Valerie - Serius? Nggak Bohong?

2549 Kata
Aku masih termangu dan sulit untuk percaya. Kejutan yang cukup mengagetkan. Orang yang bernasib sial lantaran mobilnya kena batu yang kutendang dan orang yang selalu sok tiap kali berada di dekatku hanya karena statusnya sebagai atasan, ternyata .… Oh ya Tuhan. Lelaki itu benar-benar …. Ah, rasanya masih tidak percaya. Tapi, masa bodoh. Mau dia dokter atau anak si Bapak Pemilik Top Manajemen, aku tidak peduli. meski yah … penasaran, sih. Tapi … tidak tidak. Masa bodohlah dengan siapa Bapak Fachry itu. Bukan urusanku ini. Yang harus kupikirkan sekarang ini perut tidak tahu diri yang kambuh di waktu tidak tepat. Ngapain, sih kamu pakai sakit lagi? Kan harusnya kamu baik-baik aja sekalipun nggak kuisi barang sehari. Ah, sial! Gara-gara mag yang selalu jadi momok menakutkan tiap kali telat makan, terpaksa aku harus tergolek nggak berdaya di sini. Di atas ranjang pesakitan dengan selang infus menempel di tangan. Mana jauh dari bapak sama ibun lagi. Kan ngenes. Malang nian nasibmu, Val. Padahal, selesai pentas kemarin rencananya aku mau jumpa fans. Jangan salah, gitu-gitu adik tingkatku masih banyak yang mengenali. Tapi, sayang sekarang nasibku justru harus teronggok di dalam kamar rawat VIP pesanan Pak Fachry. Ah, ingat itu jadi tambah kesal. Bukannya nggak mau berterima kasih. Tapi, kan … tahu sendiri gimana keuanganku yang yah, you know-lah. Memang sih, ini semua demi kenyamananku yang lagi sakit, tapi tetep aja kesel. Rasanya pengen banget memaki-maki dia dan keluar gitu aja dari ruang rawat ini terus pulang ke kos. Sayangnya, hatiku tidak akan setega itu. Tidak sopan dan terkesan tidak menghargai kebaikan Pak Fachry. Ah, jadi serba salah, kan jadinya. Kesal. kesal. Mau makan orang deh jadinya. Eh, tapi siapa yang mau dimakan coba? Lagian kan keuangan anak kos itu tidak seberapa dan harus di-manage sedemikian rupa biar nggak sampai kelaparan di akhir bulan. Melihat kalender yang masih jauh dari tanggal muda itu—miris coy! Ya kali besok akhir bulan makan nasi kucing. Oh, no!! Dan, aku tak berani menghubungi ayah sama ibun. Lebih kepada tak ingin membuat mereka khawatir berlebih begitu mendengar kondisiku yang seperti ini. Bisa-bisa mereka langsung terbang ke sini begitu tahu anak kesayangan tidur di rumah sakit. Bosan. Cuma bisa diam, tidur, nonton tv, nggak bisa ngelakuin yang lain. Padahal biasanya aku udah sibuk mantengin komputer dengan segala to do list yang kudu dikerjakan sehari penuh Ah, jadi kangen kerjaan kalau kayak gini. Pandanganku beralih menuju ponsel yang tergeletak di atas nakas samping bed. Rasanya sudah berapa lama ya nggak buka tuh benda. Mustahil untuk orang zaman sekarang bisa bertahan mengusir kebosanan tanpa benda segi empat ini. Kubuka satu persatu aplikasi sosial media yang kumiliki. Ada sembilan belas panggilan tak terjawab dari w******p. Pesan sekitar dua puluhan lebih, BBM dengan berkali Ping! Line grup yang hampir mencapai 999 unread. Dari serangkaian pesan itu, nama Jejen sama Arum-lah yang paling mendominasi. Oh, jadi ini reaksi mereka ketika tak mendengar kabarku? Aaaa ... Aku terhuraaaa .… Setidaknya ada yang nyariin lah ya. Mataku terus menekuri pesan demi pesan yang masih belum terbuka. Ada nama ayah, ibun, dan Mas Miko—kakakku—yang muncul di deretan pesan tersebut. Astaga! aku melupakan mereka. Baru saja aku berkeinginan untuk menelepon, dering ponsel terdengar menampilkan nama ayah di layar. “Assalamualaikum, Cah ayu,” sapa ayah dari ujung telepon. Terdengar dari intonasi yang dilantunkan, ayah begitu merindukan putrinya ini. Ya, putrinya yang bahkan tak bisa menjaga kesehatan sendiri, jarang memberi kabar, pulang satu tahun sekali, dan aneka kelakuan buruk lainnya. Maafkan Val, Ayah .... “Wa’alaikumsalam, Ayah,” balasku sambil menahan air mata kerinduan agar tak lolos begitu saja. Ah, Ayah ... Val rindu. “Kamu kenapa, Nduk? Ada sesuatu yang terjadi?” tanya ayah yang telah berubah nada menjadi khawatir. Benar saja, mereka tak mungkin tak merasakan sesuatu di sana. Sudah barang tentu, firasat itu menyergap. Kami itu dekat, sekalipun jarak yang menjauhkan. Ikatan hati yang telah tertaut sejak aku hidup di rahim ibun, tak bisa mendustai satu sama lain. “Apa kalau Val bilang nggak apa-apa Ayah percaya?” Ada helaan lelah terdengar jelas. Sedikit terdiam menunggu balasan ayah, tapi satu suara lain menyahut. Terdengar mengambil alih telepon dari genggaman ayah. Dan, suara itu yang paling melemahkanku. “Kamu ini di mana, Sayang?” Ibun seperti membuncah melayangkan pertanyaan itu. Malaikat tanpa sayap yang tak pernah bisa kubalas dengan apapun semua hal selama dua puluh dua tahun aku berada di dunia ini. “Val di rumah sakit, Bun. Kambuh,” lirihku sambil sedikit isakan tak bisa terbendung lebih lama. “Innalillahi ... terus, sekarang kondismu gimana, Nak?” tanya ibun panik. “Val nggak apa-apa, Bun. Jangan panik, ah.” Aku berusaha menenangkan ibun agar tak begitu mengkhawatirkanku di sini. “Nggak apa-apa gimana sampai masuk rumah sakit?! Setelah ini biar Mas Miko mencarikan tiket untuk kami ke Jakarta.” Tuh, kan bener dugaanku. Kalau mereka tahu, pasti gini jadinya. Khawatir dan pengen ngelihat keadaan putri semata wayang mereka ini. Apalagi ditambah dengar suara ibun yang mulai parau seolah menahan tangis dan kesal. Duh, Ibun. “Makanya to, Nak, kamu itu kalau masalah makan jangan bandel. Jauh dari rumah, nggak ada yang ngawasi. Harusnya kamu sendiri yang bisa jaga diri.” Telepon kembali berada dalam kendali ayah. Petuah khas nada khawatir tak luput dari obrolan siang hari ini. Sudah rasanya perutku belum juga membaik, ditambah rasa sesak di d**a karena rindu yang tak kunjung menemukan titik temu. Ah, mewek banget gue!! Aku hanya bisa mendengarkan dan meyakinkan mereka untuk tidak menyusul ke Jakarta. Ongkosnya tidak akan sedikit dan menghabiskan biaya juga waktu. Sekalipun dalam hati ingin rasanya menjerit, ‘Ayaaaaah .... Ibuuun ... Val kangen banget. Val ingin dipeluk. Aaaaa.’ Ah, tapi nggak mungkin juga aku mengutarakan langsung. Yang ada, mereka tambah cemas mendengar segala rengekanku itu. “Ya sudah, lihat nanti apa kata masmu. Sekarang kamu istirahat lagi ya. Segera pulih, kabarin terus Ayah sama Ibun.” Sambungan terputus menyisakan aku yang semakin tersedu selepas mereka menyudahi obrolan ini. Ah, homesick itu tidak ada obatnya kecuali bertemu langsung dengan pemicunya. Sesaat setelahnya, dobrakan pintu terdengar dari sisi kananku. Refleks aku menghapus sisa-sisa air mata, bersikap biasa saja seperti semula. “Valeeeee.....” Lengkingan khas begitu pintu terbuka membuat telingaku terpekik kaget. “Val!!! Ya ampun, kok bisa gini?!!” “Gimana kondisi lo sekarang?” “Apa yang sakit? Lo baik-baik saja kan?” Mereka, tanpa jeda membombardirku dengan serangan pertanyaan beruntun. Pasukan ricuh, aku menyebutnya gitu. Ada Arum, Jejen, disusul Ellen dan Gio di belakangnya. Tunggu!! Mereka datang bersama? Memangnya saling kenal? “Kok, kalian pada tahu?” Aku melempar pandangan ke arah mereka. Bukannya menjawab, mereka malah saling bersikutan meminta yang lain untuk lebih dulu angkat bicara. Heran saja sih, aku belum menghubungi siapa pun. Lagi, ponsel juga baru sempat terbuka. “Kita kemarin nyariin lo tau! Abis manggung main ngilang aja. Mana kagak ada yang tahu segala.” Jejen yang bersuara pertama, menjelaskan detail bagaimana awalnya mereka tahu kondisiku, saling kenal, kemudian datang bersama. Aku speechless. “Jadi, Pak Fachry yang hubungi lo, Yo?” Aku masih belum percaya sepenuhnya bahwa Pak Fachry bisa dengan relanya mengabari mereka. Tapi, jika dipikir, siapa lagi yang tahu kondisiku? Dan—oh, ya ampun! Itu artinya Pak Fachry juga yang membawaku ke rumah sakit, mengurus administrasi dengan segala hal lainnya. Duh! “Iya gitu, terus Gio hubungi gue gegara kemarin kita heboh neriakin nama lo dan dua temen magang lo ini di samping kita. Yaudah, jadinya kenalan deh.” Kemudian, kami saling terbahak. Lucu juga pertemuan mereka. Ya ... siapa tahu kami berempat bisa bersahabat lebih dekat. Asli, kalau sudah seperti ini, yakinlah tidak akan bisa istirahat seperti yang ayah nasihatkan tadi. “Val, lain kali kalau lo sudah ngerasa sakit, bilang dong. Kan bisa ada yang gantiin. Nggak maksain diri kayak gitu.” Ellen yang sedari tadi berdiam diri kini bersuara juga. “Gitulah si Vale, Len. Sok-sokan kuat padahal ringkih.” Aku menggeplak Jejen tak terima dengan sindirannya. “Lo aja yang ringkih. Gue mah sekali ini doang kali.” “Lagi, lo mah tega. Nggak ngabarin kita, malah kitanya dapat kabar dari Gio dan Ellen” Arum menggerutu kesal. “Heh! mana ada orang pingsan kabar-kabar! Masa iya, 'Rum, gue mau pingsan, lo segera ke sini ya.' Ngaco!” “Maksudnya setelah siuman,  dudul!” Aku cuma bisa nyengir kuda. Meminta maaf. Dan suasana kembali riuh dengan canda tawa kami. Kali ini aku bersyukur dan berterima kasih sama Pak Fachry sudah memasukkanku ke ruang VIP. Coba kalau di kelas 1, 2, atau bahak 3 yang banyak orangnya dalam satu kamar. Duh, bakal kena omel kita gara-gara bercanda nggak jelas kayak sekarang. “Eh, btw, Pak Fachry siapa sih?” tanya Arum penasaran. Sementara itu Gio dan Ellen telah berpindah ke sofa panjang yang lebih nyaman. “Atasan kita di Top Manajemen, putranya Pak Rahman yang punya RU. Eh, tunggu deh! Kok dia bisa tahu lo sakit ya?” terang Gio ke Arum yang mulai penasaran. Belum tahu saja mereka, ada yang lebih heboh dari sekadar putra mahkota Rajendra. “Dia dokter di sini, yang nanganin gue sekarang. Dia juga yang bawa gue ke sini pas pingsan di RKB kemarin.” Mereka terbelalak saling melotot tajam ke arah masing-masing. Hah, dasar kalian lebay! “APA?!!” “Eh, bercanda lo?” “Serius, Val?” “Kok bisa?” Keempatnya berseru heboh. See? Sudah kuduga. “Bentar-bentar! Ini—eh, lihat deh ini! Ra-jen-dra-me-di-cal-cen-tre.” Jejen mengeja tulisan yang berada di selimutku. Heh, iya lho! Bodohnya aku yang baru menyadari hal ini. “Itu artinya ....” Kami semua menganga nggak percaya. Gila! Ini benar-benar gila. Pantas saja kalau kudanya Porsche White, gawainya merk terkenal keluaran terbaru limited edition pula. Oh, jangan heran, please. Sungguh, WOW lah. “Assalamualaikum. Selamat malam,” ucap suara dari arah pintu. Seketika kami semua menengok ke asalnya. Suara khas yang mulai kuhafal perlahan. Pak Fachry, dengan setelan jas putih juga stetoskop di saku kanannya, datang menghampiri kami. Kemudian hening. “Maaf, permisi ya. Waktunya visit untuk Valerie,” ucap lelaki itu memecah keheningan di antara kami. Tersadar, kami mengerjap. Astaga! Panjang umur sekali orang ini. Baru juga diomongin! “Hai, Gio, Ellen, sudah lama di sini?” tanya Pak Fachry kepada Gio dan Ellen yang masih termangu di tempat. Sementara dua perempuan lain jelas tak berkedip sedari tadi memandangi anugerah Tuhan luar biasa di depannya. Lihat saja, sampai ngeces seperti itu. Heh, dasar! “Eh, iya, Pak. Eh—maksudnya, Dok,” jawab Ellen gugup. Namun, Pak Fachry hanya memperhatikan sekilas kemudian kembali fokus kepadaku. Aku kicep dilihat dalam jarak yang terlalu dekat seperti ini. Jangan sampai saja tuh orang salah diagnosis mengira aku punya penyakit jantung karena detakku yang sudah macam genderang mau perang. “Mmm, kalian .... Boleh keluar sebentar?” Belum juga orang ini mulai memeriksaku, kini ia mengeluarkan titah kepada mereka. “Ah, Iya. Yuk gaes, kita keluar dulu.” Gio tersadar lebih dulu, lalu mengajak yang lain. Aku teringat sesuatu, “Jen, tunggu!” “Iya, Val?” Kuarahkan satu tanganku untuk Jejen mendekat ke sebelahku.  Aku membisikkan satu hal, meminta tolong Jejen melakukan sesuatu selagi mereka berada di luar. Setelah diangguki oleh Jejen, kubiarkan mereka pergi menyisakanku berdua dengan orang ini, dan perawatnya. “Sudah?” Eh? Aku bingung. “A-Apanya, Pak?” “Nggak, ya sudah, saya periksa dulu ya?” Kemudian, dia mengeluarkan stetoskopnya, memasangnya, dan mulai menempelkan di tubuhku. Serius, aku deg-degan mampus! Aku menahan napas sambil memejam sebentar. Terlalu malu untuk melihat orang tersebut dalam jarak sekian. Apalagi saat ia sedikit menunduk menjadikan sekat di antara kami hampir tak ada. Mendengarkan apa pun yang terjadi dalam tubuhku dengan earphone-nya itu. Sesekali ia memandangku dengan sedikit kernyitan bingung. Deg-degan tak tahu diri! Nervous euy! Lalu, beberapa saat setelah itu, pemeriksaan selesai. Pak Fachry kembali menegakkan badan, memasukkan stetoskop ke dalam saku jas. “Kamu merasa sesak napas?” Iya, sesak gara-gara nahan deg-degan karena dekat sama situ! “Eh … anu—sedikit, Dok.” “Sejak kapan?” Sejak situ ada di sini. Plaak! Ngawur. “Nggak, nggak begitu sesak kok, Dok.” Kembali ia menautkan kedua alis. “Semalem tidurnya nyenyak?” “Lumayan, cuma kebangun sekali.” “Masih mual? Makan bisa?” Astaga, cerewet sekali orang ini. Oke, semua itu memang dalam kapasitasnya sebagai dokter dan memang dalam proses pemeriksaan kan? Cuma ... kepo banget! “Yah, makan sudah bisa sekalipun nggak habis.” “Nyeri?” tanyanya sambil menekan bagian tertentu di perutku. Aku mengaduh refleks, membuatnya menghentikan aktivitasnya sejenak. “Oke, gimana vitalnya, Gin?” tanyanya kepada perawat yang tengah memeriksa tekanan darahku. “Normal, Dok, 110/90 mmHg,” jelas Gina—nama yang tertera di name tag—dilanjutkan dengan laporan medis lainnya yang hanya bisa dipahami oleh kaum mereka. Merasa roaming karena tak ada satu pun yang bisa kutelaah. “Ehmm, Dok ....” Merasa terpanggil, dia kembali menengok ke arahku. “Iya, kenapa?” tanyanya. “Jadi, kapan saya boleh pulang?” “Untuk sementara, kamu masih harus diobservasi lebih lanjut. Akan ada pemeriksaan lanjutan agar jelas penangan yang tepat. Karena, saya menduga ada sesuatu yang lain, tapi itu masih sebatas hipotesis saya,” jelasnya panjang. Aku tak terima. Enak saja! Aku sudah merasa lebih baik. Itu hanya bisa-bisanya dia saja agar aku lebih lama opname di sini dan pundi-pundi rupiah yang diterima rumah sakitnya semakin banyak. Heh, ini kamar VIP! Per hari bisa macam hotel tarifnya! Aku nggak sebodoh itu. “Tapi, Dok—magang saya bagaimana?” Aku memelas. Pura-pura lebih tepatnya. Berharap, ada sedikit kebaikan di sela hatinya yang mau membebaskanku dari penjara ini. “Kan, bisa izin.” “Saya magang baru dua hari, Dok. Janganlah .... Kalau seperti ini, bagaimana skripsi saya bisa kelar dalam waktu dekat.” Aku menggerutu sendiri. Menahan kesal dengan sikap sok dari orang ini. Sumpah, ganteng sih ... tapi menyebalkannya itu lho! “Kamu lupa magang di mana?” Kampret! Sok ngebos banget dia. Aku mendesah pasrah, terserahlah dia mau seperti apa. Sudah jengah rasanya menghadapi segala sikapnya yang menjengkelkan. Semoga aja sakitku nggak makin parah. “Jangan lupa juga soal batu yang nyasar melayang gitu aja ke kaca belakang mobil saya. Kalau-kalau kamu lupa, saya ingatkan sekarang.” Tampak seringaian jahil tersimpul dari sudut bibirnya. Astaga .... Dan belum juga aku membalas ucapannya, terdengar sesuatu yang jatuh dari depan. Tepatnya, sih suara pintu yang baru saja terbuka karena terdorong dari luar dengan keras. “VAAAL!!! “Eh, maaf, Dok. Belum selesai ya periksanya?” Jejen bertanya kikuk begitu tersadar masih ada makhluk lain di sini. “Oh, nggak. Saya sudah selesai, silakan kalau mau ngobrol lagi. Valerie, saya permisi dulu kalau begitu,” pamitnya. “Jangan lupa soal pewe,” lanjutnya sambil sedikit berbisik ke telingaku kemudian tersenyum kecil dan mengacak sedikit rambutku baru kemudian melenggang pergi. Astaga .... Astaga .... Aku pengap seketika. Baver. Eh, pewe? Pewe apaan? Ah, sudahlah, nggak ngerti. “Val, lo harus tau!” Ucapan Jejen mengembalikan fokusku pada mereka. Dia menyerahkan satu amplop berlogo rumah sakit ini. Aku melirik sekilas, mencari kedalaman isi dari pancaran mata Jejen yang masih celingukan nggak rela Pak Fachry pergi begitu saja. Dan, begitu kukeluarkan kertas di dalamnya—aku tercengang. “Jen—” “Gue .... Ah entahlah, Val,” seru Jejen frustrasi. Oke, cukup, Val. Selesaikan semuanya esok hari. Sepertinya terlalu lelah aku hari ini. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN