Fachry - Manipulasi Perasaan

1544 Kata
Kebetulan, pasien terakhir yang perlu ku-visite malam ini adalah Valerie. Sekarang aku bebas. Setelah puas membuat mereka—teman-teman Valerie—tertegun habis kata begitu melihatku masuk ke kamar perawatan. Ada dua mahasiswa magangku lainnya, juga dua perempuan yang kuduga sebagai sahabat Valerie. Tercengang, kaget tentu saja. Ganteng gini. Mengingat, mungkin setahu mereka aku ini manajer Top Manajemen, dan sekarang bisa berada di sini dengan pakaian yang berbeda. Pesonaku sudah bisa dipastikan bertambah berkali lipat. Hahaha, lihat saja bagaimana mereka memandangku tidak berkedip sampai menetes sesuatu dari sudut bibirnya. Sekelas Herjunot Ali juga bakal tetap kalah dengan karisma yang terpancar dari seorang Rajendra.  Begitu pemeriksaan selesai, aku keluar disusul oleh beberapa teman Valerie yang kembali masuk. Grasak-grusuk masih terdengar dari jarak sekian ketika aku lewat. Tentu aja saat ini mereka sedang membicarakanku. Tentang—‘Oh, Val! Pak Fachry ganteng gila!’ atau—‘Ya ampun, Val! Mau dong yang kayak gitu satu.’ Astaga! Sudahlah, lupakan semua itu. Karena saat ini, mari kita temui perempuanku yang tiada duanya. Freya Katyaluna, my wife as soon as posible. Boleh diaminkan bersama ya. Sesampainya di depan ruangan Freya, terdengar suaranya sedang tertawa renyah sangat khas. Sepertinya Freya lagi ada tamu, tapi siapa ya malam-malam begini? apalagi sambil tertawa terpingkal-pingkal. Tanpa menunggu lebih lama, aku melongokkan kepala ke dalam ruangan. Oh, tampaknya Freya sedang telepon dengan seseorang. Kuputuskan untuk masuk dan menyapanya, “Malam, dokter Freya.” “Eh ... Eh .... Bentar, ya.” Freya yang kaget dengan kedatanganku segera memutus panggilan telepon. Sapaan hangat dan antusias keluar dari bibirnya. Ah, membuat pengandaianku muncul begitu saja. Oh andai saja dia itu … Stop! Kubuang jauh-jauh imajinasi itu sebelum Freya menyadari kekonyolanku.  “Sibuk, Frey?” Kulempar pertanyaan ketika pantatku mendarat  di atas sofa putih di ruangannya. “Nggak, ini lagi video call biasa sama sohib lo.” Freya memperlihatkan ponselnya yang menampilkan wajah seseorang yang sudah kuhafal sejak lahir. Yaelah, gue kira siapa. Tenang, musuh cecurut kupret satu itu sih aman. Jangan menganggapnya sebagai saingan, karena nyatanya kami bertiga memiliki kedekatan khusus berlabel Threever sejak dalam kandungan. Aku mengambil alih ponsel Freya dari genggaman dan langsung menyahut begitu saja. “Woey, Nyet! Lo kapan balik? Betah banget elah! Ini RMC gue akuisisi juga nih lama-lama,” sapaku pada seseorang di seberang sana. “Anjir! Kok elo? Ngapain lo malem-malem ke ruangan Freya? Mau mojok ya lo berdua?!” sahutnya dengan nada menuduh. Shit! Ya kali perempuanku ini segampang itu. Freya itu istimewa, mahal. Karena itu tidak mungkin rasanya Freya sudi berduaan denganku tanpa ada maksud tertentu dan hanya menghabiskan waktu bersama a.k.a mojok seperti yang dilayangkan kunyuk satu itu. “Heh, bacot! Emang kenapa kalo gue sama Freya mojok? Jeles lo?” tudingku balas nggak terima. Aku melirik perempuanku sekilas. Terlihat senyuman simpul dia keluarkan. “Njir ! Berani ya lo sekarang! Awas aja, tunggu gue balik. Dan lo, Frey. Jangan kemakan rayuan murah bin receh dari dia. Tunggu gue, Dear.” Kulirik Freya yang masih bertahan dengan senyuman simpulnya. Tidak ingin ikut masuk dalam pembicaraan kami berdua. Namun, aku bisa lihat semburat merah muda yang muncul ketika si gesrek itu memanggilnya ‘Dear’. Aelah, gitu aja gue sih juga bisa kali, Frey. “Udah-udah. Gimana kerjaan lo, Nyet? Lancar?” Freya tak ingin kalah, menyembulkan mukanya ke depan layar ponsel yang kupegang. Otomatis hal tersebut menjadikan aku dan Freya saling menghimpit, begitu dekat, tak tersekat. Sialnya, perasaan terkutuk itu justru muncul di saat seperti ini. Takikardi sialan! “Ya, gini aja, Nyet. Kayak rasanya beda aja.” Mereka masih berhaha-hihi sementara aku diam memperhatikan. Dia, cowok yang sebenarnya malas sekali kuakui sebagai seseorang terdekat dalam hidup. Persahabatan kami bertiga bahkan sudah eksis sejak kami masih sama-sama dalam kandungan. Terlalu erat hubungan di antara kami sampai sudah hafal seluk beluk masing-masing. Mulai dari kenistaan sampai hal hina yang pernah kami lakukan, semua sudah tersimpan rapi di memori. Kalau kebaikan mah, jangan ditanya! Banyak lupanya. Bahkan frekuensi di antara kami sudah mampu mengaktifkan komunikasi batin satu sama lain. Tanpa berkata dan hanya bertatap muka, kami sudah pasti paham apa yang saling kami katakan. Sampai sedekat itu radar di antara kami. Karena itu, bagiku rasa aneh yang muncul ke Freya entah mulai kapan ini, haram hukumnya. “Heh, monyeng! Gue kangen lo nih?” ucap cowok yang harusnya menjadi pemimpin di rumah sakit ini  sambil bergaya m***m memonyongkan bibir di dekat kamera. Iya, dia adalah putra mahkota pemilik tempatku bernaung mencari rupiah demi rupiah serta pengabdian atas sumpah yang kuucapkan dulu. Putra dari dr. Reikhan Rajendra, SP.BS yang notabene adalah omku, adik kandung Bapak Rahman yang terhormat. Aku dan kutu kupret—oh, please, aku tak ingin menyebut namanya sekarang—adalah saudara seperpupuan. Mmm... Bukan sepersusuan lho ya! Kalian tahu, dia itu tidak lebih baik dibanding aku, bahkan bisa dibilang lebih absurd. Serius. Tuh orang paling gesrek otaknya di antara kami bertiga. Untungnya Freya yang paling imun, nggak terpengaruh.  “Anjiir!! Najis. Ogah, udah sana lo! Gue mau ada perlu sama Freya, dan gue nggak mau lo denger!” “Tiati, Frey. Ingat apa kata gue. Jangan kemakan semua gombalan dia.” Terserahlah itu kunyuk satu maunya gimana. Yang jelas, segera kuakhiri sambungan dan menyerahkan kembali ponsel Freya. Kelihatan banget raut letih yang dipancarkan wajah manisnya. Ingin rasanya mengelus lembut rambut hitam tergerai indah miliknya tapi, aku tak kuasa. “Capek?” Pada akhirnya hanya pertanyaan itu yang berhasil keluar setelah sekian detik saling terdiam menyelami pikiran masing-masing. Ada anggukan sebagai jawaban. Kemudian, Freya menyenderkan punggung lelahnya sambil sedikit memijit tengkuk pelan. Ada kesempatan, dan instingku meminta untuk berinisiatif melakukan lebih. Tangan kananku bergerak melingkar, meraih lengannya, mendekapkan ke dalam dadaku. Aku bisa merasakan reaksi Freya yang sedikit menegang. Tapi, pada akhirnya ia menurut saja dan menikmatinya. Sementara tangan kiriku mengarah ke atas kepala Freya, merapikan anakan rambut yang berantakan, dan mengelusnya seperti inginku tadi. “Yik?” tanyanya masih dengan posisi meringkuk di dadaku. Aku hanya berdeham membalasnya. Sementara Freya memilih diam, seperti kataku tadi, terasa sekali kalau deguban jantungnya sedang berperang satu sama lain, saling bertubrukan nggak ingin kalah. Seketika suasana menjadi awkward. Selama tiga puluh tahun aku mengenal perempuan ini, belum pernah rasanya terjebak dalam jurang es dengan suhu minus nggak bisa berkutik. “Gimana tadi operasinya? Lancar?” tanyaku memecah situasi beku seperti ini. “Capek, beberapa kali kondisi unstable. Untung aja bisa teratasi,” keluhnya. Mata hazel itu, binarnya mulai redup. Aktivitas yang kebanyakan dilalui Freya di ruang operasi membuatnya harus jeli dan teliti memantau vital pasien dari monitor. “Gue tau lo hebat.” Aku berusaha memberikan semangat sambil mengacak pelan rambut hitam panjang sebahu itu. Freya Katyaluna, Anesthesiologist terbaik yang dimiliki RMC. Lulus cumlaude dengan masa studi tercepat 3,4 tahun. Satu bulan lebih cepat dibanding aku, tentu dengan predikat sama. Satu lagi pesona dari seorang Fachry Anugrah yang bisa kalian kagumi. Jangan menganga! Awas netes! Freya bangkit dari duduk, udah ancang-ancang ngajakin pulang. Tapi kampretnya, Freya ingat aja kalau kemarin selepas hadir di RKB aku sempat cerita kalau ada mahasiswa magangku yang pingsan dan kubawa ke sini. Sekarang jadi pertanyaan kan? Penyakit keponya mulai kambuh. “Kenapa ternyata mahasiswa lo?” tanyanya sambil beresin barang-barang di meja kerjanya. Serius, gengs. Mau dilihat dari sudut pandang manapun, Freya bakal kelihatan cantik nggak kurang suatu apa pun. Itu mutlak.  “Maag kronis, sama hipotesis gue sih apendicitis. Cuman, belum gue pastikan lagi.” Freya cuma nyahutin dengan gelengan kepala nggak jelas sambil menggumam, “Penyakitnya mahasiswa, anak kos-kosan.” Sekalipun kelihatan udah nggak bertenaga Freya masih bisa menyunggingkan senyum manisnya itu. Aku jadi punya ide untuk mengantarnya pulang. Lumayan kan, setidaknya bisa agak lebih lama lah ya berduaan dengan perempuanku ini. Tapi, bukan Freya namanya kalau nurut gitu aja. Selalu ada perlawanan yang justru membuatku tertantang untuk menaklukkannya. Freya masih berkelit dengan dalih membawa mobil sendiri, padahal bisa aja mobil ditinggal, toh aman parkir di basement. Aku gemas menunggu Freya masih menimbang-nimbang tawaranku. Tanpa menunggu lama, segera saja kukemasi barang di atas mejanya, mengambil tas dan menyeretnya keluar ruangan. “Yik!” “Lo lama, Frey. Kali ini nggak ada penolakan,” putusku, nggak memedulikan lagi gerutu Freya sepanjang jalan menuju tempat pakir. Begitu kami sudah masuk dan memasang pengaman, segera kulajukan mobil menerobos jalanan. “Yik, boleh gue tidur? Ntar sampai rumah bangunin. Tolong!” izinnya yang duduk di kursi samping kemudi sambil memelas. Perlahan ia mulai terlelap, suara napas teratur mulai terdengar. Pelor juga nih cewek. Dasar! Sebenarnya aku sudah terbiasa menghabiskan waktu bersama dengan saling diam seperti ini. Tapi, perasaan terkutuk yang menyergapku entah sejak kapan, membuatku harus berusaha terlihat menyenangkan di matanya. Gue nggak suka bagian itu. Aku mengecup pelan keningnya. Sorry, aku sudah nggak bisa menahan nafsu yang menggeliat akhir-akhir ini. Freya mengerjap pelan, kayak putri salju yang bangun dari tidur panjangnya setelah dicium pangeran. Jadi bisa disimpulkan siapa pangerannya kan? “Udah sampai, Frey,” alihku, sambil berdoa semoga aja Freya nggak sadar apa yang kulakukan barusan. “Gue ketiduran?” tanyanya, sambil menggeliat mengembalikan sadarnya. “Iya, udah sana masuk. Istirahat lo, besok gue jemput.” “Mmm, Oke. Thanks, Yik. Lo ati-ati.” Dengan sedikit terhuyung, Freya melenggang keluar dari mobil dan melambaikan tangan, menyisakan aku yang masih sibuk memanipulasi perasaan ini agar nggak berkembang lebih jauh. Kalau saja semudah itu, Frey. Gue sayang banget sama lo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN