*** “Al,” Sofia memanggil. Keduanya masih berbaring berhadapan di dalam kamar dengan suara hujan di luar sana. Tangannya menyentuh mata Alvaro yang terpejam. “Ceritain semua tentang kamu. Kamu udah janji nggak akan ada lagi kebohongan diantara kita.” Mata gelap itu sedikit membuka. “Kamu mau dengar?” Sofia mengangguk, tentu saja. “Om Prayit bukan paman kandung ku sebenarnya. Dia hanya menemukan aku di halte tua dekat sekolah Janeta. Lalu menyekolahkan aku di STIN sampai aku jadi seperti saat ini. Bukan Alvaro si penjual payung yang di telantarkan Ibunya. Dulu... Aku seperti tidak punya masa depan.” Dia terkekeh miris di akhir kalimatnya. “Luka ini...?” Sofia menyentuh luka kecil di dahi Alvaro. “Ya,” Pria itu mengangguk. “Ini luka yang di sebabkan Ibuku. Mungkin... Ini juga yang m

