***
"Well ... Jadi lo kenalan sama cowok yang ketemu ditempat ice-skating dua minggu lalu?"
Sofia mengangguk atas pertanyaan sahabatnya. Dia memang menceritakan semua tentang Alvaro kepada Safira setelah sahabatnya itu mengintip ke insta story-nya beberapa hari lalu yang berisi foto hasil karya Alvaro yang cowok itu berikan. Alhasil, Safira tidak bisa menahan diri untuk tidak membanderolnya dengan segala pertanyaan.
"Namanya?" Safira menatapnya dengan mata menelisik. Ya, semua cowok yang ingin mendekatinya harus lolos dari seleksi Safira terlebih dahulu. Temannya ini bahkan lebih posesif daripada Galen ataupun Papa.
Sofia memutar mata jengah, "Alvaro."
"Oke, gue belum bisa memastikan kalau si Alvaro ini baik atau enggak. Gue harus ketemu dulu untuk tau." kepalanya mengangguk-angguk, seolah tidak menyadari ekspresi bosan yang ditunjukkan Sofia. "Jadi, kapan lo mau ngajak dia ketemu gue?"
"Fiiiir~ sumpah deh, hubungan kita nggak sejauh itu untuk dapet restu lo."
"Setelah dia ngasih lo bingkisan yang lo tau sendiri gambarnya apa, gue percaya hubungan kalian emang nggak sejauh itu." Ujarnya bernada sarkasme.
"Gue yang maksa. Lo tau sendiri gue gimana."
"Gue tau lo nggak pernah peduli sama cowok manapun selain Galen dan om Davis. Dan lo maksa dia bikin gambar itu?!"
Lagi-lagi Safira menamparnya telak. Dia lupa kalau Safira adalah satu-satunya orang yang paham dengan sifatnya selain dirinya sendiri. Memang benar apa yang baru saja Safira ucapkan. Selama ini dia memang tidak pernah menghiraukan ribuan laki-laki yang datang untuk menyatakan cinta atau sekedar one night stand, Sofia menganggap semua laki-laki didunia ini-selain-Galen-dan-papa-tentunya-adalah serangga yang keberadaannya tidak terlalu penting.
Lagipula kenapa dia bisa lupa mengupload gambar itu sedangkan Safira selalu memantau isi IG-nya?? Dirinya bahkan tidak heran jika sebentar lagi Galen datang dan melakukan hal yang sama.
Sofia semakin menenggelamkan tubuhnya dibalik Sofa. Memilih menyerah sebelum sahabatnya itu berubah menjadi singa betina. "Yaudah! Gue bakal ngenalin Alvaro ke elo. Tapi janji ya, nggak ngomong macem-macem."
Safira langsung tersenyum lebar setelahnya. Menepuk kepala Sofia beberapa kali layaknya seorang ibu yang bangga karena anaknya mendapatkan sebuah trofi. "Iya, elah... Lo kayak nggak tau gue aja."
***
"-lo yakin masih mau sama Sofia? Dia anaknya keras kepala dan susah diatur. Abis itu kalau makan, Sofia lebih mirip sama gorila daripada manusia, lo nggak malu seandainya nanti diejekin temen lo kalau punya pacar gendut? Dia bahkan nggak bisa masak. Pernah sekali si Jahe-kucing-peliharaannya disuruh nyobain steak bikinanya dan lo tau apa yang terjadi sama si Jahe?? Dia muntaber dan harus opname 3 hari 2 malem. Terus-"
"Fir,"
"Dia sering banget narok kaus kaki sembarangan sampai kamarnya bau. Dan, dia alergi rokok, kalau ada cowok manapun yang ngerokok deket dia, jangan harap tuh cowok bisa selamat," Kepala Safira menoleh kearahnya, "Lo inget waktu lo nendang Galen pake Sofia kick lo pas kakak lo itu ngerokok dideket lo kan? Padahal jaraknya hampir 5 meter tapi lo langsung nerjang dia-"
"Safira!" Sofia berteriak frustasi bercampur malu. Dirinya bahkan tidak bisa melirik wajah Alvaro saat sahabatnya itu dengan senang hati menceritakan aibnya. Dirinya sungguh-sungguh menyesal menyetujui permintaan Safira untuk bertemu dengan Alvaro kalau akhirnya membuatnya malu seperti ini.
Sadar dirinya sudah cukup bicara, Safira tersenyum minta maaf lalu menggumam 'sori' dengan tampang biasa saja. Lalu tanpa merasa bersalah, cewek berambut biru gelap itu berdiri, "Kayaknya gue ada janji sama papa, deh. Sori, nggak bisa lama-lama disini."
"Nggak pa-pa, gue seneng diajak ngobrol sama temennya Sofi." Alvaro menanggapi.
"Ah, makasih loh. Kalau gitu gue pergi dulu ya." Lalu melenggang pergi tanpa membereskan masalah yang dibuatnya.
Sofia menghela napas keras sekali lagi. Dia benar-benar tidak punya muka untuk bicara dengan Alvaro saking malunya.
"Temen kamu lucu." itu tanggapan Alvaro setelah Safira benar-benar pergi dari mejanya.
Sofia mengangguk canggung. "Dan ceplas ceplos."
"Berkat dia, saya jadi sedikit tau tentang kamu."
Wajahnya merah padam seketika. Kenapa Alvaro harus membahasnya? Kenapa tidak diabaikan saja sih?? "Jangan percaya omongan Safira, gue nggak semengerikan itu!"
Cowok didepannya terkekeh. "Masalah rokok itu, yang kemarin saya benar-benar minta maaf."
"Nggak usah dibahas! Lagian, kenapa kalau ngomong sama gue masih pake bahasa kaku begitu, sedangkan sama Safira, lo santai banget keliatannya." Dia mengucapkan ini hanya untuk mengalihkan pembicaraan, sumpah! Bukan cemburu karena Alvaro bisa bersikap sesantai itu saat bicara dengan Safira.
"Karena saya cuma menganggap dia teman kamu. Sedangkan kamu, lebih dari teman buat saya."
"What?!" Sofia berteriak syok. Tiba-tiba merinding saat tatapan Alvaro berubah dalam.
Lelaki itu tidak mengatakan apapun lagi selain meraih tangannya yang tertaut diatas meja, lalu jemari panjang Alvaro mengisi sela jarinya, bersimpul erat. Ternyata itu jauh lebih efektif dibanding penjelasan panjang lebar yang belum tentu dirinya mengerti.
***
Sejak saat itu interaksi keduanya menjadi semakin dekat. Sofia bahkan sudah tidak perlu malu-malu lagi jika harus menggenggam tangan Alvaro saat sedang berjalan. Begitu juga dengan pria itu, yang tanpa canggung mengecup puncak kepalanya dimanapun mereka berada.
Layaknya 'jodoh pasti bertemu', kini keduanya berbaring berpelukan diatas sofa empuk dengan televisi yang menampilkan gambar Avanger. Entah sudah berapa lama mereka bertahan dalam posisi ini, bahkan film didepanpun sudah terasa tidak menarik lagi.
"Kamu yakin nggak mau pulang?" Alvaro bertanya disela keheningan. Tangannya bergerak mengusap pipi Sofia yang mendongak menatap kearahnya.
Gadis dengan mata bulat berwarna coklat itu menggeleng. Ekspresinya tampak lucu dengan kedua pipi chubby yang sedikit menggembung. Alvaro tidak tahan untuk tidak memberi kecupan dipipi itu.
"Papa kamu nggak marah?" bisiknya, masih mengecupi pipi Sofia.
"Papa masih di Semarang dari minggu lalu."
"Kakak kamu?"
"Galen sibuk sama gebetannya."
Jawaban ketus khas Sofia saat mengingat sang kakak mau tak mau membuat Alvaro terkekeh. Membuat Sofia mengerjap beberapa kali menyaksikan paras tampan yang sedang tertawa begitu dekat dengannya.
Alvaro tentu saja menyadari keterpesonaan gadisnya. Menimbulkan senyum tipis yang tak kalah menawan dari hanya sekedar tertawa. Wajahnya bergerak mendekat, hendak mencuri kecupan-yang-entah-keberapa-dari bibir mauve itu seandainya tangan Sofia tidak menahan bibirnya.
"Aku mau pulang aja, deh."
Sontak, Alvaro bangkit dengan bertumpu kedua siku, "wait... Kenapa tiba-tiba?"
"Aku mau nonton Avanger dengan tenang tanpa gangguan. Daritadi kerjaan kamu begitu terus." Sofia menyentuhkan telunjuknya kebibir Alvaro. "Aku kan nggak fokus."
***