*** Sofia membuka laptop. Memeriksa laporan dari Mbak Sania mengenai keuangan Apotek yang berada di Semarang. Dia berniat membuka cabang di Jakarta sebenarnya. Namun untuk waktu dekat ini sepertinya belum bisa. Dirinya biasa berdiskusi dengan Papa mengenai pekerjaannya. Dan sekarang, untuk bertatap muka pun rasanya dia belum mampu. Dia menyandarkan tubuhnya pada sofa saat mengetahui bahwa keuangan pada Apoteknya stabil. Pikirannya kembali melayang kepada Deas. Seseorang dari masalalunya yang kini juga berada di Jakarta. Mereka bertemu tujuh tahun lalu saat dirinya masih kuliah. Deas yang saat itu masih sekolah di bidang kemiliteran muncul untuk percobaan tugasnya di Universitas nya. Mereka sama-sama dekat begitu saja. Seperti orang-orang kebanyakan, Sofia jatuh cinta. Dan sialnya Deas

