perlu mengantarku,” ujar Laura begitu mereka berada di luar restoran. Rey tersenyum geli. “Kau benar-benar serius rupanya.” Laura tersenyum tipis. “Hidupku tidak mudah, Rey. Aku tidak suka kekacauan, aku menyukai hidup yang tenang dan damai.” “Hidup mengikuti aturan, tidakkah sikap itu terdengar membosankan? Bagaimana kau menikmati hidup dengan semua peraturan menyedihkan itu?” Laura menyampirkan tas selempangnya, tersenyum lembut mendengar penuturan Rey. “Hidupku tidak mengenal kata ‘bersenang-senang’ Rey. Aku harus bekerja keras untuk bertahan hidup.” Laura mengulurkan tangannya. “Terima kasih untuk semuanya Reyhan. Terima kasih karena telah menyelamatkanku, aku senang karena kaulah orangnya.” Rey menatap tangan terulur itu cukup lama. “Apa ini salam perpisahan?” “Kita masih bertemu, aku dosenmu, ingat?” “Jadi itukah yang kau inginkan? Hubungan sebagai mahasiswa dan dosen?” Mengabaikan rasa pahit di tenggorokannya, Laura mengangguk. “Ya.” Ekspresi wajah Rey tidak terbaca. Rahangnya terkatup rapat, tapi Laura berusaha tidak mengindahkannya. Ia dan Rey selamanya tidak akan bisa melewati batas sebagai dosen dan mahasiswa. Ia hidup mengikuti norma dan aturan yang berlaku dalam hidup bermasyarakat. Menjalin hubungan dengan seseorang yang berpotensi menimbulkan skandal dalam hidupnya hanya akan menimbulkan kekacauan dalam hidupnya yang sudah kacau. Dan Laura tidak akan sanggup menghadapinya. “Kalau begitu kurasa hanya ini kesempatanku kan?” Laura mengernyit bingung, dan sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Rey tiba-tiba menarik dan memeluknya erat, membuatnya terkejut setengah mati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN