Mungkinkah?

1431 Kata
Rey tertawa, bermaksud untuk meirngankan suasana, tapi Laura sama sekali tidak tersenyum apalagi tertawa. “Anggap saja aku sedang membuatmu berhutang budi padaku. Coba bayangkan.” Rey menunjuk tangannya seperti orang yang sedang menghitung. “Aku bisa pindah ke kampus manapun yang kuinginkan, ya, aku tahu mungkin itu tidak mudah, tapi itu layak dicoba. Selain itu, kau bisa tetap mengajar. Masalah selesai.” Laura mendengus, kembali duduk ke kursinya. “Itu bukan solusi. Aku tidak setuju.” “Laura…” “Tidak, Rey. Aku akan mencari jalan keluar tanpa harus mengorbankan siapapun. Aku akan menemukan jalannya.” “Dan jika tidak?” Laura menelan ludah, tidak sanggup bicara. Rey duduk, dengan lembut menangkup tangan Laura yang mengepal erat kemudian melepaskannya. “Kau menyakiti dirimu sendiri. Kita akan menemukan solusinya, Laura, pasti.” Laura menatap Rey, sorot matanya tak terbaca. “Kenapa kau mau berkorban untukku, Rey? Kita bahkan tidak saling mengenal.” Satu alis Rey terangkat. “Setelah semua pertemuan yang kita lakukan, tidakkah itu memberimu sesuatu untuk dipikirkan? Tidak saling mengenal kedengarannya keterlaluan sekali.” Sudut mulut Laura melengkung. “Kita berteman?” “Untuk sekarang, ya.” Kening Laura mengerut, tapi Rey hanya mengedikkan bahu sebagai balasannya. Momen keheningan itu memberikan keduanya kesempatan untuk saling memandang. Rey menatap Laura yang lipatan matanya terlihat menghitam. Jelas wanita itu kelelahan. “Kau benar-benar butuh istirahat. Matamu terlihat mengerikan.” Laura menutup kedua matanya, dengan cepat berbalik memunggungi Rey. “Kau kasar sekali, mengatakan keburukan seorang wanita itu terlarang, Rey,” gerutu Laura. Rey tersenyum geli. “Kau malu?” “Menurutmu? Kau punya kebiasaan menurunkan kepercayaan diri wanita, tidak heran kau jomblo.” Rey tergelak. “Aku jomblo karena tidak bisa menahan mulutku? Itukah maksudmu?” Laura menggerutu tanpa suara, masih dengan memunggungi Rey, ia berjalan menjauhi meja. “Kau mau ke mana?” “Aku mau ke kamar, kenapa?” Laura bisa mendengar suara langkah Rey sebelum pria itu berhenti tepat di belakangnya. Kedekatan mereka berhasil membuat bulu kuduk Laura meremang. Sepasang tangan besar dan hangat memegang pundaknya dan sebelum Laura sempat mengajukan protes tahu-tahu ia sudah berhadapan dengan Rey. “Maaf, aku tidak bermaksud membuatku kesal.” Laura mengedikkan bahu. “Tidak masalah.” “Kau benar-benar perlu istirahat, Laura. Apa tidurmu nyenyak semalam?” Laura merasakan kerongkongannya tercekat. Seumur hidupnya tidak ada yang pernah menanyakan pertanyaan itu padanya. Tidak seorang pun yang peduli apa yang ia rasakan atau alami. Ia terbiasa mengurus semuanya sendirian bahkan ketika sakit sekalipun. Perhatian kecil ini anehnya menenangkan, tapi juga membuatnya ketakutan. Sangat ketakutan. Laura mengambil langkah mundur. “Aku baik-baik saja.” Rey bisa merasakan perubahan sikap Laura yang berjarak, tapi ia tidak ingin mendesak Laura lebih jauh takut wanita itu semakin menarik diri darinya. “Istirahatlah, aku akan pulang.” Laura mendongak. “Kau mau pulang?” Rey mengangguk. “Agar kau bisa istirahat. Besok, kita pasti sudah menemukan solusinya.” Dan bagaimana jika tidak? Laura ingin mengatakan kalimat itu, tapi urung melakukannya. Ia tidak boleh mematahkan harapan mereka berdua. Jika Rey bisa optimis ia juga harus melakukan hal yang sama. “Isitrahatlah, Laura.” Laura mengangguk. “Sampai jumpa, Rey,” ucapnya pelan sebelum akhirnya berbalik meninggalkan Rey yang berdiri sendirian di ruang tamu. Mungkin ia memang butuh istirahat meski dengan semua permasalahan ini ia ragu bisa memejamkan mata. Laura menatap tempat tidurnya. Bagaimana ia bisa memejamkan mata jika bayangan kehilangan pekerjaan sudah ada di depan mata? *** Dugaannya salah. Laura tidur sangat nyenyak akibat kelelahan dan juga terlalu banyak menangis. Ketika ia membuka mata hal pertama yang terbesit di benaknya adalah kekacauan yang terjadi di kampus dan ingatan itu sukses membuatnya ingin kembali bergelung dibalik selimut, berharap dengan melakukan hal itu kejadian tersebut menghilang dan berubah menjadi mimpi buruk. “Arrgghhh‼” geramnya sambil mengigit selimut. Laura menyingkirkan selimutnya dengan kasar ketika perutnya keroncongan. Meski ingin terus berbaring, perutnya tidak mengizinkan. Laura berjalan setengah hati menuju dapur hanya untuk mendapati meja makannya penuh dengan makanan. Laura mengerjap, tapi makanan yang kelihatannya sangat lezat itu tidak kunjung menghilang. Siapa yang memasak untuknya? Dan jawabannya terdapat di dalam kertas yang diletakkan di atas meja. Laura menarik dan membacanya. Makan! Senyumnya terbit. Perintah itu berhasil meringankan suasana hatinya. Sembari menyeka sudut matanya, Laura duduk dan mencobanya sesuap, kemudian menjadi dua suap dan akhirnya isi piringnya tandas dalam hitungan menit. Laura membuka lemari es dan lagi-lagi terpaku dengan apa yang ia temukan. Isi lemari es yang sebelumnya kosong melompong kini penuh karena dijejali dengan banyak makanan. Laura terdiam, benar-benar tidak mampu berpikir. Kenapa pria itu begitu baik padanya? Pikirannya terpecah saat mendengar ponselnya bergetar. Melihat nama yang menelepon seketika jantung Laura berpacu. “Ya, ada apa, Pak?” tanyanya, begitu sambungan terhubung. Laura memejamkan mata, mulai merapalkan doa. Kumohon, jangan biarkan kerja kerasku hancur. Kumohon, jangan biarkan…. “Laporan dan sanksi atas Anda telah dicabut, Bu Laura. Mulai besok Anda bisa masuk seperti biasanya.” Laura bengong. Dicabut? Semudah itu? “Halo?” “Ma-maaf, maksud Bapak saya bisa kembali mengajar? Lalu bagaimana dengan foto itu dan…” “Foto itu sudah di hapus. Tidak ada lagi di manapun dan kampus juga sudah mengeluarkan pernyataan terkait hal itu, Bu.” Laura merasa jika ia tidak duduk sebentar lagi ia akan roboh. Tangannya gemetar saat menarik kursi. Foto itu sudah di hapus? Bagaimana bisa? “Kalau boleh tahu apa alasan foto itu di hapus, Pak? Lalu, siapa yang meminta foto itu dihapus?” tanyanya penasaran. “Maaf untuk informasi itu tidak bisa kami berikan. Kami hanya ingin menyampaikan kalau masalah yang menimpa Anda sudah berhasil diatasi.” Laura tahu seharusnya ia senang dan memang demikian, hanya saja…masalah yang nyaris menjungkirbalikkan hidupnya kini lenyap begitu saja seolah tidak pernah terjadi, entah kenapa justru meninggalkan momok menakutkan untuknya. Laura sudah belajar sejak ia masih kecil bahwa tidak ada bantuan yang cuma-cuma. Tidak ada makan siang gratis kecuali ada sesuatu dibaliknya. Lalu, apa bayaran yang harus ia berikan atas bantuan tak terduga ini? “Hanya itu yang ingin saya sampaikan. Selamat sore, Bu.” “Selamat sore, Pak.” Laura menutup telepon. Ia terhenyak di kursi dengan pikiran penuh. Kurang dari 1 hari masalah yang mengguncang hidupnya kini lenyap. Apa mungkin…. Laura buru-buru menelepon Rey untuk memastikannya. Teleponnya di angkat pada dering pertama. “Rey…” “Tidak, biarkan saja di sana. Aku akan ke sana dan memeriksanya sendiri!” Laura menjauhkan ponselnya. Apa mungkin ia menelepon di waktu yang tidak tepat? Laura kembali menempelkan ponsel ke telinganya. “Rey, kalau kau sibuk, aku bisa menelepon nanti. Aku—“ “Tidak, tunggu sebentar, Laura.” Laura mengigit bibir sambil menunggu. Hiruk pikuk yang sebelumnya melatar belakangi suara Rey kini hilang dalam keheningan. Pria itu pastilah berpindah tempat, pikirnya. “Kau mengatakan sesuatu tadi?” Laura menghela napas. “Kuharap aku tidak mengganggu waktumu?” “Tidak, aku sedang memarahi seseorang tadi.” Laura meringis. “Kuharap dia baik-baik saja? Jujur saja, kau menakutkan saat marah.” Terdengar suara kekehan. “Aku menakutkan? Kebanyakan orang mengatakan kalau aku kharismatik dan panas saat marah.” “Mereka membutuhkan vitamin mata kalau begitu.” “Dan kau meneleponku untuk menjual vitamin mata?” Laura mengigit bibir mencoba mengumpulkan keberaniannya. “Terima kasih untuk makanannya Rey.” “Sama-sama. Kuharap makanannya enak?” Laura menatap piringnya yang kosong. Sesaat keinginan untuk menggoda pria itu menggelitiknya, tapi Laura menggelengkan kepalanya. Bagaimanapun Rey berhak mendapatkan ucapan terima kasihnya setelah semua yang dilakukan pria itu. “Makanannya enak, aku menghabiskan satu piring penuh.” Dan mengingat porsi makannya yang akhir-akhir ini menyedihkan hal itu merupakan pencapaian sendiri untuknya. “Senang mendengarnya.” Laura memandang buku-buku tangannya. “Dan terima kasih juga untuk semuanya, Rey.” “Kurasa hutang budimu sekarang semakin menumpuk, ya.” Laura tersenyum lebar. “Aku harus membalasnya, itukah maksudmu?” “Tentu saja.” “Dan bagaimana kau ingin aku membalasnya?” “Makan malam di rumahku, kali ini kau yang memasak. Kurasa itu adil, bagaimana?” “Rey, kurasa itu bukan ide yang baik.” Terjadi jeda cukup lama yang rasanya berabad-abad. Laura menunduk. Bagaimanapun Rey mahasiswanya, setelah semua yang terjadi menghindar adalah solusi terbaik. Ia tidak ingin menghancurkan semua yang sudah ia bangun dengan susah payah. “Kurasa kau benar.” Rasa sakit asing tak bernama menghantam ketenangan hatinya, tapi Laura mencoba mengusirnya. Itu hanya perasaan bersalah. “Ada yang ingin kusampaikan,” gumamnya parau. Empedu di tenggorokannya membuatnya kesulitan berbicara. “Sanksi yang dijatuhkan padaku sudah dihapus, Rey. Aku bisa mengajar seperti biasanya. Aku hanya ingin memberitahumu hal itu.” Tolong, katakan sesuatu Rey. “Senang mendengarnya.” Tapi kenapa ia tidak merasa senang sama sekali?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN