Valerie – Maafkan Val, Ayah

2469 Kata
“Aktifin sim card lama yang pernah hilang bisa kagak sih?” Pertanyaan itu keluar begitu saja sewaktu mataku menatap ponsel yang layarnya mati. Kedua cungpret kesayanganku menatap bingung. Di saat hangout bareng untuk pertama kalinya habis keluar dari rumah sakit, aku malah ngasih pertanyaan nggak jelas gini. Jelas aja mereka bingung. “Buat ape sih, Val? Segala ada aja mau lo!” gerutu Arum sambil fokusnya tetap di layar empat belas inch depannya itu. “Lah, lo hafal nomornya kagak?” tanya Jejen di sebelahnya. “Hafal sih, tapi itu nomor empat tahun yang lalu,” jawabku pelan sambil mengutik ponsel yang tak berdosa ini. “Anjir! Ya kali!” seru Arum heboh. Sementara Jejen hanya memutar mata jengah melihatku. Serius, tiba-tiba saja terlintas di pikiranku tentang sim card yang dulu hilang sewaktu pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Diskoneksi hampir separuh kontak yang nggak kuhafal, termasuk ... orang itu. “Coba aja sih ke kantor providernya siapa tahu bisa.” Jejen menimpali dengan santai. “Buat apaan, Val?” tanya Arum penasaran. “Siapa tahu ada jejak Mas Gaga yang gue nggak tahu di sim card itu.” Dulu, empat tahun lalu, masih ingat jelas gimana jejak tuh orang lenyap seketika. Nggak berbekas, nggak berserakan juga. Dia hilang gitu aja entah itu ditelan bumi atau ketiup badai tornado, aku nggak tahu. Yang jelas, dia adalah orang paling tega karena membiarkanku rindu sendirian di sini. Rasanya kayak hidup di zaman batu tanpa koneksi komunikasi yang mudah dijangkau. Hell, seluas-luasnya Indonesia, ini tetap nggak masuk akal sih. Aku yang bodoh nggak sudah-sudah. Dan, aku masih percaya bahwa dia ada. Sampai sekarang. Entah di mana.  “Lo kangen Mas Gaga?” “Iya, bagaimanapun, ini udah empat tahun,” jawabku lesu. “Emangnya pas lo pulang kampung, lo nggak pernah nyoba nyari dia di rumah sakit gitu?” Jejen kembali melayangkan serangan seolah belum puas dengan kebodohan yang kualami. “Lo tau gue pulang setahun sekali pas lebaran doang. Akses buat nemuin dia tuh kayak diblok gitu aja. Terakhir, gue coba cari lagi di rumah sakit pendidikan kampusnya, nihil, coy! Terus, lo mau gue muteri seluruh rumah sakit yang ada di Malang? Hell! Itu banyak.” Mereka saling pandang, kemudian menghela napas kasar. Bisa dikata ini memang ironi. Jika ada yang bilang, 'Ya ampun, dunia sempit sekali,' aku belum bisa membuktikannya sampai detik ini. Aku benar-benar merasa semakin bodoh kalau terus-terusan mencarinya tanpa hasil. Yah, kalau memang saat itu tidak terjadi apa-apa, Gaga pasti sudah menemuiku lagi. Atau setidaknya, dia juga berusaha buat mencari tahuku. Paling nggak lewat orang tuaku atau teman-teman sekolah. Tapi, nyatanya? Dia nggak ngelakuin apa-apa. Kami lost contact. Ah, tapi buat apa galauin sesuatu yang nggak jelas. Mending kalau dia juga mikirin aku? Lah kalau nggak? Ngenes banget hidupku mikirin cowok yang nggak pernah menyadari keberadaanku. *** Fyuh! Akhirnya hari ini terlewati. Entah, tidak seperti biasanya memang. Hari ini, kantor Top Manajemen begitu sibuk luar biasa. Praktis, hal itu menjadikan kami para mahasiswa magang turut berkecimpung dalam kesibukan yang mendera. Tadi pagi saja, proposal pengajuan event dari anak-anak EM sudah menumpuk belum sempat sorting. Padahal, event terbaru kampus, olimpiade tahunan—yang menjadi event bergengsi antar kampus se-Jakarta—sudah di depan mata. Selain itu, kami juga harus mempersiapkan berkas-berkas untuk annual meeting pihak Rektorat dan pengurus yayasan Top Manajemen itu sendiri. Ini benar-benar melelahkan. Belum lagi pengarsipan rutin berkas yang terkumpul selama seminggu ini. Proses audit yang terkadang berbelit dan lama, menjadikan hari ini benar-benar sibuk. “Mbak, sudah selesai kan?” Aku bertanya sama Mbak Miranda sesaat setelah keluar meeting room. “Udah, kalian pulang sana. Makasih ya, udah dibantuin hari ini.” Mbak Miranda membalas seraya menyuruh kami beristirahat. Ah, akhirnya. Lega rasanya. Setelah sedikit berbenah, meringkes perlengkapan yang masih tercecer di atas meja, kini aku bersiap pulang. “Pulang, Val?” Gio bertanya begitu melihatku beranjak. “Iya, kenapa? Mau nawarin tebengan?” godaku yang langsung disambut kekehan kecil dari Ellen. “Nggak, apalah gue yang cuma naik motor. Bakal kalah sama yang punya nih gedung.” “Anjir, lo curhat, Yo?” Cetusan Ellen justru ngebuat obrolan jadi semakin seru. Melempar serangan saling ledek. Sambil sesekali sikut-sikutan kayak anak kecil. Ckckck, segitu desperate-nya mereka karena magang? Kami masih melontarkan candaan sembari menunggu lift berdenting turun ke lantai dasar. Dan, sepertinya keinginanku untuk segera bertemu dengan kasur harus tertunda. Tepat, saat lintu lift terbuka, view pertama yang tersaji adalah hujan deras. Shit! Astaga, Val! Jangan misuh! Hujan itu anugerah. Anugerah?Anugrah? Rajendra Fachry Anugrah? Lah? Kok jadi kepikiran nama orang itu sih?! Iish, kayaknya otakku ini perlu dicuci deh! “Val, hujan nih,” seru Ellen kembali memasuki gedung dan menduduki sofa yang berada di hall . “Gue juga tau.” Aku turut di belakangnya. Ya ... lagian, hujan gini aku bisa apa selain menunggu reda? Nggak mungkin buat nerobos, kan? Bisa masuk rumah sakit lagi ntar dan berurusan sama tuh orang. Males, deh. “Kalian nungguin hujan reda?” tanya Gio sambil mengeluarkan mantel dari dalam tas. “Nggak, sih. Gue nunggu abang jemput. Nggak tahu nih anak. Lo gimana, Val?” Ellen melirikku meminta jawaban. “Gampang sih gue.” “Sorry, Val. Bukannya nggak mau nebengin, tapi gue cuma punya mantel satu. Kan, bakal basah juga lo kalau ikut gue,” sesal Gio. “Ck, santai kali. Gue masih mau wifi-an di sini. Udah kalian duluan aja. Serius.” “Eh, Val, Abang gue udah di depan. Beneran nih?” “Beneran, udah sana.” Aku mendorong Ellen untuk segera bangkit. Ellen menurut dan pamit. Disusul Gio yang langsung ke parkiran motor. Aku hanya bisa duduk diam meratapi nasib. Ini nih, nasib orang yang nggak pernah prepare apa-apa. Udah tahu lagi musim hujan, mana nggak sedia payung di tas. Peribahasa sedia payung sebelum hujan nggak pernah mempan buatku kayaknya. Sebenarnya, sih kalau nekat bisa aja aku terjang. Tinggal lari bentar, terus nunggu angkot di halte depan. Tapi, nggak yakin besok aku bakal sehat walafiat kalau ngelakuin itu. Secara imunku kan sedang di ambang batas. Bisa-bisa bukannya cepet-cepet nyelesaiin magang, malah harus molor gara-gara sering absen lantaran sakit. Jadi, ya mau nggak mau harus nunggu hujan sampai berhenti. Hitung-hitung wifi-an gratis. Dingin, aku mengusap-usap kedua tangan, meletakkannya di leher berharap bisa sedikit menghangatkan. Namun, sebuah jaket kulit tiba-tiba membungkusku dari belakang. Praktis, aku berjengit kaget.  “Mau balik?” Ada suara di balik jaket kulit itu. Spontan, aku menoleh. Astaga! Sejak kapan orang ini ada di sebelahku? Masih dengan gayangnya yang sok coolkas, dia terlihat sedang  menerawang kira-kira kapan hujan akan reda. “Balik, nggak?” tanyanya lagi. “E-eh, iya, Pak. Nunggu hujan,” balasku sedikit tergagap. “Ayo aku antar.”  Aku mengernyit. Sedikit meragukan ajakannya barusan. “Ayo, ah. Lama.” Sepihak, ia membimbingku keluar dari centre building berpayung jaketnya tadi. Menyisakan aku yang masih terbengong dengan segala perlakuan mendadaknya. Begitu sampai parkiran, Pak Fachry membukakan pintu mobil dan memintaku untuk segera masuk. Setelahnya, ia menyusul lewat pintu seberang. “Maaf, Pak. Tapi, Pak Fachry nggak perlu sampai mengantar saya seperti ini,” ucapku ketika ia mulai menjalankan kemudi. Manusia kutub itu masih bergeming tak menanggapi ucapanku barusan. Tetap melajukan mobilnya sambil mengetuk-ngetuk kemudi sesuai alunan musik yang sedang berputar di radio. Beberapa kali satu mobil dengannya membuatku sedikit paham kedinginan yang selalu tercipta ketika kami bersama. “Pak?” “Hmm,” balasnya sambil melirikku sekilas. “Bapak kok mau-maunya sih nganterin saya?” “Oh, ya udah. Bentar,” tanyanya sambil melihat sunvisor yang sepertinya akan menepi. Lah? Kan aku cuma bercanda! “Pak, tapi ya jangan diturunin di sini dong!” “Tadi siapa yang sok-sokan nggak mau diantar?” “Saya kan nggak serius.” “Jangan panggil Pak lagi kalau di luar kantor. Atau, aku turunin kamu di sini,” ucapnya sedikit mengancam. “Silakan kalau Bapak tega mah.” Aku menggerutu kesal. Serius, kalau bukan karena dia yang maksa tadi, aku juga nggak akan kali seenaknya numpang dia! Kalau nggak ingat aku masih punya sisa masa magang, sudah teriak aku dari tadi. Biarlah orang-orang tahu kalau aku diculik eskimo. Biar dia digebukin massa. “Kok diem?” Giliran aku yang hanya memutar mata jengah. Malas! “Val, kamu kalau diem nggak asyik.” See? Hahaha, ingin rasanya membalikkan semua perkataannya. Tapi, aku cuma bisa nahan tawa.. “Udah sampai.” Keheningan lama tersebut akhirnya terhenti.  “Oke, makasih ya, Pak.” Begitu aku mau membuka pintu, satu tangan menahanku. “Iya, Pak?” Tentu saja aku bingung. Menatapnya bak orang bodoh. “Jangan panggil Pak dulu kalau mau keluar.” Plak! Nggak penting banget sih ini mah. “Oke, makasih, Kak.” Aku memasang senyum pasta gigi tercantik meski gondok tak tertahan di dalam sini. “Ya udah, kamu boleh keluar sekarang.” Aku keluar dan sejenak masih memperhatikan mobil Pak Fachry lepas dari pandangan. Yang penting, sekarang kasur sudah menungguku di depan mata. Dan, paling penting lagi, aku bisa sampai kos tanpa basah-basahan berkat orang itu. Bagaimanapun, terima kasih Es Kutub.  *** Finally ... setelah menyelesaikan misi cantik; mandi, ganti baju, dan sedikit berbenah, kini bisa juga memeluk bantal guling yang sedari tadi sudah memanggilku sambil merayu. Uugh,guling-guling di atas kasur meluruskan rusuk memang surga dunia tak terelakkan. Kenikmatan hakiki tiada tara Tapi kemudian, sebersit bayangan muncul di ingatan. Hasssh!! Bang Gaga again! Sesaat setelahnya, bayangan tersebut berganti lain. Dan, oh—Nggak mungkin! Kok orang itu tiba-tiba muncul sih?! Lalu, keduanya hilir mudik di otakku seperti tertawa meledek. Di saat aku masih sibuk membuang bayangan nggak jelas dua orang itu, ponselku berdering. Suara Meghan Trainor sedang mendendangkan lagu Dear Future Husband mengalun memenuhi ruang sempit kamar kos. Kulihat nama Ibun tertera di layar. Segera aku mengangkat, nggak ingin membuat wanita yang sudah membawaku dalam perutnya selama sembilan bulan itu menunggu. Terdengar suara salam balik dari Ibun di seberang begitu aku mengucap salam. Aku sedikit menjauhkan ponsel dari telinga ketika merasa suara Ibun terdengar berbeda kali ini. Terasa berat dengan isakan tertahan di dalamnya. Ada apa ini? Apa terjadi sesuatu di rumah? Sontak, pikiran buruk melayang-layang, menimbulkan ketakutan tersendiri. Belum juga aku bisa menghilangkan ketakutan itu, suara kakakku terdengar. Mengabarkan sesuatu yang membuatku rasanya ingin berteriak saat itu juga. “Val, ini Mas. Ayah sakit. Kamu bisa pulang?” Rasanya duniaku runtuh saat itu juga. Lelaki yang kubanggakan, cinta pertamaku jatuh tak berdaya dimakan sakit. Oh, ayah. Suara Mas Miko kembali terdengar, menanyakan perihal kesanggupanku buat pulang. Sejenak aku berpikir. Ada banyak tanggung jawab yang harus aku selesaikan di sini. Tapi, ayah ... maka, kuputuskan untuk memberi kabar Mas Miko lagi nanti setelah aku berhasil mengurus sesuatu. Izin magang. Jadi, nggak lama setelah Mas Miko menutup panggilannya, aku segera mencari nama orang yang sesaat lalu mengantarku pulang di ponsel. Pak Fachry. Aku harap dia mau memberiku dispensasi. ***  Di tengah kekalutan, aku mengemasi beberapa baju dan memasukkannya ke dalam koper. Dengan tangan sedikit bergetar, kubuka ponsel untuk mencari reservasi tiket online penerbangan ke Malang malam ini juga. Failed, jelas sudah full booked-lah. Aku semakin tak karuan. Resah, nggak bisa duduk tenang. Berdiri gelisah, jalan dari ujung kamar kemudian balik lagi. Begitu terus meski tak membuahkan hasil. Berpikir jernih dalam kondisi seperti ini juga tak banyak membantu. Hasilnya tetap keruh. Belum lagi soal izin magang. Mana orang yang aku hubungi tadi nggak menjawab lagi. Jadinya, pikiran semakin tidak tenang. Hah! Ingin rasanya berteriak kencang, menjerit sejadinya. Namun, suaraku seperti tertahan, tercekik nggak mau mengeluarkan satu nada pun. Mulut ini cuma terbuka lalu tertutup lagi seperti ikan terkapar di darat. Aku menelepon Gio dan Ellen untuk meminta bantuan perihal pengurusan izin magang. Tapi mereka juga nggak bisa apa-apa tanpa surat atau sesuatu yang menerangkan ketidakhadiranku besok. Lalu, aku beralih ke Mbak Miranda. Dan harapku bertumpu pada wanita dewasa satu ini. Naas, Mbak Miranda pun memberikan jawaban yang sama. “Mbak izinkan, Val. Tapi, kamu harus tetap konfirmasi ke Pak Fachry. Bagaimanapun, beberapa jadwal beliau ada di kamu.” Aku terduduk lemas. Bagaimana bisa izin? Orangnya aja nggak jawab. Aku berpikir lagi. Sampai akhirnya aku putuskan untuk menghubunginya sekali lagi. Semoga aja keberuntungan kali ini berpihak padaku. Maka, tanpa tedeng aling lebih lama, aku men-dial kontak Pak Fachry. Terdengar nada sambung di ujung sana, aku masih menunggu sahutan dari empunya. “Iya, Assalamualaikum.” Suara khas tersebut, beberapa kali berlarian di kepalaku. “Waalaikumsalam. Pak Fachry, saya ... saya .... Anu—aduh, saya ....” Aku tergagap sendiri, bingung harus mulai menjelaskan dari mana. “Pelan-pelan, ada apa? Kamu kenapa?” tanyanya terdengar ikutan panik tapi masih tetap berusaha tenang dari nadanya. “Saya mau izin, Pak.” Sambil terus menggumamkan doa, semoga saja nih orang satu sedang tidak ingin mengajakku bercanda. Pak Fachry belum juga menyahut. Mungkin, masih mencerna setiap ucapan yang baru saja kulontarkan terlalu cepat tersebut. “Izin apa ya?” tanyanya bingung. “Saya izin magang, Pak. Saya harus pulang ke Malang malam ini juga. Ayah saya sakit.” Aku berucap sekenanya. Harap-harap cemas takut tidak mendapat izin. Mana tiket belum didapat lagi. Double s**t! “Malam ini?” Terdengar pekikan dari ujung sana. Mungkin dia kaget dengan izin dadakanku barusan. Aku sudah tidak bisa berpikir jernih. Sambil menggigiti jari kuku, dengan suara yang sudah serak sedikit isakan yang nggak bisa kubendung—mungkin Pak Fachry mendengar dan bisa menangkap kegelisahan dari ujung teleponnya— aku mengiyakan pertanyaannya. “Valerie, kamu tenang dulu. Jangan panik dan gegabah,” ucapnya menenangkan. ”Kamu sudah dapat tiketnya? Penerbangan jam berapa?” lanjutnya kemudian. “Belum, Pak.” Aku menjawab lirih sambil menahan isakan yang semakin susah dikendalikan. Sialan air mata ini. Ngapain, sih pakai harus keluar segala. Umpatku kesal dengan buliran bening yang makin enggan berhenti. Terdengar helaan napas di ujung sana. Dalam kondisi seperti ini, tentu aja aku nggak sempat mikirin hal lain. Tolonglah, Tuhan. Bukakan pintu hati Manusia Es satu itu untuk mempermudah urusan magangku. “Valerie, dengarkan saya. Saya kasih kamu izin, asal dengan satu syarat.” Allah Tuhanku, bisakah ia tidak berulah di saat-saat genting seperti ini? Aku semakin nggak karuan menahan cemas yang nggak mau reda. “Kamu jangan terbang malam ini. Saya akan carikan tiket untuk penerbangan ke Malang besok yang first flight.” Kemudian aku tergugu. Kini, giliranku yang berusaha mencerna ucapannya. Tapi, sekeras apa pun aku mencoba, masih nggak mengerti apa maksudnya. “Tapi, Pak—” “Jangan matikan ponselmu, dan jangan coba sekali-kali nekat ke bandara malam ini. Atau, urusan magangmu jadi taruhan.” Kini, dia mengancam. Aku hanya bisa duduk diam. Pasrah dengan keadaan. Dia punya kendali semuanya. “Ya sudah, sekarang kamu istirahat. Jangan cemas.” Sambungan terputus, menyisakan aku yang terduduk lesu masih berusaha mengatur napas sebisanya. Jangan cemas katanya? Ya kali! Bapak nggak merasakan seperti ini, tolong. Ayah di sana entah bagaimana sekarang. Segala rapalan doa tetap kuucap dalam hati. Menggenggam asa yang sama, agar ayah selalu dalam lindungan-Nya. Maafkan Val, Ayah. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN