Valerie - Terus, Fungsi Gue Ikut Apa Coba?

2637 Kata
Setelah tiga hari terkapar tidak berdaya di ranjang RMC, kini saatnya kembali ke dunia nyata. Dunia penuh misteri, magang skripsi. Segera laksanakan tugas, cepat selesai, cepat wisuda, pulang ke Malang. Dan ...siap dilamar. Eh? Dilamar? Yakin yang di sana masih setia menunggu? Entahlah. Pusing kalau ingat dia yang di sana. Oke, jadi ceritanya, kemarin aku memilih untuk pulang paksa setelah beradu argumen dengan Pak Fachry yang notabene dokter penanggung jawabku. Berbagai dalih kulontarkan agar ia mengizinkanku keluar dari tempat itu. Namun, Pak Fachry kekeh memintaku untuk stay beberapa hari lagi. Katanya sih, perlu observasi lanjutan, hasil pemeriksaan lab belum keluar, dan another alasan medis yang jelas nggak kupahami. Hei, aku lho sudah merasa sehat dan baik-baik saja. Mmm, masa iya aku sempat berpikir itu modusnya untuk bisa dekat denganku? Ngarep nggak pakai mikir nih otak. Tapi, sebenarnya lebih ke kata-kata Jejen waktu itu, sih yang ngebuat pengen cepet pulang dari sini. Tapi, ah sudahlah. Itu pikirkan nanti. Kembali ke kerjaan yang udah nunggu. Kantor Top Manajemen di pagi ini masih lengang dari kesibukan seperti biasa. Atau, bisa jadi karena aku datang terlalu pagi. Hanya ada Mang Udin—office boy—yang sudah rajin dengan perkakas kerjanya. “Pagi, Mang,” sapaku seperti biasa. “Eh, pagi, Mbak Val. Sudah masuk magang lagi? Sudah sehat gitu?” “Alhamdulillah, Mang. Doakan. Sehat terus.” Ya, sebagai makhluk sosial, komunikasi itu penting. Tidak memandang derajat, kasta, kedudukan atau hal lain yang intinya menjadi sekat sosial. Dan ya, tanpa mereka, kita itu lho bisa apa? Yakin nih kantor bisa bersih saat kita sudah datang? Yap, mereka yang menyamankan tempat kerja kita. Baiklah, semoga mulai hari ini, lancar segala yang telah terencanakan dengan baik. Nggak ada kejadian-kejadian memalukan, menyakitkan seperti perut sialan yang kambuh nggak lihat sikon. Atau menjengkelkan seperti Bapak Manajer Top. Oke, jangan diteruskan. Aku menaruh tas, lalu membereskan meja kerjaku yang sedikit berdebu karena tiga hari tak berpenghuni. Lima belas menit lagi menuju jam kantor dimulai. Tampak ramai dari arah luar menandakan satu per satu penghuni kubikel ini mulai berdatangan. “Selamat pagi .... Eh, kok lo udah masuk sih Val?” sapa Ellen begitu masuk ruangan. “Sudah sehat bener, Val?” tanya Mbak Miranda mengeluarkan sisir dan perlengkapan perdendongannya. Lengkap betul, aku saja sempat berdecak heran bagaimana Mbak Miranda mengeluarkan budget khusus untuk masalah make up. Perawakan tinggi putih dengan body yang menunjang membuatnya wajar saja jika menuntut tampil sempurna di setiap suasana. Apalagi, posisinya sebagai sekretaris Pak Rahman menjadikan ia harus bertatap muka dengan para kolega penting kampus ini. Atau cuma aku yang nggak peduli soal penampilan? Kelihatan banget mahasiswa bau kencur. Nggak cocok sama mereka yang stylist khas pekerja kantoran, mbak-mbak wanita karier. Sementara aku? Ewh!   “Dipaksakan, Mbak Mir. Kalau nggak gini, magangku bakal ketinggalan jauh,” jawabku sekenanya. Aku memperhatikan sudut lain di ruangan ini. Ada Gio yang sudah sibuk berkutat memandangi layar empat belas inch portable di depannya. “Bukannya Pak Fachry sendiri yang menangani kamu? Harusnya minta keringanan izin magang dong, Val.” Mbak Miranda masih dengan pensil gambar yang dilukiskan di kedua alisnya, melanjutkan pertanyaannya. “Paling juga si Val udah nggak betah kangen ketemu Mang Udin, Mbak,” sahut Gio dari kubikel sebelah. Bangke si Gio! Segala pake melempar senyum ke arah Mang Udin. Kan jiper gue jadinya! Mang Udin yang nggak berdosa itu Cuma mengutas cengiran pada kami sambil terus mengayunkan tongkat pel. Astaga! Gio sialan! “Bukannya lo yang kangen Val, Yo?” Aku memutar kepala mencari arah suara itu. Ellen datang dari luar sembari membawa secangkir minuman panas. Mungkin, dari pantry. “Apaan sih, lo,” sungut Gio nggak terima. Gio geram, mengepalkan kedua tangan ke arah Ellen. Sementara si Ellen tertawa puas bisa mengerjai Gio seperti itu. “Sudah-sudah. Kalian nggak perlu rebutan miss universe satu ini. Fokus kerja ya, gaes.” Aku berlalu menuju mesin fotocopy sambil menyibakkan rambut bergaya layaknya miss universe yang sebenarnya. Ck, ini apaan deh. Tapi, itulah uniknya. Kalau nggak gini, mana mungkin kami betah menjalani hari-hari menyeramkan dengan bayangan segala isu yang merebak luas tentang seramnya Top Manajemen. Inilah yang menjadi hiburan kami di pagi seperti ini. Memulai aktivitas dengan selingan humor ringan dipercaya mampu meningkatkan efektivitas selama bekerja seharian penuh nanti. Cieleee bahasanya udah kayak orang bener. Duh! *** Mbak Miranda datang menghampiriku sambil membawa tumpukan map. Firasatku mendadak buruk. Oh, kerjaan yang sesungguhnya akan segera datang. “Val, ini ada beberapa berkas yang harus ditandatangani Pak Fachry. Soalnya, Pak Rahman sedang ke luar kota, sementara berkas ini harus selesai besok,” terang Mbak Miranda. “Lalu, Mbak?” Mbak Miranda masih sibuk menata map-map tersebut sambil sesekali mengecek isinya dan menyisihkan yang sekiranya tidak perlu. Aku hanya memperhatikan karena nggak tahu harus mulai membantu dari mana. Takut salah. “Anu—kamu tau sendiri kan, kalau Pak Fachry nggak stay di sini? Kalau nunggu Pak Fachry ke sini juga belum tahu kapan, Val. Tadi, saya kontak Pak Fachry ternyata masih banyak pekerjaan di RS,” jelas Mbak Miranda panjang. Oke, sepertinya aku mulai menangkap maksud lain dari Mbak Miranda. Oh—tolong jangan buat firasat burukku tadi jadi nyata. Aku lagi nggak pengen bertemu orang itu sekarang. “Jadi Mbak?” tanyaku meminta kesimpulan. Mbak Miranda tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya. Sebelum akhirnya menghela napas sejenak dan kembali menerangkan padaku. “Jadi .... Val cantik, saya minta tolong ya. Kamu mintakan tanda tangan ke Pak Fachry di rumah sakit. Bisa, kan?” ucap Mbak Miranda sambil memasang wajah memelas. Nah lho, benar kan? Oke, kayaknya emang siang ini nggak berpihak kepadaku. Baru saja sedikit tenang melihat orang itu nggak ada di kantor hari ini. Eh, malah Mbak Miranda meminta bertemu dengannya. Nasib, nasib. “Harus saya, Mbak?” tanyaku sedikit keberatan. Sementara Mbak Miranda mengangguk saja membenarkan. Ini bukan aku nggak profesional ya. Mencoba negosiasi apa salahnya. Serius, aku masih malas bertemu dengan orang itu. Seenaknya, semena-mena, mentang-mentang punya kuasa. Jadi, saat itu aku minta tolong ke Jejen buat ngecek tagihan administrasi perawatanku di rumah sakit. Tapi, begitu orang tersebut selesai memeriksa, dan Jejen masuk mengabarkan sesuatu yang membuatku memilih pulang paksa ini. Ya, Pak Fachry sudah melunasi semua tagihan perawatanku. Bahkan, semua administrasi diatasnamakan olehnya. Aku ingin berkata kasar tapi berusaha kutahan sebisanya. Iya, sih, terima kasih bisa, hanya .... Ugh, seenak udelnya saja tuh orang. Belum lagi, soal pewe-pewe yang selalu ia ungkit ketika aku berusaha mengelak permintaannya. So bossy. Kaku, menyebalkan. Dingin, sok kuasa. Anything bad things yang melekat di dirinya sudah tercetak jelas di pikiranku. Nggak bisa diubah! “Gimana, Val?” tanya Mbak Miranda karena belum juga mendapat jawaban dariku. “Kenapa harus saya, Mbak?” “Sebenarnya, Mbak nggak tega juga sih. Kamu kan baru sembuh, tapi ... gimana ya, Val? Gio baru saja ditarik ke keuangan untuk meng-handle beberapa hal di sana. Sementara Ellen, sedang ada meeting bahas LPJ acara kemarin. Terus, siapa dong yang bisa saya mintai tolong selain kamu? Please, kalau Mbak nggak sibuk, pasti Mbak berangkat sendiri.” Mbak Miranda kembali memintaku yang kini dengan nada memohon. Ya aku nggak tega sih. Lagian, memang ini bagian dari tugasku. Yap, turunkan ego, Val.  Dan, pada akhirnya aku tetap nggak bisa nolak. *** Pukul setengah dua belas siang, aku sudah ada di tempat ini lagi, tempat yang mengurungku kemarin, semacam bui pesakitan. Tanpa ingin menunggu lebih lama, aku langsung menuju lantai delapan gedung ini. Menemui resepsionis untuk menanyakan jadwal Pak Fachry. Tujuan serta maksud kedatanganku sudah kuutarakan. Dan, perawat tersebut memintaku untuk menunggu sebentar sementara ia masih menghubungi Pak Fachry. Tidak perlu  waktu lama memang, karena setelah bercakap via sambungan telepon, Mbak Fitri—nama yang tertera dalam name tag resepsionis itu—segera memintaku untuk masuk ke ruangan pak Fachry. “Saya kira kamu sudah nggak mau kembali ke sini,” ucapnya tak acuh begitu aku memasuki ruangannya setelah mengetuk pintu. “Memang, tapi Mbak Miranda menyuruh saya untuk meminta tanda tangan Bapak.” Aku masih berusaha sekalem mungkin. Jangan sampai saja aku tersulut emosi hanya karena melihat wajahnya yang menyebalkan itu. “Lalu, sampai kapan kamu berdiri di situ terus-terusan?” Oke, dia sudah mulai berulah. Sebenarnya, kalimat tadi itu bukan termasuk mempersilakan duduk sih. Tapi, anggap saja demikian. Aku meringsek menduduki kursi kosong di depan meja kerjanya. Tapi, apa yang terjadi? Orang itu tersenyum sekilas lantas bangkit dan memilih duduk di sofa panjang, meninggalkanku di sini yang cengo macam orang bego. “Kamu mau konsultasi sebagai pasien duduk di situ?” tanyanya masih dengan nada menjengkelkan. Sumpah! Kalau bukan karena skripsi, aku juga nggak mau terus-terusan berhubungan dengan orang ini. “Ini berkas yang harus Pak Fachry tanda tangani,” ucapku menyerahkan berkas tersebut dan memilih duduk di seberangnya. Aku hanya diam nggak berani menatap orang yang masih mempelajari lembar demi lembar dalam map yang kuserahkan tadi. Jujur sih, sekalipun aku benci mampus sama Bapak-bapak ini, tapi, aku juga takut. Yap, bagaimanapun kesalahanku terhadap mobilnya tempo hari itu belum selesai begitu saja. Dan, aku merasa bersalah. “Kantor aman?” Eh? “A-Apa, Pak?” “Kantor TOP, aman? Saya belum bisa ke sana lagi. Jadwal poli saya masih padat, belum lagi visit pasien.” Bentar! Ini maksudnya curhat gitu? “Aman kok, Pak.” “Sampaikan ke Miranda, saya akan ikut meeting bahas program kerja EM terbaru yang diagendakan Kamis besok,” ucapnya sambil menutup kembali map yang telah terbubuhi tanda tangannya. “Baik, Pak, terima kasih. Kalau begitu saya balik dulu.” Aku sudah bergegas meninggalkan ruangan ini, namun ada sesuatu mencekal tanganku. “Siapa yang nyuruh kamu pergi?” Ya Tuhan, bolehkah aku mengumpat? “Memangnya belum selesai, Pak?” “Temani saya makan siang,” putusnya sepihak. Kemudian, Pak Fachry sudah melepas jas dokternya begitu saja dan mengambil kunci mobil di atas meja kerja. Dia mengarahkanku untuk keluar ruangan sementara ia menguncinya. Dan, aku menurut tanpa bisa menolak. Damn! “Pak, saya makan siang di kantor saja.” “Nggak bisa! Saya kira kamu bisa bedakan mana itu ajakan dan mana itu perintah.” Dia berjalan santai sambil kedua tangannya masuk ke celana. Mengabaikanku yang diam hanya bisa membuntuti dari belakang. Kampret kancrut! Pak Fachry nyebelin! Fix! Aku benci dia, parah! Tapi, pada akhirnya aku tetap nurut sekalipun sambil menggerutu kesal sendiri nggak jelas. Sepanjang perjalanan, kami hanya saling diam tanpa interaksi apa pun. Hanya lagu dari radio di dashboard-nya yang sedikit memecah keheningan ini. Serius, awkward! Aku ingin tanya satu hal sebenarnya. Tapi ... takut. “Kamu ngapain curi pandang?” Aku gelalapan seketika. Lebih baik memalingkan wajah ke luar jendela. Aku yakin banget ini muka sudah macam kepiting rebus saat ini. “Mau tanya sesuatu?” “Mmm... Nggg... Nggak.” “Tapi sayangnya saya tahu kalau kamu lagi bohong.” Oh, oke. Salah, gaes. “Mm... Itu, anu—” “Anu?” Duh, aku juga nggak paham kenapa untuk ngomong aja mulutku berbelit nggak tahu diri. “Mobil yang waktu itu ke mana, Pak?” Dia langsung memandangku, seram. Nah benar kan! Kayaknya aku salah tanya deh. Goblog! Ini mah cari mati namanya. “Kamu sadar tanya seperti itu?” “Mmm, iya, Pak. Maaf.” “Sudah saya katakan juga kan? Saya sudah maafkan, tapi saya nggak semudah itu lupa. Tunggu saya minta pertanggungjawaban.” Aku memilih diam tidak melanjutkan. Lebih baik seperti ini daripada salah makin parah. Kesunyian ini bertahan sampai kami tiba di rumah makan. Pak Fachry masih dengan aksi diamnya melepas seat belt dan melenggang pergi begitu saja. Gue nggak diajak, coy! Fungsi gue ikut apaan coba! Jangan jadi princess yang perlu dibukakan pintu untuk sekadar turun dari mobil. Satu pesan w******p kuterima. Anjiir! Memang nggak pernah benar rasanya. Sambil gondok, aku keluar mobil dan menyusulnya masuk ke dalam rumah makan. Terlihat sangat ramai karena memang saat ini sedang waktunya makan siang. Ya, wajar saja lah. Aku lantas mencarinya, terlihat ia duduk di meja nomor delapan belas samping jendela. “Mau pesan apa?” Pertanyaan itu keluar begitu aku duduk di depannya. Dia masih sibuk dengan menu di tangan, enggan mengalihkan pandangan ke arahku. Sialan memang bos satu ini. “Adanya apa, Pak?” Aku mengambil buku menu yang berada di depannya, memindai sekilas makanan yang tertulis di sana. “Nggak usah, saya sudah pesankan.” Dia merebut buku menu lalu menutup dan melemparkannya ke meja sebelah. What the!! Terus apa fungsinya tanya coba? pengen nampol tuh mulut rasanya. “Bapak, saya harus kembali ke kantor. Kata Mbak Miranda, setelah istirahat saya sudah harus kembali.” “Saya sudah w******p Miranda kalau kamu masih sama saya.” “Bapak kok semena-mena sih?!” Tahu sahutannya apa? Pak Fachry hanya mengedikkan bahu tak acuh. Pengen gue bejeg-bejeg tau nggak? Untung saja waitress segera datang membawa santap siang pesanan Pak Fachry. Dan kalian tahu apa? Udang! Damn! Setelah mengucapkan terima kasih kepada waitress, Pak Fachry memberikan sepiring nasi dan udang bakar madu ke arahku. Aku cengo, bingung harus bagaimana. Sementara itu Bapak Fachry yang terhormat sudah mulai melahap nasi dengan tumis kangkung dan sambal penyetan nila goreng. Dia memesan makanan tanpa tanya kepadaku terlebih dahulu? Dia makan juga nggak nawari aku? Oh, Tuhan, begini sekali sih derita hamba-Mu? Sudah lapar, sudah senang juga anak kos dapat traktiran siang bolong begini. Tapi, zonk!!!! Jadilah aku hanya memandanginya yang dengan lahap menyantap makan siang itu. Aku cukup senang hanya dengan melihat makanan di depanku seperti ini saja. Walaupun asli, ngiler parah. Kalau dilihat-lihat tempat ini memang nggak jauh dari rumah sakit sih. Dan, sepertinya banyak dokter atau pegawai rumah sakit yang makan siang di sini. Terbukti dari beberapa orang berseragam sama dengan petugas non medis yang ada logo RMC di sakunya. Tadi juga ada beberapa orang yang mengenali Pak Fachry dan memberikan sedikit sapaan. Hanya saja orang ini angkuh bin sombong yang cuma dibalas dengan anggukan kecil juga senyuman pelitnya kebangetan. Mungkin mereka bosan makan di kantin rumah sakit dengan menu sama tiap harinya, jadi rumah makan ini sebagai alternatif kali ya. Ah, sudahlah. Kembali aku tak henti mengamati bagaimana ia tanpa sungkan makan dengan hanya menggunakan tangan. Terlihat lahap. Biasanya dokter macam dia kan yang takut kotor gitu. Tapi nggak lho! Oh, bolehkah berubah jadi kagum kepadanya? Duh, imanku hancur gara-gara bapak satu ini. Astaga! “Ngapain kamu bengong lihatin saya? Memangnya kenyang hanya dengan begitu?” “Pak, maaf sebelumnya, tapi saya nggak bisa makan udang,” cicitku pelan nyaris tak terdengar. “Apa? Memangnya kenapa?” “Saya alergi, Pak.” “Astaga! Kenapa nggak bilang?!” ucapnya sambil melotot dan menyudahi santap siangnya. Mmm, memang sudah habis sih. Jadi bukan tiba-tiba berhenti karena panik mendengarku. Bukan!! “Bapak nggak tanya saya. Tau-tau sudah dikasih ini saja. Apa saya bisa protes?” Setelahnya, ia bergegas menuju wastafel untuk mencuci tangan dan ke kasir. Lalu, aku tuh masih bingung mau ngapain. Masak sedari tadi hanya melihat orang makan sih?! Ganteng memang, tapi tetap nggak bikin kenyang lah! Dia kembali, duduk seperti semula dan menjumput sehelai tisu dari kotaknya. “Sudah saya pesankan yang lain. Ayam nggak masalah kan?” “Bukan masalah nggak masalah sih, Pak. Waktunya sudah mepet untuk saya balik ke kantor,” risauku tak tenang. “Saya minta bungkus tadi.” Jam yang melingkar di pergelangan sudah menunjukkan pukul 12:47. Sementara jarak dari sini ke kampus bisa memakan waktu kira-kira tiga puluh menit. Ini kacau. “Sudah, nggak usah—” “Yik?” Aku melihat ke arah dua suara yang berbeda itu. Oh, celaka! Ini kan perempuan yang kutemui di toko buku waktu itu? Jangan sampai saja mbak ini salah paham melihatku bersama Pak Fachry lalu kami jambak-jambakan, teciduk hengpon jadul, kemudian masuk akun i********: Lambe Turah. Oh No, aku nggak siap terkenal sekarang!.  “Lo di sini juga, Yik? Ini siapa?” Kemudian aku jiper ingin kabur begitu saja. Eh, Tapi? Aku juga penasaran sih. Mbak ini beneran pacarnya Pak Fachry? Jika benar, oh, please, aku tidak ingin ada pertumpahan darah saat ini. Aku masih ingin lulus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN