Dari tadi, aku nggak tahu apa yang sedang kupikirkan. Kosong, tapi pikiran ke mana-mana. Bingung mau melakukan apa. Konsentrasi sama sekali nggak bisa sepadat biasanya. Pekerjaan pun terbengkalai. Imbasnya, lari ke skripsiku yang gantung macam jemuran kering nggak pasti nasibnya. Ternyata godaan mengerjakan tugas akhir itu begini banget. Kalau nggak ingat empat tahun udah kebuang, duh rasanya mau nyerah lambaikan tangan sama skrip yang bikin ngelus d**a terus-terusan ini.
Aku enyahkan hal-hal yang ganggu pikiran. Kembali fokus sama kerjaan yang udah melambai minta diperhatikan. Apalagi kalau bukan data-data milik TOP Manajemen tersayang. Ya, beginilah nasib anak magang. Diberi kerjaan yang nggak ada hubungannya sama jurusan. Tapi, usahaku berakhir sia-sia. Sekian menit natap layar komputer, nggak ada hasilnya. Kerjaan tetap aja berhenti di angka 130 pada lembar excel. Pikiranku bukannya lari ke angka-angka di depan malah ke dokter yang sekaligus menjabat sebagai atasanku itu. Sial!
“Kerja, woey! Jangan ngelamun terus!” Sebuah buku melayang mengenai kepalaku. Sialan emang tuh anak satu. Tatapan tajam kuarahkan padanya. Kesal dengan tingkahnya yang main ngagetin orang. Nggak tahu apa kalau jantung bisa copot gara-gara tindakannya itu.
“Ini juga kerja kali. Nggak lihat?” Tunjukku mengarah pada layar monitor.
“Kerja apaan. Dari pagi buta cuma dapat 130 baris. Daripada lo empet-empetin pandangan dan bikin kerjaan kacau, mending pulang sana. Istirahat.”
Sialan! Baru juga mau balas Gio, tahu-tahu suara Mbak Miranda masuk ke gendang telinga. Mana pertanyaannya itu lho. Bikin jantung berhenti kerja seketika. “Kangen Pak Fachry ya, Val?” Kuarahkan pandangan ke Mbak Miranda yang entah sejak kapan berdiri di depan kubikel sambil membawa tumpukan map seperti biasa.
“Mbak Miranda kok ada di sini?” Pertanyaan bodoh! Ya iyalah dia di sini. Dia kan kerja di sini. Orang kepercayaan pimpinan TOP Manajemen pula.
“Eh, maksudnya, bukannya Mbak Miranda lagi ada meeting sama orang kemahasiswaan?” ralatku cepat.
“Udah selesai barusan. Lagian, bener ya dugaan Mbak? Kangen sama Pak Fachry?”
Aku hanya menaikkan alis mendengar pertanyaan Mbak Miranda. “Mbak ngaco! Nggak lah!” elakku. Lagian siapa yang kangen tuh dokter? Kayak dunia mau kiamat aja pakai kangen tuh orang songong.
“Nggak salah maksudnya!” sahut Ellen dari kubikel samping.
“Noh! Ellen aja tahu! Seminggu Pak Fachry nggak ngantor, seminggu juga, kamu keliatan nggak fokus, Val. Kayak kehilangan semangat kerja gitu.”
Arah pembicaraan ini semakin ngawur. Aku nggak mungkin diam aja tanpa pembelaan. Tapi, pembelaan macam apa yang akan kulayangkan?
“Yang habis diajakin makan siang sama manajer Top mah beda ya! Kita mah apa tuh? Cungpret remahan biskuit melempem yang nggak bakal dilirik.”
Pernyataan Ellen barusan, jelas mengundang rasa penasaran seisi ruangan ini. Tak terkecuali Gio yang sedari tadi sok sibuk padahal asli, dia nguping dari kubikelnya. Dan sialnya begitu semua kujelaskan alasan Pak Fachry ngajak makan siang, seketika suasana kantor ricuh. Berbagai pandangan terarah padaku. Bermacam pertanyaan terlontar.
Malasnya tuh gini nih kalau suruh cerita soal kejadian kemarin. Ini semua gara-gara mulut ember Ellen. Coba aja dia diam tadi. Nggak bakal deh semua pada ngerubung ke sini. Bukannya kerjaan selesai. Yang ada malah nambah.
Acara kerubung mengerubung ini seketika berhenti. Semacam ada sidak yang menuntut mereka untuk kembali ke posisi semula. Pura-pura sibuk seolah sedetik yang lalu nggak ada guyonan macam ghibah dan segala jenisnya.
Aku mengerutkan kening, memangnya ada apa?Satu isyarat dari Ellen yang mengarahkan lirikan bola matanya ke arah belakangku. Praktis, aku berbalik dengan cepat. Fualaa … orang yang sedari tadi menjadi bahan pembicaraan kami, berdiri dengan gagahnya di belakangku. Kurang keren apa coba hidupku?
“Pp-pak Fachry?” Jelas aku tergagap seketika.
“Valerie, bisa ikut ke ruangan saya sebentar?” tanyanya pelan, namun dengan intonasi ingin membunuh.
Mampus! Bersiaplah untuk mengakhiri semuanya, Val.
Segala serapahan kuocehkan sendiri sambil mengikuti orang itu dari belakang. Aku tahu, tatapan seisi orang di ruangan. Apalagi kalau bukan iba. Alias kasihan dengan nasibku yang nggak ada hokinya dari kemarin. Harus berhubungan sama tuh atasan terus-menerus.
Pak Fachry langsung mempersilakan begitu aku mengetuk pintu. Sedikit kikuk, tegang sudah pasti. Hari ini cerah, dan semoga saja Pak Fachry tidak merusaknya dengan segala hal yang akan terjadi nanti. Semoga.
“Ini dokumen yang kamu minta sama Miranda kemarin. Kamu membutuhkan ini untuk data skripsi kan?” ucapnya sambil menyerahkan setumpuk berkas di depanku.
Aku melongo. Di luar dugaan, gaes! Lebih kepada nggak percaya kalau aku bakal dapetin ini semua dalam waktu singkat. Segala rumor tentang belibetnya sistem manajemen di lantai dua belas rasanya bohong. Nih buktinya!
“Ini serius, Pak?” tanyaku belum percaya begitu saja.
Aku cengo. Mau ngambil tapi takut salah. Nggak diambil kok ya eman. Takut keburu berubah pikiran nih orang.
“Jadi kamu nggak mau?” Pak Fachry menyimpulkan sendiri sambil berusaha mengambil kembali berkas yang sudah diserahkan. Buru-buru kutahan, dan memasang smirk terbaik untuk meredakan kekesalannya. “Mau, Pak. Saya mau banget. Terima kasih sebelumnya.”
“Nggak gratis. Ada syaratnya!” Dia tersenyum licik sekilas kemudian melempar pandangan tajam ke arahku. Astaga! Apa lagi maunya ini orang? Sepertinya dugaanku meleset. Bukannya mudah tapi malah tambah susah.
“Masih ingat dengan mobil tanpa dosa yang kamu timpuk pakai batu kan?”
Seketika tubuhku melemas. Kampret! Aku hampir aja lupa soal itu. Kukira udah beres semua. Eh, tahunya diingatin lagi. Aku cuma bisa ngangguk mengakui. Nunduk aja dan nggak berani menatap sorot lawan bicara di depan.
“Kamu harus tanggung jawab!” putusnya final.
Masih dengan nada sok berkuasa, Pak Fachry menyenderkan tubuh di sofa dengan melipat kedua tangan di depan d**a. Tatapan penuh intimidasi itu dijuruskan langsung ke mataku. Siapa juga yang sok merindukan orang ini? Salah tuh anak-anak. Giliran sekarang sudah muncul, bikin gregetan nggak ketulungan!
“Saya akan tanggung jawab kok, Pak. Sebutkan saja nominal yang Bapak habiskan untuk servis kemarin. Tapi, mohon keringannya, saya hanya bisa nyicil, Pak.”
Aku pasrah, bersiap mendengar kejutan selanjutnya. Yakinlah setelah ini tidak akan ada acara antre beli nasi Padang di gang depan kos. Duit yang udah kuirit-irit bakal melayang tanpa jejak. Kayaknya aku kudu nyetok mie instan satu kardus buat jaga-jaga aja kalau kelaparan tengah bulan nanti.
Sesekali aku mencuri pandang ke arah si patung kutub yang masih memicingkan mata dan memperhatikanku.
“Nyicil? Pakai apa?”
“Bapak nggak usah merendahkan saya. Sekalipun saya ini anak kos, gini-gini saya punya tabungan, Pak!”
Dan, dia tertawa. Ingin berkata kasar aja rasanya ngelihat tawa dia yang ngehina itu.
“Saya nggak mau kamu nyicil-nyicil gitu. Apaan!”
Nah? Selalu berbelit dan ribet kan? Aku masih di sini. Dengan tatapan bego khas orang kebingungan. Paling nggak bisa membaca ekspresi orang apalagi model orang-orang lempeng macam Pak Fachry ini. Serius, ini sangat memuakkan.
“Lah terus saya kudu gimana, Pak? Saya nggak bisa langsung membayar sejumlah nominal yang akan Bapak sebutkan.”
Aku udah geram banget. Gondok rasanya ngeladeni orang freak macam manajerku ini. Kalau nggak ingat skripsi, lagi-lagi pengen segera hengkang dari sini.
“Saya mau kamu jadi asisten saya selama magang di sini!” putusnya final seenak jidat. Nih orang maunya apa sih? Main putus-putusin aja dari tadi. Please, kita jadian aja belum, udah mutusin sepihak. Dari mulai minta tanggung jawab, eh sekarang malah nyuruh jadi asisten
“Saya,Pak?” Aku memastikan. Yah, siapa tahu aja kan pendengaranku salah. Dia bilang sekian juta, eh aku dengernya dia nyuruh jadi asisten. Bisa jadi, kan? Meski kedua kalimat itu jauh sih.
“Emang ada makhluk lain di ruangan ini? Jadi, mulai hari ini kamu atur jadwal saya. Cocokkan dengan jadwal praktik di rumah sakit. Kalau aku nggak bisa datang ke kantor, kamu harus kasih kabar ke saya by phone. Intinya kamu atur aja, bagaimana biar jadwal saya di kantor dan di rumah sakit nggak crash. Nanti saya emailkan jadwal saya di rumah sakit.”
“Ta-tapi, Pak? Gimana sama Mbak Miranda?”
“Miranda itu asisten Pak Rahman. Nggak akan sempat kalau harus ngurus saya juga.”
Aku lagi-lagi diam, mikirin kalimat sanggahan lain buat balas. Tapi semua ketahan, aku seolah terhipnotis buat tunduk mengikuti alurnya.
“Ya udah kalau kamu nggak mau. Saya nggak maksa,” ucapnya mengambil berkas-berkas di depanku. Berdiri, kemudian mulai mengembalikan di lemari belakang meja kerjanya.
Aku bimbang.
“Saya bersedia, Pak.” Spontan aku teriak dan nggak mikirin kemungkinan lainnya.
Pak Fachry berbalik, melemparkan seutas senyum entah itu palsu atau tulus dari hatinya. Aku nggak peduli. Jelas, nggak ada prioritas lain kecuali gimana cara nyelesaiin magang skripsi ini dengan cepat dan segera lulus.
***
Seminggu sejak itu, intensitas pertemuan kami semakin meningkat. Bukan aku jadi suka, serius ini lebih ribet dari yang kubayangin. Kalau boleh milih, maunya kayak mahasiswa lain yang damai-damai aja ngerjain skripsi. Nggak perlu riweh ini itu kayak aku gini. Jadilah, selama seminggu ini, aku sering menemani Pak Fachry dinas luar meninjau garapan proyek perluasan Rajendra University.
Sebelumnya, proposal tentang proyek ini sudah kupelajari. Ada rencana pemugaran gedung olahraga dan penambahan beberapa fasilitas penunjang. Lumayan lah, jadi nggak cuma olahraga mayor aja yang bisa eksis di RU. Banyak lho, cabang olahraga minor yang jarang diketahui tapi memiliki potensi pengembangan yang bagus. Contoh kecil aja nih, wushu, panahan, mmm ... apa lagi ya? Itulah pokoknya!
Saat ini, Pak Fachry sedang berbincang serius dengan kontraktor yang memenangkan tender garapan proyek bernilai milyaran.
“Jadi begini, Pak, untuk venue yang sebelah kanan kita sudah perhitungkan mau seperti apa nantinya. Kalau venue yang sebelah ini, hanya perlu sedikit polesan saja. Bagaimana menurut Bapak?” Aku mendengar sedikit arah obrolan mereka.
“Iya, saya paham. Bapak atur aja baiknya gimana. Saya percayakan sepenuhnya kepada tim,” ucap Pak Fachry kepada kontraktor tersebut.
“Siap, Pak,” balas orang kontraktor dengan sedikit sungkan.”Baiklah, kalau gitu saya permisi dulu. Selamat bekerja kembali.” Kami pamit, menyudahi survei lapangan kali ini. Keluar dari lokasi proyek, matahari begitu terik. Kugunakan map di atas kepala untuk melindungi dari sengatannya. Tahu ada cewek kepanasan gini, nih orang tetap nggak peka! Kesel! Sebel!
“Ke mana lagi setelah ini, Val?”
Ke mana-mana hatiku senang, Pak. Plak!
Kalau ke hati Bapak gimana? Makin plak!
Belum juga mendapat balasan dariku, Pak Fachry melirikku sekilas.
“Oh, untuk hari ini cukup, Pak. Hanya ada beberapa berkas yang perlu Bapak cek ulang sebelum ditandatangani.”
Kuperhatikan sekilas, Pak Fachry hanya manggut-manggut nggak jelas. Yah, memang orang itu nggak pernah jelas sih. Kadang dinginnya kebangetan, cueknya naudzubillah. Tapi, pernah di sisi lain, dia menunjukkan perhatian kecilnya. Sewaktu aku kemarin sakit, misalnya.
Goblog! Itu karena memang dia dokter, cuy! Nothing special!
Selama perjalanan menuju parkiran mobil, sesekali Pak Fachry berdeham sedikit keras. Beberapa kali seperti ingin mengeluarkan dahak tapi nggak bisa karena tertahan. Agak risih sih ya! Tapi, terlalu takut untuk menegurnya. Bukan kapasitas coy! Ada cara lain untuk meredakannya. Kukasih aja air mineral yang ada di tas. Mungkin haus. Siapa tahu kan?
“Bapak haus?” Dia mengernyit, masih ragu sambil berpikir sejenak.
Ah elah! Lama. Nggak urung, akhirnya dia ambil dan langsung nenggak hampir separuh isi botol. Aku sedikit terkikik melihat ekspresinya. Orang kaku macam dia, kalau menurunkan gengsi itu cenderung lucu. Sok ogah-ogahan, padahal asli, dia juga butuh.
“Makasih,” ucapnya sambil menyodorkan kembali botol padaku.
“Nggak usah, buat Bapak aja,” tolakku sambil kembali berjalan.
“Yakin kamu nggak haus?”
Astaga! Dia kembali menyebalkan, gaes!
Aku menggeleng, nggak menggubris gurauannya. Terik pukul satu siang memang nggak ada yang ngalahin panasnya. Terbukti perjalanan ke parkiran gini aja kerasa lama banget. Heran deh! Sepanas ini, kenapa es batu di sebelahku belum juga mencair? Bisa ya, ada orang paling nyebelin dengan sikap dinginnya gitu. Kalau aja nggak ingat senyuman orang ini yang—Ya, Tuhan! Nikmat-Mu tak pernah terdustakan. Bikin mimisan, deg-degan nggak tahu diri.
Aiih! Mateeek!
Tapi, itu hanya muncul ratusan purnama sekali. Sangat jarang dan langka. Jadi, kalau kalian menemukan orang ini senyum seperti yang kuceritakan tadi, perlu diguyur raksa kemudian dimuseumkan.
“Eeeeh .... Ehhh .... Eeehh.” Tiba-tiba saja keseimbanganku goyah, tubuhku oleng.
Alamat nyungsep nih! Aku memejam siap-siap malu. Sedetik ... dua detik ... tiga detik ... eh—kok nggak bunyi suara gedebruk sih? Kok nggak sakit ya? Terasa empuk seperti—”Whoaa!!!” Refleks aku berdiri, sedikit terjengkang karena posisiku yang hampir terlentang menyulitkanku buat bangun.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Pak Fachry sedikit panik.
Serius, aku kaget begitu membuka mata dan menemukan wajahnya tepat di depanku tadi. Gila! Maniknya mengingatkanku sama Mas Gaga!
Lagian, ini bukan serial FTV yang kemudian aku bisa berlama-lama memandangi wajahnya dengan posisiku tertahan tubuh kekarnya. Nggak ada macam begitu!
“Saya nggak apa-apa, Pak. Makasih,” ucapku kikuk.
Salah tingkah, coy! Blush! Merah padam kayak tomat busuk, nggak tahu deh
***
“Pak, kita mau ke mana? Ini kan bukan jalan balik kantor?” tanyaku begitu sadar ada sesuatu yang janggal.
“Bisa kamu sedikit nurut tanpa cerewet?” balasnya yang sontak membuatku mendelik.
Shit! Aku mau diculik! Sama orang ini, dan—Oh, no! Pikiranku sudah mengarah yang iya-iya aja! Aku panik. Berusaha gimana caranya menghentikan mobil ini. Iseng aja kugertak dia dengan membuka pintu mobil sampingku.
“Eh, kamu mau ngapain?! Jangan gila, Val!”
“Bapak yang gila!!”
Aku menyerah. Capek karena nggak juga berhasil membuka pintu. Auto locked-nya benar-benar berfungsi. Lagian, sebenarnya aku sendiri ngeri sih kalau mobil udah kebuka terus mau apa? Loncat? Oh, aku nggak siap mati sekarang!
Suasana kembali hening. Masih dengan rasa kesal dan gondok karena Pak Fachry belum juga menjelaskan tujuan kami selanjutnya.
“Bapak memang sudah terbiasa seenaknya gitu, ya?” Pada akhirnya aku yang terlebih dulu mencairkan suasana. Tapi, bukannya jawaban yang didapat, kebisuanlah yang terdengar. Nyebelin! Capek nunggu suara tuh orang yang masih asyik dengan kemudi, aku milih diam. Natap jalanan lebih asyik daripada nungguin tuh orang ngasih penjelasan.
“Pak, saya tetep nggak boleh tanya nih?” tanyaku sambil melepas seatbelt dan bersiap keluar mobil. Kalian tahu ke mana Bapak Fachry Rajendra ini membawaku? Ke salah satu pusat perbelanjaan daerah Grogol. Bayangin aja mau ngapain coba tuh orang ngajakin ke sini? Mau traktir baju? Oh, berasa mimpi kalau itu terjadi.
Belum ada jawaban. Kemudian, kami melenggang saja memasuki mal dengan aku yang mengintili macam orang nggak kepakai. Lalu, tiba-tiba langkahnya terhenti, membuatku terpekik kaget dan otomatis menabrak punggungnya. Aku mendongak, bertatapan dengan orang itu yang sudah berbalik badan.
“Saya nggak mau orang ngira saya bawa kacung. Atau semacam ada orang yang nguntit saya. Jangan jalan di belakang.”
Berusaha ngembalikan mood-ku yang berceceran, aku coba nikmati suasana sore yang terbilang adem di tempat ini.
“Kamu cari aja spot yang bagus, saya carikan minuman dulu,” ucapnya memintaku. Kemudian, sudah melenggang ke arah kedai kopi kenamaan, meninggalkanku di sini.
Lalu, kalau aku hilang atau diculik orang bagaimana?
Daripada tambah bête aku cari tempat duduk yang masih kosong di salah satu sisi taman tepat depan kolam air mancur. Mal dengan taman di tengah dan area bermain yang luas. Cocok jadi opsi untuk santai saat weekend bareng keluarga, dan … pacar … kalau ada! Garis bawahi, kalau ada! Masalahnya aku aja nggak tahu aku ini punya pacar atau nggak?! Kampret kan?
Tempat ini memang apik sih. Semburat senja yang perlahan lingsir melewati gedung-gedung pencakar langit itu, sangat memesona. Pendaran jingga yang begitu indah. Oh, ini kuasa Tuhan. Cantik. Kayak aku, salah satu kuasa Tuhan yang tak terelakkan.
Nghh… Oke, lupakan.
Aku selalu suka suasana sore seperti ini. Sepertinya tempat ini bisa menjadi pilihan terbaik untuk menikmati senja di Jakarta. Aku mengambil duduk di salah satu bangku panjang sambil memperhatikan lalu lalang para pengunjung yang kebanyakan keluarga. Dan … couple. Nah, itu bagian yang menjengkelkan.
Kalau sedang sendiri seperti ini, aku selalu teringat Mas Gaga. Sejauh mana aku berusaha lupain, atau lebih keras lagi berusaha mencari, tapi empat tahunku terasa nihil.
“Ini.” Lamunanku buyar karena satu cup Greentea Latte disodorkan ke arahku. Aku mendongak, menemukan orang itu sudah berdiri persis di depanku.
Nggak lama setelah itu, Pak Fachry ikut mengambil tempat di sebelahku. Aku menggeser badan sedikit, memberinya space untuk duduk.
“Jadi, Pak, kenapa Bapak ngajak saya ke sini?”
Kalau sampai pertanyaanku ini nggak dibalas, fix, aku akan pulang entah gimana caranya. Dari tadi udah kayak jalan sama panthomim yang anti ngomong banget. Lebih mending jalan sama Limbad, bisa jadi bodyguard sekalian.
“Saya nggak punya teman. Saya kira kamu bisa jadi teman saya,” ucapnya dengan pandangan gawang entah ke mana.
Aku menyesap Greentea Latte di tangan, berpikir sejenak gimana mungkin Pak Fachry tahu minuman kesukaanku? Ah, mungkin nyimpulin sendiri patokan pada identik kali, ya? Cewek kan cenderung suka hal-hal manis, sekalipun Greentea Latte itu nggak manis sih.
“Bapak lagi galau ya?”
Dia hanya membalas dengan seutas senyum yang disunggingkan. Dasar maneken! Patung Kutub!
“Atau Bapak habis diputus pacar? Anu, siapa? Kak Freya ya? Ah iya, kabar Kak Freya gimana, Pak? Padahal saya belum sempat ngobrol lebih lama. Seru buat dijadiin teman kayaknya.”
Dan, pertanyaanku sepertinya salah. Pak Fachry mendelik tajam ke arahku. Mampus! bego banget emang!
“Anu, saya—Oh, gini aja, Pak. Saya bisa jadi teman Bapak kok. Saya pendengar yang baik. Bapak kalau mau cerita, cerita aja. Cenderung lelaki itu suka mendem segala unek-uneknya tanpa tahu mau dibuang ke mana. Kali ini, saya ada penawaran. Saya mau jadi tempat sampah Bapak, tapi saya ada satu permintaan,” repetku panjang.
Biarlah dia mual dengan ocehanku barusan
“Permintaan apa?” tanyanya masih dengan wajah datar nggak mandang aku sama sekali
“Kan! Bapak tuh sebenarnya mau-mau tapi malu. Oh—oke-oke, Pak. Jadi .... Tolong lupakan dosa saya soal mobil Bapak waktu itu, please!” kataku sambil merapatkan tangan sedikit mohon kepadanya.
Cih, sebenarnya aku ogah seperti ini. Tapi, ya .... Demi kelangsungan hidup setidaknya sampai aku benar-benar lulus deh!
“Saya kan sudah memaafkan. Gantinya cuma kamu jadi asisten saya sampai saya minta berhenti kan? Nah, tugas asisten itu menemani bosnya. Ini salah satu contoh, jadi nggak perlu kamu bikin penawaran, ini sudah termasuk kewajibanmu.”
Skak! Terpojok rasanya. Oke, kalah! Aku diam. Nggak nyahut lagi
“Valerie, boleh saya tanya?”
“Kalau saya jawab nggak, gimana?”
“Saya akan tetap tanya.”
“Nah, ya udah! Nggak perlu izin saya kan?”
Ada jeda sejenak. Pak Fachry terlihat masih bingung, semacam menimbang kembali pertanyaan yang akan dilontarkan kepadaku. Aku sih menunggu saja. Nggak ambil pusing. “Menurut kamu, memangnya salah ya, kalau seseorang suka sama sahabat?”
Aku mengernyit sejenak. Ikut berpikir jawaban apa yang akan kuberikan. Lagi, Pak Fachry ada-ada aja sih. tanya segala macam beginian. Berat! Aku nggak akan kuat. Cukup badan aja yang berat.
“Salah nggaknya relatif, Pak. Kalau si sahabat juga suka ya nggak salah dong. Kalau kebalikannya, itu yang berabe,” jawabku santai.
Tunggu-tunggu! Orang ini lagi curhat begitu ya?! Seketika aku ingin ngakak so hard!
Dasar salju atlantik! Eskimo! Pantas aja nggak punya teman. Lalu, sekarang mencari pelarian dengan numpahin segala isi hatinya padaku. Aih, cowok melankolis. Bungkusnya aja yang kaku bin dingin. Dalamnya menye-menye.
Dia hanya tersenyum sekilas, sambil menyesap kopinya yang kuperkirakan udah dingin. “Sudah, Pak?”
“Apanya?”
“Anu, itu—”
“Saya terlihat bapak-bapak sekali, ya?” tanyanya menyela ucapanku.
“Hah?” Kali ini, serius aku bingung.
“Kamu selalu manggil saya ‘Pak’, padahal ini di luar jam kantor.”
“Lah? Saya kudu manggil Bapak gimana? Om gitu?”
“Nggak usah saya-sayaan. Terkesan meeting dengan klien kalau gini. Panggil aku nama aja, atau terserah.”
Aku tertegun. Orang ini selalu punya kejutan. Berhasil membuat lawan bicaranya habis kata dengan setiap ucapan yang ia lontarkan.
“A... aku. Eh—itu, Kak Fachry aja ya. Nggak enak kalau cuma panggil nama. Gimanapun situ lebih tua.”
“Ya udah, ayo kuantar pulang.” Kak Fachry. Ya, Kak Fachry berdiri, meremas paper cup berisikan kopi yang telah habis dan buang ke tong sampah terdekat.
Kemudian, dia berjalan menuju pintu keluar mal. Sambil sesekali melirikku yang sedang berusaha menyamai langkahnya. Namun, nggak sengaja aku melihat sesungging senyum ringan di bibirnya. Ah, ufuk senja yang sudah sampai ke peraduan—hei, aku merasakan kehangatan lainnya. Menelusup ke celah hati begitu melihat senyuman itu.