Pasca kejadian terkutuk di kebun teh, aku merasa menjadi orang paling bodoh sepanjang hidup. Memang benar kata orang, mencintai sahabat itu tidaklah mudah. Bahkan, bisa jadi seperti cinta terlarang ke saudara, haram. Ya kalau sahabatmu memiliki ketertarikan yang sama sih oke-oke saja. Kalau sebaliknya? Atau, dengan dalih kenyamanan sudah seperti kakak sendiri. Itu terdengar bullshit, tapi memang terjadi.
Jadi, don't try at home. Ini bukan untuk dipraktikan di rumah. Atau, sahabatmu akan lenyap tanpa sulap dan sihir.
Sejak itu, tentu ada yang berubah. Canggung, lebih dari apa pun yang pernah kami alami. Biasanya, ketika aku lebih banyak diam, irit ngomong, maka Freya akan selalu berusaha mencairkan dengan cerita-cerita konyolnya, meskipun ujung-ujungnya aku anggurin. Dan sekarang, aku tahu rasanya ketika tidak dianggap.
Freya mendiamkanku, terkesan menghindar. Karena seminggu sejak kejadian itu, sampai saat ini aku belum pernah bertemu Freya lagi. Hell! Kami bekerja dalam satu atap gedung yang sama. Memang, RMC luas, tapi ... kentara sekali dari sikapnya yang selalu memilih jam yang berlainan dari jadwalku. Bahkan, dia rela menggantikan operasi rekan dokter anestesi lainnya, tanpa ada rasa segan atau malas sedikit pun. Seburuk itukah rasa yang aku miliki, sampai-sampai dia enggan lagi berhubungan denganku.
Ketika aku berhasil menemuinya sekali, kemarin lusa, Freya hanya berbincang sekadarnya. Sangat kikuk, terlihat jelas dari gesture tubuhnya. Sementara aku? Nggak tahu lagi harus bagaimana buat mengembalikan kondisi ke semula. Seakan topik-topik yang biasa aku bahas dengannya hilang begitu saja. Tertelan kecanggungan.
Selanjutnya? Kami benar-benar seperti orang asing. Hanya sebatas rekan satu kantor. Tidak lebih dari itu. Belum lagi kesibukan di kampus yang menyita waktu. Membuat kami benar-benar tidak lagi saling bertatap muka, bercanda seperti biasa. Maka, hari ini kuputuskan untuk menyudahi semua drama apa pun di antara kami. Cukup sudah aksi menghindarnya.
Aku berjalan menuju ruangan Freya ketika jadwal visitku sudah selesai. Sayang, ruangannya terkunci ketika aku sudah sampai dan hendak membukanya. Ini aneh. Tidak seperti biasanya. Sesibuk apa pun dia, sekalipun dalam keadaan operasi, dia tidak pernah mengunci ruangannya. Tapi, sekarang? Ada yang nggak beres sepertinya.
“Mbak, dokter Freya sedang ke mana ya?” Kuputuskan untuk bertanya pada salah satu perawat yang berjaga di Departemen Anestesi.
“Nah itu, Dok. Sepertinya dokter Freya tidak masuk, tapi tidak ada pemberitahuan sama sekali,” jelas perawat tersebut.
Tidak masuk? Tanpa pemberitahuan? Ini semakin aneh. Pasalnya, Freya itu orang yang paling sigap dalam memberi kabar. Dia saja akan mencak-mencak kalau aku atau Arga tidak memberinya kabar ketika ada sesuatu. Tapi, sekarang dia justru melakukan hal yang tidak disukai. Kecemasan menyerbu seketika. Pikiran buruk menyerang.
“Kami sudah berusaha menghubungi tapi belum ada jawaban sampai sekarang, Dok,” imbuh perawat bernama Riri dari name tag-nya.
Gelisahku semakin menjadi. Sambil berpikir sejenak jadwal apa selanjutnya, aku juga ikut menghubungi Freya. Nihil.
“Ya sudah, Mbak. Saya permisi dulu,” pamitku.
Tanpa tedeng aling, aku segera keluar rumah sakit kemudian melesat menuju rumah dinas Freya. Sepanjang jalan, pikiranku terus berkecamuk. Tidak tenang. Terlebih jika menghilangnya Freya hari ini terkait sikapku seminggu yang lalu.
Sesampainya di rumah Freya, aku coba untuk mengetuk pintu. Namun, tidak ada sahutan. Tampak sepi memang, lampu juga tidak menyala. Untung saja aku ingat ada pintu lain di samping rumah. Bersyukur, pintu ini tidak terkunci. Aku segera masuk dan berhadapan dengan dapur begitu sampai di dalam.
Kupanggil nama Freya berulang sembari memeriksa satu per satu ruangan di rumah sederhana yang ditempati Freya ini. Namun, selama hampir sepuluh menit berkeliling, tidak ada sahutan dari dalam. Bahkan, rumah ini terlihat sunyi. Seperti sudah tidak ada lagi penghuninya. Seketika kepanikanku meningkat. Aku bergegas keluar lagi untuk mencarinya ke tempat lain. Tapi, langkahku terhenti begitu teringat ada satu ruangan yang belum kujamah sama sekali. Ruangan pribadi Freya. benar, ruangan itu … maka tanpa berpikir dua kali, segera aku berlari ke dalam.
Beruntung kamarnya tidak terkunci. Tanpa takut Freya akan marah aku masuk tanpa izin atau berpikir dia sedang melakukan apa di dalam sana, segera kudorong pintu kayu di depanku. Dan di sanalah aku melihat tubuhnya terbaring tak berdaya di atas ranjang. Wajahnya pucat dan penuh kesakitan, terdengar dari rintihan lirih yang keluar dari bibir. Astaga, Freya!
“Frey, lo kenapa?” tanyaku panik, mendekati kasur.
Gelengan lemah Freya berikan, sembari meringis menahan sakit.
“Frey, lo demam,” desisku mendapati sensasi panas saat menempelkan punggung tangan di kening Freya.
Pandanganku berkeliling, mencari peralatan medis milik Freya. Aku langsung memeriksa kondisi Freya begitu menemukan di tas kerjanya. Nadi cepat, pernapasan dangkal, tangannya berkeringat dingin sambil mengepal, terlihat seperti kram. Detak jantungnya juga tak beraturan.
Shit, gue harus apa?!
Bukannya menangani Freya, bisa-bisa aku sendiri yang terkena panic attack.
“Arrr... Gaa....” Di tengah kalutku, terdengar suara Freya merintih lirih. Nggak begitu jelas memang, tapi racauan seperti ini memang wajar bagi seseorang yang sedang sakit.
“Arrgaaa.” Kemudian Freya mengulanginya lagi.
Tunggu! Arga? ARGA?! Eh,Kok, Arga?
Freya sampai mengigau nama Arga, itu berarti ... segitu kangennya Freya sama Arga?
Aku mendadak blank. Serasa ada bom molotov yang menimpa dadaku kemudian siap meledak. Nyeri. Tapi, aku juga nggak bisa membiarkannya dalam kondisi seperti ini. Kugenggam tangannya sambil sesekali meremas perlahan, berharap ada sedikit kehangatan yang tersalur. Lalu, aku mengambil baskom berisikan air hangat dan mengompres keningnya.
Frey, kenapa Arga? s**t! Pikiran picik seperti ini benar-benar menggangguku. Kubuang jauh-jauh pikiran tidak sehat ini dan segera keluar dari kamar Freya untuk ke dapur, mencari sesuatu yang bisa menjadi asupan Freya ketika bangun nanti.
Ponselku berbunyi ketika aku sedang memasak bubur instan yang tersedia di dalam kabinet atas kompor. Ada nama Arga terpampang di sana.
Kenapa kebetulan datang bersamaan?
Segera kugeser tombol hijau di layar dan menyapanya. Terdengar jawaban dari seberang.
“Gaya lo pakai Gaa segala. Biasanya juga Nyet. Ngapain lo? Masih di RS?” Seketika aku terdiam, menolak untuk berkata jujur.
“Nggak, udah pulang sih. Napa sih, Lo? Tumbenan telepon?”
“Anjir, perlu alasan ya buat telepon lo?”
Aku hanya berdeham menanggapi.
“Eh, Nyet, Freya ke mana sih? Gue telepon ke hapenya nggak diangkat. Sibuk operasi ya?”
Dan, seperti ada gledek yang menerpaku. Arga menanyakan Freya tepat saat kutahu Freya mengingau memanggil namanya. Oke, memang sih kami bertiga selalu terkoneksi dalam satu frekuensi sejak dulu. Tapi, ada sedikit ngilu begitu tahu Arga semacam khawatir dan ... atau merindukan Freya dari logat bicaranya.
“Woey, Nyet. Gue ngomong sama elo, elaah!”
“Gue nggak tahu, Nyet. Mungkin aja emang Freya lagi sibuk operasi.”
“Lah, lo ada ketemu dia?”
“Nyet, udah ye. Gue mau jemput Fahira di kampus,” kilahku segera mematikan sambungan. Tidak peduli dia mau marah-marah di sana, aku hanya tidak mau lagi lebih lama berbohong. Dan seketika semua spekulasi muncul dalam benak. Memikirkan segala kemungkinan hubungan yang terjalin antara Freya dan Arga.
Sialan! Mereka tidak mungkin bermain di belakang gue.
Kubuang jauh-jauh pikiran itu ketika terdengar suara mendidih dari bubur yang kumasak. Segera kutuang ke dalam mangkuk dan membawanya ke kamar Freya. Perempuanku butuh asupan sekarang. Bukan pikiran-pikiran tidak jelas yang berlarian di kepalaku.
Freya sudah duduk bersender ke punggung ranjang ketika aku masuk. Dia masih berusaha mengumpulkan tenaganya yang lemah.
“Ayik?” tanyanya heran begitu menyadari kehadiranku yang berdiri di ambang batas pintu.
“Makan dulu, Frey.” Aku mendekat ke sisi ranjang. Mulai menyuapkan bubur yang kupegang tadi, tapi Freya menggeleng.
“Hhh, Frey, lo dokter. Nggak seharusnya lo kayak gini,” tegasku sambil kembali menyuapkan satu sendok.
Freya menatapku sekilas. Tapi kemudian, dia menolak lagi. Kenapa apa pun yang gue lakukan ke lo selalu lo tolak, Frey? Nggak cukup hati gue?
“Frey! Mau gue infus?” ancamku yang berhasil membuatnya sedikit membuka mulut.
Sedikit perlahan, Freya mulai melumat bubur yang kusuapkan. Walaupun terlihat menahan mual dan ingin memuntahkan, tapi kutahan dan terus menyodorinya hingga tandas.
“Udah, Yik.” Freya melambaikan tangan sambil menutup mulut, tanda sudah tidak mampu lagi menelan. Mungkin karena rasa mualnya itu.
“Ya udah, ini minum pelan-pelan.” Aku mengulurkan gelas dan menyodorkan ibuprofen yang kutemukan di kotak P3K di ruang tengah tadi.
“Makasih, Yik,” lirihnya masih terlihat sangat lemas.
Freya kembali berbaring dan aku menyelimutinya. “Istirahat, Frey.” Dia mengangguk pelan, perlahan memejam kembali.
Aku masih menunggunya, duduk di sofa yang berada di kamar. Sambil sesekali memperhatikan. Sepertinya, reaksi obat sudah mulai bekerja. Napasnya perlahan teratur, tidak lagi terdengar rintihan. Tapi aku masih harus di sini setidaknya sampai dia kembali bangun dan memastikan bahwa dia sudah baik-baik saja. Namun, sesaat kemudian aku ingat satu hal. Arga? Penasaranku menjadi, bagaimana mungkin Freya dalam kondisi tidak sadarnya bisa menggumamkan nama Arga.
Serindu itukah? Atau jangan-jangan .... Belum lagi menemukan jawaban, panggilan terdengar dari handphone. Kulihat nama Fahira tertera di layar. Segera kuangkat dan menyapa adik satu-satunya itu.
“Kak, please, jemput gue.”
Aku menjauhkan sedikit ponsel dari telinga. Lah? Ini kenapa seakan kebohonganku tadi menjelma nyata?
“Ngapain? Biasa juga nggak pernah?! Pulang sendiri sana!”
“Please .... Please, Kak. Kalau bukan karena lo pilihan terakhir, gue juga ogah telepon lo.”
“Papa?”
“Papa ada meeting di luar, gue udah tanya Mbak Miranda tadi.”
“Kan bisa minta tolong Mang Diman,” ucapku menyebutkan nama driver keluarga yang biasa dipakai mama atau Fahira.
“Duh, hari ini tuh jadwal arisan mama. Pasti Mang Diman ikut mama lah.”
“Devan?” tanyaku kembali. Ya, Devan juga salah satu sepupuku, adik Arga lebih tepatnya.
“Devan lagi nggak di kampus. Di RS kayaknya. Iihh, lo aja deh, Kak.”
Memang sih, Devan itu juga mengambil jurusan yang sama dengan kakaknya. Jadi ya wajar lah, kalau sebagian aktivitas kampusnya berpindah ke rumah sakit.
“Lo anak ansos? Sampai nggak ada satu pun yang bisa lo buat nebeng?”
“Lama lo, Kak! Lo di mana? Gue yakin lo nggak di RS. Lagi, gue tadi juga tanya Mbak Miranda lo nggak ngantor hari ini. Jadi, daripada lo ngelayap, mending jemput gue.”
“Bawel sih.”
“Biarin, gue tunggu di gazebo perpus pusat. Setengah jam nggak sampai, gue pulang naik taksi gelap. Biar gue diapa-apain dan lo disalahin papa!”
Sialan tuh adik satu. Belum juga mengiyakan permintaannya, main matiin sambungan aja. Kutatap Freya sejenak. Tidurnya sudah nyenyak. Aku beranjak dari duduk dan mengecek lagi suhu badannya yang sudah agak turun. Jadi, kuputuskan segera keluar kamar, menjemput adik bawel banyak tingkah itu.
Tapi, sebelum pergi, aku pamit dengannya. “Frey, gue pergi dulu ya. Get well soon. Gue sayang sama lo,” bisikku sebelum mencium keningnya.
***
“Lama amat sih! Amat aja kagak lama!” gerutu Fahira begitu aku sampai di depan perpustakaan pusat.
“Udah nyuruh, bukannya makasih, bawelnya diduluin.” ucapku sambil melajukan mobil menuju pintu keluar kampus.
“Sorry. Udah lama sih, gue nggak manja ke lo. Susah emang punya kakak yang lebih sayang pasien daripada keluarganya. Apalagi kalau pasiennya spesial.”
Ciiit ….
“Anjir, apaan sih, Kak?! Gue belum siap mati kali!”
Aku kaget serius, mendengar Fahira mengucapkan pasien spesial. Memangnya Fahira tahu kalau aku habis dari rumah dinas Freya?
“Sorry ... sorry. Ada kucing nyeberang tadi.”
Berusaha mengalihkan, kulajukan lagi Pajero hasil pinjam papa ini keluar area kampus. Fahira sudah tidak mengoceh seperti tadi. Adikku itu memilih menyalakan radio dan memutar saluran yang menyiarkan lagu-lagu kekinian zaman sekarang. Begitu keluar area kampus, seratus meter dari gerbang utama, tepatnya di halte depan, tampak jelas seseorang yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini. Valerie, tampak gusar sambil beberapa kali melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan.
“Eh, mau ngapain?” Fahira bertanya begitu menyadari laju mobil kupelankan sambil menepi.
Aku tak menggubris pertanyaan Fahira. Malahan, kubuka kaca samping Fahira dan bertanya kepada perempuan itu. “Valerie, mau pulang?”
“Oh, Pak Fachry? Eh—Mmm, iya, Pak,” jawabnya kikuk seperti biasa.
“Naik apa?”
“Anu, gampang lah, Pak. Banyak kendaraan umum.”
“Siapa?” tanya Fahira yang sudah terlanjur penasaran. Sementara aku hanya membalasnya dengan menatap sekilas kemudian beralih ke Valerie lagi.
“Bareng kami aja.”
“Iya, Kak, bareng aja. Yuk,” ajak Fahira antusias.
“Nggak usah, makasih.” As usual, selalu ada penolakan halus sebelum akhirnya mengiyakan. The real Indonesia, that's it.
Fahira yang sudah gregetan tentu nggak akan diam begitu saja. Fahira keluar mobil lalu mengajak Valerie berbicara personal entah apa yang kurang bisa terjangkau pendengaranku. Ajaibnya, Valerie bisa menurut begitu saja. Wih, punya sihir atau hipnotis macam apa nih, Fahira? Bisa ditiru kali ya.
“Jadi, Kak Vale tuh lagi magang di Top sekarang?”
“Ya, begitulah.”
Mereka mulai mengobrol sementara aku kembali mengemudi. Kuperhatikan saja interaksi yang terjalin di antara mereka. Khas perempuan, lucu saja mendengarnya.
“Kos kamu di mana, Val?” tanyaku menyadari kita sudah semakin jauh dan aku nggak tahu harus mengantarnya ke mana.
“Griya Jingga Mutiara, Pak.”
“Loh, jadi Kak Vale tuh bukan asli Jakarta?”
“Bukan, dari Malang aku tuh.”
“Apa sih, Kak pake aku-aku segala. Pakai lo-gue aja, biar lebih akrab.” Sementara aku hanya menjadi pendengar baik di antara mereka.
“Eh, Pak, itu perempatan depan belok kanan. Seratus meter dari situ ada gerbang masuk ke perumahan. Kos saya yang warna abu-abu merah.”
“Semacam driver Grab saya jadinya.” Aku sedikit menggodanya dengan melemparkan gurauan kecil.
“Eh, maaf, Pak. Bu-bukan gitu maksud saya.” Memang benar kalau cewek ini mudah sekali merasa tak enak hati. Hahaha, serius, entah kenapa sejak awal, menggodanya adalah hal paling membahagiakan saat ini. Gila memang! Tapi, aku puas.
“Udah Kak Val, nggak usah didengerin tuh orang. Memang rada-rada soalnya.” Fahira ikutan menyahut seolah menghasut kalau aku ini memang gila. Sementara Valerie menimpali dengan menyunggingkan senyum kecil.
“Yang itu?” tanyaku begitu terlihat rumah sesuai deskripsi Valerie sebelumnya.
“Iya. Makasih ya, Pak. Fahira, makasih juga ya.”
“No worries, Kak. Gue malah suka punya temen baru. Kayaknya lo asyik. Soalnya gue jarang gitu punya temen kakak tingkat. Sometimes gue kontak kita jalan-jalan berdua, lo mau kan?”
“With pleasure, Ra. Duluan ya.”
“Sip, bye, Kak.”
Ketika Valerie turun dari mobil, spontan aku ikut menyusulnya, menghampiri sembari memanggil namanya. “Val!”
Dia menoleh dan menatapku bingung sembari bertanya alasan aku turun.
“Kenapa masih manggil ‘Pak’ lagi? Udah bosan magang di Top?” ancamku untuk mengerjainya. Tapi, bukannya takut, Valerie malah menatapku balik dan menjawab, “Saya nggak enak ada Fahira. Nanti dia mengira saya dan Bapak ada apa-apa.”
“Apa-apa .... Apa?”
“Ya begitulah, Pak.”
“Alah, Fahira aja santai. Kamu tahu sendiri kan tadi?”
“Iya, sih. Ya udah, Pak. Eh—Kak, aku masuk duluan.”
Aku gelagapan. Tak ingin dia segera pergi dan berakhir begini saja. Namun, aku perlu berpikir keras untuk menentukan alasan yang bisa menahannya lebih lama di sini.
“Eh, kok buru-buru. Saya belum selesai, Val.”
“Ada apa emangnya, Kak?”
“Ah, nggak sih. Cuma, gimana tadi kantor? Aman?” Sejatinya, nggak ada yang bisa menyatukan kami selain keterikatan pekerjaan di antaranya.
“Aman, tadi saya udah jelasin beberapa via w******p kan ya?”
“Iya memang, saya makasih banget. Adanya kamu tuh sangat membantu, Val. Jadi nggak ketergantungan sama Miranda yang memang schedule-nya sudah padat.”
Ngomong-ngomong ini posisinya aku masih berdiri di depan gerbang kosan Valerie lho. Tuh cewek nggak ada inisiatif buat mempersilakan duduk apa?
“Sama-sama, Kak. Udah bagian dari tugas magangku juga lah.”
Dan belum sempat aku membalas sembari mencari topik lain untuk melanjutkan obrolan, suara klakson terdengar. Kulirik ke belakang, terlihat Fahira sudah memasang raut kesal, tidak sabar untuk pulang.
Dasar adik tidak tahu sikon. Nggak tahu apa kakaknya lagi pengen tahu lebih dekat sama orang. Awas aja nanti!
“Kayaknya Fahira udah pengen cepet-cepet balik. Lagian, nggak enak juga berdiri lama-lama di depan gerbang kayak gini, Kak. Val masuk dulu, ya. Makasih tumpangannya.” Belum juga aku jawab, dia sudah berlalu masuk ke dalam kos. Mau tidak mau, aku pun balik lagi ke dalam mobil.
“Jadi itu calon kakak ipar gue?” Pertanyaan to the point dari bocah cilik yang duduk di kursi penumpang, hanya kuhadiahi tatapan tajam. Tanpa menghiraukan rautnya yang nampak bersinar, seolah senang dengan apa pun dugaan dalam kepalanya, kulajukan mobil menjauhi gerbang kos Valerie.
“Gue kira Kak Freya yang bakal jadi kakak ipar gue. Tahunya, kakak tingkat toh.” Sialan adik satu ini. Nggak bisa diam apa?
“Bukan urusan lo. Diam dan nggak usah berpikir aneh-aneh!” sentakku kembali fokus ke jalanan.
Sepanjang jalan, pikiranku tidak tenang. Aku masih khawatir dengan kondisi Freya saat ini. Melihat keadaan jalanan tidak terlalu padat, kukirim satu pesan via w******p ke Freya.
Frey, udah enakan? Gue orderin GoFood ya, jangan lupa minum obat. Besok pagi kalau belum membaik, gue ke sana lagi.