Fachry - Senja di Kebun Teh

1555 Kata
Bahagia itu ... ketika lelah terbayar sambutan hangat seluruh keluarga Freya. Juga, soal menu santap siang khas Sunda yang terhidang tadi; ikan, lalapan, dan sambel, tentu nggak akan kulewatkan begitu saja. Serius, ini benar-benar surga dunia yang nyata. Aku masih menunggu Freya membereskan sisa jamuan makan siang tadi. Sambil leha-leha di saung samping rumah Freya terkena semilir angin yang sepoy-sepoy. Abi, Eza, juga Kang Farid sudah melanjutkan aktivitasnya masing-masing sehingga aku sendiri sekarang. Pikiranku mengawang, teringat bagaimana masa kecil kami terlewati bersama. Kenangan itu, tonggak dari terciptanya sebuah ikatan antara ketiga bocah kecil yang menamai diri mereka sebagai ‘Threever’. Rumah ini terbilang cukup besar dengan pekarangan lumayan luas di sekelilingnya. Desain khas Sunda klasik yang melekat dan masih dipertahankan keasliannya. Rumah di kawasan kebun teh ini, menjadi saksi bagaimana kami bertiga tumbuh. Tangis, tawa, derai air mata, apa pun itu, pernah kami lalui bersama. Jadi dulunya, Rajendra yang tak lain adalah kakekku itu orang Bandung asli. Dulu kami semua tinggal di Bandung. Tapi, orang tuaku dan orang tua Arga harus pindah ke Jakarta karena pekerjaan kakek yang terpusat di sana. Meninggalkanku dan Arga tinggal bersama Nini di kota Kembang ini. Dari sanalah pertemanan kami dengan Freya bermula. Maka, tidak heran kalau sampai sekarang, aku masih memanggil orang tua Freya dengan sebutan umi dan abi, seperti Freya dan saudara-saudaranya ketika memanggil. Jadi, jangan heran kalau aku sudah mengenal baik seluk beluk sekitaran ini. Rumah, pekarangan, kompleks perkebunan teh, pabrik pengolahan teh, apa pun itu—aku sudah hafal. Oh, kejutan yang ingin kuberikan sama perempuanku itu, kali ini akan kueksekusi. “Udah beres-beresnya?” Pertanyaan itu lolos ketika aku begitu melihat Freya berdiri di beranda sambil merentangkan kedua tangan. Menghirup oksigen murni yang masih melimpah di tempat kelahirannya.. “Kenapa emang?” “Ke kebun, yuk,” ajakku sudah lebih dulu melangkah menuju kebun. Sambil sesekali menengok ke belakang—memastikan Freya benar-benar menyusulku—kenangan masa kecil kami teringat kembali. “Yik, jangan lari-larian dong!” Freya dengan terengah, menyusulku dari arah belakang. “Kejar aku Frey, kalau kamu bisa!” tantangku kepada Freya yang saat itu masih mengatur napas, berdiri persis di belakangku. Setelahnya, Freya tertawa lebar siap menerima tantangan dariku. Bersiap mendahului, tapi kalah cepat karena pelari ulung tak pernah tertinggal start. Kami berkejaran di sepanjang jalan setapak kebun teh. Bebas, lepas, tanpa beban. Sesekali melempar celetukan saling meledek satu sama lain. Freya yang mengerucutkan bibirnya, kesal. Dan, aku yang puas karena sudah mengerjainya. Tapi, sayang, tak lama setelah aku berlari, langkah Freya tidak lagi terdengar. Kuhentikan lari dan menengok ke belakang—ya ampun! “Freyaaa!” Freya terduduk di tanah dengan memegangi lututnya dan merintih kesakitan. Bodoh! Ini salahku. Aku menghambur mendekat, namun, ada bocah lain yang lebih cepat dariku. Telat, Arga sudah berada di samping Freya. “Kamu nggak apa-apa, Frey?” Arga bergaya layaknya dokter yang sedang memeriksa pasiennya. Sepuluh meter dari mereka, aku berdiri sambil terus mengawasi keduanya. “Tahan dikit ya. Aku obati,” ucap Arga sambil menghentikan pendarahan di lutut Freya menggunakan dedaunan. Bahkan, Arga sampai merobek lengan bajunya untuk dijadikan perban. Aku melongo saat itu. Merasa tidak bisa melakukan apa pun dibanding Arga yang dengan cekatan memberikan pertolongan pertama. Sekecil usia kami pada saat itu, tidak pernah terlintas melakukan hal-hal luar biasa seperti Arga. Aku tidak berguna, hanya berdiri menyaksikan mereka. “Aku gendong pulang ya?!” ajak Arga langsung memosisikan punggungnya untuk dinaiki Freya.  “Eh—tu-tunggu!” Aku menyusul mereka dari belakang. “Lain kali, jangan kejar-kejaran gini dong, Yik! Kayak anak kecil tahu nggak!” sentak Arga sambil terus berjalan. Kita kan memang masih kecil, Ga? “Kalau udah jatuh gini, lihat! Freya kesakitan kan?!” Oke, memang aku yang salah. Arga memang selalu menjadi pahlawan kecil Freya. Sampai kapan pun, bahkan sampai sekarang. “Lo ngapain senyum-senyum gitu?” Pertanyaan Freya mengagetkanku. Tiba-tiba saja dia sudah berada di depanku. “Lo lagi mengenang masa kecil? Kejar-kejaran terus gue jatuh, gitu? Aku hanya menyimpul senyum singkat sambil terus berjalan menikmati langit senja cenderung sendu ini. “Mau mengulang? Kejar gue sekarang! Dan gue pastikan lo kalah!” Sebuah kesalahan tetap membiarkan perasaan ini terus tumbuh di antara kejelasan sebuah tanda pembatas bahwa aku dengannya sangat sulit untuk menjadi kita. Entah pasal mana yang mengharamkan hubungan ini. Tapi, aku tahu persis bahwa dia bukanlah orang yang begitu saja bisa goyah soal prinsip yang sudah terpatri. Namun, bersamanya adalah bahagiaku tak terkira. Mungkin saja, setelah ini, ada lelaki lain yang menjadi definisi bahagianya. Pun denganku. Seperti saat ini, di perkebunan milik keluarganya, kembali merangkai potongan puzzle tentang ingatan masa kecil kami. Menyelami dengan pikiran masing-masing yang tergambar dengan jelas dari rekahan senyum itu. Dia terus melakukannya, berlari mundur dan—”Frey awaass!!” teriakku sambil berlari menangkapnya. Aku menahan tubuhnya. Mata kami saling bertemu. Astaga ... mata hazel itu. Jantungku berdegub kencang, takikardi, sial! Oke aku tahu kalau detik tidak akan pernah terhenti. Hanya saja, seakan dalam freeze mode dan membuat kami saling bertatap sekian detik tanpa mengerjap. Sampai akhirnya Freya yang tersadar lebih dahulu. Dia bangkit dan merapikan posisinya lagi. “Lo nggak pa-pa?” tanyaku panik. Ya, mungkin saja ada salah posisi yang bisa menyebabkan sprain atau apa pun hal buruk yang nggak diinginkan. Bukannya menjawab dia malah terkekeh, “Lo mau bikin deja vu? Sayangnya nggak bisa!” Dia menjulurkan lidah, berkacak pinggang dan melenggang begitu saja. Gimana reaksi lo kalau gue mengungkapkan semua perasaan ini, Frey? Gue nggak siap untuk kehilangan lo. *** Lepas lelah berlari, kami mencari tempat seperti saung tinggi di tengah kebun teh. Saung yang biasa difungsikan untuk tempat istirahat para pemetik daun teh di sini. Aku menghempaskan tubuh. Sementara Freya hanya duduk dan memandangi perkebunan teh dengan latar pegunungan yang indah dan sejuk. “Jadi, jelasin ke gue, ngapain lo ngajakin ke kebun?” “Ya elah, Frey. Harus ada alasan ya buat ngajak lo jalan-jalan gini?” “Karena lo nggak biasa kayak gini, Yik. Gue ngerasa lo beda, entah apa gue nggak mau menyimpulkan lebih dulu soal itu.” See? Betapa menyembunyikan sesuatu di antara kami adalah suatu hal yang sia-sia. Percuma, karena Freya bisa membaca pikiranku. Pun denganku. “Gue cuma pengen menghabiskan waktu lebih lama di sini, Frey. Enak ya, sejuk. Terapi ini, bersihkan radikal.” “Apaan sih, Yik?! Nggak usah bercanda deh! Mending kita siap-siap buat balik. Jangan kemaleman, besok subuh gue ada operasi,” kesal Freya sambil bersiap turun dari saung. Tentu aku nggak akan melewatkan momen yang entah kapan lagi bisa tercipta seperti ini. Kutahan Freya untuk tidak turun dan tetap duduk tenang di saung. “Yang santai dong, Frey! Sini dulu kenapa sih?” “Yik, nggak bisa gitu dong. Santai sih santai, tapi—” Aku menghentikannya, menutup bibirnya dengan bibirku. Sedikit, pelan, perlahan lebih dalam. Tubuh Freya yang menegang berusaha kuredakan dengan rengkuhan yang kuberikan. Aku mendekapnya ke dalam pelukan. Jantungku benar-benar liar tak terkontrol. Lebih dari takikardi, sepertinya. Bibir peach ranum yang selalu menarik perhatian itu, akhirnya meruntuhkan segenap iman yang berusaha kujaga selama ini. Bego! Freya tentu saja terhenyak, menjauhkan tubuhnya dariku, merapikan kembali posisinya. Kikuk, canggung, gila! Tanpa kata yang saling terucap. Kami masih betah membisu sambil menyelami pikiran masing-masing. Beku, lebih beku dari suhu terendah sejagat ini. Aku yang bodoh. Sudah seperti ini, masih saja diam tak segera memberi penjelasan atau melakukan tindakan lain yang seharusnya memang kulakukan. “Maaf, Frey.” Hanya itu yang mampu lolos dari mulut jahanamku ini. Freya masih terdiam tak menimpali satu kata dariku tadi. “Gue cuma pengen lo sedikit rileks aja. Istirahat, Frey. Lo kelihatan lelah akhir-akhir ini. Operasi apa pun lo terima, forsir diri kayak gini.” Entah apa yang kukatakan barusan. Tapi, bukan itu sebenarnya. “Gue tahu lo itu kuat. Tapi, jangan lupa sama diri lo sendiri, Frey. Kayak tadi, baru aja kita nikmatin liburan dikit, lo udah heboh pengen balik cepet mikirin operasi besok pagi.” “Itu tanggung jawab, Yik.” “Gue tau. Kerjaan gue juga gitu kan, Frey? Tapi kita harus jadi manusia lebih dulu sebelum menangani manusia lain. We're not robot, Frey,” jelasku yang kali ini kuyakini kebenarannya. Kemudian, tampak mata hazel itu mulai berkaca-kaca. Shiit! Teriris rasanya melihat Freya menahan tangis entah karena apa. Tangan yang sedari tadi kutahan untuk tidak mengusap air mata yang kini perlahan turun, akhirnya tak kuasa untuk tidak melakukan lebih. “Tapi kenapa lo ngelakuin ini semua demi gue?” tanyanya lirih dengan sedikit isakan. Ini kenapa yang aslinya mau dibikin romantis jadi mellow macam begini? Astaga, salah skenario sepertinya! Aku menegakkan tubuh, menghidu aroma senja perkebunan lebih dalam kemudian kuembuskan perlahan. “Gue sayang sama lo, Frey.” Tanpa menunggu apa pun lagi, aku mengutarakan sesuatu yang membuatku risau akhir-akhir ini. Ganjalan yang berusaha kutahan, kini jebol. “Gue tau, dari dulu juga memang gitu kan, Yik?” ucap Freya tampak berusaha biasa saja seolah ia tak kaget dengan semua ini. Freya masih berusaha menyangkal kalau lelaki di depannya ini, beda dari selama yang ia kenal.  “Tapi, Frey. Ini lebih dari apa pun yang sudah terjalin di antara kita. Ini beda dari tiga puluh tahun kita bersama, Frey,” tambahku pelan. “Yik ....” ucap Freya sedikit bergetar. Jelas dia tersentak mendengar hal ini. Nggak ada yang lebih mengejutkan dari pengakuan rasa seorang sahabat yang sudah dianggapnya seperti saudara. Bodohnya aku, tahu perihal itu tapi masih nekat melakukannya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN