Fachry – Selesai Katanya

3231 Kata
Langit Jakarta pagi ini agaknya sedikit mendung. Mungkin menyesuaikan dengan isi hati para penghuninya. Tapi penghuni Jakarta kan bukan cuma orang galau macam aku gini. Yep aku galau, stadium akhir. Udah tinggal menunggu waktu aja nih! Ilmu psikiater yang kupelajari sewaktu koas dulu sepertinya tak berpengaruh banyak untuk menstabilkan kondisi psikisku saat ini. Aku mengakui kalau galauku kali ini seratus persen disebabkan oleh perempuan yang masih nyangkut di Malang. Atau jangan-jangan mereka sudah kembali bersama berbahagia? Bisa saja, melihat takdir mereka yang belum bisa dikatakan putus, sepertinya keduanya memang masih memiliki perasaan yang sama. Shit! Damn! Arga sialan! Kenapa harus kamu, Val? Dan kenapa harus kunyuk satu itu? Hal lain yang juga kuyakini sekarang adalah mereka tertawa bahagia. Sudah menjalin dating ke mana-mana. Bahkan, Valerie lupa kalau dia masih memiliki sisa waktu magang untuk skripsinya. Lagi-lagi, sial! Ah, atau justru Arga sudah melamar Valerie kemudian mereka menikah dan happily ever after? Astaga, otakku nggak jauh-jauh dari kemungkinan terburuk. Terburuk untukku tentu saja. Kalau untuk mereka sih, jelas itu kemungkinan terbaik. Tapi, kenapa aku seperti kesal dengan sendirinya? Cemburu? Ah, mana ada seorang Fachry cemburu. Itu pasti cuma halusinasi sesaat gara-gara kesal karena belum berjuang aja semua harapan udah putus. Dan semua itu gara-gara sepupu sialan yang nggak pernah bilang menjalin hubungan dengan seseorang. Demi membabat semua rasa tidak nyaman itu, kuputuskan untuk mendatangi seseorang. Siapa lagi kalau bukan sahabat sekaligus perempuan yang pernah menempati hatiku kemarin. Freya. Ya, berharap dia udah mau memaafkanku dan sikap canggungnya udah hilang. Maka, di sinilah aku sekarang. Di dalam ruang kerjanya, duduk di sofa dengan Freya anteng di sebelahku. “Gue sakit, Frey.” Aku memasang wajah memelas. Freya mengernyit sejenak, sambil menelisikku dari atas ke bawah. “Lo sakit?” tanyanya, memegang keningku kemudian kembali memandangi seolah tak percaya dengan perkataanku. “Bukan di situ yang sakit, Frey. Tapi di sini ....” Aku mengambil tangan Freya dan meletakkannya di atas dadaku. Aku tahu dia sedikit menegang karena ulah konyolku. Tak ingin terjadi kesalahpahaman lagi, segera kualihkan fokusnya.”Iya, kayaknya gue kena fibrilasi atrium deh, arytmhia jangan-jangan, Frey,” godaku yang berhasil membuat Freya mendelik sempurna. “Jangan bercanda, Yik! Ke IGD sana!” Freya seketika panik, bahkan ia sudah dalam posisi berdiri dan siap menyeretku menuju IGD. Lucu juga melihat wajah Freya yang benar-benar cemas seperti ini. See? Tanpa status apa pun itu, Freya tetaplah perempuanku selamanya. Tak akan terganti oleh siapa pun. “Nggak, Frey. Sepertinya ini bukan jantung, tapi ... hepar,” lirihku, membuatnya kembali duduk di posisi semula. “Hati lo kenapa? Ke HPB deh, Yik! Jangan bikin gue bingung! Gue juga nggak bisa nanganin apa-apa, atau mau gue bius?” Freya menatapku horor. Tapi serius, aku ingin mencubit pipinya tersebut. Gemas! “Fractura hepatica, Frey,” cengiranku yang langsung mendapat balasan timpuk bantal dari Freya. Sementara aku, terbahak di tempat nggak bisa nahan lebih lama lagi.  Freya mendengkus sebal, kemudian beranjak dari sofa dan berpindah ke meja kerjanya. Lihat saja gayanya, sok cool padahal asli dia hanya berpura sibuk membolak-balikkan status pasien. “Ah elah, Frey, mau curhat juga! Serius gue lagi patah hati. Bukan cuma pothek seperti yang lo lakuin ke gue. Ini tuh benar-benar krak! Uugh, sakit, Frey!” Lalu, tak lama setelahnya, Freya melirikku. Mendadak tertarik dengan bahasan kali ini. Freya memutar posisinya menjadi berhadapan denganku. Sambil tersenyum penuh intimidasi, Freya siap melayangkan berbagai pertanyaan untuk mengorek segala informasi tentang sebuah clue yang kucetuskan barusan. “Jadi, siapa cewek yang udah bikin brother gue satu ini jatuh cinta klepek-klepek sampai nggak berdaya macam gini? Uluh-uluh, sampai fraktur ya hatinya? Eh, bukan ding, apa katanya tadi? Krak? Patah? Sakit?” Benar saja, repetan panjang dari Freya membuatku semakin ngilu nggak ketulungan. “Apaan sih lo, Frey?” sungutku, nggak terima dengan ledekan Freya. “Lah, gue juga serius. Siapa dia, Bro?” Aku menghela napas sejenak sebelum akhirnya mengutarakan satu nama sakral sepanjang kisah percintaan seorang  Fachry Anugrah.”Valerie.” Seketika, Freya terdiam nampak berpikir dengan kerutan kening yang terlihat jelas.”Sumpah, sumpah. Seriously?” Namun, itu cuma sesaat, karena setelahnya seruan heboh meluncur dari bibirnya. Freya tergelak, seperti aku sedang stand up dan dia menjadi penonton di barisan festival. “Jadi, gue kudu gimana, Frey?” “Gimana, gimana? Kok bisa sih? Udah gue duga sih sebenarnya.” Freya menyusut air mata kecil di pelupuk akibat cekikikan sesaat tadi. Sepertinya mencurahkan isi hati ke Freya tuh agak-agak kurang tepat sih. Pasalnya, Freya lebih interes mendengarkan kronologi awal mula bagaimana akhirnya aku bisa memiliki rasa ini, dibanding memberikan solusi. “Gue bilang juga apa, Yik? Lo sih nggak sadar,” tutur Freya, merasa belum juga mendapat sahutan dariku. “Maksud, lo?” tanyaku bingung. “Valerie, mahasiswa magang lo itu kan? Tempo hari, pas gue lihat kalian makan siang bareng, gue udah curiga kali, Yik!” Apa iya? Aku nggak menyadari sih. Atau karena mungkin saat itu kecenderungan perasaan ini masih kepada perempuan di depanku kali, ya? “Lo aja yang nggak sadar. Malah salah sangka dengan hati lo sendiri pakai acara nyatain cinta ke gue.” Freya tiba-tiba saja membahas persoalannya sendiri. Duh, mengungkit hal ini sama dengan membuka luka lama, Frey. Tolong!   “Hati gue kayak dicabik-cabik ngelihat dia udah punya cowok di Malang, Frey. Apa gue beneran udah jatuh cinta sama dia?” jelasku, tanpa mengatakan bahwa cowok yang kumaksud adalah Arga. Sahabat kesayangan Freya, dan ... lelaki yang dicintainya. Sepertinya. “Tunggu deh, jadi beberapa hari lalu lo ngilang itu ikut ke Malang? Nganterin Valerie ceritanya?” Hanya anggukan kecil yang kuberikan untuk menjawab cerocos Freya yang mulai tertarik dengan kisah percintaanku ini. “Gue harus gimana, Frey?” tanyaku pasrah. Karena memang hanya pasrah yang bisa aku lakukan saat ini. “Ngg ... kalau ditanya kayak gini jujur gue juga nggak tau sih, Yik. Masalahnya Valerie udah punya pacar lo kata. Nggak mungkin juga gue nyaranin lo buat PHO kan?” Nah! Betul kan? Sebenarnya menumpahkan segala unek-unek yang mengganjal kepada Freya memang nggak pengaruh banyak. Sudah panjang kali lebar lho, sudah luas tuh. Dikali tinggi dikit aja, udah volume deh ceritaku tadi. Freya hanya memasang cengiran khasnya, sementara aku frustrasi sendiri. Meraup mukaku yang kuyakin saat ini sudah macam gombal kumel tak berbentuk. Hingga satu nama yang tertera di ponsel mengalihkan perhatian kami. Arga? Mau ngapain monyeng satu itu? “Siap sih, Yik? Angkat dulu 'napa?” Freya memberikanku kode untuk segera mengangkat telepon. “Arga, bentar,” balasku kepada Freya dan memintanya untuk menunggu sejenak. Lalu, ilusiku mulai bermain kalau maksud Arga meneleponku saat ini untuk menyerahkan Valerie. Kemudian curut kupret itu bilang satu kalimat pelega dahaga, 'kini, saatnya lo yang kejar cinta lo, Yik. Gue udah ikhlas atas Valerie.’ Pengandaianku benar-benar kelewat tinggi. Mana mungkin Arga dengan bodohnya melepas cewek istimewa macam Valerie begitu saja. Bego! “Halo, ada apa, Nyet?” sapaku sedikit ogah-ogahan. “Yik ... tolongin gue, Yik!” sahutnya dari ujung telepon yang terdengar begitu panik. Aku sedikit menjauhkan gagang telepon. Kenapa nih anak? “Iya, apaan? Awas kalau nggak penting!” ancamku sudah terlanjur malas untuk menanggapi lebih. Karena menurut riwayat, kalau Arga bertele-tele seperti ini, hampir bisa dipastikan ujung-ujungnya bakal zonk nggak penting sama sekali. Tapi, ini justru sesuatu yang sangat penting. Sebab, menyangkut satu-satunya perempuan yang mengisi hati kami saat ini. Siapa lagi kalau bukan Valerie. Dari cara bicara Arga yang panik, aku tahu ada sesuatu yang nggak enak soal perempuan itu. “To the point aja deh, Ga. Dia kenapa?” “Valerie hari ini balik ke Jakarta, harusnya tiga jam yang lalu dia udah sampai. Tapi sampai sekarang gue hubungi hapenya nggak bisa. Udah aktif sih berarti kan udah landing, tapi nggak ada jawaban, Yik. Gue takut dia kenapa-napa.” Seketika tubuhku menegang. Cemas itu kembali datang. Perasaanku ikut mencelus tidak nyaman bersamaan pikiran yang lari ke mana-mana.. “Terus?” “Tadi pas gue nganterin ke airport, dia kayak nahan sakit perut gitu. Pas gue tanya kenapa, dia cuma bilang kalau lagi disminore. Gue lega awalnya, tapi gue jadi takut kemungkinan apendiksitisnya kambuh.” Penjelasan Arga yang panjang tersebut malah membuatku kalang kabut tak tentu arah. Apendiks? Ingatan tentang kejadian beberapa bulan yang lalu memaksaku untuk kembali menegakkan diagnosa yang sempat kusangkal. Bodoh! Harusnya aku lebih peka saat Valerie sakit kemarin itu. Aku mengutuk diriku sendiri sampai terjadi sesuatu sama Valerie. Tentunya, semua prasangka buruk tersebut kusingkirkan terlebih dahulu saat ini. Tanpa menghiraukan lagi suara Arga di ujung telepon, aku segera bergegas keluar ruangan Freya sampai tak sempat untuk sekadar pamit terlebih dahulu. “Eh, Yik, ada apa? Lo mau ke mana?” tanya Freya, tak mampu lagi menghalangiku terus melangkah keluar. “Nanti gue kabarin lo lagi, pastikan hape lo aktif terus,” ucapku sambil berlalu. Tak kuhiraukan lagi berapa kecepatan mobil yang melaju saat ini. Persetan dengan kena tilang atau apa pun itu. Terpenting saat ini adalah bagaimana caranya agar bisa sampai kos Valerie dengan cepat. Perasaan ini sudah nggak karuan kalau bisa terdeskripsi. Sudah macam gado-gado atau rujak dengan beragam isi di dalamnya. Astaga, aku benar-benar kelimpungan memikirkan segala hal buruk yang terus bermunculan di kepalaku. Ini lebih horor daripada menemukan Freya terkapar lemas tempo hari itu. Sesampainya di kos Valerie, aku masih dihadapkan lagi dengan izin berbelit dari penjaga kos. Ini kos khusus cewek dan cowok dilarang masuk kecuali penjaga dan petugas kebersihan kos. Berapa kali pun bibirku menjelaskan sampai berbusa, nggak mempan buat tuh orang. Sial memang. Di tengah panik, aku terpikir nama satu orang. Mahasiswa magang TOP lainnya. Tanpa babibu, segera kuhubungi Ellen dan memintanya datang ke mari. Awalnya, gadis itu banyak tanya yang langsung kubungkam dengan kalimat sakti layaknya bos yang memerintah bawahan tanpa ada bantahan. “Cepat datang atau nilamu terancam!” Itulah enaknya bos. Kalau gini aja, aku mengakui posisi tertinggi di TOP. Coba kalau bukan cewek yang entah bagaimana keadaannya di dalam sana itu, aku juga masih ogah menduduki posisi tertinggi manajemen kampus. Selang beberapa menit, Ellen datang dengan naik ojek online. Dia langsung menghambur ke arahku. Dan sebelum dia mengucap sepatah kata, aku sudah menyuruhnya masuk ke dalam kamar kos Valerie, tanpa peduli dia menuntut penjelasan lebih mengenai apa yang terjadi. “Lihat Valerie dan kabari keadaannya di dalam sana!” Mungkin karena melihat rautku yang sudah panik, Ellen menurut begitu saja. Dia bergegas masuk ke dalam area kos. Aku masih berdiri di depan pintu, cemas dengan keadaan gadis yang beberapa waktu lalu membuatku patah hati tanpa dia ketahui. Hingga akhirnya .... Val!!! Teriakan Ellen yang begitu keras masuk ke dalam indra pendengaran. Tanpa peduli etika atau izin yang ribet, aku berlari masuk ke dalam. Menabrak penjaga kos yang berusaha menghalangiku. “Ellen! Kamu di mana, Ell?” Aku berteriak mencari keberadaan Ellen yang mungkin tengah bersama Valerie.  “Pak Fachry, saya di sini.” Ellen melongokkan kepala dari lantai dua sambil melambaikan tangan. Dilihat dari gurat yang Ellen tunjukkan, ada kecemasan di sana. Sumpah, ini aku makin kalut. Aku segera mencari tangga terdekat dan menyusul Ellen di tempatnya. Jantungku melorot saat itu juga begitu melihat kepanikan Ellen yang sedang coba membangunkan Valerie. Ya, saat ini posisi Valerie sedang terkulai lemah di lantai kamar, tak sadarkan diri. Sementara aku? Berdiri saja tanpa tahu harus berbuat apa. “Pak Fachry jangan diam aja, ini Vale gimana?” teriak Ellen mengembalikan sadarku. Aku bergerak mendekat, mengecek denyut nadinya dan pernapasannya yang untung saja masih terdengar sekalipun sangat lemah. Aku menghela napas kasar, meraup wajahku yang frustrasi dengan hadapan kondisi Valerie yang entah seperti apa tepatnya. Kusampingkan dulu segala diagnosis yang sedari tadi hilir mudik berebut meminta perhatian otak. “Ell, kamu ikut mobil saya,” pintaku sambil memosisikan diri untuk menggendong Valerie. Ellen hanya mengangguk dan beberes sebentar sebelum kulihat dia sudah menyusulku masuk ke dalam mobil. Tanpa ba-bi-bu lagi, aku melajukan mobil dengan kecepatan setan tak terkendali. Segala doa kurapalkan agar perempuan yang kini bersama Ellen di belakang tersebut setidaknya tidak seburuk pradugaku. Sesampainya di rumah sakit, perawat IGD langsung membawakan brankar begitu aku menggendong Valerie keluar mobil. Aku menyusul masuk ke dalam IGD setelah sebelumnya meminta Ellen untuk menunggu di luar.  “Ini pasien saya satu bulan lalu, Dok,” jelasku pada dokter jaga IGD yang kini tengah memeriksa Valerie. “Oh, Dokter Fachry? Lalu, mau langsung dokter ambil alih atau bagaimana?” “Saya ambil alih, tolong dibantu ya, Dok.” Dengan kombinasi rasa beragam, kini kendali atas Valerie sudah berpindah kepadaku. “Mbak, tolong ambil darahnya dan cek ke lab, siapkan juga untuk cek USG,” instruksiku pada perawat yang turut dalam pemeriksaan ini.  Kemudian, aku seperti masuk dalam sihirnya. Terpaku pada satu titik yang tak bisa terlepas. Perempuan yang kini tergolek tanpa daya di depanku, sedikit banyak telah berhasil mengobrak-abrik puing pertahanan hatiku. Anakan rambut yang sedikit berserakan di dahinya, rela kurapikan tanpa pinta. Ah, ini di luar nalar. Satu tangan bebas infus kubawa dalam genggaman. Dengan niat ada satu kekuatan tersalur untuk membuatnya ceria kembali. Bertahanlah, Val. Aku yakin kamu bisa lebih dari ini. Segala kekonyolan yang biasanya ada, kini menguar tak ingin hinggap barang sejenak. Pikiranku benar-benar terlalu terkuras dengan kondisi Valerie. Hanya satu yang menyelingi. Sebuah nama yang kini kubutuhkan keberadaannya. Maka, segera kuambil ponsel di saku dan menghubunginya. “Frey, lo masih di rumah sakit.” “Masih. Kenapa, Yik?” “Ke IGD sekarang. Gue butuh lo. Nggak pakai lama.” Tanpa menunggu jawaban dari Freya lagi, segera kumatikan sambungan. Tak memerlukan waktu lama untuk Freya bisa sampai di IGD. Tak sampai sepuluh menit, Freya sudah berdiri di sisi brankar Valerie dengan memperhatikan vital sign di layar monitor tanpa menyapaku terlebih dahulu. “Jadi kenapa?” Barulah setelah ia selesai memindai, pertanyaan tersebut dilayangkan kepadaku dengan nada yang begitu tenang. “Gue nggak tahu.” Freya berdecak sendiri melihat kelakuanku yang mungkin terlihat tidak profesional. Kemudian, ia beralih entah ke mana yang kubiarkan begitu saja. “Mbak, tolong kamu lihatkan ya, hasil pemeriksaan pasien atas nama Valerie sudah keluar atau belum. Kalau belum, perlu berapa lama lagi.” Itu suara Freya, sedang berada di nurse station yang terdengar meski samar. “Dok, hasil tesnya sudah keluar.” Aku berbalik, berjalan mendekat dan langsung mengambil alih karte hasil pemeriksaan Valerie. Benar saja, lagi-lagi jantungku dipaksa merosot ke dasar begitu membaca setiap detail inchi yang tertera di karte. Astagfirullah. Aku mengusap wajahku kasar, sementara Freya menepuk pundakku entah apa maksudnya. Mungkin menenangkan, tapi tak ayal hal tersebut justru membuatku semakin gamam. “Gue booking OK dulu. Lo hubungi Bedah dan alihkan Valerie sekarang. Oh, jangan lupa informed consent-nya,” Kembali, Freya menyadarkanku untuk bergerak cepat melakukan tindakan terbaik. Aku lantas menemui Ellen untuk bisa menandatangani informed consent. Tapi, Ellen juga nggak berani melakukan apapun. Dan ya memang benar keputusan Ellen, aku saja yang nggak berpikir panjang. Di tengah kegentingan seperti ini, ponselku kembali bergetar dengan nama Arga yang tertera di layar. s**t! Aku bahkan nggak kepikiran untuk menghubungi cungpret satu ini. “Iya, Gaa?” “Gimana Valerie? Lo udah ada kabar?” sambarnya tak mampu lagi menunggu. “Iya, Valerie pingsan di kosnya, ini udah gue bawa ke IGD.” “Terus kenapa ternyata?” Kalau saja aku tak ingat dia masih berstatus sepupuku juga salah satu orang tersayangnya Valerie, mungkin aku akan tak acuh begitu saja sama recokan Arga.  “Apendicitis Perforasi suspect Peritonitis,” ucapku singkat, biar saja Arga menganalisa sendiri. “Suspect Peritonitis? Terus, lo mau apa?” “Gue alihkan ke bedah, cuma gue bingung soal informed consent-nya.” “Gue bantu bilangin ke keluarganya. Lo cari temen terdekat Valerie, kalau keluarganya sudah oke gue hubungi lo lagi. Temennya tinggal tanda tangan. Lo siapkan operasinya dulu,” jelas Arga yang kemudian langsung menutup telepon. Segala persiapan bedah cito[1] kemudian kuurus dengan cepat. Untung saja tim Departemen Bedah Umum bisa tersedia saat itu juga. Dan, yang lebih melegakan, Freya berhasil membujuk sejawat satu departemennya yang tergabung dalam tim Bedah Umum untuk bisa tukar posisi dengannya. Setidaknya, ada Freya yang bisa kutitipi soal Valerie. Andai saja dulu aku mengambil spesialis bedah, mungkin cerita ini beda lagi. Ah, sudahlah! “Frey, titip ya,” pintaku pada Freya saat membawa Valerie masuk ke Instalasi Bedah Sentral. Freya yang kini sudah berganti jubah hijaunya, hanya mengangguk dan menepuk pundakku pelan seraya memasuki ruang sterilisasi. Aku di sini, tidak fokus dengan apapun selain keselamatan perempuan yang berada di dalam ruangan tempat aku berdiri di depannya saat ini. Ada Ellen yang kini sudah disusul dengan Gio dan dua teman dekat Valerie lainnya. Aku tak begitu memedulikan grasak-grusuk di antara mereka, kini aku sendiri bingung harus seperti apa. Layar ponselku kembali berkedip, lagi-lagi Arga tak pernah lelah untuk mencari kabar. “Apa lagi, Gaa?” tanyaku sudah tak punya tenaga hanya untuk berbasa-basi dengan cecurut satu ini. “Gimana? Udah beres semuanya?” “Udah, OK sudah on.” “Lo ini di mana? Lo nggak lepas tangan gitu aja kan, Yik?” Ingin rasanya aku mengumpat, tapi kuurungkan saja daripada menuruti emosiku yang lagi labil. “Yik, gue beneran ini. Gue titip banget Valerie sama lo. Gue punya tanggung jawab ke orang tuanya juga.” Gue juga nggak mau dia kenapa-napa, Gaa. Dan aku hanya bisa membalasnya singkat dengan gumaman. Nggak ada lagi tenaga buat menanggapi segala celotehan dia soal tanggung jawab atau apa pun itu. Pikiranku masih teralihkan dengan ruang operasi di depan sana. “Ya udah, update kabar terbaru ke gue, ya. Jangan sampai kelewatan satu pun. Thanks, Bro.” Hatiku remuk redam, seperti gelas porselen yang dijatuhkan dari ketinggian lantai dua belas Centre Building. Jatuh, pecah, berserakan. Tolong digarisbawahi kalimat 'gue punya tanggung jawab ke orang tuanya', tolong beri tahu aku apa maksud kalimat itu?! Ini gila, Bro! Sempatnya aku menaruh cemburu pada lawan yang jelas tak pernah bisa kulawan. Mau bagaimana aku menolak sadar, jelas Arga yang bakal menjadi pemenang dalam perlawanan sengit ini. Aku sudah kalah telak, bahkan sebelum proklamasi untuk memenangkan hatinya. Sebagai penunggu jodoh orang? Mungkin itulah sebutan yang tepat untukku saat ini. Hampir dua jam sudah operasi berlangsung. Aku masih di sini harap-harap cemas menunggu setiap kabar yang mau tidak mau harus kudengar. Untung saja aku sedang lepas jaga, dan memang sudah tidak ada jadwal praktik hari ini. Namun, belum juga santaiku genap, kericuhan dari balik pintu operasi membuatku kembali tegang. Para perawat berhambur keluar dengan tergopoh-gopoh entah karena apa. Jelas ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi di dalam sana. Aku nggak bodoh, gengs! Sekalipun aku bukan dokter bedah, tapi situasi seperti ini sudah akrab di keseharianku. Salah satu perawat yang baru kembali dari antah berantah berhasil kujegal langkahnya, “Mbak, apa yang terjadi di dalam?” tanyaku membuat perawat tersebut sedikit kaget. Lebih kaget lagi begitu melihat apa yang dibawa oleh perawat tersebut. Beberapa kantong darah tersaji manis di atas nierbeken[2]. Tuhan ... apalagi ini? “Maaf Dokter Fachry, saya harus buru-buru.” “Katakan dulu, ada apa?” “Pasien kritis, Dok. Lukanya sudah abses, pendarahan besar terjadi. Kondisi saat ini pasien sedang tidak stabil, vitalnya berantakan. Maaf permisi.” Jantungku saat ini sudah tidak tahu lagi bagaimana kondisinya. Nyawaku serasa melayang sedetik mendengar keadaannya kritis dan vitalnya berantakan. Tak ada kata yang bisa aku ucapkan sebagai doa lagi. Bahkan, hatiku tidak lagi mampu memohon. Sampai terdengar suara seseorang memanggilku. “Dokter Fachry, operasi telah selesai.” Selesai katanya? [1] Cito: Istilah kedokteran yang digunakan untuk merujuk suatu tindakan yang segera dilakukan karena dalam keadaan darurat [2] Nierbeken: Waskom bentuk SS, biasa digunakan oleh tenaga kesehatan untuk tindakan medis
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN