Sepagi ini, kabut masih menggelayut, embun menggantung bening di dedaunan. Namun aku sudah berserak nyasar di salah satu terminal keberangkatan.
Adalah perempuan itu yang tak habis pikir bisa mencuci otakku. Merasuki salah satu bagian penting impuls saraf, lalu melafalkan perintah untukku menemaninya di sini, seperti sekarang ini yang kulakukan. Ada perasaan khawatir dan tidak tega membiarkannya pulang ke Malang seorang diri dalam kondisi 'mentalnya' yang bisa dikatakan sedang tidak stabil.
Masih ada lima belas menit sebelum take off. Valerie terlihat anxietas dari gelagatnya. Sedari tadi, ia tak bisa tenang barang duduk sebentar saja. Kembali berdiri, jalan dari sini ke ujung sana kemudian balik lagi. Jarinya yang terus digigit untuk menetralisir rasa cemas berlebih, tapi sepertinya tak berhasil.
Lalu, soal aku yang dengan bisanya berada di sini, sejujurnya aku juga nggak paham. Heh! Bahkan aku rela mengatur ulang jadwal di poli. Demi? Demi perempuan satu ini saudara-saudara. Perempuan yang kini tampak begitu gusar, tidak lain hanyalah mahasiswa magang di kantor Top. Juga, tersangka penimpuk pewe.
Tapi serius, aku juga nggak paham. Entah ke mana rasa kesal, dendam, dan segala niatan untuk meminta pertanggungjawabannya kemarin-kemarin itu. Malah, aku ingin mengerjainya. Lucu sih dia!Tapi, kalau melihatnya yang saat ini tampak kacau, aku sedikit khawatir. Tinggal jauh dari orang tua, wajar saja jika sebagai anak panik nggak ketulungan begitu mendengar kabar kurang baik dari keluarganya. Ada sedikit rasa yang bisa kusebut simpati, mungkin?
Atau rasa yang lain? Entahlah.
Namun, semakin lama, Valerie semakin tak karuan. Kecemasannya meningkat, tampak dari buliran keringat yang mulai mengalir di pelipis. Aku mendekat. “Val, duduk dulu. Masih ada sepuluh menit.” Aku menuntunnya untuk duduk di kursi panjang depan gate sambil menunggu panggilan boarding. Namun, ada hasrat lain yang memaksaku melakukan lebih. Aku membalikkan badannya, meraupnya ke dalam pelukan. Dengan tangan kanan di tengkuk dan tangan kiriku yang melingkari pinggangnya, deguban jantung itu benar-benar berpacu lebih cepat.
Hei, aku berusaha menenangkannya, bro. Janganlah kalian berpikir ini modus atau apalah itu. Asli, ini semata karena aku nggak ingin hal buruk terjadi. Pingsan, misalnya. Percayalah! Aku bukan tipikal lelaki yang memanfaatkan situasi dalam kondisi.
Dan, tak lama setelah itu, tangisnya benar-benar pecah tak terelakkan. Astaga, mengapa perempuan tercipta untuk ringkih sekali emosinya? Apa semua seperti ini?
“Valerie, tenang. Percayalah semua akan baik-baik saja,” ucapku sambil melepas pelukan dan mengusap pelan air matanya.
Shit! Otakku benar-benar korslet. Entah itu di bawah alam sadarku, atau justru sadar sesadarnya, aku mengecup pelan keningnya. Seketika itu juga, tangisnya berhenti. Aku terbelalak. Semudah itukah menghentikan tangis seorang perempuan? Oh! Lalu, apa yang baru saja aku lakukan?
Shit! Bodoh kau, Yik!
Kecanggungan itu berakhir ketika panggilan boarding mulai terdengar. Kami tersadar, bersiap menuju gate.
“Yuk, sini aku bawain tasmu,” ucapku dan ia hanya mengangguk, menurut begitu saja.
Kami segera melewati security check dan masuk untuk bersiap di dalam sana. Tapi, tak sengaja, ada sesungging senyum yang kutangkap dari rekahan bibir itu. Hah, ini gila!
***
Sepuluh menit tinggal landas, tak terdengar lagi suara isakan itu. Benar saja, Valerie sudah terlelap dengan posisi terlihat tak nyaman—kepala terkantuk-kantuk. Inisiatifku aktif, kuraih kepalanya dan kusenderkan saja di bahuku. Hisssh! Ini baru namanya modus.
Tapi, melihatnya terlelap seperti ini membuatku merasa tenang. Lagi-lagi aku mengakui, kewarasan otakku sedikit berkurang sejak mengenalnya. Hidung itu, mata itu, ah, cantik.
Ck!
Tapi ini gila sih! Seorang Fachry Anugrah bisa dikoyakkan hatinya oleh perempuan selain Freya? Oh, pencapaian yang bagus. Meski, kuakui. Nama perempuan itu masih bertengger di hati. Entah dalam posisi sebagai apa. Sahabat atau yang lain.
Lagi pula, sejak aku menemukannya terkapar lemas di kamar, perubahan sikap Freya berangsur kembali normal seperti biasa. Meskipun masih ada sedikit canggung, tapi aku bersyukur setidaknya Freya tidak lagi menghindariku dan mau makan siang bersama, misalnya. Karena itu pula, aku berpikir, ingin reset semuanya. Kembali seperti dulu, menghilangkan perasaan j*****m ini. Menyayanginya sebagai sosok sahabat terbaik dan tentunya, adik perempuan.
Kalau soal Arga?
Aku berusaha mengenyahkan segala pikiran itu. Toh, sepertinya itu sudah bukan ranahku. Sekalipun ada keinginan untuk menemuinya nanti ketika sampai di Malang. Tapi, tentu bukan untuk membahas hal-hal yang berkaitan dengan racauan Freya kala itu. Hanya sekadar jumpa melepas rindu. Meski, agak geli mengakui rindu sama kunyuk satu itu.
Sekalipun aku dan Arga banyak ributnya, justru di situ kami terlihat mesra. Bukan yang so sweet ala-ala gitu. Kisruh, olok-olokan sudah berteman baik dalam mewarnai persepupuan kami. Karena yakinlah hubungan darah di antara kami tidak pernah mendustai.
Di saat aku masih mengingat kenangan memalukan dan konyol antara aku dan Arga, suara lenguhan terdengar dari samping. Segera kujauhkan tanganku dari kepalanya, berharap dia tidak menyadari kemodusanku. Lalu, mulai kulihat matanya bergerak membuka. Dia menatapku sejenak sebelum berusaha mengembalikan kesadaran.
“Need something?”
“Belum sampai ya, Pak?” Bukannya menjawab pertanyaanku, dia justru bertanya balik.
“Belum, tidur aja lagi.”
“Eh, maaf, Pak. Saya nggak sopan nyenden Bapak gini. Maaf-maaf,” ucapnya seraya kembali duduk tegak.
“Jangan panggil Pak lagi dong, Val. Kan kemarin sudah kesepakatan kalau di luar kantor kita bicara informal.”
“Sudah saya coba, Pak. Tapi, nggak bisa. Lidah saya rasanya kelu, dan otak saya kayak sudah terprogram buat manggil Pak Fachry seperti ini.”
Tidak dipungkiri, ada keinginan lain yang meminta rasa ini untuk lebih dekat ketika kami sedang bersama. Tapi, tidak berlaku bagi Valerie juga sepertinya.
“Pak?”
Aku mengerjap, ah, lamunanku benar-benar konyol! Kutatap manik perempuan yang duduk di kursi samping jendela ini.
“Bapak ngapain repot-repot nganter saya?”
“Jangan geer kamu. Saya kan bilang, kebetulan yang sama memang saya ada urusan di Malang,” jelasku tentu saja berdusta. Dan bodohnya dia tidak curiga. Padahal, dia yang memegang semua jadwalku.
***
Setelah perjalanan di udara yang memakan waktu lebih dari satu jam, akhirnya kami sampai di kota Malang. Ah, sudah lama tidak ke sini. Rasanya benar-benar seperti kembali ke rumah. Meski Malang hanya tempat singgah tiap kali mau ketemu cecunguk satu itu.
“Setelah ini bagaimana, Val?” tanyaku melihatnya kembali bingung.
“Sebentar, Pak. Saya lagi minta jemput kakak saya. Mungkin habis ini sampai,” jawab Valerie sambil mengeluarkan ponsel dan memainkannya.
“Halo, iya, Mas di mana?”
Aku hanya memperhatikan ketika ia mulai menyapa seseorang di ujung sana. Oke, tadi dia bilang untuk dijemput kakaknya kan? Oh, aku berharap itu kakak sungguhan. Bukan kakak-kakak-an atau kakak yang ketemu gede atau sebutan lain yang—entah kenapa aku tak menginginkan hal itu terjadi.
“Oh, iya. Aku udah lihat kamu, Mas.” Kemudian dia mematikan telepon dan melambaikan tangan ke seseorang. Arah pandanganku mengikutinya. Ada sesosok pria dewasa yang kuperkirakan tak berbeda jauh denganku perihal umur.
“Mas ... gimana ayah?”
“Udah, tenang dulu. Kamu mau mampir rumah atau langsung nemui ayah?”
“Langsung lah! Sempatnya mikir mau mampir rumah?!”
Aku menyaksikan perbincangan mereka tanpa berniat menyela.
“Oh, iya. Ini siapa, Val? Bawa teman kok dianggurin, sih?!” Akhirnya ada yang menyadari keberadaanku, men! Hampir saja aku berpikir kalau sekarang aku sudah menjelma jadi makhluk tak kasatmata.
“Saya Fachry. Saya—”
“Pak Fachry ini atasan magangku, Mas. Kebetulan beliau ada keperluan yang nggak tahu tuh bisa kebetulan bareng, jadi ya sekalian.”
Aku hanya bisa diam sembari memasang muka datar. Membiarkan Valerie menjelaskan perihal hubungan kami. Meski sebenarnya, aku ingin memperkenalkan diri bukan sebagai atasan, sih. Teman, mungkin?
“Oh, ya? Saya Miko, kakaknya Val. Lalu, setelah ini Anda mau ke mana?”
Aku tergugu, sambil berpikir mencari jawaban yang tepat agar tidak kentara sekali kalau aku memang murni berniat menemani adiknya itu. Bisa panjang urusan, bro!
“Eh, nggak usah pakai Anda segala. Kesannya kaku banget, panggil Fachry aja, dan ya sepertinya kita seumuran,” ucapku berusaha meredakan canggung yang tercipta.
“Oke-oke, Ry. Jadi, gimana? Kami mau langsung ke rumah sakit setelah ini.”
Aku bergeming sejenak. Serius, mengakhiri kebohongan itu susah sekali. Sekali kamu terjebak, selama itu pula kamu harus bergelut di dalamnya. Terus memainkan silatan lidah, dan merajut kebohongan lain untuk menutup lubang dusta sebelumnya.
“Pak Fachry sepertinya ada urusan. Kalau gitu kami duluan gimana, Pak?”
Aku diam. Oke lah ada navigasi online. Okelah transportasi mudah dijangkau. Masalahnya adalah ... aku bisa sampai di sini dengan beragam dalih yang kadung kuucap hanya semata untuk dia. Dan sekarang?
“Kalau saya ikut kalian dulu aja gimana? Orang yang mau saya temui belum bisa dihubungi.”
Mereka berdua saling melempar pandangan seperti meminta persetujuan satu sama lain. Asli! Ini momen paling nggak oke yang pernah ada!
“Ya udah, mari, mobil saya ada di sana.”
Akhirnya, mau tidak mau, aku mengikuti mereka. Tentu, dengan pemandangan ciamik yang cukup mengganggu mata. Miko merangkul Valerie dan membimbingnya. s**t! Sedekat-dekatnya aku sama Fahira, nggak pernah tuh sampai begitu.
***
Aku mengikuti mereka dari belakang. Mengekori ke mana pun mereka berjalan. Bukan takut nyasar, hanya saja ada semacam perasaan tak rela membiarkan Valerie berdua-duaan bersama 'kakaknya' itu.
Anjir! Otak gue makin kacau, bro!
Cukup lama kami mengitari rumah sakit. Sesekali Miko terlihat berbincang ringan dan dibalas oleh Valerie. Kemudian, ada sedikit kecupan hangat yang diberikan Miko di puncak kepala Valerie. Pemandangan ini semakin menyilaukan mata. Sumpah!
Menikmati saja sajian pemandangan rumah sakit di sini. Sambil studi banding lah ya sama RMC. Memang besar sih, konsep rumah sakit yang dibuat melebar bukan meninggi seperti rumah sakit di Jakarta kebanyakan, apalagi RMC, konsep yang sungguh berbeda. Aku memandangi sekitar, melihat desain aristekturnya, hingga sesekali memperhatikan pelayanan rumah sakitnya sambil lalu. Cukup baik menurutku untuk rumah sakit di kota besar semacam Malang.
“Ah, ini dia bangsal Dahlia. Ayo Pak, masuk,” ajak Valerie. Aku masih memandangi sekitar. Ada tulisan 'Bangsal Khusus Jantung' yang baru kusadari bahwa dari kemarin belum juga kutahu terkait sakitnya ayah Valerie.
“Ayaaah!” teriak Valerie begitu masuk ruangan sang ayah. Lalu, ia menghambur dan melepas rindu kepada sosok pria paruh baya yang terbaring di brankar.
“Val .... Sayang? Kamu udah sampai, Nduk?”
“Val kangen Ayah. Maafkan Val, Yah.” Keharuan itu kembali terjadi.
“Hei, udah. Kamu lihat sendiri kan ayah nggak apa-apa?” lirih sang ayah sambil membingkai wajah putrinya.
Aku yang tak tahu harus bersikap bagaimana dan seperti apa hanya bisa diam melihat Valerie melebur rasa rindu dan kecemasannya sedari kemarin. Terlihat ayahnya sudah nampak baik-baik saja meskipun sedikit masih lemas dari nada bicaranya.
“Oh, iya. Kamu siapa, Nak? Temannya Valerie?” tanya seorang wanita paruh baya yang kuperkirakan adalah ibunya.
Aku menyahut sambil menyalami tangan beliau. “Pagi, Tante. Saya Fachry, temannya Valerie.”
Valerie yang tersadar dengan pembicaraan kami kemudian beralih ikut mendekat. “Ibun, ini atasan Val selama magang.” Dia mengklarifikasi. Sepertinya Valerie memang tidak berniat untuk menyebutku sebagai teman. Apalagi lebih? Jadi, harapan apa yang kuinginkan? Sementara Miko yang duduk di sofa putih panjang itu, memilih bungkam tak berkomentar.
“Ya ampun, kok sampai mau direpotkan Val seperti ini. Maaf ya, Nak.”
“Tidak repot kok, Tante. Saya memang kebetulan ada keperluan di Malang,” kilahku lagi.
Kemudian, Ibu Valerie mempersilakan duduk sementara beliau pamit keluar. Dan ya .... Jadilah kini aku mengobrol sekenanya dengan Miko yang notabenenya adalah benar kakak kandung Valerie. Oke, aman! Lalu, kualihkan pandangan ke perempuan yang tengah sibuk bercengkerama dengan ayahnya. Dia benar-benar memanfaatkan waktu untuk melepas rindu.
“Kardiomiopati, begitulah yang kemarin saya dengar dari penjelasan dokter,” ucap Miko mengalihkan perhatianku akan Valerie.
“Jadi, operasi?”
“Ya, kemarin lusa.” Terlihat jelas bagaimana kesedihan itu menyelimuti. Tapi, bersyukurlah bahwa setidaknya kondisi ayah Valerie bisa dikatakan baik-baik saja.
Dalam istilah kedokteran, Kardiomiopati merupakan penyakit karena adanya kerusakan atau gangguan pada otot jantung sehingga dinding-dinding jantung menjadi tidak bergerak secara sempurna ketika memompa atau menyedot darah. Memang perlu waktu yang lumayan untuk recovery hingga kembali seperti sedia kala.
“Selamat pagi. Permisi, saya mau visit kondisi Pak Ridwan.”
Suara dari arah pintu membuyarkan fokus kami semua. Tentu saja, pandangan kami mengarah kepada sosok pria yang berdiri tegap dengan setelan jas putih tersebut. Aku kaget melihatnya. Dia ....
“Arga?”
“Mas Arga?” Suara kami hampir bersamaan. Spontan kami saling menatap sama lain. Adegan slow motion seolah bermain. Oh, oke. Ada drama lain sepertinya.