Valerie – Lucu, ya Takdir?

1649 Kata
Bersyukur melihat ayah yang tampak sudah jauh lebih baik. Tanpa melewatkan sedikit saja, aku terus mengobrol banyak hal dengan ayah. Sebenarnya nggak tega juga terus mengajak ayah berbincang sana-sini. Tapi aku sangat merindukannya. “Gimana skripsine, Nduk?” tanya Ayah sambil membelai pelan rambutku. Aku dari tadi duduk di kursi samping brankar, menggenggam erat tangan ayah seolah tak ingin lepas. Pertanyaan ayah tadi hanya kujawab dengan kalimat ambigu sembari mengedikan bahu. “Wes sampai mana?” Seolah tak puas dengan jawabanku, ayah kembali bertanya. “Niki sampun masuk metodologi,” jawabku dengan pikiran mengawang. Sebenarnya, pertanyaan laknat bagi mahasiswa akhir seperti itu adalah seperti yang ayah layangkan barusan. Tapi, masa ayah sendiri dibilang laknat sih? Aku yang laknat! “Lancar kan?” “Insya Allah, restu dan doa Ayah Ibun adalah kekuatan Val, Yah.” “Kamu tahu, Nduk? Ketika kita sedang berada di titik paling jenuh. Di situlah ujian sesungguhnya dimulai. Terus maju atau mundur sebagai seorang pengecut. Semua itu adalah pilihan.” Ah, mulai deh. Setiap kalimat yang didendangkan ayah itu seperti pedang. Langsung menghunus tepat di sanubari terdalam. Paling bisa bikin aku termehek-mehek hanya dengan wejangan seperti ini. “Apa yang kita mulai, tuntaskan, jangan akhiri. Karena mengakhiri belum tentu tuntas, belum tentu selesai. Nah, kalau suatu hal itu sudah tuntas, belum tentu juga sudah berakhir. Siapa tahu, itu justru awal dari hal-hal lain yang siap disongsong kemudian.” “Nggih, Yah.”Lalu, aku harus menanggapi seperti apa lagi selain itu? Ayah memang orang paling bijak yang pernah ada dalam hidupku. Tak perlu diragukan lagi bagaimana ayah bisa mencetakku menjadi perempuan mandiri yang berani tinggal jauh dari rumah terpisah ratusan kilometer. Tapi ya .... Semandirinya aku, tetep aja aku tuh cewek, kadang bisa jadi makhluk paling cengeng sedunia yang nangis jejeritan nggak ketulungan. Ya, kayak semalam salah satunya. Nangis gara-gara mikirin kondisi ayah. “Nduk, mengerjakan sesuatu itu harus ikhlas, apapun itu, termasuk skripsi. Libatkan Allah di dalamnya, jangan sombong seolah kita nggak butuh pertolongan-Nya.” See? Nyesek sudah sampai ke ubun-ubun. “Ah, Ayah. Sudah, dong. Val nangis nih!” Kemudian, ada kekehan kecil terdengar dari salah satu sudut ruangan ini. Benar aja, dua lelaki sedang asyik duduk di sofa panjang itu sambil memperhatikan perbincanganku dengan ayah. Aku bahkan lupa soal Pak Fachry. Eh, bukan salahku juga sih. Siapa yang meminta untuk ikut ke rumah sakit padahal sendirinya punya urusan lain? Ah, biarlah. Pak Fachry bukan anak kecil yang perlu dikhawatirkan kok.  Setelah kulihat-lihat, sepertinya mereka berdua memang cocok, Pak Fachry dan Mas Miko. Seolah dua kawan lama yang kembali bertemu setelah sekian lama tak jumpa. Sayang, selang beberapa menit Mas Miko pamit karena harus bertemu mitra peternakannya. Jadi, tinggallah Pak Fahcry yang sibuk dengan ponsel canggihnya. “Selamat pagi. Saya mau visit kondisi Pak Ridwan.” Kudengar suara seseorang sembari melangkah mendekati ranjang arah. Perhatianku teralih begitu saja menatap orang yang kuduga dokter yang menangani ayah. Tapi, begitu pandanganku bertemu dengan netranya, jantungku seolah berhenti berdetak. Sekian detik, waktu serasa berhenti. Bukan lebay. Tapi, seriusan, aku kaget setengah mati melihat siapa dokter yang berdiri di depanku itu. “Mas Arga?” “Arga?” Spontan, aku menoleh ke asal suara yang menyerukan hal sama denganku. Menyebut nama lelaki yang membuatku galau nggak ketulungan selama empat tahun. Bahkan, sampai detik terakhir sebelum mendengar kabar dari Mas Miko soal ayah. Lalu, aku menyadari satu hal. Pak Fachry mengenal Mas Arga? Bagaimana bisa? “Nyet, lo praktik di sini?” Aku melongo. Mereka benar-benar dua orang yang saling kenal. Kemudian ada adegan peluk sambil ber-high five khas lelaki. Lucu ya takdir? “Lah, gue yang harusnya tanya. Lo ngapain ada di sini?” tanya Arga sembari menatap heran Pak Fachry. “Kalian?” Kali ini, pertanyaan tersebut diperuntukkan untuk kami berdua—aku dan Pak Fachry. Aku masih bergeming. Terlalu terkejut dengan apa yang baru saja kusaksikan ini. “Oh, ini mahasiswa gue. Dia lagi magang di RU. Kebetulan gue pas ada acara di Malang. Jadi, ya .... Sekalian bareng lah.” Pak Fachry menjelaskan dengan intonasi yang sangat tenang. Walaupun sebenarnya aku sangsi. Tak pelak karena mungkin kami semua sama-sama tidak menduga akan ada kebetulan semacam ini. Jelas, kaget itu wajar. Sementara Arga membalasnya dengan anggukan perlahan yang berulang-ulang. “Lo, dokter yang nanganin Pak Ridwan?” Kembali, Pak Fachry melayangkan pertanyaan. “Yap, betul,” jawab Arga mantap. “Oh, sebentar, saya periksa Pak Ridwan dulu,” lanjut Arga yang kini sudah bergeser di samping brankar ayah. Kemudian, Arga memulai percakapan khas dokter dan pasien. Beberapa kali menanyakan keluhan ayah dan memeriksa bagian-bagian tertentu pada tubuh ayah. Sesekali, terdengar bahasa medis yang kebanyakan nggak kupahami. Aku di sini, termangu menyaksikan. Empat tahun berlalu, dan kini, ia berdiri tegap masih dengan karisma yang sama. Dan, masih terlihat sangat memesona. “Kamu mengenal Arga?” Aku terpekik mendengar suara yang baru saja membuyarkan lamunanku. “Eh, oh, mmm.” Ya, hanya seruan serta dehaman yang bisa kujawab. “Wali Pak Ridwan?” tanya Arga usai menjalankan prosedur pemeriksaan. Untung saja, kalau tidak begitu, sudah pasti Pak Fachry terus melayangkan interogasi soal ini. “Sa-saya, Dok.” Bagaimanapun usahaku untuk terlihat biasa saja, tapi ... tetap saja ini nggak mudah. Gugup itu semakin menjadi tepat ketika mata kami saling bertemu. Iris itu masih sama sekalipun empat tahun telah berlalu. Tatapan teduh yang kurindukan masih memberikan pandangan yang sama. Membuatku kembali masuk ke dalam pesonanya. “Ibu kamu mana? Atau kakak kamu?” Buyar sudah image baik-baik saja yang kutahan sedari tadi. Satu saja kata terucap darinya, satu pula puing-puing pertahanan yang coba kubangun kembali luruh. “Ibu sama Mas Miko sedang keluar.” “Kalau kamu saja bagaimana? Ada yang perlu saya bicarakan.” Aku lantas melirik ayah sekilas, beliau mengangguk pasti. Kemudian, entah bagaimana ceritanya ada insting yang menuntunku mencari persetujuan dari lelaki lainnya di ruangan ini. Mataku beralih kepada Pak Fachry. Sedikit lebih lama, terkunci satu sama lain. Dan, anggukan itu membuatku menjawab iya kepada Mas Gaga. “Bentar ya, Nyet,” pamit Mas Gaga sama Pak Fachry. “Mari ikut saya,” lanjutnya yang kini sudah melenggang keluar ruangan. Aku turut mengikutinya sambil sesekali masih melempar pandangan yang seakan tak ingin lepas dari Pak Fachry. Ada rasa di dalam sini yang seolah tak menginginkan adanya kesalahpahaman terjadi. Oh, apa ini? *** “Udah selesai penjelasan dari dokternya, Val?” Pertanyaan itu masuk ke gendang telinga begitu aku masuk ke ruangan ayah. Pak Fachry menanti dalam diam jawabanku. Posisinya kini duduk di kursi sebelah ranjang pesakitan yang ditempati ayah. Dalam kondisi seperti ini, jelas aku tak akan bisa mengeluarkan satu kata pun. Sudah barang tentu tenggorokkan serasa tercekat. d**a ini mendadak pengap. Stok oksigen di pernapasanku tiba-tiba saja tersedot habis. Semua ini gara-gara lelaki yang beberapa menit lalu berdalih ingin membicarakan kondisi ayah. Tapi, nyatanya? Dia hanya diam dan memelukku yang membuat semua pertahananku hampir saja roboh. “Val? Apa kata Dokter Arga?” Merasa belum juga mendapatkan jawaban, kembali lelaki di depanku ini melayangkan pertanyaan. Aku tahu, sejak dulu pengendalian emosiku kurang baik. Dan, sebentar lagi, sudah pasti pertahananku jebol. Aku melihat ayah sekilas, untung saja beliau tertidur. Tak ingin mengganggu istirahatnya, aku memutuskan untuk keluar ruang perawatan. Dan, runtuh sudah. Sesak itu, tak bisa terbantahkan lagi bagaimana rasanya. Jerit kesakitan dengan bayangan yang telah terlalui selama empat tahun ini tertimbun, lalu kini sudah tak mampu lagi. Memori yang kupendam seolah terbangkitkan kembali, semakin menjadi. Empat tahun aku menunggunya, selama itu pula aku berusaha mengubur semua kenangan indah yang pernah kami lalui. Aku rindu, memang. Tapi ... ini terlalu sakit. Sesak ... sangat. Buliran bening yang menganak sungai di pipiku, sudah nggak tahu lagi seberapa derasnya. Tubuhku hampir merosot jika tidak ada dua tangan yang menahan lenganku tiba-tiba. Aku mendongak, ada Pak Fachry tepat di depanku dengan tatapan yang bisa kubilang tersimpan kekhawatiran di dalam sana. Pak Fachry mengkhawatirkanku? Tanpa kata, Pak Fachry kembali membawaku ke dalam pelukan. Sama seperti yang ia lakukan di airport tadi pagi. Sambil mengusap pelan punggungku. Ini salah. Rasa nyaman ini, rasa aman, merasa terlindungi, ah ... aku ingin menyangkalnya. Tapi, sentuhannya memang selalu menenangkan. Perlahan, sesak itu terurai. Tangis ini pun reda berangsur. Bersamaan dengan ucapan Mas Gaga yang menyatakan diri jika dia merindukanku, yang mungkin saja kebohongan semata. Sebab, lelaki yang merindu pasti akan berusaha untuk mencari, tidak berdiam diri saja menunggu. Selayaknya Mas Gaga yang tidak pernah bergerak untuk mendatangiku di Jakarta. “Ayo.” Pak Fachry menyeretku pergi. Tanpa ada bantahan, aku menurut dan pasrah begitu saja. Tidak berniat melayangkan pertanyaan apa pun. “Tunggu di sini sebentar,” titahnya. Ia memintaku duduk sementara ia pergi ke salah satu stand penjual makanan. Oh, aku bahkan baru menyadari saat ini kami telah berada di kantin rumah sakit. Apa aku baru saja terhipnotis oleh pesonanya? Ya ampun! “Kamu tenang dulu. Ini minum.” Aku mendongak begitu satu botol air mineral dia ulurkan padaku. Pak Fachry lantas mengambil duduk di samping begitu aku mulai menenggak air mineral tersebut. “Sudah? Feel better?” tanyanya yang kujawab dengan anggukan kecil. “Boleh saya tanya?” Kali ini, tatapan itu begitu dalam. Aku mendadak gugup dan kaku. Astaga! Di tengah kekacauan hati ini, aku sedang nggak mau berpikiran konyol yang iya-iya. “Iya, Pak?” Ada tarikan napas agak panjang terdengar sebelum satu pertanyaan ia lontarkan. “Kamu mengenal Arga?” Terkesiap, tentu saja. Tolong bantu aku, haruskah aku menjawab pertanyaan itu? “Eh?” Gagu, jelas! “Dokter Arga, yang memeriksa ayah kamu tadi. Kamu mengenalnya sebelum ini?” Aku membisu. Botol air mineral yang kupegang, entah bagaimana bisa ringsek karena remasan yang kulakukan untuk menetralisir rasa nggak karuan ini. “Apa semua ini ada hubungannya dengan Arga?” Pak Fachry benar. Tapi, aku nggak mungkin mengiakan dan menjabarkan semuanya. Dia terlalu baik untuk terlibat dalam rumitnya masalah yang sebenarnya bisa teratasi jauh hari. Soal hati yang terbebat kenang, entah sampai kapan pelik ini terurai tuntas. Kampret! Galau lagi!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN