Fachry – Itu yang Bodoh Siapa?

2482 Kata
Cukup sudah emosiku terkuras sehari ini. Emosi bukan hanya soal rasa gondok yang menyumpal salah satu saluran hati. Bukan hanya itu! Berawal dari kekalutan yang melanda Valerie, kemudian merambah menjadi gejala anxietas yang membuatku tentu saja sedikit kalang kabut. Lalu, emosinya berubah menjadi binar haru ketika melebur rindu dengan keluarganya. Kemesraan yang ditumpahkan kepada ayahnya, membuatku merasa lebih tenang barang sejenak. Hanya sejenak, seperti yang kubilang. Sejak kedatangan Arga di ruang rawat ayahnya, ekspresi Valerie kembali berubah. Terlebih sekembalinya ia dari ruangan Arga. Ya, Arga memang sempat meminta Valerie untuk mengikutinya. Mungkin, pembicaraan dokter dengan wali pasien? Aku juga nggak yakin, sih. Dari awal, memang sudah tercium ada kisah yang belum usai di antara mereka. Aku merasa, mereka saling kenal, sangat dekat malah. Dan, segala asumsiku tersebut menimbulkan rasa nyeri tak bersebab di kolong hati, Boy! Aku mengakui, ini menye-menye. Tapi nggak munafik, Bro! Sejak mengenal Valerie, memang ya ... seperti yang kalian lihat. Valerie kembali dengan wajah tertekuk juga sendu yang menyelimuti. Apa mungkin Arga menyampaikan sesuatu yang buruk terkait kesehatan ayahnya? Kemudian, ia memutuskan untuk keluar ruangan kembali. Dan, kali ini aku tak ingin tinggal diam begitu saja. Aku mengikutinya. Benar saja, ia hampir ambruk merosot kalau saja aku nggak segera datang. Lalu, tangis itu pecah seketika. Aku termangu. Di hari yang sama, aku mendapati perempuan ini, untuk kedua kalinya menangis di depanku. Hei, bro! Should I give her my hug again? Nggak ada cara lain sepertinya. Aku nggak peduli mau kalian menganggapku modus alus atau apalah itu, yang penting, tulus. Ya bayangkan saja, di sini ramai, orang-orang sudah pasti melihat ke arah kami, terutama aku. Jangan sampai dikira aku melakukan yang iya-iya sampai menyebabkan seorang gadis menangis seperti ini. Anjir! Reputasi, coy! Saat ia lebih sedikit tenang—ketika aku membawanya ke kantin—aku berusaha mengorek sedikit informasi terkait penyebab tangisnya kali ini. Meskipun tak secara gamblang ia menjabarkan, tapi satu kesimpulan bisa kutarik. Tidak lain karena kunyuk Arga cungpret! Anjir! s**t! *** Berada di sinilah aku sekarang. Apartemen pinggir kali yang disewa Arga untuk kelangsungan hidupnya selama di Malang. Memang sih mewah, tapi sedikit saja lengah, melongok keluar jendela, dan ada orang iseng yang menjorokkan, detik itu juga tamatlah cerita kalian! Kata Arga sih kali tersebut salah satu aliran Sungai Brantas. Ah, apa pun itu, bodo lah ya! Oh, tentang Valerie, sejak kejadian memilukan penuh derai tadi siang, pada akhirnya aku pamit. Aku ingin membiarkan Valerie menenangkan diri terlebih dahulu. Dan, melebur rasa rindu lebih lama dengan keluarganya tanpa gangguanku, tentu saja. “Jadi, gimana ceritanya?” tanyaku membuka sesi interogasi macam yang dilakukan seorang polisi kepada terduga teroris. “Harusnya gue duluan yang tanya. Lo yang notabene bos di Top Manajemen, bisa ya bela-belain ke Malang dengan dalih ada urusan padahal niat awal cuma buat nganter anak gadis orang yang cuma seorang mahasiswa magang. Catat itu, Nyet. Cuma mahasiswa magang.” Tekan Arga pada tiga kalimat terakhir. Sialan memang dia. Bukannya jawab pertanyaanku, malah balik tanya. “Lagi musim yang kek begituan, ya? Bahkan lo rela oper jadwal di poli. Demi?” sambungnya mencercaku. Salah, gengs! Kalau seperti ini, skenarionya terbalik. Arga telak berhasil melayangkan tudingan yang sama sekali tak bisa kusangkal. Lihat, coy! Jangan kaget kalau nanti ada sesi senggol bacok selama heart talk dua manusia berstatus sepupu ini. “Gue cuma nggak tega ngebiarin dia terbang sendiri ke Malang,” jelasku. “Dia anxietas, Pret. Gue tahu dari gelagatnya pas minta izin via telepon kemarin malem. Kagak tega aja gue. Ya kali dia kenapa-napa di jalan!” sambungku, mengutarakan penjelasan. “Khawatir lo? Apa semua mahasiswa lo mendapat servis yang sama?” Arga tak terima, kembali membungkamku dengan pertanyaannya. “Lo apaan, sih?” “Lo yang apaan?! Lo suka sama dia?!” Khas Arga sekali. Anti basa-basi. Tapi, justru pertanyaannya itu membuatku diam. Memikirkan kata tanya itu. Gue suka Valerie? Nggak salah? “Gue dan Valerie pernah ada hubungan empat tahun lalu.” Dalam keheningan, Arga memutusnya dengan sebuah kalimat yang memaksaku untuk memasang pendengaran ekstra. Sekilas kuperhatikan, tapi berusaha terlihat tak acuh. Aku hanya manggut-manggut tak jelas sebagai bentuk respons. “Oh, jadi, dia mantan lo?” Lalu, ada lirikan tajam dilemparkan ke arahku. “Lo ngarep gue sama Valerie udah jadi mantan?” tanyanya seram. “Eh, nggak gitu, Nyet. Kan lo sendiri yang bilang 'pernah', empat tahun lalu. Berarti sekarang?” Merasa tak terima dengan tuduhan Arga, aku balik menyerang. Tingkat kepo-ku sudah kadung mencapai puncak karena cerita Arga. s**t!! Seumur-umur aku nggak pernah begini. Ada helaan napas sejenak sebelum kunyuk satu itu melanjutkan ceritanya. “Gue juga nggak tahu sekarang gimana. Kami pisah tanpa kata berakhir. Tapi, selama itu pula nggak ada komunikasi terjalin,” ujarnya frustrasi. Sejenak, aku bisa menyimpulkan. Hubungan mereka menggantung begitu saja tanpa kejelasan pisah selama empat tahun. Itu yang bodoh siapa? Kalau dalam ilmu pernikahan Islam, sudah bisa dikatakan talak tuh! Pantas saja jika reaksi yang ditunjukkan Valerie begitu terkejut. Tak ayal, empat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk memelihara kenangan tanpa kejelasan seperti itu. Pertemuan kembali sebenarnya juga bukanlah opsi terbaik. Bagaimanapun, membangkitkan memori yang berusaha dipendam adalah satu hal yang menyakitkan. “Lo sama dia, gimana awalnya?” tanyaku defensif. Agaknya, rasa ingin tahuku semakin menjadi tak terkendali. “Saat itu, gue masih iship mendekati akhir. Ada acara health education dan pemeriksaan kesehatan ke SMA. Di situlah pertama kali gue ketemu dia.”  “Ya, biasalah. Namanya juga anak SMA, banyak yang caper. Tapi, satu cewek berbeda, dan gue penasaran. Dari situ, semua cerita berawal. Ya ... macam drama percintaan umumnya; perkenalan, semakin dekat, mencoba jalan, dan perasaan itu tumbuh dengan cepat, semakin dalam,” ucap Arga panjang. “Satu hal yang gue yakini saat itu, dia tulus sama gue,” lanjutnya dengan binar yang nggak kumengerti. “Terus?” Ada senyum di guratan garis bibir Arga sewaktu mau melanjutkan cerita. s**t! Aku merasa Arga begitu dalam menaruh perasaan ke Valerie. Dan, ini menimbulkan desiran nyeri yang membuatku sesak. “Singkatnya, lo inget nggak pas gue dipaksa pulang ayah buat handle RMC sementara sewaktu krisis terjadi?” Arga beranjak dari sofa menuju mini kitchen, mengambil satu botol soft drink dari lemari pendingin. “Ya, kayaknya gue inget. Pas lo baru masuk residensi semester awal kalau nggak salah.” Aku memang ingat, saat itu Rajendra Group sedang dilanda krisis sehingga papa dan Om Reikhan—ayah Arga—dibuat kalang kabut. “Nah! Gue memang udah pamit sama dia sebelumnya. Tapi, lo tahu apa yang terjadi sama gue setelah itu 'kan?” Ya, aku tahu semua itu. Titik terendah yang terjadi pada keluarga kami. Niat baik Arga untuk kembali ke Jakarta justru menimbulkan permasalahan lain. Arga kecelakaan di pintu keluar tol bandara. Kekacauan terjadi yang berakibat  trauma tersendiri untuk kami. Sebulan lamanya Arga menjalani perawatan dan pemulihan pasca cidera. Aku tahu semua itu. “Dari situ gue kehilangan dia. Pas gue balik, kota ini seolah kosong tanpa kabar apa pun darinya.” Arga menandaskan satu kaleng soft drink yang tadi diambilnya, kemudian meremasnya hingga ringsek dan melemparkan ke keranjang sampah ala-ala three point. “Lo nggak kenal keluarganya?” tanyaku penasaran. “Kalau gue kenal, nggak mungkin sesulit itu buat gue cari tahu apa pun soal dia. Dan, gue juga nggak sekaget tadi pas tahu kalau dia putri dari pasien yang gue tangani.” Arga mendesah frustrasi. Ini memilukan, sih. Tapi, aku juga nggak bisa berkomentar apa pun. Fakta kalau Arga pernah punya hubungan sama Valerie di masa lalu aja baru kuketahui beberapa detik yang lalu. “Temen-temen satu sekolahnya mungkin?” Aku masih menelisik kisah silam di antara mereka berdua. Sekali lagi, sudah terlanjur rasa penasaranku mengakar sampai dasar. Jadi, ya harus dibuat tuntas sejelasnya.  “Iya, gue sempat cari tahu ke teman-teman sekolahnya. Mereka cuma tahu, Valerie menolak undangan SNMPTN . Padahal gue tahu kalau dia pengen banget undangan itu. Dan, teman-temannya juga nggak tahu lagi Valerie ke mana. Mereka juga kehilangan jejak.” Arga meraup wajahnya yang tercetak jelas gurat penyesalan di sana. “Kan, lo bisa tanya kontak keluarga Valerie dari teman-temannya?” Arga mendelik ke arahku. “Cerdas lo! Tapi sayangnya gue yang bego saat itu. Mana kepikiran, Nyet? Gue udah macam orang gila nyari dia ke mana-mana.” Arga mendengkus kesal. Agaknya, kunyuk satu itu sedang menahan tangis sepanjang ia bercerita tadi. Sampai segitunya? Aku mengenal sosok lelaki di depanku ini sudah dari zaman kita masih berbentuk zigot. Berselang beberapa bulan saja, dan memang seolah sudah terbentuk sedari dulu kalau kami saling terikat satu sama lain. Mendengar semua penuturan Arga tentang masa lalunya, membuatku seolah tak terima dengan takdir yang terjadi di antara mereka. Ada semacam rasa gondok memikirkan perkiraan kembalinya mereka di masa depan.  Nggak rela rasanya kalau mereka bakal balikan lagi. Ada rasa sakit seakan sesuatu tengah mengambil paksa hatiku dari tempatnya. Rontok! Seketika keheningan menyergap. Benar saja, pembahasan ini terlalu sensitif untuk dikuak lebih lanjut. Aku memilih pengalihan dengan bahasan terkait karier Arga sekarang ini. Tentang kapan rencana ia kembali ke Jakarta dan memegang kendali penuh atas RMC. Dan masalah lainnya, asal bukan pembahasan mengenai sosok yang menangis dalam pelukanku tadi siang. *** Arga sudah teler dengan posisi tak karuan di kasurnya. Sementara aku? Boro-boro teler, rasa kantuk saja entah menguar terbawa angin dingin kota ini. Pikiranku masih berkecamuk tak karuan. Tentu saja, Valerie menjadi penyebab utama. Shit! Galauku sudah tingkat dewa rupanya.  Pandanganku beralih pada ponsel yang sedari tadi cuma kuputar-putar seperti fidget spinner. Ada satu niatan untuk menghubunginya tapi .... Ah, lama! Setan dalam diri menggerakkan jariku untuk men-dial nomornya di kontak. Selang beberapa menit, hanya nada sambung yang terdengar sebelum suara perempuan masuk ke dalam indra pendengaran. “Ada apa, Pak?” Mampuslah gue. Nggak ada pikiran topik atau alasan apa pun kenapa menghubunginya di jam yang sudah merujuk hampir tengah malam. Selain, topik mengenai dirinya dan Arga. Tapi, rasanya tidak mungkin kutanyakan itu sekarang. Jadi, ya hanya satu yang bisa kubahas sama dia sekarang. “Ayahmu baik? Kamu juga ... baik?” Mampus! Ada apa? Aku bahkan nggak tahu tujuanku meneleponnya.  “Kamu, baik?” tanyaku, mencoba biasa saja sebisa mungkin. “Bapak ngapain tanya gitu?” Skak! Memang, perempuan itu berhasil membuatku bungkam dalam sekejap. “Cuma tanya, memang nggak boleh?” “Boleh aja. Saya kan nggak punya hak untuk melarang Bapak.” Aku memang harus menyetok kosakata yang banyak tiap kali bicara dengan perempuan ini. Aku yang memang dasarnya irit bicara, menjadi gagu ketika dipertemukan dengan tipikal perempuan cuek seperti Valerie. “Pak? Bapak masih di sana?” “Iya, ini kamu di rumah sakit atau udah pulang ke rumah?” tanyaku lagi. “Mmm, udah pulang. Ayah nggak mau saya tidur di RS.” “Apa saya ganggu kamu?” “Nggak lah. Ada apa emangnya, Pak?” tanyanya balik. Belum sempat kujawab, ia menyela, ”eh, urusan Bapak gimana? Udah beres?”  Hahaha, masih saja dia ingat kebohonganku itu. “Sudah, kok.” “Mmm... berarti, sebentar lagi Bapak balik ke Jakarta?” Inginku nggak, Val. Tapi, kalau kamu sudah menemukan bahagiamu kembali, aku bisa apa kini? “Belum tahu. Kamu sendiri? Tanggungan magangmu masih banyak lho.” Ada hening sejenak sebagai jeda. Aku juga nggak tahu, sedang apa Valerie di sana. “Iya, apa keringanan untuk saya udah nggak berlaku, Pak?” Nampaknya, ia masih kalut dengan kondisinya ayahnya saat ini. Tapi, aku juga nggak bisa melakukan lebih. Urusan mahasiswa magang di bawah kendali kemahasiswaan. “Saya nggak bisa memberikan izin terlalu lama, Val.” Saya juga nggak mengizinkan kamu lama-lama di sini bersama cecurut Arga, Val. “Saya tahu, Pak. Kasih saya waktu tiga hari saja, Pak. Setelah itu, saya janji akan kembali ke Jakarta.” Lalu, payahnya aku yang melempem hanya dengan mendengar rengekan darinya. Sihir itu benar nyata adanya. Valerie mengacaukan beberapa impuls penting sistem syarafku. “Ya sudah, kamu istirahat, gih! Baik-baik, ya.” Tanpa menunggu jawaban dari seberang, aku memutuskan panggilan sepihak. Kemudian, pikiranku kembali melayang, mengawang di kehampaan ini. *** “Lo, mau ke mana pagi-pagi gini udah rapi?” tanya Arga, masih mengumpulkan nyawa sambil mengucek perlahan matanya. Dia sih sudah ngebo dari pukul satu tadi. Sementara aku? Boro-boro tidur, memejam saja rasanya nggak bisa. Parah memang. “Gue mau balik ke Jakarta, penerbangan jam sembilan,” jawabku sambil melirik smartwatch. Memang masih satu jam, tapi perjalanan dari apartemen Arga ke airport katanya sih lumayan. Apalagi rush hour seperti sekarang ini, jaga-jaga kalau macet seperti Jakarta. “Ngaco lo! Kenapa mendadak?” Arga bangkit dari kasur, melemparkan bantal ke arahku sementara ia melenggang ke kamar mandi. Aku cuma geleng-geleng saja melihat kelakuan absurd saudara sekakek itu. “Nggak mendadak elah. Emang jadwal gue balik hari ini,” tukasku dusta. Padahal asli, semalaman aku mencari reservasi tiket online penerbangan ke Jakarta dengan penuh perjuangan. Untung saja ada satu kursi kosong sekitaran pukul dua tadi setelah sebelumnya sudah full booked. Ya, aku mantengin memang. “Gue ada visit pagi, Nyet.” Arga kembali muncul dari kamar mandi dengan handuk untuk mengeringkan rambut basahnya. “Gue nggak butuh lo anter,” jawabku mengambil satu slice roti di mini bar milik Arga. Arga mengikuti, duduk di kursi tinggi seberang. Kini, ia menelisik, menatapku seolah meminta penjelasan lebih. “Apa keputusan lo buat balik tiba-tiba karena cerita gue semalem?” “Cerita apaan? Semalem kita banyak cerita, Nyet.” Menyisakan roti yang masih setengah, kuambil air mineral di lemari pendingin belakang mini bar. “Soal Valerie?” Aku tahu sangat sulit memang mengelabui saudara sepupu depanku ini. Tapi, aku nggak mau jadi orang menyedihkan di depannya. Toh, ini cuma rasa sesaat. Aku yakin itu. Ntar juga balik lagi ke kandangnya kalau udah ketemu pawangnya. Siapa lagi kalau bukan Freya. Ya, kan Bro? “Nggak ada urusannya sama dia. Gue emang kudu balik sekarang.” “Lo kalau bohong kira-kira, Nyet. Gue tahu lo udah rela oper jadwal sebelum ke sini. Dan sekarang tiba-tiba balik gitu aja. Kalau bukan karena gue sama Valerie, terus apa?” Diam menjadi senjataku kali ini. Percuma juga, kalau balas. Ujung-ujungnya juga dia menang karena menolak kebohonganku. Dan ketika Arga mau mengutarakan lagi kalimat apa pun itu, sebuah panggilan masuk ke ponsel. Dari supir taksi yang kupesan tadi. Beruntung. Ingatkan aku untuk berterima kasih pada supir taksi yang menyelamatkanku dari todongan pertanyaan biadab dari Arga. “Gue balik dulu. Taksi gue udah ada di bawah,” pamitku sembari mengambil tas yang kubawa kemarin. “Lo suka sama Valerie? Dan, lo jealous denger semua cerita gue semalam?” Gerakanku terhenti ketika mau menyarungkan tas di pundak. Aku tatap sejenak sepupuku itu sebelum beralih mengambil air mineral dan menenggaknya. Meredakan apa pun rasa yang kini bergejolak di dalam sana mendengar pertanyaan Arga. “Lo kayak kagak kenal gue, Nyet. Mana mungkin gue suka cewek ingusan macam dia. Udah, ah gue cabut dulu. Ada jadwal konsultasi di poli pagi ini. Baik-baik ya, lo sama dia.” Gegas, aku keluar dari apartemen. Enggan lagi mendengarkan apa pun tuduhan yang Arga layangkan. Meski hampir semua tuduhannya benar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN