oOo
Suntuk.
Sofia benar-benar bosan setelah tiga hari sendirian di dalam rumah. Entah takdir macam apa yang mengharuskan ketiga orang terdekatnya pergi keluar kota disaat bersamaan.
Papa mengurus pekerjaannya yang ada di Semarang lima hari lalu.
Safira mempunyai proyek yang mengharuskannya ke Kalimantan untuk tinjau lokasi.
Sedangkan sang kakak, Galen, Pria dengan sejuta wanita itu pergi untuk menonton konser EXO bersama gebetannya di Korea.
Dan mengenai Alvaro ... Dia tidak mempunyai banyak waktu untuk memikirkan pria mengerikan itu. Pria dengan dua kepribadian yang membuat Sofia langsung membayangkan psikopat.
Hell no! Dia benar-benar tidak ingin punya urusan dengan pria semacam itu.
Dia masih duduk disofa panjang yang terletak dilantai balkon. Sambil menunggu cat kukunya kering, Sofia melirik ponselnya yang tergeletak begitu saja.
Ada satu pesan dari Galen.
Galen : [Saran dong, dek. Ntar malem gue mau ngajak dia ke Namsan. Kira2 gue bawa hadiah apaan gitu...?]
Sofia mengetik balasan.
[Cewek mah simpel. Bawain coklat sebatang juga udh seneng.]
Galen : [Masalahnya, dia gk suka coklat.]
[Terserah elo kaaaakkkk, mikir sendiri.]
Matikan data. Dia tidak mau mendengar pertanyaan absurd dari sang kakak lebih lanjut lagi. Tapi dia kebosanan. Siapa lagi yang akan dia hubungi disaat seperti ini.
Ponselnya kembali berdering. Bukan dari w******p, tapi dering SMS. Sofia pikir itu dari operator atau orang kurang kerjaan yang mengaku pegawai bank. Jaman sekarang, memangnya siapa yang masih menggunakan SMS seperti itu??
Tapi isi pesan yang muncul di Pop-up nya cukup membuat penasaran.
0812-2883-38xx : [Bisa bicara sebentar?
Alvaro.]
[Gk. Gue sibuk.]
0812-2883-38xx : [Saya sudah dibawah.]
“Bawah mana?!” Dia terlonjak. Refleks, langsung meloncat dari duduknya untuk melihat dari tralis balkon. Dan benar saja, dibawah sana, dari pandangan 20 meter, Sofia bisa melihat seorang laki-laki dengan pakian serba hitam yang berdiri disamping tiang listrik. Laki-laki itu kini mendongak, menatap kearahnya.
Alvaro kemudian menunduk, dan tak lama, ponsel ditangannya ikut bergetar.
0812-2882-38xx : [Km gk sibuk.
Boleh bicara sebentar?]
Itu isi pesannya. Setelah membaca, Sofia kembali melirik kearah pria itu. Kemudian mengetik balasan.
[No. Gue mls.]
0812-2883-38xx : [Kalau km gk turun,
biar saya yg keatas.]
[Mksd gue, mls ngmong sm lo.]
0812-2883-38xx : [Saya keatas.]
Dan Sofia bisa melihat Alvaro yang berjalan memasuki gedung apartemennya. Dia panik tentu saja. Dirinya belum siap diinterogasi papa maupun Galen seandainya kedua orang itu mengetahui seseorang telah berkunjung kemari. CCTV didepan pintu masuk, memang tidak bisa berbohong.
Sofia menggunakan langkah seribunya untuk turun lebih cepat, kalau bisa melebihi kecepatan cahaya. Dia tidak mau Alvaro seenaknya kesini setelah apa yang laki-laki itu lakukan tiga hari lalu.
Sofia berdiri didepan lift, memutuskan menunggu disana. Dia menyilangkan tangannya saat pintu lift mulai terbuka. Menampilkan pria berpostur tinggi yang berpakaian serba hitam.
Dengan tampang masam, Sofia bertanya, “So? Lo mau apa?”
Alvaro tidak menjawab. Pria itu terlihat berbeda dengan saat pertama kali mereka bertemu. Alvaro yang sekarang, terasa lebih pendiam dan susah didekati.
“Saya udah bilang. Mau bicara.”
Melengos. “Emangnya apa yang mau diomongin sih, Al? We clear. Nggak ada urusan lagi.”
“Kamu berpikiran begitu?”
Sofia mengangguk yakin tentu saja. Dia tidak mau berurusan dengan pria yang bisa saja menderita sakit jiwa dan memiliki psikiater khusus. Berlebihan, dia tahu. Tapi tetap saja. Alvaro bisa berubah drastis seperti kemarin terlihat begitu mengerikan.
Keduanya bergeming. Berdiri saling menatap dengan keras kepala yang sama. Dan setelah kurang lebih dua menit Sofia memperhatikan mata hitam itu, akhirnya dia membuang wajah.
Entah kenapa, pipinya memanas. Bisa gawat kalau Alvaro sampai melihat perubahan tingkahnya.
“Sekali aja, Sof. Setelah kamu dengar penjelasan saya, terserah kamu mau ngambil keputusan seperti apa. Kita nggak saling kenal atau ... Lebih dari teman.”
“Nggak usah ke-PD-an!” Dia memutar bola mata malas. “Tunggu disini. Jangan sekalipun nginjekin kaki didepan pintu apartemen gue.”
Sofia mengajungkan jari telunjuknya kewajah Alvaro. Memberi ultimatum kepada pria itu agar menuruti perintahnya. Setelah dipastikan Alvaro tidak akan mengikutinya, Sofia berjalan memasuki pintu apartemen untuk berganti pakaian.
Dan dia masih melihat cowok itu menyandar didepan pintu lift saat dirinya keluar. Alvaro langsung menegak begitu melihatnya.
“Ayo.”
oOo
“Kita naik ini?” tanya Sofia begitu melihat Alvaro yang sudah duduk diatas motor hitam besarnya sambil memakai helm.
Sofia tidak pernah naik motor seumur hidupnya. Dan ini adalah pengalaman pertamanya mengendarai kendaraan roda dua tersebut. Bersama Alvaro.
Alvaro hanya mengangguk. Memberikan satu helm lagi yang ukurannya lebih kecil. Sofia menerimanya dengan senyum lebar. Beruntungnya juga, hari ini dia memakai celana jeans, bukan rok lipid seperti biasa.
Dia memegang bahu Alvaro lalu melompat untuk duduk dibelakangnya.
“Pegangan!” Kata terakhir cowok itu dibalik helm sebelum motornya melaju.
Sofia membuang jauh gengsinya. Dia menuruti perintah Alvaro dengan mendekap pinggang yang terbalut hodie hitam. Dia tidak mau terjatuh dengan konyol hanya karena gengsi nya yang tinggi.
Motor sport hitam itu berhenti ketika lampu merah menyala. “Lo mau bawa gue kemana?!” Dia bertanya disela helm-nya.
Kenapa Alvaro sedikit menoleh, sepertinya cowok itu mengatakan sesuatu tapi teredam oleh helm full face yang dia pakai. Sofia lebih mendekatkan kepalanya. Tapi suara Alvaro justru tak terdengar.
Perhatiannya teralih saat dia merasakan sebuah sentuhan dilututnya. Jantungnya berdebar begitu saja. Apalagi ketika menyadari Alvaro tersenyum dibalik kaca spion. Meskipun bibirnya tertutup helm, Sofia bisa menyadari itu dari kilat matanya.
Demi apapun, dadanya menghangat tanpa alasan.
oOo