Fachry - Jujur, Saya Merasa Tertantang Lho

2214 Kata
Menghadiri acara semacam ini bagiku sama dengan membuang waktu. Bayangkan saja, di tengah kepadatan jadwal praktik poli dan visit, aku harus tetap datang ke acara yang bisa kubilang—heh, aku sudah pernah merasakannya dulu, sepuluh tahun lalu, sewaktu jadi mahasiswa baru. Tidak perlu lagi kan sekarang? Tapi tidak bagi My Big Boss a.k.a Bapak Rajendra Rahman yang terhormat. Bahkan papa sampai menelepon Om Reikhan untuk mencari dokter pengganti sementara dalam sesi visit terakhir malam ini. Sangat tidak profesional! Menjadi dokter adalah profesi utamaku. Sudah menjadi kewajiban untuk bertanggung jawab terhadap pasien-pasienku. Bukannya, hadir di acara seperti ini! Tapi, lagi-lagi papa berhasil membuatku hanya berdiam diri menuruti keinginannya. Kalau saja tidak ingat siapa orang itu—mungkin, aku akan berkata kasar. Jadi, dengan sedikit tidak rela aku menghadiri acara ini. Melihat sekeliling RKB —atau lebih sering disebut Kribud oleh kebanyakan  mahasiswa—memang tidak buruk. Banyak mahasiswa cantik. Asli, membuatku yang tadinya jengah luar biasa jadi segar lagi. Cuci mata gratis, lumayan. Tapi jangan salah. Freyaku itu tetap satu-satunya. Tidak ada yang lebih menarik darinya. Lagi-lagi Freya. Aku mendesah, teringat pada gadis manis yang selalu menemani hari-hariku sejak beberapa tahun lalu. Ah, aku jadi rindu dengannya sekarang. Sedang apa ya, dia? Tanpa berpikir dua kali lagi, aku segera membuka aplikasi chat untuk sekadar menyapanya. Lebih tepatnya, sih memantau keadaannya yang mungkin saja  tengah … ah, sudahlah. Lupakan pikiran tidak jelasku yang melayang ke mana-mana. Bisa-bisa gila aku kalau berpikir yang tidak-tidak tentang gadisku itu. Lo ngapain, Frey? Gue bete di RKB gak jelas gini. Balasan itu aku terima tidak sampai lima menit kemudian. Sayang, balasannya singkat sekali. Khas Freya. Tahu apa balasannya? Dia cuma jelasin kalau tiga puluh menit lagi ada operasi dan baru selesai visit. Bukankah itu kode buat aku nggak menghubungi dia sampai operasinya berakhir? Tapi, kode biarlah tetap jadi kode. Tidak mempan kode seperti itu buatku. Jadi, aku balas lagi pesannya dengan bertanya kasus apa yang sedang dia tangani sekarang. Ikut kardio, kateterisasi lanjut pasang ring  Lo kalo gaje aja baru ngeline gue, males ah Aku tersenyum. Benar, alasan utamaku menghubunginya memang tidak lain karena bosan dengan acara yang hampir sama tiap tahunnya. Tapi, ini juga salah satu caraku untuk bisa tetap dekat dengan gadisku. Ya trus lo maunya gimana? Gue chat tiap saat?  Lagi, siapa selain lo yang bisa gue chat? Ketahuan banget jonesnya lo  Makanya cari pacar sono! Tuhan, jawabannya. Pertanyaan pancingan banget itu. Bukan lagi kode-kode tak jelas. Seketika, terlintas ide jahil. Lo mau jadi pacar gue? Nah, coba, gimana reaksi lo kalau gue ngirim balasan macam begitu, Frey. Deg-degan, njir nunggu responsnya. Tadi aja cepet balasnya. Sekarang? Lama. Pikiranku jadi bertanya-tanya, kan? Ah, sudahlah. Mungkin dia memang sedang sibuk. Kembali, aku sibukkan dengan acara di depan yang terisi dua orang MC salah satu mahasiswa. Serius, sudah bukan masaku untuk mengikuti hal-hal seperti ini. Sekalipun mendapat tempat VIP di sofa paling depan, tetap saja membosankan. Ya, bayangkan. Deretanku terisi oleh para petinggi rektorat yang—sekalipun aku mengenalnya—rasanya canggung gila. Bosan semakin merajalela. Sampai satu nama terdengar masuk ke indra pendengaran. Valerie Serafina. Lipatan di kening tumbuh seiring sosoknya naik ke atas panggung. Dia …. Dia?! Seketika aku melotot menatapnya yang dengan gaya sok anggunnya berjalan di atas panggung, menghampiri MC yang memberinya mikrofon. Bukan sok anggun, sih. Tapi, dia memang nampak anggun dress berwarna peach dan sepatu hak tinggi senada dengan gaun yang dia pakai. Lalu, alunan musik mulai terdengar memenuhi area Kribud. Ketika fokusku masih pada gadis penyebab PW kesayanganku rusak, getaran di ponsel terasa. Segera aku membuka pesan masuk dari gadis yang kutunggu sejak tadi.   Njrit, lo jangan ngigo  Udah ah gue mau persiapan ke OK  Nikmatin aja noh yang katanya dinas luar  Bye See? Tidak semudah itu menyatakan perasaan ke perempuanku satu itu. Sudah dikasih seribu kode saja dia tidak pernah menanggapi, selalu pura-pura tidak paham. Apalagi pertanyaan gamblang macam tadi. Satu suara merdu mengurungkan niatku untuk membalas pesan Freya. Fokusku kembali ke panggung di mana gadis yang menjadi perwakilan TOP Manajemen tengah mendendangkan sebuah lagu. Njir, suaranya, Man. Merinding gue dengernya. Mau diceritain? Ah, males. Mending balik dengerin lagu Flashlight dari Jessie-J yang dia bawakan. Enak dan renyah gimana gitu suaranya di telinga. Bahkan, ketika mataku melirik ke deretan orang-orang di sebelah, mereka juga menikmati dengan senyum tipis. Usia mereka boleh senja, tapi ternyata pendengaran masih bisa tahu ya mana lagu enak dan tidak. Dan ketika musik berakhir, selesai sudah suara merdu itu hinggap di telinga. Semua orang berdiri, memberi standing applause buat si Vale-vale itu. Berlebihan sih, tapi, serius. Suaranya benar-benar keren dan bikin orang hanyut. Sayang, suara dan tingkahnya beda jauh. Kalau ingat wajahnya yang menyebalkan waktu ngerusak PW kesayangan, duh rasanya pengen becek-becek dia. Seketika ide jahil terlintas di kepala ketika melihat dia berjalan turun dari panggung setelah memberi salam dan ucapan terima kasih. Aku segera berlari ke belakang panggung untuk menyusulnya, menggodanya sedikit tentu saja. Jangan berpikir macam-macam. Aku tidak akan berlaku buruk padanya. Tenang saja. Dari jarak sekian saja auranya begitu mendominasi hingga aku bisa cepat mengenalinya. Aku lantas mendekat dan melihatnya tengah mengerang kesakitan sambil memegangi perut. Tuh cewek kenapa? Sepertinya ada yang tidak beres. “Valerie, kamu kenapa?” Tidak ada sahutan. Refleks aku memegang tangannya, dingin. Keringat sebulir jagung sudah mengucur deras di dahinya. Wajah merona yang ditampilkan saat di panggung tadi sudah sirna, kini berganti pucat pasi. Aku mengecek nadinya, astaga—nadinya cepat tapi lemah. “Valerie, dengar saya?” Namun, dia hanya mengerjap sedikit kemudian mengernyit, mungkin bingung. Erangan kesakitan pelan tapi terdengar jelas tersebut semakin meyakinkanku kalau dia sudah merasakannya sedari tadi. Tapi, dia menahan. “Dek .... Dek .... Minta tolong bawakan air, cepat,” ucapku kepada salah satu panitia yang berseliweran. “I... Iya, Pak. Tunggu.”  Mahasiswa yang kumintai tolong berlari menjauh untuk mencari air mineral sesuai pesananku. Tapi, erangan Valerie semakin jelas dan membuatku berniat akan membawanya ke rumah sakit setelah memberi pertolongan pertama dengan air yang masih kutunggu itu. Sayang, belum sampai air yang kupesan datang, perempuan ini sudah limbung. *** Begitu sampai di IGD, dengan cepat aku meminta dokter jaga untuk memeriksanya. Masih denganku yang menungguinya di samping brankar, memperhatikan bagaimana dokter iship tersebut menangani pasien. “Gimana?” “Sepertinya maag, Dok,” jelas dokter tersebut sambil melepas stetoskop. Aku menatapnya tajam.  Penjelasan macam apa itu? Mana ada dokter memberi jawaban seperti itu pada kerabat pasien. “Dokter Fachry tahu awalnya bagaimana?” “Ck, saya nggak tahu. Tiba-tiba saja kondisinya sudah seperti ini. Tidak ada indikasi lain?” Aku geram ingin menanganinya sendiri. Kalau tidak ingat prosedur, sudah dari tadi kuambil alih. “Berapa vitalnya, Mbak?” tanya dokter bernama Andri tersebut kepada perawat jaga yang menemaninya. “90/70 mmHg, pernapasan dangkal 15 kali per menit, nadi cepat tapi lemah 100 kali per menit, Dok,” kata perawat sambil menyerahkan status pasien kepada dokter Andri. Aku masih diam saja tak berkomentar. Membiarkan terapi apa yang diberikan selanjutnya. Meskipun gatal tak berbendung untuk ikut andil di dalamnya. “RL 30tpm, tolong sekarang, Mbak,” perintah dokter Andri kepada perawat jaga. (Ringer Lactat 30 tetes per menit). “Baik, Dok.” Aku memandangi wajahnya yang pucat namun masih terlihat cantik. Astaga! Sempatnya. Tidak kupungkiri, ada rasa khawatir, cemas, dan takut. Satu lagi, penasaran. Apa lagi ini? “Observasi di IGD dulu saja atau langsung dipindahkan ke kamar perawatan, Dok?” tanya dokter Andri yang melihatku terdiam sedari tadi. “Alihkan jadi pasien saya. Mbak, tolong uruskan administrasi pasien ini atas nama saya ke VIP atas. Dokter Andri, saya minta statusnya tadi,” kataku sambil melenggang pergi. Menetralkan perasaan entah apa yang membuatku pengap seketika. Ah, ini gila. Pada akhirnya, kuputuskan untuk mengunjungi Freya. Mungkin saja operasinya telah usai dan—ya ... She's the best my medicine ever. Tapi, begitu sampai di depan pintu ruangan berplang nama ‘dr. Freya Katyaluna, Sp.An’, tidak ada tanda-tanda penghuni di dalamnya. Terkunci. “Mbak, dokter Freya belum selesai operasi atau sudah pulang?” tanyaku kepada perawat jaga di departemen Anestesi ini. “Sepertinya belum selesai. Ada pesan, Dok?” “Ah, nggak. Nanti saya text sendiri. Makasih ya.” Ya sudah. Memang sudah saatnya aku pulang buat istirahat. Urusan Freya bisa dilanjutkan besok. Lagi, setelah aksi konyolku di chat Line tadi, belum siap rasanya menyetor muka ke hadapan Freya. *** Pagi tadi, asistenku mengabari bahwa pasien baru yang masuk semalam sudah siuman. Karena itu, kini saatnya aku visit. Ya, pasien baru yang dimaksud Fitri—perawat yang membantuku selama ini—adalah Valerie. Siapa lagi?! Begitu aku masuk kamar rawat, tampak ia tengah memandangi sekitaran dan terlihat bingung. Mungkin dia masih menduga-duga mengapa aku bisa sampai berada di sini. Biasa efek obat setelah semalam istirahat penuh. Kemudian, dia menoleh menyadari kedatanganku. Mengernyit sejenak sebelum akhirnya bertanya, “Pak Fachry? Bapak ngapain di sini?” Oh iya, dia kan belum tahu kalau aku dokter. Oke, semakin menarik saja untuk mengerjainya. Aku mendekat ke sisi brankar, memerhatikannya sekilas. “Saya yang bawa kamu ke sini sewaktu pingsan semalam setelah tampil. Apa yang kamu rasakan? Kamu ingat?” Sambil meringis kesakitan, ia memegangi perutnya tanpa kata. Kemudian, ia kembali mendongak menatapku. “Ada keluarga kamu yang bisa dihubungi?” tanyaku lagi. Namun ia masih membisu sambil sesekali mengamatiku. Mungkin, dia benar-benar bingung. Lalu, Valerie menggaruk kecil pelipis, menarik napas agak dalam sebelum akhirnya angkat bicara, “Tidak perlu, Pak. Kalau masalah administrasi, itu di tas saya ada kartu ATM. Saya minta tolong. Keluarga saya jauh, Pak. Saya juga tidak mau bikin mereka khawatir. Dan saya sepertinya sudah baikan. Saya tidak perlu dirawat di sini, apalagi pakai kamar VIP. Bapak ini memutuskan sepihak saja!” Dasar cewek. Selalu aja ribet. Apa-apa dipikirin dan dipusingin. Padahal, ya tinggal tiduran aja, sembuhin diri, nggak usah pikirin rawat di mana. Kan beres itu. Lagian ya, aku tanya soal keluarga bukan buat masalahin materi yang buatku nggak terlalu penting itu. Tapi, buat ngasih tahu kondisi dia yang sebenarnya. Ck. Dasar perempuan. Sekalipun menyebalkan, tapi ada ketertarikan sendiri yang tiba-tiba muncul entah bagaimana asalnya. Gelo lo, Yik! “Bukan masalah administrasi, tapi wali yang harus bertanggung jawab atas kondisi kamu saat ini.  Bagaimanapun saya harus memberi tahu mereka. Teman kamu mungkin?” Aku berusaha menjelaskan perlahan dengan bahasa yang lebih bisa dipahami. Tapi, dia bergeming saja. Memutar pandangan, tampak berpikir serius. “Pak Fachry? Saya bingung.” Nah, benar kan? Terlihat jelas di wajahnya. “Bingung kenapa?” “Bapak pakai jas putih, kayak dokter. Bapak nggak ngantor?” Sudah kuduga. Dia pasti bingung dengan penampilanku saat ini. Memang tidak banyak yang tahu mengenai profesiku yang ganda, kecuali sekretaris kesayangan papa itu. “Iya, saya dokter. Dan saat ini kamu di bawah perawatan saya.” Dia kembali diam. “Kamu ternyata bisa diam juga. Ke mana sikap nyolot kamu kemarin-kemarin itu? Jujur, saya merasa tertantang lho.” Aku menggodanya demi sedikit meredakan suasana canggung yang menyergap. “Pak, eh—Dok, eh, anu—” Hahaha, serius aku menahan tawa melihat ekpresinya saat ini. “Tentang itu, saya minta maaf. Serius bukan maksud saya nggak sopan. Tapi Bapak kan juga nyebelin.” “Kalau saya nggak maafin gimana?” “Berarti Bapak pendendam orangnya!” Ia mencebik kemudian membuang pandangan. Berurusan sama anak abege uzur ternyata menyenangkan. Kalau begini, aku semakin ingin terus mengerjainya. “Tenang saja, saya sudah memaafkan kok. Tapi kejadian itu bakal terus aku ingat sampai kapan pun. Nggak semudah itu melupakan.” “Bapak curhat?” Aku tergugu mendengar balasannya. “Ah, enggak. Lupakan aja, Pak. Nggak penting juga.” Belum sampai aku menimpalinya, dia kembali menyahut. Dan—Anjir!!! Aku paham. Dia pikir soal melupakan mantan gitu? “Kamu kok menyebalkan ya.” “Maaf, Pak. Serius, saya bercanda. Jangan dibawa ke kerjaan ya, Pak. Saya ingin skripsi saya lancar.” Aku hanya tersenyum kecil sambil menggeleng pelan. Hah, perempuan unik. “Jadi, Dok, saya sakit apa sampai harus dirawat? Pasti mahal.” Astaga, kembali ia membahas soal keuangan. “Seharusnya saya yang tanya ke kamu. Kenapa kamu bisa sampai pingsan? Apa yang kamu rasakan terakhir kali?” Kini, aku mulai balik serius, mengabaikan obrolan tak terlalu penting yang—sekalipun itu asyik—cukup membuang waktu ternyata. “Sepertinya maag saya kambuh. Tapi ini lebih hebat dari sebelumnya.” Astaga! Aku tercekat mendengarnya. Bagaimana bisa ia terlihat santai dan cenderung menyepelekan kesehatannya sendiri. “Kamu tahu kalau punya maag?” Dia mengangguk memasang wajah memelas. “Lalu, sengaja membiarkan maag kamu kambuh? Dengan melakukan pemicu kambuhnya? Telat makan, begadang, stres, kurang istirahat. Begitu?” Tersulut juga emosiku mendengar penuturannya yang tampak kalem. Heh! Nggak tahu yang sini khawatir?!! Eh, tunggu—apa kataku tadi? Khawatir? NGGAK!!! Yang benar saja, maksudku ya .... Wajarlah sebagai seorang dokter yang menanganinya. Bukan begitu? “Jadi, saya pulang paksa saja ya, Dok, eh, Pak,” “Pertama, kalau mau manggil salah satu. Yang santai! Kedua, tidak bisa semudah itu kamu minta pulang paksa. Saya perlu observasi lanjutan terkait kondisimu ini. Mungkin, sesi visit selanjutnya baru saya tahu kamu bisa pulang atau masih harus dirawat.” Terdengar helaan pasrah dari mulutnya. Kemudian, aku beranjak untuk menyudahi visit kali ini. Tapi seringaian kejahilan kembali muncul dalam benakku. “Sudah, kamu kembali istirahat. Saya menanti kamu sembuh untuk bisa tanggung jawab perbuatan nistamu pada mobil saya. Pasti ingat kan?” Aku melenggang pergi. Samar-samar masih terdengar racauannya. “Tapi, Pak—” Ah, biarlah. Let's play the game, girl!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN