Pengorbanan

1380 Kata
Rey yakin ada yang salah. Instingnya mengatakan demikian dan ia jarang salah. Rey menyampirkan ranselnya ke bahu kirinya sembari berjalan, berusaha mengabaikan tatapan-tatapan aneh yang terang-terangan di tujukan padanya. Hari ini ia ada kelas di lantai 4 dan itu berarti butuh waktu untuk sampai ke sana. Rey menatap jam tangannya, sekali lagi mengabaikan bisik-bisik yang menyertainya kapanpun ia melangkah. Rey menekan tombol lift dan masuk ke dalamnya. Sesaat sebelum pintu benar-benar menutup sebuah tangan lentik tiba-tiba muncul, menghentikan gerakan pintu lift yang ingin menutup. “Hai Rey.” Rey mengangguk singkat. “Rina,” sapanya. Gadis berponi itu tersenyum lebar. “Ada kelas juga?” “Ya, kau juga?” Rina melenguh. “Seharusnya ada, tapi dosen kami tidak bisa masuk, menyebalkan. Aku berencana mengunjungi pacarku.” Rey mengangguk singkat, kembali sibuk dengan ponselnya. “Apa itu benar?” Rey menoleh. “Apa?” Rina menutup mulutnya, matanya membelalak. “Oh, jadi kau belum tahu? Padahal semua orang sedang membicarakan kalian.” “Apa maksudmu?” “Ada fotomu bersama dosen kita yang namanya Laura tersebar di media sosial. Menilik dari tempatnya sepertinya itu di klub. Jadi, kau belum melihatnya?” Aliran air dingin mengaliri punggungnya. “Apa?” Rina yang menjadi lebih bersemangat setelah melihat reaksi Rey dengan cepat mengeluarkan ponselnya. Tangannya yang terawat dan kukunya yang dicat dengan warna merah muda tampak sibuk mengotak-atik ponselnya. “Ini, ada foto kalian saat sedang di klub dan juga…mungkin tempat makan atau bar? Entahlah, hanya kalian yang tahu. Aku tidak tahu kalau dosen kita ternyata secantik itu. Dia sexy, ya.” Rey hanya pernah sekali merasakan kemarahan seperti yang ia rasakan sekarang. Saat sepasang visual tajamnya mengamati gambar-gambar yang ditunjukkan Rina, Rey merasakan dorongan yang begitu kuat untuk memukul sesuatu. Rahangnya mengencang dan sumpah serapah lolos dari bibirnya yang penuh. Rina yang berdiri di sampingnya mengerjap terkejut. “Seseorang menyebarkannya secara anonym. Apa kalian benar-benar memiliki hubungan? Aku tahu kal—hei apa yang kau lakukan Rey?” pekik Rina saat Rey mendorongnya keluar. Rey mengabaikannya. Ia kembali menekan tombol lift dengan tidak sabaran. Sial, sial, sial! Jadi ini alasan dibalik tatapan aneh yang ia terima saat memasuki kampus? Rey mengusap wajahnya. Dan foto-foto itu…. Rey kembali mengumpat saat mengingat bagaimana foto itu diambil dalam sudut tertentu sehingga menciptakan gambaran yang cukup provokatif. Seseorang berusaha menjebaknya. Atau menjebak Laura. Rey menggeleng, mengingat bagaimana gaya hidup wanita itu, Rey ragu ada orang yang cukup membencinya. Berarti hanya ada satu kemungkinan. Seseorang sedang menargetkannya. Rey bergegas keluar dan menaiki motornya, cukup yakin kalau Laura pasti tidak akan mau menerima teleponnya. Berarti hanya ada satu solusi. *** Rumah Laura lengang. Itulah yang dirasakan Rey saat berdiri di depan pintu rumah wanita itu. Rey memusatkan pendengarannya, berusaha menangkap suara-suara sekecil apa pun hanya untuk menemukan tanda-tanda kehidupan. “Laura!” Tidak ada sahutan. “Lauraa‼” teriaknya, lebih keras dari yang pertama. “Aku tahu kau mendengarku. Kalau kau tidak mau membuka pintu sialan ini, aku akan terus berteriak sampai semua tetanggamu datang. Kau mau itu terjadi?” Gertakan itu rupanya berhasil. Rey mendengar suara langkah sebelum pintu akhirnya dibuka. “Laura, aku tahu kau—“ Semua kata-kata yang ingin ia ucapkan menguap begitu melihat wajah Laura yang berantakan. Matanya sembab dan hidungnya memerah. Rey bahkan melihat tubuh Laura sedikit gemetar. Laura baru saja menangis. Atau mungkin masih menangis saat ia datang. “Kau baik-baik saja?” Pertanyaan bodoh! Rey mengangkat tangannya, tapi akhirnya mengurungkan niatnya. Ia tidak yakin Laura mau dipeluk. Untuk pertama kalinya, Rey merasa kebingungan harus melakukan apa. “Apa yang kau lakukan di sini, Rey? Pergilah, tidak ada yang bisa kau lakukan untuk memperbaiki situasi ini.” “Apa aku boleh masuk?” Laura mengangkat kepalanya. “Apa kau bercanda? Kau mau membuat situasi ini semakin kacau? Apa kau tidak tahu akibat apa yang timbul dari foto-foto menjijikkan itu?” “Menjijikkan? Itu pernyataan yang terlalu berlebihan.” Laura mendesah. “Pergilah, kumohon,” gumamnya serak. “Tidak.” “Rey…semua sudah selesai. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk memperbaiki…” Laura mengangkat kedua tangannya dengan gerakan putus asa. “’Semua sudah selesai.” “Tentu saja tidak.” “Rektor dan komite kedisiplinan sudah mengeluarkan surat peringatan. Hanya soal waktu sebelum mereka memintaku berhenti.” Suaranya semakin melemah setiap detiknya. Rey harus menahan keinginan membuncah dalam dadanya yang ingin memeluk Laura karena tidak tahan melihat kesedihan wanita itu. Rey berdehem, memutuskan untuk mengubah strategi. “Apa kau sudah makan?” Laura mengerjap, menatap Rey seakan di kepalanya tumbuh tanduk. “Apa kau bercanda?” “Tidak, kau belum menjawab pertanyaanku, Laura.” Laura mendesah panjang. “Aku ingin sendiri, sebaiknya kau pergi.” Rey bergerak tepat pada waktunya. Saat Laura mendorong pintu, kaki Rey menjulur, menahan gerakan pintu. “Tidak peduli seburuk apa situasi yang terjadi, makan selalu menjadi prioritas, Laura.” Dengan lembut, Rey menarik tangannya dan membawanya masuk. Rey belum pernah menjelajah rumah Laura, tetapi karena sudah mengetahui tipe rumah yang ditinggali wanita itu, Rey tahu ke mana harus melangkah saat ingin melihat dapur. Seperti yang sudah ia duga, dapurnya bersih dan rapi. Segala sesuatunya berada di tempat semestinya. Rey membuka kursi. “Duduklah.” Kedua alis Laura terangkat. “Apa ini caramu menghapus rasa bersalah?” ucapnya pedas. Rey tersenyum. “Simpan tenagamu, jangan mengucapkan apa pun yang akan kau sesali nantinya.” Rey membuka lemari es untuk melihat apa yang bisa ia masak. “Hmmm… sepertinya kau butuh belanja. Tidak banyak yang bisa dilakukan dengan bahan-bahan menyedihkan ini. Bagaimana kalau kita masak mie instan?” Rey menunjukkan mie instan yang ia pegang. Laura memandang Rey sejenak. Tidak ada kata yang keluar. Sesaat, mereka berdua hanya saling memandang, seolah ada mantra tak kasat mata yang membuat keduanya membisu. Momen keheningan itu dipecahkan oleh Laura saat kepalanya bergerak ke samping. “Aku tidak lapar.” “Laura….” Laura menunduk. Air matanya jatuh membasahi meja. “Orang tuaku tidak pernah menyayangiku. Bisa kau bayangkan seperti apa hidup tanpa kasih sayang kedua orang tua?” Rey sudah membuka mulut, tapi ia membatalkan niatnya di detik terakhir. Ini adalah momen di mana ia hanya diinginkan menjadi pendengar. “Tidak peduli sekeras apa hidup yang kujalani, aku selalu percaya bahwa jika aku benar-benar berusaha keras, aku bisa berhasil. Aku ingin membuktikan diri bahwa aku bisa. Aku bekerja keras dan belajar lebih giat dari siapapun agar bisa mendapatkan beasiswa. Aku sendirian Rey, tapi aku tidak pernah menyerah karena pada akhirnya semua kerja kerasku membuahkan hasil. Aku memiliki tempat tinggalku sendiri. Aku punya pekerjaan tetap, aku bahkan bisa melanjutkan pendidikan yang rasanya mustahil kudapatkan.” Laura menghapus air mata dengan punggung tangannya. “Aku menjalani hidup dengan baik karena tidak ingin terlibat dalam masalah yang akan menghancurkan segala yang kubangun dan sekarang….” Laura menarik napas, mengernyit seperti orang kesakitan. Rey mendekat, tapi Laura menggelengkan kepala. “Jangan,” bisiknya penuh permohonan. “Laura….” Laura menunduk. “Semua yang kubangun dengan kerja keras kini hancur dalam sekejap mata. Sekarang, semua orang hanya akan mengingatku sebagai dosen penuh skandal karena terlibat asmara dengan mahasiswanya sendiri.” Rey mengumpat. “Itu tidak akan terjadi.” “Sudah terjadi, Rey.” Rey mengeram. “Memangnya kenapa jika kau dan aku memiliki hubungan? Siapa yang bisa menyalahkanmu karena mengencani mahasiswamu sendiri? Ya, aku tahu itu tidak benar, tapi foto itu dimaksudkan untuk mengatakan demikian,” tambahnya saat melihat ekspresi Laura. “Ada yang namanya kode etik Rey dan banyak institusi pendidikan yang memberlakukan hal itu untuk menjaga integritas akademik, menghindari konflik kepentingan dan terutama mencegah penyalahgunaan kekuasaan.” Rey mendengus. “Jelas peraturan itu membutuhkan peninjauan ulang.” Laura mengusap wajahnya yang kusut dan berantakan. Dia sudah berhenti menangis, tapi kesedihan dalam sorot matanya tidak juga menghilang dan Rey memakluminya. Ia sendiri sebenarnya tidak cukup terganggu dengan foto-foto tersebut maupun akibat yang ditimbulkannya. Hanya saja Laura tidak merasakan hal yang sama dan sebagai dosen Laura mendapatkan dampak paling besar dari kekacauan ini. “Bagaimana kalau aku keluar dari kampus? Apa itu membantu?” “Itu bukan solusi,” balasnya sengit. “Tentu saja itu solusi. Selain itu, aku juga akan mengatakan pada komite kampus kalau aku yang memaksamu mengenakan gaun itu karena aku mengancammu. Aku yakin mereka akan memercayainya.“ Laura berdiri, menatap Rey tajam. “Kau bermaksud mengorbankan dirimu untuk menyelamatkanku? Kenapa?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN