Valerie – Kenapa Pergi Tanpa Pamit?

2366 Kata
Semalaman aku sama sekali nggak bisa tidur. Bayangan soal Mas Gaga dan Pak Fachry yang bergilir hadir di pikiran, membuatku bingung. Kenapa harus mereka berdua? Pak Fachry? Ya, itu yang aku nggak paham. Mereka berdua ... bagaimana kami dipertemukan dengan segala kebetulan yang saling terikat. Kuasa-Nya memang nggak pernah terbantahkan. Ah, daripada memikirkan mereka berdua, lebih baik aku fokus pada ayah. Waktuku di sini tinggal dua hari. Aku nggak mau menyia-nyiakan. Karena itulah, pagi-pagi buta aku sudah nongkrong cantik di kamar rawat cinta pertamaku. Menggantikan Mas Miko dan Ibun yang berjaga semalam. Ah, Ibun. Kasihan wanita senja yang sudah mengandungku itu. Sejak ayah masuk rumah sakit, sepertinya dia belum pulang ke rumah untuk tidur dengan nyenyak. Setelah kupaksa dengan berbagai alasan, akhirnya dia mau pulang bersama Mas Miko tadi. “Ayah, Val suapin, ya,” tuturku, mengambil satu piring nasi catering yang baru saja dikirim dari poli gizi.  Ayah mengangguk sambil menyimpul senyum. Tampak cerah, setidaknya sudah nggak sepucat kemarin. Meski khawatir itu belum reda, aku bersyukur ayah sudah melewati masa kritisnya. Berharap, dalam waktu dekat sudah bisa pulang ke rumah, berkumpul sama Mas Miko dan Ibun lagi. Rasanya, aku juga pengen di antara mereka. Sayang, tugas dan tanggung jawab di Jakarta masih banyak, yang tentunya nggak bisa aku tinggal begitu saja. “Ayah perhatikan, kamu kok tambah ayu ya, Nduk?” ucapan ayah di sela-sela makan, membuat tanganku berhenti menyendok nasi dari piring. Kuperhatikan ayah lekat, takut dia salah bicara tadi gara-gara sakitnya. Secara, ini kali pertama ayah memujiku. Duh, sama ayah aja aku udah bahagia di awang-awang kayak gini. Gimana kalau pujaan hati, coba? Bisa merah kayak tomat wajahku. “Ayah, iiih ....” Kemudian tawa riuh terdengar mengisi kamar. Ayah kembali menerima suapan yang kuberikan. “Pacar siapa sekarang? Kok ayah nggak pernah diceritain soal pacar kalau lagi telepon?” Pacar? Nggak tahu aja ayah kalau selama empat tahun ini status anaknya digantung nggak jelas sama dokter ganteng yang menanganinya. Masih mending jemuran kalau hujan reda langsung diambil pemiliknya. Nah, aku? Sewaktu badai masalah datang aja, dia nggak jelas ada di mana. Tahu-tahu nongol aja sekarang terus bilang kangen. Duh, pengen banget deh nampol tuh mulut yang berani ngucap rindu. “Kok diem? Ayah salah ngomong?” Belum juga mendapat respons, ayah udah tanya lagi. “Ayah nggak salah kok. Lagian Val kan masih fokus skripsi. Nggak mau mikirin macam begituan. Apalagi cowok,” elakku, “Ayah mau kalau skripsi Val terbengkalai gara-gara cowok. Nggak, kan?” “Ayah sekarang udah nggak melarang lo, Nduk. Dulu, mungkin iya. Tapi ayah sadar, sekarang kamu semakin beranjak dewasa. Udah saatnya mencari, karena seleksi itu nggak gampang. Seleksi tidak melulu soal pacaran kemudian jalan bertahun-tahun yang ujung-ujungnya putus. Seleksi itu bagian dari ikhtiar, contoh konkretnya; memantaskan diri. Dengan begitu, alam akan menyeleksi secara otomatis.” Lagi, setiap petuah yang diucap ayah selalu tepat. Nggak pernah nyasar. Nyess .... Seketika tercerahkan begitu saja. Ah, iya, dulu pas zamannya pacaran dengan Mas Gaga, kami memang backstreet. Ya itu tadi, Ayah memang strike soal pendidikan anak-anaknya. Tidak ingin terbengkalai karena urusan remeh temeh macam drama percintaan nggak berfaedah. Ada saatnya, begitu kata ayah dulu. Mungkin, ‘saat’ yang dimaksud ayah itu ya sekarang. Tapi, kata ‘saat' agaknya memang tidak bersahabat denganku. “Udah, ah. Jangan jadi galau gini. Rak sido ayu, lho!” goda ayah yang kubalas senyuman singkat. “Assalamualaikum, selamat pagi Pak Ridwan.” Suara yang tiba-tiba datang itu .... Aku menoleh cepat, menemukan senyum pagi terpajang apik di depanku. “Waalaikumsalam, Dok. Selamat pagi,” balas ayah, tak kalah juga melempar senyum ramahnya. Aku tertegun sepersekian detik. Dalam kondisi seperti ini, lelaki yang kini mulai mengeluarkan stetoskop dari saku jas putihnya itu, tampak begitu apik memainkan sandiwara. Ya, entah itu sandiwara atau memang naluri aslinya yang sudah tak menganggapku, aku pun nggak tahu. Terlebih, aku sedang berusaha tak peduli. “Gimana, Pak? Ada keluhan pagi ini?” Arga mulai menjalankan aksinya sebagai seorang dokter. “Alhamdulillah, nggak ada, Dok. Cuma beberapa kali nyeri kembali muncul, tapi nggak sering.” Aku mundur perlahan, memberikan tempat untuknya memeriksa ayah. Beberapa kali Arga mengarahkan pandangan padaku sambil memasang smirk jahil. Entahlah. “Dari skala satu sampai sepuluh, berapa nyeri yang Bapak rasakan sekarang?” “Mungkin enam, Dok,” jawab Ayah yang dibalas anggukan kecil oleh Arga. Aku berdiri di samping brankar sambil terus memperhatikan setiap gerak dari lelaki yang entah apa statusnya bagiku saat ini. “Saya periksa dulu ya, Pak.” Kini, Arga mulai menjalankan prosedur pemeriksaan dibantu dengan dua orang yang kuduga sebagai mahasiswa koas dan satu perawat. Aku mulai roaming mendengar percakapan yang terjadi di antara mereka. Jadi, saat ini yang kulakukan hanya memantau seperti supervisor yang mengawasi anak buahnya.  “Sudah baik kok, Pak. Mungkin, jika grafiknya terus naik, tiga atau empat hari kedepan, Bapak bisa melanjutkan pemulihan di rumah,” jelas Arga begitu selesai. “Alhamdulillah,” jawab ayah dengan binar bahagia tercetak jelas. Kemudian, perawat dan para koas tersebut izin undur setelah mendapat instruksi dari Arga. “Ibu sama anak laki-laki Bapak kemarin ke mana, Pak?” tanya Arga, menyadari bahwa hanya ada aku di sini. Lagian cari yang nggak ada. Ini lho yang ada dianggurin, nggak dianggap! Sumpah, aku muak dengan orang yang terlihat biasa-biasa saja seolah tidak ada kejadian di antara kami. “Ibu pulang. Miko, anak sulung saya, lagi kerja. Ini Dok, perkenalkan anak bungsu saya.” Aku ingin terbahak seketika. Serius, ini sudah seperti adegan FTV dengan drama ciamik kegemaran ibu-ibu rumah tangga yang selalu stay di depan teve saat prime time setelah Maghrib. Penuh dengan sandiwara.. “Valerie, Dok.” Aku mengulurkan tangan turut berpura di dalamnya.  “Saya Arga,” jawabnya penuh kepalsuan. Gue udah tahu bego Yang gue nggak tahu, setega itu lho nggak cari gue? Padahal lho jelas-jelas masih di sini. Atau gue yang terlalu bego? “Oh, maaf, Pak. Boleh saya bicara sebentar dengan putri Bapak?” Nah! Modus mulai bermain. “Oh, monggo, Dok. Silakan aja,” ucap ayah dengan santainya. Ayah nggak tahu aja, kalau aku justru sangat menghindari bertemu dengan lelaki ini. “Ada apa lagi?” tanyaku ketus begitu keluar dari kamar rawat ayah. “Nanti sore selesai aku praktik, malam makan di luar, yuk.” Aku terhenyak. Itu ajakan nge-date? Aku kembali menundukkan pandangan, masih belum siap untuk bertatap lebih lama dengan lelaki ini. Meski terdengar helaan napas dari lawan bicaraku, tetap saja hal tersebut tidak menyurutkan niatku untuk tetap bungkam. “Aku tahu kamu nggak akan lama di sini. Ada kehidupan di Jakarta sekarang. Jadi, please, nanti malam aku jemput ke kamar rawat ayahmu, sekalian minta izin.” Aku mendelik mendengar ucapannya barusan. Tentu saja, refleks aku membatalkan aksi bisuku tadi. “Nggak usah macam-macam! Mas Gaga itu dokter kan? Mau buat ayah kembali drop dengan aksi minta izin? Ayah nggak pernah tahu soal kita, kamu tahu kan?” “Itu bodohnya aku dulu, Val. Kayak anak abege yang pacaran di belakang. Sekarang, aku nggak mau mengulanginya.” Lah? Memangnya sekarang ini kita masih? “Udah, nggak usah diterusin,” kilahku, menghindari bahasan serupa yang lebih dalam. Aku tahu arah pembicaraan ini mau ke mana. Tak ingin terjerat lebih, aku memilih mengalihkan topik. “Mmm, Mas Gaga tahu Pak Fachry nggak?” Yeah, dari sekian juta opsi pengalihan yang bisa kubahas, secara spontan aku memilih untuk menanyakan keberadaan Pak Fachry. Semalam memang orang itu meneleponku tiba-tiba. Agak merasa bersalah sih karena kemarin banyak kuanggurkan. Apalagi kalau ingat banyak sekali tangis yang kulewatkan di depannya. Uugh, memalukan! “Oh iya, aku juga mau nyampein itu tadi. Pak Fachry kamu itu sudah balik ke Jakarta jam sembilan tadi,” jelasnya, tentu saja membuatku terkejut. Bukan apa-apa, Cuma ... kok Pak Fachry nggak pamit sih? Tapi, setelah dipikir lagi, aku itu siapanya sampai perlu dipamitin segala. Jadi, biarlah dia berkutat sama tugasnya di Jakarta. Toh, aku di sini juga ada urusan lain. Meski ada rasa sesak, sih dia pergi tanpa ngomong dulu. “Kenapa mendadak ya? Semalam, katanya belum tahu mau balik kapan,” dumelku tak terima. Aku juga nggak tahu, ada perasaan seperti terkhianati mendengar Pak Fachry kembali ke Jakarta tanpa mengabariku. Seolah bayangan kejadian empat tahun lalu terulang lagi. Orang yang meninggalkanku tanpa kabar, sampai harus kucari ke kotanya, meski ujungnya bertemu lagi di kota ini. “Pak Fachry kamu itu ada jadwal konsultasi yang nggak bisa ditunda lagi, Val. Lagian kamu kenapa, sih? Cemas?” tanya Arga skeptis, merasa aku benar-benar mengkhawatirkan Pak Fachry. Apa iya? Aku menggeleng sebagai jawaban. Berusaha mengenyahkan sendiri pikiran-pikiran yang belakangan ini agak kurang waras kurasa.  “Jadi gimana?” “Eh, apa?” Aku tersadar dari lamunan begitu Arga kembali bertanya. “Nanti sore bisa, ya? Please.” Masih dengan pertanyaan yang sebenarnya belum bisa kuberikan jawaban. Aku masih dilema, merasa belum siap bertemu berdua, duduk di meja yang sama ditemani dengan nyanyian senja dengan segala ingatan yang tersiar lagi. Lalu, pembicaraan dimulai, meniti kembali kenang yang sempat terpendam dalam keheningan itu. ***  Pada akhirnya, aku takluk dengan egoku yang melangit.  Setelah sedikit kebohongan yang kuciptakan pada Ayah, Ibun juga Mas Miko—ya, aku pamit mau menemui teman SMA-ku dengan dalih reunian—kini, aku justru duduk cantik menikmati pemandangan kota Malang dari Skyroom salah satu hotel di Malang. Lampu-lampu yang berada di bawah sana tampak indah seperti gemerlap bintang. Pendaran cahayanya memberi efek menenangkan tiap syaraf, begitu damai. “Lama nggak ke Malang, banyak yang berubah, ya. Semakin banyak kafe dengan berbagai konsep kekinian. Iiih ... kangen suasana malam kayak gini.” Ya, aku mencoba biasa saja seolah tak pernah terjadi apapun di antara kami. Mari menikmati makan malam kali ini—Oh! Anggap aja ini dating yang sempat tertunda selama empat tahun. Arga hanya tersenyum sekilas sambil membuka lembar demi lembar buku menu di depannya. “Kamu mau makan apa, Val?” Aku mendekatkan kepala ke arahnya berniat membaca menu apa saja yang tersaji. Tapi, kelakuanku itu mengakibatkan mata kami saling tertaut sepersekian detik. Astaga .... Astaga! Jantungku jumpalitan nggak karuan. Sudah dangdutan goyang pantura di dalam sana. Mukaku memanas begitu tersadar kalau ini benar-benar konyol. Aku mengalihkan, “Eh, ini kayaknya enak deh!” Aku menunjuk salah satu menu yang terpampang di sana. “Mau itu?” Aku mengangguk sebagai jawaban, kemudian memperhatikan sekeliling, masih menghindari tatapannya lagi. “Ya sudah mbak, Baby Rib Baked With Barbeque Sauce satu sama Patin Betutu satu. Minumannya, apa?” tanya Arga begitu selesai menyebutkan menu kepada waitress. “Mau ini aja ta? Oyonid itu ginger sama lemon grass aja. Kalau Ongisiras ada sodanya. Rajajowas itu paduan ginger sama cardamom. Yang Ongis Nade itu milk tea pake brown sugar, tetep ada ginger-nya sih.” “Iya yang pertama aja,” jawabku tak ingin membuat pelayan menunggu lebih lama lagi. “Oyonid satu sama Rajajowas ya, Mbak?” “Siap, sambil menunggu pesanan silakan Mas dan Mbak menikmati sajian akustik yang kami sediakan. Bisa request lagu, atau kalau mau menyumbang lagu juga dipersilakan. Terima kasih, saya permisi dulu.” Setelah balasan agak panjang dari waitress tersebut, kami kembali beradu pandang. Seolah tahu apa yang ada di pikiran masing-masing. “Mau nyanyi?” Arga menunjuk satu set keyboard yang terpajang di pojok dinning. Ada beberapa pengisi acara yang baru saja usai membawakan sebuah lagu. Ya gini nih, Arga selalu tahu apa yang membuatku tidak bisa menolaknya. Menyanyi, yes, he know me so well. Kalau sudah begini, kusampingkan dulu soal ingatan menyakitkan empat tahun itu. Aku luluh lantak, Mas! Aku mengangguk pasti sambil menampilkan deretan gigi. Beranjak dari tempat duduk, Arga menggandengku menuju mini stage. Setelah meminta izin pada pengisi acara, kini kami mulai bersiap. Arga memegang kendali keyboard dengan aku yang duduk di kursi tinggi sampingnya. Tuts mulai dimainkan, dengan isyarat yang diberikan kepadaku, aku mulai melantunkan lirik lagu dari salah satu penyanyi favorit anak muda. Lagu Percayalah milik Afgan Ft Raisa mulai mengisi ruangan kafe yang menampilkan pemandangan kota Malang di malam hari. Kupejamkan mata selama menikmati lagu yang kubawakan. Hingga akhirnya, lagu berhenti di bagian akhir. Hanya dirimu satu-satunya Tercipta untukku .... Kami saling mempertemukan netra masing-masing, kemudian menyelami sampai ke dasar. Sampai para pengunjung kafe menyadarkan kami bahwa lagu telah usai. Aku terkesiap melihat antusias mereka. Ah, rasanya lama sekali aku nggak bernyanyi santai seperti ini. Dan, terima kasih untuknya yang telah mengobati kerinduanku dalam berkicau nada-nada sesuai irama yang dibawakannya tadi. Kami kembali ke meja dengan hidangan yang telah dipesan sudah tersaji lengkap di atasnya. Aku duduk dengan binar bahagia siap santap makan malam ini. “Kamu senang?” tanya Arga membuatku menoleh ke arahnya. Sepertinya sedari tadi manusia satu ini terus memperhatikan setiap gerik yang kulakukan. Atau, justru sikapku yang kentara sekali kalau kelaparan?  “Lumayan. Makasih ya, Mas.” Aku menampakkan sederet gigi sebagai senyum terbaik yang kutunjukkan. Pun dengannya, balasan itu tak kalah menawan dengan pesona yang memang sudah melekat dari lahir di lelaki ini. Ia mengacak pelan rambutku, sesuatu yang membuat gelenyar di d**a bergemuruh tak tahu diri. Sudah bukan dangdutan lagi, sekarang rasa ini macam naik Hysteria atau Tornado, wahana paling nggak santai yang pernah kutemui. “Let’s get dinner!” seruku mengacungkan garpu dan sendok ke udara masih dengan cengiran yang sengaja kulebarkan untuk memanipulasi deguban di dalam sana. Lagi-lagi, si Gaga hanya menyimpul senyum terbaik yang lama-lama bisa membuatku diabetes jika diteruskan. Manis, masih sama seperti empat tahun lalu. Aih! Sunyi menjadi teman ketika kami saling menikmati sajian masing-masing. Tidak ada pembicaraan seperti dugaanku sebelum ini. Sesekali aku melirik ke arahnya, dan lagi-lagi aku tak bosan mengatakan bahwa dia mempunyai stok lengkungan bibir yang berlebih. Sesekali Arga menjahiliku dengan mencomot sedikit makanan dari piringku. Aku mendelik kesal, dan dia malah cekikian puas melihat ekspresiku. Lalu, dengan tak mau kalah, aku menyesap sedikit wedang Rajajowas yang dipesannya tadi. Ah, ini menyenangkan! Seketika kenangan itu menguar bersama angin malam yang agaknya mulai mendingin. Kami saling tertawa lepas satu sama lain. Hingga satu kalimat mampu membuatku kembali diam mengunci bibir. “Val, tentang kita .... Kita ini masih, kan?” Lidahku kelu hingga tak bisa melafalkan tanggapan atas pernyataan itu. Arga meraih kedua tanganku, membawanya dalam dekapan kedua tangan yang menghangatkan. Pandangan itu kembali ia tujukan kepadaku dengan ketulusan yang bisa kutemukan di dalam sana. Sementara aku? Bagaimana dengan detik selanjutnya yang harus kulewati?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN