Bab 9

739 Kata
*** "Lo ngajak gue kesini lagi?!" Sofia mendengus sinis sambil melepas helm-nya. Dia benar-benar tidak habis fikir dengan isi kepala Alvaro. Cowok didepannya, yang masih duduk diatas motor tersenyum minta maaf. "Saya nggak memikirkan tempat lain selain ini." "Lo nggak bakal motong tubuh gue jadi 20 bagian kan?!" "Hei!" Alvaro menyela cepat, "Saya cuma mau bicara, bukan mutilasi orang!" Membuang muka, gadis itu melangkah mendahului Alvaro yang tak kunjung turun dari motornya. Sambil mendekap helm, dia berkata, "Diantara banyaknya tempat, kenapa harus kesini lagi?" Sofia terus berjalan memasuki gedung apartemen itu. Karena dirinya sadar, Alvaro mengikuti langkahnya dari belakang. Duduk disofa sambil bersilang kaki, dia membiarkan Alvaro kebelakang untuk mengambil minum. Tapi rupanya pria itu tidak hanya membawa dua kaleng minuman, ditangannya juga terdapat bingkisan yang Sofia tidak tahu isinya. Alvaro menyodorkan bingkisan itu kearahnya. Dia mengernyit, menerimanya dengan bingung. "Ini... Apa?" "Buka aja." Pria itu membuka kaleng dan meneguknya. Karena rasa penasarannya yang sudah memuncak hampir meledak, akhirnya Sofia membukanya. Matanya langsung berbinar-binar. Tidak berhenti mengamati isi bingkisan yang ternyata adalah karya tangan Alvaro. Alas serbuk kayu dengan lukisan mereka berdua didalamnya. "Gue kira lo nggak bakal sudi buat ini." Matanya tidak mau berpaling dari benda ditangannya. "Itu permintaan maaf saya karena udah berkata kasar kemarin." Sofia mengangguk saja. Toh, bagaimana dia menolak permintaan maaf cowok itu kalau sudah diberi hadiah seindah ini? "Kamera itu," Alvaro mengedikan dagunya kearah kamera yang terletak diatas meja. "Peninggalan terakhir Ayah saya sebelum meninggal. Jadi saya agak naik darah waktu itu." Mau tidak mau Sofia ikut merasa bersalah juga. Sambil meringis dia berucap, "Sori, Al. Gue juga nggak bener-bener pengen banting kamera itu kok." Alasannya itu benar. Mana mungkin dia berani sekurang ajar itu menghancurkan benda milik orang lain yang baru dikenalnya. 'Banting kamera' itu hanya ancaman semata supaya Alvaro tidak menghapus fotonya. "Btw, thank's buat ini." Entah kenapa suasana mendadak canggung saat mata keduanya tidak sengaja saling bertemu. Sofia segera membuang mukanya salah tingkah. Dan Alvaro mengeluarkan sebungkus rokok untuk menetralisir kecanggungan. Lelaki itu menghembuskan asap pertama, rasanya nikmat sekali. Setelah dari kemari malam dia tidak menyentuh benda ini sama sekali. Dia kembali menghisap sambi memejamkan mata. Dan langsung urung saat seseorang disampingnya terbatuk-batuk. Buru-buru Alvaro segera menyulutkan ujung rokok itu kedalam asbak. Mencegah asap agar tidak semakin banyak. Setelah itu tangannya membatu mengusap punggung Sofia. "Kamu punya asma?" Tanyanya saat batuk Sofia tak kunjung mereda. Gadis itu berusaha menjawab dengan air mata disudut mata, mencoba menahan sakit didadanya yang semakin sesak. "Bukan... Gue-uhuk! Alergi." "Kenapa kamu nggak ngomong? Seenggaknya saya nggak akan merokok didepan kamu." Sofia menggeleng sambil menepuk-nepuk dadanya, mencoba mengusir sedikit sesak yang tersisa. Dia tidak berniat menjawab pertanyaan Alvaro. Karena jujur, meskipun pria itu sudah menjelaskan alasan kenapa dirinya semurka kemarin lusa, tetap saja tidak bisa menghapus fakta bahwa Sofia masih merasa sedikit ketakutan. "Udah mendingan, thank's." Gumamnya. Alvaro pun berhenti mengusap punggungnya setelah dirasa Sofia sudah membaik. "Kamu lapar?" "Hn?" Sofia menoleh mendengar pertanyaan Alvaro. Cowok itu berdiri dan melangkah menuju dapur. "Kalau kamu lapar, saya punya beberapa bahan yang bisa dimasak." Sofia mengikutinya dari belakang. "Lo bisa masak?" "Bukan cuma perempuan yang jago masak kan?" Pria itu menjawab sambil memakai apron berwarna hitam didepan pantri. Sofia hanya duduk mengamatinya dibalik meja bar yang berkursi tinggi. "Bukan gitu. Gue cewek dan nggak bisa masak. Dan gue pernah hampir mati gara-gara nelen masakannya Galen." Sofia tidak tahu apa yang lucu dari ucapannya sampai membuat pria yang sedang menyiapka sayur itu tertawa. Pipinya menghangat seketika. Dia tidak pernah mengamati seorang pria memasak sebelumnya, sehingga dia tidak tahu kalau laki-laki yang memakai apron dan berdiri dibalik pantri bisa terlihat seseksi ini. Lalu omelet sederhana yang terlihat lezat itu terhidang dihadapannya. Sofia bahkan bisa mencium aroma gurih dan khas dari telur, keju dan sayuran. Matanya yang berbinar-binar tak luput dari perhatian Alvaro. "Makan." cowok itu berkata dengan nada memerintah. Sofia tidak butuh waktu dua kali untuk segera melahapnya, bahkan sampai kedua pipinya menggembung. Sadar akan tingkahnya yang memalukan, dia melirik kearah Alvaro yang masih berdiri didepannya dengan kedua tangan bertumpu pada meja, tubuhnya sedikit membungkuk agar lebih mudah memperhatikannya. Bibirnya terukir senyuman geli yang membuat Sofia malu setengah mati. "I-ini... Kebanyakan. Lo... Nggak mau?" matanya bergerak kekanan-kiri menetralisir canggung. Dia menduga cowok itu akan menolak pertanyaan basa-basinya, tapi ternyata Alvaro justru duduk dikursi dan meraih sendok, mengambil omelet dari piringnya, lalu memakannya. Pipi Sofia menghangat tanpa bisa ditahan. Fakta kalau mereka makan sepiring berdua itu benar-benar membuatnya salah tingkah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN