Aku mengerjap berkali-kali, tapi tetap aja nggak bisa mengenali tempat serba putih yang kutempati ini. Nggak ada satu pun orang di sekelilingku. Terakhir aku ingat... ah iya, saat itu aku baru saja kembali dari Malang. Tapi, serangan maag akutku seperti kambuh nggak tahu diri. Sakit pakai banget, dan aku bahkan nggak sempat meminta tolong siapa pun yang ada di kos saat itu. Oh, berarti terakhir aku berada di dalam kamar kosku. Lalu setelahnya aku sudah nggak ingat lagi. Jadi, ini di mana?
Jangan, jangan... oh, nggak! Jangan sampai. Nggak mungkin ini di surga kan? Kalau memang ini surga kenapa tidak ada bidadara yang katanya ganteng-ganteng?Dan, kalau memang ini surga artinya aku sudah....
“Valerie .... Val, kamu sudah sadar, Sayang?” Terdengar suara samar yang memanggil namaku. Ada seseorang yang menepuk pelan pipiku. Aku bisa menangkap bayangan itu. Perlahan menjadi semakin jelas. Bayangan itu mirip seseorang yang kukenal. Pak Fachry? Kok bisa? Pak Fachry di surga juga? Terus, yang manggil sayang itu dia? Tapi ....
“Valerie, bisa dengar suara saya?” suara Pak Fachry terdengar lagi.
Aku masih terselimuti kebingungan. Kemudian, pandanganku beralih ke samping kanan. Di ruangan ini bukan cuma ada Pak Fachry, sebelahnya ada... dokter Freya, kekasih Pak Fachry, yang sedang tersenyum manis melihatku. Lalu, aku menoleh ke kiri, dan... loh, Mas Arga?
Ini nggak masuk di nalar, guys! Kalau memang aku sudah kembali ke Jakarta, lalu kenapa ada Mas Arga di sini? Untuk apa dia ada di sini?
“Valerie?” Pak Fachry kembali menyapaku, kini lima jarinya digerakkan tepat di depan wajahku.
“Pak Fachry, kenapa Bapak ikut saya ke surga?” Dari sekian banyak respons yang bisa kuberikan, entah mengapa pilihanku jatuh dengan kalimat tanya yang sama sekali nggak kupikirkan sebelumnya.
Nyatanya, memang aku seperti orang linglung yang tersesat di padang savana yang luas tanpa batas nyata yang kukenal. Dan, ya... tempat ini masih kuyakini bernama surga. Pak Fachry mengerutkan kening sejenak, kemudian saling melempar pandang ke arah dokter Freya dan Mas Arga. Sekarang, aku merasa seperti berada di sebuah film bertemakan dua dunia. Ambang batas antara dunia dan kehidupan setelahnya. Duh, kok semakin ngaco aja, sih?
“Hei, Val, ini bukan di surga,” tutur Pak Fachry dengan lembut. Juga, kekehan kecil yang ia sunggingkan. Aih, manis. Namun, ternyata bukan hanya Pak Fachry yang kini sedang memperhatikanku. Ada dua orang lainnya yang hampir terlupa.
“Mas Arga, kenapa ada di sini?” Kini aku beralih tanya pada sosok di samping kiriku.
“Karena aku nyusulin kamu, Val,” jawabnya sesantai mungkin.
Lagi-lagi, aku bingung dengan perlakuan mereka saat ini, mereka tak lelahnya menebar lengkungan di sudut bibir. Ditambah sentuhan lembut di puncak kepalaku yang Arga berikan, tentu saja menimbulkan desiran tak santai di dalam sini. Tetapi, ada satu pemandangan lain yang tertangkap netraku, Pak Fachry terlihat geram dengan perlakuan yang Arga berikan kepadaku. Sementara Arga, nggak begitu peduli malah memasang smirk penuh kemenangan.
Kenapa? Ada apa dengan mereka berdua?
“Sepertinya sudah waktunya Dokter Said visit, saya panggil beliau dulu.” Pak Fachry sudah hampir beranjak kalau saja dokter Freya tidak menahannya. “Yik, ngapain? Nanti aja kenapa?”
Lalu, aku baru menyadari sesuatu hal—oh! Ini di rumah sakit? Aku mengerjap sekali lagi untuk memastikan kesadaranku dalam kondisi penuh. Ah... ini bukan surga seperti dunia fantasiku saat jiwa masih mengawang tadi. Ya, bau menyengat khas obat dan karbol itu kini baru kurasakan menusuk rongga penciuman. Dan, yang juga baru kutahu bahwa sudah terpasang selang infus di punggung tanganku.
“Apa yang kamu rasakan sekarang, Val?” Pak Fachry seperti memindai tubuhku dari pucuk kepala sampai ujung kaki.
Aku meneguk ludah. Ditatap seintens dalam jarak yang begitu dekat membuat deguban ini nggak pernah santai. Lebih kikuk apalagi ada makhluk bernama Arga yang berdiri persis di sebelahku memasang wajah posesifnya. Tentu saja atmosfer di ruangan ini beda. Kurasa, AC-nya nggak mempan sama sekali. Hawa panas menyelimuti.
“Perut ... nyeri,” jawabku sekadarnya. Pak Fachry hanya mengangguk singkat kemudian beralih ke dua orang lainnya di ruangan ini.
Pemeriksaan ini tergolong singkat, berbeda saat aku sakit tempo hari itu. Sebenarnya, aku juga belum paham apa yang terjadi dengan tubuhku sampai harus tergolek di ruangan ini. Dan, ada Mas Arga yang bahkan menyusulku sampai ke sini.
“Nggak ada yang perlu dikhawatirkan sepertinya. Tinggal nunggu hasil visit dokter Said,” jelas Pak Fachry kedokter Freya dan Mas Arga.
Kemudian, mereka berinteraksi—ya, mereka bertiga—saling berdiskusi menggunakan bahasa planet yang nggak kupahami sama sekali. Bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh kaum mereka berjas putih. Aku hanya diam menyimak tanpa berniat menyela.
“Pak Fachry, saya kenapa?” Pertanyaanku membuyarkan perbincangan di antara mereka.
Belum juga Pak Fachry menjawabnya, Arga menyela seenak jidat. “Kamu habis operasi besar, Sayang. Kena usus buntu tuh, kemarin bilangnya nggak apa-apa,” cebiknya dengan sedikit kesal.
Usus buntu? Begitu bodohnya aku yang nggak peka terhadap limitasi tubuh sendiri. Sampai sakit yang terasa pun nggak kuanggap. Segitu parahnya?
“Bandel, sih.” Arga menyentil keningku pelan.
Aku hanya berdeham sambil memutar mata, jengah dengan sikap ajaib mas-mas satu ini. Protektif sangat! Namun, aku nggak sengaja melihat muka Pak Fachry yang merah padam seperti memendam amarah. Sorot mata yang gelap ia tujukan kepada Arga.
Beneran, deh, mereka tuh kenapa, sih?
“Oh, iya, Val. Miko nanti malam sampai sini,” ucap Arga membuatku terbelalak.
Jelas aku kaget, sampai mendatangkan Mas Miko segala, itu artinya kondisiku benar-benar parah, bukan? Aku nggak berkomentar lebih. Rasanya, tidak ada niatan untuk menimpali setiap perkataan yang Arga lontarkan.
“Sebaiknya kita biarkan Valerie istirahat lagi, biar segera pulih kondisinya,” ucap dokter Freya sambil memberikan isyarat ke mereka untuk keluar meninggalkan ruangan.
“Ya udah, kamu istirahat ya, Val. Kami keluar dulu,” pamit Arga sambil mengacak rambutku.
Duh, perlakuanmu seperti ini membuatku seketika baper, Mas! Please.
Mereka—Arga dan Dokter Freya—sudah keluar lebih dahulu. Sementara Pak Fachry masih berdiri tepat di sebelah kananku sedari tadi. Belum ada tanda-tanda untuknya segera beranjak. Tanpa kata, diam, seperti biasa. Dasar manusia kutub! Namun, ditatap dalam jarak begitu dekat dan dalam seperti ini membuatku salah tingkah. Segera kualihkan arah pandang sebelum ia mengetahui gelagat aneh dalam diriku.
“Jangan lagi kayak kemarin. Cukup sekali saja kamu bikin saya hampir mati berdiri di depan ruang operasi,” ucapnya sambil berkaca-kaca.
Eh? Kenapa dia?
Dia melenggang keluar begitu saja, menyusul kedua orang yang lebih dulu pergi.
Ah, mereka pergi gitu aja dengan meninggalkan teka-teki di otakku ini. Oke, baiklah kalau aku kena usus buntu, dan baiklah kalau aku habis operasi. Tapi kenapa Mas Arga bisa ada di sini? Dan kenapa dengan Pak Fachry yang sikapnya tiba-tiba seperti itu? Lagi, dokter Freya seperti sudah mengenal Arga. Mereka bertiga terlihat saling terkait satu sama lain. Tapi, hubungan mereka apa?
Ya ampun! Cukup sudah kepingan puzzle ini, Tuhan.
Aku seperti orang amnesia yang coba mengingat satu per satu kepingan itu. Tapi nihil, malah dera sakit kepala menyerang begitu aja.Oke, cukup, Val.
Aku beralih, mencari ponsel yang ternyata tergeletak di atas meja kecil samping brankar. Meski sedikit kesusahan di awal, tapi ternyata tanganku cukup panjang untuk menjangkau benda segiempat itu.
Mulai kubuka satu persatu aplikasi media sosial yang berjejer di screen ponsel. Kudapati mereka sudah penuh riuh dengan segala ucapan prihatin. Untung saja bukan ucapan dukacita atau belasungkawa. Bisa jadi beneran halusinasiku tadi. Oh, amit-amit. Setidaknya, jangan sekarang lah.
Dari beragam ucapan itu, aku menemukan nama Jejen dan Arum di antaranya. Bukan ucapan, yang ada justru mereka memarahiku habis-habisan karena kecerobohanku. Karena aku nggak cerita ke mereka lah, karena sepulang dari Malang aku nggak minta jemput lah. Dan, omelan lain via w******p yang baru saja kubuka. Ah kalian, terima kasih sudah mencemaskanku. Aku kangen mereka, dua krucil rese tapi kesayanganku, Arum dan Jejen.
Selain duo sengklek itu, ucapan 'semoga cepat sembuh' juga datang dari penghuni lantai dua belas Top Manajemen. Mbak Miranda yang cemas karena beberapa WA-nya nggak kubalas. Ellen, juga Gio yang turut memberikan wejangan bla-bla-bla untuk lebih bisa jaga kesehatan lain kali. Uugh, terenyuh. Serius.
Loyalitas mereka soal seperjuangan nggak perlu diragukan lagi. Agaknya, menjadikan mereka berdua bagian dari Manis Manja Grup tidak terlalu buruk. Fix! Arum dan Jejen harus menerima Ellen dan Gio.
Eh, tunggu, deh! Dari semua notifikasi sosial media, kok mereka bisa tahu kalau aku sakit dan operasi? Dari siapa?
Oke, katakanlah mereka tahu dari Pak Fachry kemudian menyebar luas seperti ini. Tapi, ada satu pertanyaan lagi yang mengganjal di otakku. Terakhir aku menyadari berada di kos, lalu siapa yang menemukanku kemudian membawa ke rumah sakit?
Apa mungkin Pak Taslim, bapak penjaga kosku itu? Mana mungkin! Yang beliau pedulikan cuma kosan, gimana memasang rantai gembok multiple agar nggak ada maling dekat-dekat. Termasuk maling hatinya anak-anak kos. Duh!
Di tengah otakku bekerja keras memecahkan setiap kepingan puzzle yang terus bertambah, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Di sana, duo sengklek Arum dan Jejen sudah heboh melihat keadaanku. Mereka langsung berjalan cepat ke arah ranjang perawatanku.
“Gue nggak suka ya lo kayak gini, Val.” Arum lebih dulu merepet persis seperti omelannya di w******p.
Aku hanya memasang cengiran tanpa dosa membentuk tanda peace. Pasrahlah sudah dengan semua yang akan mereka caci di hadapanku. Menakutkan sih, apalagi Arum suaranya yang melengking membuatku harus berhati-hati menjaga gendang telinga agar nggak jebol karenanya. Kalau Jejen sih as usual anteng-anteng aja sambil menggeser posisiku dan duduk di atas brankar.
“Sorry, kemarin nggak nungguin lho nginep di sini. Kan kemarin lo masih di ICU. Kata dokter lo kemungkinan lo sadar hari ini, jadi gue diminta nyokap nemenin ke reuni dia,” sesal Jejen kemudian.
“Kalau gue, karena kemarin malem ada bimbingan di rumah Pak Broto, asli serem sih sama anak-anak yang lain juga,” cerita Arum.
“Udah, nggak apa-apa. Lagian, gue juga nggak mau ngrepotin kalian. Gue aja nggak tahu kalau sakit sampe gini.”
“Ye ... itu sih karena lo dodol, Val. Untung aja ada Pak Fachry,” celetuk Jejen yang membuatku mengerutkan kening.
Pak Fachry? Jadi ... Pak Fachry yang menemukanku gitu? Kok bisa?
“Eh, eh ... tadi gue kan papasan sama Pak Fachry, sama satu lagi cewek terus satu cowok. Betewe cowok satunya mirip Mas Gaga nggak sih? Yang sering lo kasih liat fotonya ke kita.” Belum juga rasa penasaranku tuntas soal Pak Fachry, Arum sudah menyelanya heboh.
Aku mendengkus kesal, kalau aku cerita soal Arga sudah pasti telinga mereka bakal dilebarkan sedemikian rupa untuk buat nerima info yang masuk nantinya.
“Ya, itu Mas Gaga yang bikin kalian penasaran selama ini.”
“Serius?”
See?
“Kok bisa ada di sini? Lo udah nemuin Mas Gaga gitu? Sejak kapan? Ya ampun, Val! Segitu banyaknya yang terlewatkan dan kita nggak tahu? Tega banget sih, lo!” dumel Arum yang membuatku terkekeh seketika.
“Rum, nggak usah lebay!” Jejen ikut mendengkus melihat tingkah Arum yang berseru nggak karuan sedari tadi.
“Iya... kan rencananya mau cerita pas udah sampai sini. Udah keburu kalian tahu duluan.”
“Jadi, gimana ceritanya?”
Kalau sudah begini, mulai deh perasaan nggak enak itu muncul. Sambil menahan air mata yang terus aja mendesak buat keluar, semua kisah itu terlontar dari mulut. Dari Pak Fachry yang nemenin ke Malang sampai makan malam bareng Mas Arga. Nggak ada yang terlewat. Mereka juga nggak ada niatan menyela. Diam, mendengarkan.
Sampai akhirnya celetukan Arum terdengar begitu ceritaku selesai, “Jadi, lo sama Mas Gaga sekarang statusnya apa? Kalian masih pacaran kan?”