Makan siang seperti ini, bagiku adalah surga. Setengah hari terlewati dengan sibuknya praktik di poli dan visit pasien ke bangsal. Itu, belum termasuk jika ada operasi dadakan. Untunglah hari ini bisa dikatakan aman.
Sajian di depanku agaknya lebih menggairahkan daripada perempuan yang juga duduk tepat lurus pandangku. Lagi-lagi, aku memang berniat untuk mengerjainya. Salah satu contoh dengan memintanya menemaniku makan siang seperti sekarang ini.
Ini sih, untung di dia. Lihat? Dia bahkan menurut saja. Ya sekalipun awalnya ada penolakan kecil sih. Tapi, biasalah namanya juga cewek. Suka gengsi gitu. Bahkan, ketika makanan yang telah kupesan sudah datang, dia masih terpaku enggan melahap sajian di depannya. Padahal, aku sudah lapar parah, serius. Ya kubiarkan saja dia memandangi hidangan luar biasa lezat di hadapannya. Termasuk, memandangi wajah gantengku.
Aku tak acuh. Yang penting makan siangku tersedia. Lapar, boy! Tadi pagi nggak sempat sarapan karena ada emergency call. Jadi, biarkan aku mengisi lambung dulu sebelum melancarkan aksi selanjutnya kepada perempuan ini. Namun, lama kuperhatikan dia tidak juga makan. Hanya menyeruput sedikit lemon squash di depannya.
Mmm, bukannya khawatir, hanya saja dia itu kan baru sembuh. Sembuh secara terpaksa lagi. Bagaimanapun sebagai dokter penanggung jawab yang baik, aku harus mengingatkannya perihal ini.
“Ngapain kamu bengong lihatin saya? Memangnya kenyang hanya dengan begitu?” tanyaku membuat lamunannya buyar.
Kelihatan dia sedikit bingung mau mengutarakan sesuatu tapi ditahan. Sambil menggigiti bibir bawahnya—shiit! She's look so sexy!
“Pak, maaf sebelumnya, tapi saya nggak bisa makan udang,” lirihnya nyaris nggak tertangkap indera pendengaranku.
“Apa? Memangnya kenapa?” Aku memastikan kembali.
“Saya alergi, Pak.”
Jelas saja aku kaget, ada-ada sih tuh bocah! “Astaga! Kenapa nggak bilang?!” tanyaku sedikit berteriak.
“Bapak nggak tanya saya. Tau-tau sudah dikasih ini aja. Apa saya bisa protes?” kesalnya sambil mengerucutkan bibir.
Dasar cewek! Rewel!
Untung saja dia sadar alerginya sendiri. Kalau sampai tadi dia kalap kelaparan terus langsung makan tanpa tahu apa yang dimakan, kan bakal panjang urusannya! Spontan aku menyudahi makan siangku. Kemudian, memesankan ia penganan lain sebagai ganti yang dianggurkannya tadi.
“Sudah saya pesankan yang lain. Ayam nggak masalah kan?” tanyaku begitu kembali ke meja. Lalu, aku menyegarkan sisa makan yang masih tersangkut di kerongkongan dengan segelas lemonade dingin. Bodo amat dengan cewek di depanku yang masih gondok! Aaah, segaar! Lega banget dah. Aku kembali melirik Valerie, dari gesturnya kelihatan gusar sih. Semacam nggak tenang memikirkan sesuatu yang lain.
Apa semua cewek memang terlahir dengan bakat keribetan? Nggak pernah santai dikit gitu? “Bukan masalah nggak masalah sih, Pak. Waktunya sudah mepet untuk saya balik ke kantor.”
Ya elah kukira apa! Dia nggak ingat siapa yang ngajak dia makan siang sekarang? Tolong kalian kasih tahu. Aku jadi berpikir. Entah kenapa aku masih pengen menahan Valerie lebih lama di sini. Entah bagaimana juga satu pesan tiba-tiba kukirimkan pada Miranda mengabarkan soal Valerie untuk memberinya izin istirahat lebih lama.
“Saya minta bungkus tadi,” ucapku menenangkan.
Padahal dalam hati, semoga saja Valerie sedikit lupa dengan urusan magangnya karena asyik menikmati kebersamaan ini. Aku juga nggak tahu bagaimana awalnya. Yang jelas ada perasaan semacam puas ketika berhasil membuatnya kesal. Karena sejak detik itu, detik di mana aku tahu bahwa takdir mempertemukan kami kembali dalam lingkaran yang lebih intens, sejak itu pula niatku untuk mengerjainya semakin bertambah.
Aku kembali ingin menenangkannya, “Sudah, nggak usah—” Tapi harus terputus karena kurasakan ada seseorang yang menepuk pundak.
“Yik?”
Shit!! Freya. Oh Men! tolong jangan buat ini menjadi sebuah kesalahpahaman di mata Freya, tolong!
“Lo di sini juga, Yik? Ini siapa?” tanyanya begitu antusias melihatku bersama perempuan lain.
Sementara, aku malah gelagapan nggak karuan. Seperti orang yang kepergok selingkuh atau maling jemuran yang ketangkap warga. Semoga saja Freya tidak mengembangkan asumsi macam-macam. Atau berujung sidang semalam suntuk interogasi penuh soal ini.
“Hai, Frey. Lo makan di sini? Kenapa nggak bilang? Tahu gitu bareng?”
“Nggak bilang lo kata? Coba cek hape lo,” ucap Freya sambil menggeser kursi untuk didudukinya.
Alih-alih mencari bahan obrolan lain, tapi malah terjebak oleh perkataanku sendiri. Sambil mengecek ponsel, aku melirik Freya sekilas yang terlihat sedang meneliti Valerie.
“Wajar sih nggak tahu, orang ada cewek secantik ini, mana bisa teralihkan?”
Aku mendelik mendengar celetukan yang dilontarkan Freya baru saja itu. Kampret Freya, aku boleh ge-er nggak kalau tadi itu adalah ungkapan cemburu? Ya walaupun dibalut apik di tengah selingan sindiran sih. Tapi, aku cukup yakin.
“Eh—Oh, bukan, Kak. Aduh, maksudnya, Bu. Saya hanya menemani Pak Fachry makan siang, maaf.” Lalu, bola mataku beralih menuju perempuan satunya.
Kentara sekali bahwa Valerie juga semacam ketakutan akan terjadi kesalahpahaman di sini.
“Mmm, Frey. Kenalkan, ini Valerie,” arahku agar mereka bersalaman. “Mahasiswa magang yang pernah gue ceritain pingsan pas acara GPM waktu itu,” jelasku agar makin nggak salah paham.
“Oh... I see. Saya Freya, bukan siapa-siapa Ayik seperti yang kamu pikirkan.”
“Oh—Bu... Bukan.” Valerie semakin canggung dengan suasana yang diciptakan Freya. Sementara perempuanku itu terlihat puas dengan apa yang baru saja ia lakukan.
“Udah tenang aja, nggak usah gugup. Ayik nggak gigit kok.”
Astaga, maunya Freya apa sih?!
“Ayik?” tanya Valerie belum paham.
“Aaah ... Iya. Maksud saya Fachry. Dokter Fachry, manajer kamu di Top.”
“Iya, Dok,” sapa Valerie begitu tahu Freya menyampirkan snelli di punggung kursi. Setelah tadi manggil Bu, sekarang berubah jadi Dok. Polos banget cewek itu, serius!
“Aelah, kenapa jadi formal begini? Kalau lagi di luar panggil nama saja, atau kak juga boleh. Dan, sepertinya nggak usah saya-sayaan lah ya,” terang Freya mengakrabkan suasana.
Sementara aku? Dilema di antara dua perempuan.
“Eh, Valerie sekarang lagi skripsi kan ya? Berarti angkatan berapa kamu?” Freya kembali bertanya
“Val aja, Kak. Aku angkatan 32. Kakak alumnus RU?”
“Iya, nggak usah tanya angkatan berapa. Beda jauh pokoknya.” Tawa menggelegar kemudian tercipta.
Lalu, mereka asyik berbincang ini itu khas pertemuan. Freya, terlihat antusias seperti menemukan sahabat lama yang hilang dan kini kembali. Sementara aku, menjadi penonton talk show renyah di antara mereka.
“Yik, kok lo diam aja sih?”
Aku tersenyum sekilas. “Lo udah makan?” Giliranku bertanya kepada Freya.
“Udah, sama anak-anak koas tadi, perpisahan stase. Terus, lihat di sini sama...” jawabnya sambil sedikit melirik ke arah Valerie. “Yeah, tertarik buat nyamperin aja. Btw, gue nggak ganggu kalian kan?” lanjutnya dengan nada menyindir.
“Eh, nggak ganggu kok, Kak. Ini juga sudah selesai, aku mau balik ke kantor,” ujar Valerie bersamaan dengan waitress datang membawakan pesanan dan menyela obrolan kami. Begitu pesanan sudah ada di tangannya, dia langsung pamit dan berjalan keluar restoran.
Oke, time is out. Aku sadar, nggak bisa menahan dia lebih lama tanpa ada alasan yang cukup kuat. Tapi ....
“Tunggu, Val!” Ini untuk pertama kali aku memanggil namanya. Aku memintanya untuk tetap menunggu di beranda rumah makan sementara aku mencarikan taksi untuknya.
“Pak, kok repot-repot sih?” ucapnya basa-basi ketika aku kembali. Sudah enak dicarikan taksi, pakai bilang repot segala. Lagi-lagi, begitulah perempuan.
“Nggak, nah itu taksinya,” jawabku bersamaan dengan taksi yang terparkir depan beranda tepat.
“Terima kasih, Pak.” Valerie pamit, masuk ke dalam taksi.
“Sempatkan makan siang sebentar, dan jangan lupa minum obat.” Ya walaupun mungkin dia menganggapku menjengkelkan, tapi give advise sebagai dokter tetap aku jalankan.
“Eh?” Dia mengernyit sejenak sambil menahan pintu taksi sebelum tertutup sempurna.
“Urusan kita soal mobil belum selesai, someday kamu harus siap tanggung jawab kapan pun saya mau,” ucapku sedikit berbisik ke dalam taksi. “Ke Universitas Rajendra, Pak,” arahku kepada supir taksi. Sedangkan Valerie, di balik kaca, kelihatan termenung karena kata-kataku, mungkin. Sampai taksi itu lenyap, membawanya pergi dari pandanganku, aku malah kepikiran. Sial!
Dia cantik. Dan, lucu.
Nggak, kutekankan sekali lagi. Ini hanya instingku yang ingin sekali mengerjainya. Tidak lebih!
“Jadi, bagian mana yang nggak gue tahu?” Aku berbalik mencari asal suara itu. Ada Freya berdiri sambil bersedekap, siap meminta penjelasan. Yakinlah setelah ini ada sesi interogasi dengan segala pertanyaan yang dilayangkan.
“Nggak ada bagian yang nggak lo ngerti,” sergahku sambil menuju parkiran mobil. “Mau balik? Bawa mobil sendiri atau?” Tetap kesempatan sekecil apa pun itu nggak boleh terlewat, termasuk semobil sama perempuanku ini. Aku menawarinya, tapi pura-pura biar nggak kelihatan ngebet banget pengen dia bareng. Aku melenggang aja, biar dia ngikut gitu.
“Gue ikut lo.” Nah! Kena kan? Singkat dan istimewa. See? Betapa aku terpesona hanya karena tingkah sederhananya itu. Aku terbius, tanpa lidokain, atau segala macam anestesi miliknya.
Terik yang menyengat membuat Freya melindungi wajahnya dengan snelli yang ditenteng sebelumnya. Lalu muncullah ide liar yang nyembul di pikiran. Aku merebut snelli Freya, dan menjadikan payung untuk kami berdua. Serius, ini lebay sih, tapi entah mengapa aku bisa melakukan kegilaan semacam ini.
Meski Freya tampak sedikit kikuk tapi pada akhirnya dia menurut hingga kami sampai di depan mobil. Aku melepaskan payungan, membiarkan Freya masuk terlebih dahulu baru kemudian menyusul lewat pintu kemudi.
“Gila, makin panas aja nih bumi,” ucapku sambil mengipaskan bagian yang gerah. Sementara Freya sudah berinisiatif mengatur air conditioner yang baru menyala sesaat setelah mobil mulai berderum.
“Lo suka sama dia!” tudingnya, membuatku spontan menoleh ke samping.
Aku nggak tahu itu bagian dari cemburu atau cuma tuduhan tak berlandaskan. Tapi, kami memang gitu, seolah sudah paham isi pikiran masing-masing tanpa perlu repot untuk berbagi. “Ngaco!” balasku sambil mengatur persneling.
Walaupun perkataan Freya tadi belum kuakui benar tidaknya, tetap saja aku harus buat sebuah pengalihan. Sedikit tidak peduli, aku mulai menaikkan tuas, fokus pada kemudi. Perlahan membelah jalanan arah ke RMC yang untung saja terbilang ramai lancar. Ambil jalan cepat lewat jalanan belakang RMC yang lengang tanpa kemacetan berarti, Freya terlihat manut-manut saja nggak protes atau ngoceh kayak biasa. Aku sesekali memperhatikan Freya yang sibuk menyelami pikirannya sendiri.
“Lo tahu kita nggak bisa saling bohong, Yik. Gue bakal tetap tahu pada akhirnya.”
Itu memang benar. Seperti yang kubilang tadi, kami bisa saling tahu isi pikiran masing-masing tanpa ngobrol langsung. Dan, kami juga bisa tahu apakah kami sedang jujur, bohong, atau ungkapan ekspresi rasa lainnya hanya dari gurat mata, dan gerak tubuh. Jadi, kalau sedang bareng Freya gini, aku kudu waspada.
“Tapi kesimpulan lo terlalu cepat, Frey.” Tetap, sebuah sanggahan itu perlu, dan sedikit penting, tentu aja.
“Lo aja yang terlalu munafik sama hati lo sendiri, Yik.”Nah kan! mau aku bikin seribu sangkalan sekaligus, Freya tetap bisa membalikkan dengan pernyataannya yang telak membungkamku. Kemudian aku diam, lagi ngunyah semua kalimat ajaib perempuanku tadi.
Apa iya? Tapi apa kabar soal rasa asing ini tiap kali dekat denganmu Frey?
Sampai sekarang, perasaan itu masih sama. Ritme jantung yang tak karuan tiap kali kami berdekatan. Seperti saat ini, contohnya. Padahal cuma duduk semobil berdua, aku fokus nyetir dan dia sibuk ngelamun gini aja udah bikin aku pengap ngatur napas biar nggak ketahuan banget kalau nahan deg-degan. Anjir!
Kemudian, pikiranku semakin mengawang jauh ke belakang. Saat-saat di mana kami tersisa berdua saja, tanpa Arga yang saat itu memilih jalan berbeda. Betapa Freya kelihatan banget kehilangan Arga. Murung, nggak semangat menjalani segala aktivitasnya. Saat itu, mereka masih bisa berkomunikasi secara intens. Tapi, waktu kan nggak bisa berpihak terus menerus. Ada kalanya masa itu habis. Kesibukan yang melanda menjadikan LDF di antara kami berkurang keeratannya. Tersisa kami berdua, menjadikanku nggak ingin melakukan hal lebih. Mungkin dengan menjaga Freya lebih dari sekadar apa yang telah terlewat selama ini.
Tak disangka, perasaan itu datang semena-mena. Tanpa permisi, tanpa bisa kuubah kembali. Freya memang belum paham sampai saat ini. Memang sengaja masih kusembunyikan atau kurang lebih mau kuatur untuk kembali ke posisi semula. Tapi, nggak semudah itu.
“Kapan ada rencana pulang Bandung?” tanyaku mengalihkan.
“Weekend besok. Udah off juga,” jawabnya sambil memainkan ponsel.
Seketika terlintas ide cemerlang di benakku. “Gue anter,” putusku cepat.
“Ngapain? Ogah!” Penolakan secara blak-blakan. Itu jleb sih, Frey!
“Dan gue nggak nerima penolakan, Frey.”
Pada saat yang sama, kami sudah sampai di RMC. Aku memarkirkan mobil sejenak sambil tersenyum sembari sesekali menengok ke arah Freya.
“Ih, Yik. Seenaknya deh!” cebiknya. Lalu, sambil menggerutu, Freya turun terlebih dulu,meninggalkanku yang masih melepas seat belt.
“Dokter Freya, tunggu!” ucapku sudah mengubah sapaan ketika kami memasuki rumah sakit.
“Ada apa lagi, Dokter Fachry?” tanyanya masih dengan wajah geram menahan kesal.
“Setelah ini ada apa?”
Freya memakai kembali snelli miliknya dan merapikan sedikit. “Ada SC (Seksio Sesaria) sama Obsgyn,” jawabnya singkat. “Kenapa sih?” tanyanya sambil melempar pandangan ke arahku.
“Nggak apa-apa. Ingat, besok Sabtu gue jemput.” Aku mengacak pelan rambutnya dan berlalu menuju ruangan. Begitu juga Freya, berbelok ke arah ruangannya meski sesekali kami masih saling menengok penasaran.
Frey, asal lo tahu. Gue hampir semaput kalau nggak ingat gue ini dokter. Ya kali! Apa kata orang nanti?
Akhir pekan besok, aku ingin memberikan sedikit kejutan untuknya. Semoga nyaliku cukup tegar untuk mengeksekusinya.