Pagi pertama di tempat magang. Mana lagi kalau bukan Rajendra University tersayang. Di TOP Manajemen yang sering mendapat rumor buruk dari penghuni kampus. Di hari pertama ini, semua karyawan berkumpul dalam ruang rapat, menanti seseorang yang baru saja masuk dan menampilkan senyum sapa manisnya.
“Selamat pagi semuanya,”
“Pagi, Bapak.” jawab seluruh manusia yang sudah ada di conference room lantai dua belas ini.
Bapak Rajendra Rahman, pemegang tahta tertinggi di Rajendra University. Bukan rektor, melainkan pemilik tempat aku mengemban ilmu. Kendali penuh atas seluruh bangunan yang akan menjadi saksi mati perjuanganku untuk bisa lulus dari kampus miliknya ini. “Baiklah, langsung saja. sepertinya kalian semua sudah mengenal saya. Harapan saya, kalian bisa menjalankan magang skripsi dengan baik,” jelas Pak Rajendra Rahman.
“Siap, Pak.”
Anggukan dariku dan teman-teman magang yang lain mengiyakan pertanda kami paham. Janji bakal menjadi mahasiswa yang manis dan baik hati. Oh iya, aku memang tidak sendirian magang di sini, ada dua anak lainnya. Mereka beda jurusan denganku. Ellen dari Administrasi Bisnis dan Gio dari Akuntansi. Yah, setidaknya aku tidak benar-benar sendiri menghadapi hari-hari penuh perjuangan ini.
Mari kita fight bersama, guys.
Sesaat kemudian ada suara decit pintu terbuka. Jelas saja pandangan kami semua langsung beralih menuju asal suara itu. Dan—oh, demi apa pun semoga ini hanya mimpi. Cowok pemilik Porsche berdiri dengan setelan jasnya, menghampiri Bapak Rahman dan duduk di sebelahnya.
Sekarang, giliran aku yang mengkeret. Aku berusaha menutupi wajah biar nggak disorot secara langsung sama cowok itu. Berharap, sih dia nggak pernah sadar kalau akulah perempuan yang udah ngebuat kaca mobil mahalnya rusak. Meski rasanya mustahil. Kecuali dia amnesia atau punya penyakit gampang melupakan sesuatu yang nggak penting, seperti kejadian kemarin.
“Perhatian semuanya. Perkenalkan dia Rajendra Fachry Anugrah, putra saya yang akan meng-handle kalian selama proses magang di sini. Untuk teknis selengkapnya nanti kalian bisa tanya langsung ke orangnya.” Pak Rahman benar-benar sukses membuatku terbelalak nggak percaya. Mataku sudah mau keluar saja gara-gara kaget dengan berita yang dia umumkan.
Oh, Tuhan. Demi bulan dan bintang yang katanya terbelah di langit Amerika, kenapa ini orang bisa ada di sini? Arrgh, sepertinya memang mimpi buruk belum berakhir. Sabar, Val. Stay calm.
“Senang bisa berada di sini bersama kalian semua. Semoga kedepan kita bisa bekerja sama dengan baik, terima kasih,” jelasnya singkat.
Kalian tahu nggak rasanya ada di posisiku?
Segala malu, takut, kicep, atau apa pun yang membuatku nggak berani setor muka secara langsung. Tembok saja bakal tertawa melihat tingkah bodohku kemarin itu. Ya, siapa yang tahu kalau ada takdir lain yang mempertemukan kami? Ini juga bukan inginku. Sudah, sepertinya aku telat untuk bisa menghindari pandangan lagi. Dia sudah melihatku sambil memasang smirk jahat khas orang yang ingin balas dendam. Lirikan tajam serta cengiran yang dilemparkan tepat sewaktu mata kami saling bertatap membuatku nggak tenang. Antagonis! Kalau dipikir lagi, ini kali ketiga pertemuan kami. Kata orang sih, jodoh. Duh, segala mikir jodoh, Val! Pikirin tuh nasib skripsi yang entah bagaimana nasibnya jika orang ini terlibat di dalamnya. Dan, siapa juga yang mengira kalau dia itu putra mahkota Bapak Rahman yang malah kukira mahasiswa bangkotan hampir DO. Parah!
“Baiklah karena kalian juga masih berkumpul di sini, saya ingin kita membahas tentang proposal pengajuan dari Eksekutif Mahasiswa tentang Acara Gebyar Prestasi Mahasiswa yang akan dilaksanakan besok,” jelas Pak Rahman membuyarkan segala lamunan burukku.
Pak Rahman kemudian menjabarkan detail acara yang akan dilangsungkan besok. Sementara sosok di sebelahnya masih bertahan dengan pandangannya yang pakem ia juruskan padaku.
Kan gue jadi salah tingkah? Ya kali gue ke-ge-er-an! Itu pandangan penuh dendam, Val.
“Sebenarnya semua sudah ACC, teknis dan segala macamnya sudah dijelaskan dan diurus anak-anak EM. Mereka hanya menginginkan kehadiran dari pihak Rektorat dan Top Manajemen untuk ada sedikit apresiasi di malam itu. Nah, kalian yang masih berstatus mahasiswa dengan pengalaman organisasi yang sudah tidak perlu diragukan lagi, pasti bisa paham dengan apa yang diinginkan oleh pihak EM. Bagaimana menurut kalian?” Pak Rahman kemudian bertanya kepada kami.
Kemudian, sesi first meeting di hari pertama magang ini berjalan menarik dengan interaksi berbagai arah. Seperti halnya saat meeting bersama teman-teman BEM dulu, rasanya aku menemukan kembali duniaku yang harus berakhir karena hal bernama skripsi. Dia—yang baru kutahu namanya Fachry—nampaknya tidak seseram seperti bayanganku. Ah, tapi tetap saja, aku perlu waspada dengan Pak Fachry ini. Demi skripsi lancar jaya, Val.
***
Huh, akhirnya beres juga. Beruntung hari ini si putra mahkota Rajendra cuma datang pas meeting pagi aja. Selepasnya keluar entah ke mana. Jadi, nasibku masih aman. Belum sampai dalam tahap menakutkan dengan siksaan penuh dendam dari Bapak Fachry Rajendra.
“Mau balik, Val?” Gio bertanya sewaktu aku membereskan meja dan bersiap pulang.
“Eh, Iya, Yo. Sudah selesai kan? Lo nggak pulang?”
“Iya, ini mau pulang. Mau bareng?” tawar Gio, melihatku yang sepertinya kelihatan sekali bakal pulang sendirian. Mengenaskan nggak, sih?
“Mmm, nggak usah, Yo. Gue naik Busway aja. Deket juga.” Pamitku yang langsung turun ke lantai bawah. Kalau tidak mengingat ada duo sahabat kolak yang udah nongkrong di kos, mungkin aku bakal betah ngadem di kantor. Secara ada wi-fi gratis. Lumayan, kan bisa buat download banyak film.
Beruntung, letak kampus sama kos nggak begitu jauh. Cukup naik bus sekali jalan, aku udah turun di depan gang. Tinggal jalan dikit, udah sampai. Dan begitu masuk ke dalam, dua cungpret kesayanganku itu udah asyik aja lesehan di ruang depan, gegoleran sambil nonton TV ditemani Mang Tisna, si penjaga kos.
“Lama amat sih lo?” dumel Jejen sembari memainkan remote tv dan menyangga dagu. Kelewat nganggur banget deh tuh mereka berdua.
Aku mendesah pelan, kemudian ikut bergabung, melemparkan sepatu sekenanya, membuang tas, dan mengempaskan tubuh lelahku di antara mereka. Ah, mendusel itu adalah kenikmatan yang haqiqi.
“Capek banget gue. Hari pertama udah meeting aja. Bahas project lagi.”
“Wah, gue jadi penasaran. Project-nya orang Top apaan sih, Val? Kasih bocoran dong.” Arum yang lebih dahulu antusias dengan ceritaku.
“Aelah itu lho GPM. Kalau dulu gue sebagai peserta sekarang gue bakal sebagai penyuguh.”
“Penyuguh apaan?” Baru kini Jejen tertarik untuk ikut nimbrung.
Lalu, mengalirlah cerita tentang rutinitasku seharian ini. Juga tentang pertemuan terkutuk dengan lelaki berkuda Porsche itu. Entah, dengan mereka aku bisa mengeluarkan segala hal yang tersumpal. Menjadikan lega tak tertahan di kemudian. Mereka menjadi telinga pertama dari segala sampah yang kudendangkan setiap harinya. Sekalipun tidak melulu ketemu, keep in touch itu fardu ain hukumnya. Kami ikut teriris tiap salah satu di antara kami ada yang mengurai tangis. Tertawa paling membahana tak luput ketika salah satu kami mengalami kejadian-kejadian memalukan, menjengkelkan, dan hal hina lainnya. Tapi, mereka adalah tangan pertama yang terulur saat salah satunya terjatuh, menarik untuk bisa kembali bangkit dan berdiri seperti sedianya.
“Whuahaha, serius nasib lo kok miris banget sih, Nak?”
Seperti itu contohnya.
“Ya udahlah ya, untung-untung gue dikasih tempat buat skripsi.”
“Tiati, yang paling lo benci itu biasanya paling berjodoh,” sahut Jejen dengan tetap anteng memegang remote dan pandangan lurus ke depan tv.
“Ih, ogah. Makhluk kaku bin dingin kek begitu. Ya kali gue tiap hari bakal ngomong sama patung. Serem tau!”
Serius, pembicaraan ini tak berfaedah sama sekali.
“Didoain aja atuh, Neng. Siapa tahu itu akang gantengnya bisa luluh. Ulululu,” ujar Mang Tisna yang tiba-tiba ikut menyahut.
Kami bertiga saling menatap, memutar pandangan, kemudian tersadar—”Mang Tisna teh dari tadi nguping?!” seru Arum yang menyadari terlebih dahulu.
“Heleh, bukan nguping, tapi teh kalian ceritanya kenceng pisan. Anak kos lain yang lewat saja sampai geleng-geleng dengar kalian ramai sendiri gitu.”
Kemudian kami tergagap, meringis, merutuki hal bodoh yang lagi-lagi kami bertiga lakoni. Aku langsung meminta maaf sama Mang Tisna dan balik lagi fokus sama dua orang di sebelahku yang masih menahan tawa. Kalau kayak gini, kok rasanya pengen banget ya nyumpal mulut mereka terus nendang keluar. Bukannya empati malah ngetawain.
“Udah, intinya itu tadi lah. Dan gue nggak mau tahu gimana caranya besok kalian harus datang ke Kribud,” titahku yang mau nggak mau harus mereka iyakan.
“Males gila! Ya nggak, Jen?” Namun agaknya, mereka berdua memang senang sekali membuatku dongkol karena persengkongkolan kampret tersebut. Di saat mereka masih tertawa puas sambil saling tos—good, lanjutkan!—aku merasakan sesuatu yang membuat perutku seperti bergejolak tak karuan. Nyeri perut yang lebih dahsyat dari sebelumnya. Ah, ini pasti maag lagi kumat.
“Kenapa deh lo?” tanya Jejen yang menyadari perubahan raut ekspresiku.
Aku mengibas tangan sambil mengatur napas agar lilitan yang kurasakan ini lebih rileks setidaknya.
“Nggak, mules gue pengen boker,” jawabku asal.
“Anjir, lo! Sanaan udah, kita balik yuk, Jen. Ya kali nungguin orang setoran!” Arum gondok sambil bergegas membereskan barang-barangnya. Sementara Jejen hanya berdecak singkat dan merapikan pakaiannya lagi. Kemudian, mereka sudah memasang helm dan menyalakan motor matic masing-masing siap pulang begitu saja.
“Jangan lupa besok ke Kribud. Kita nostalgia GPM dua tahun lalu,” ucapku mengingatkan mereka, kali aja kuping mereka kadang suka agak sliwer..
“Nostalgia nyai lo! Ogah, lo aja sendiri. Bye.”
“Heh, awas aja sampe lo berdua kagak dateng. Gue sumpahin Pak Broto susah ditemui!” teriakku pada Arum, menyebutkan nama dosen pembimbingnya agar dia mengeret. Ini juga salah satu taktik ancaman terselubung sih sebenarnya. Begitu mereka udah pergi keluar gerbang, tawaku masih tertinggal. Buru-buru aku masuk dan membereskan sisa bungkus yang masih tercecer. Kasihan Mang Tisna kalau harus beberes nanti. Tapi ....
Sial! Nyeri itu datang lagi.
***
Sabtu malam telah tiba, Gebyar Festival Mahasiswa saatnya digelar. Gedung Rajendra Krida Budaya, salah satu gedung serbaguna di Rajendra University, sudah dipadati para mahasiswa dan civitas akademi lainnya. Gemuruh di bangku penonton sudah ramai riuh oleh sorakan dukungan dari berbagai peserta. Ya, Gebyar Festival Mahasiswa atau lebih akrab disebut GPM, memang merupakan acara paling bergengsi di kalangan para mahasiswa. Di sini, mereka bebas berkreasi menunjukkan bakat apa pun yang dimiliki.
“Kakak perwakilan Top ya?” tanya salah satu mahasiswa dengan ID Card panitia di leher. Cukup mengagetkan karena aku sedang mengintip penampilan di depan sana.
“Iya, jadi bagaimana? Sesi kapan kami mulai tampil?” tanyaku balik.
Aku sedang berada di backstage untuk persiapan tampil di acara GPM. Seperti yang udah kuceritakan sama Arum dan Jejen kemarin, kali ini penampilanku di GPM berbeda dengan dua tahun lalu. Ya, sekarang aku sebagai penyuguh, sesuai kesepakatan hasil first meeting yang menetapkanku sebagai pengisi acara wakil dari Top Manajemen.
“Kakak bersiap dulu saja ya, menurut rundown jika tidak ada overdue, lima belas menit lagi langsung ke stage.”
Aku membentuk simpul dengan menautkan ibu jari dan telunjuk sebagai tanda oke. Setelah panitia tadi berlalu, kini saatnya kembali bersiap. Aku memindai sekilas tampilanku dari pantulan cermin, memeriksa tidak ada satu pun yang salah.
Good luck, Val.
Kembali duduk di sofa yang disediakan khusus penampil, aku memerhatikan sekeliling. Ah, aku rindu masa-masa aktif organisasi seperti itu. Interaksi antar panitia, rapat koordinasi, briefing sebelum acara, dan lainnya yang pernah aku alami. Dulu, masa mudaku, gaes. Sekarang aku sudah termasuk jajaran kaum uzur. Lihat saja, teman mainku sekarang ibu-ibu darma wanita perkumpulan pegawai Top Manajemen. Bah! Tidak ada kekiniannya sama sekali, meski mereka yang paling beken dari semuanya. Tapi, tetep sih, ya aku yang paling beken.
Nggak percaya? Tanya saja sepenjuru Fakultas Ebis, siapa yang nggak kenal Valerie Serafina? Hampir tidak ada, rasanya.
Valerie Serafina, mahasiswa kura-kura—kuliah rapat—yang banyak menghabiskan waktu luangnya untuk nongkrong di sekretariat BEM, hanya untuk sekadar follow up Proker—Program Kerja—yang sedang atau masih berjalan. Atau, hanya untuk mengobrol ringan dan menumpang tempat untuk mengerjakan tugas kuliah. Aku cukup terkenal di antara mereka.
Tapi, itu dulu. Sekitar tiga atau empat tahun lalu. Saat itu, aku masih menjabat salah satu posisi penting di Kementrian BEM. Sebelum pada akhirnya, masaku habis terenggut waktu. Tersisa sedikit hanya untuk sebuah hal yang wajib kuselesaikan. Skripshit, namanya.
Aih, mendengar kata itu, membuatku mendadak mual. Oke, lupakan! Menunggu itu terasa jemu. Ya, sama halnya seperti menunggu kabar darinya. Atau menunggu si dia peka? Itu lebih jemu kudrat. Iishh! Ini lama sih. Entah ada jadwal yang ngaret atau memang waktu berjalan begitu lambat, yang jelas kebosanan sudah menghinggapiku.
Seketika rasa lilitan di perut itu kembali menyerang. Kini lebih dalam dari sebelum ini. Intensitas yang kembali terulang saat kali aku merasa sedikit tegang, terlalu capek, atau stress. Tapi, please—setidaknya kumohon untuk tidak saat ini rasa itu kembali muncul.
Aku menghirup panjang oksigen di sekitar, kemudian mengembuskannya perlahan. Rileks ... Kalem ....
“Kak, sekarang ya,” ucap panitia yang sama.
Bismillah .... Aku mengangguk dan bangkit menuju stage sesuai arahan panitia. Astaga, begini banget deg-degannya? Kayak yang nggak pernah manggung aja!
“Saatnya, kita sambut apresiasi dari perwakilan Rektorat dan Top Manajemen. Ini dia ... Valerie ... Serafina ....” Suara dari pemandu acara tersebut membuatku harus bersiap diri yang seutuhnya.
Sambutan meriah langsung menyambutku begitu aku menaiki stage. Sorak dari seluruh penjuru, terdengar mengguncang Krida Budaya malam ini. Mereka, baik peserta maupun para pendukungnya, begitu terlihat antusias saat aku tengah sampai di atas panggung, menyapanya, lalu menundukkan kepala sejenak sebelum bersiap mengawali nada. Oh—astaga, sepasang mataku nggak sengaja menangkap dua pasukan rawit yang sudah hadir di antara kerumunan penonton. Arum dan Jejen mengepalkan tangannya dan mimik mukanya seolah berujar ‘fighting’. Aku tersenyum sekilas. Tentu saja haru. Mereka itu memang ajaib.
Arah pandangku sedikit maju. Kampret! Lelaki itu ada di sana. Lelaki yang tentu saja tidak ingin kuharapkan kehadirannya, sekalipun aku tahu dia sudah pasti datang sebagai undangan VIP. Seperti yang terlihat saat ini, Pak Fachry, bos baru di Top Manajemen itu, menempati bangku deretan jajaran para Penggede Rajendra Univerisity.
Ya ampun. Semoga ini bukan bencana.
Daripada terus merasa terintimidasi akan kehadiran patung Pancoran itu, lebih baik aku mulai fokus pada intro yang mulai bermain. Aku memejamkan mata, berkonsentrasi penuh mengikuti nada-nada yang mengalun mengiringi lagu yang kubawakan. Sambil menarik napas dalam, aku berusaha menghalau rasa sakit melilit yang mendera perut. Ini juga sambil harap-harap cemas, kali saja di tengah-tengah lagu, timpukan botol bekas air mineral dilemparkan ke arahku. Ya Tuhan, ya masa suaraku seburuk itu? Ah, nggak kan, ya?
Membawakan lagu Flaslight milik Jessie J ini memang nggak gampang. Ya kali semudah terjemahannya ala si mbah gugel yang artinya senter. Padahal nih, perlu penghayatan khusus untuk mendalami makna lagu itu.
Lagu ini cocok banget buat anak rantau macam kita yang sering dilanda homesick karena kangen suasana rumah. Tuh, jadi ingat Malang, kan?
When tomorrow comes
I'll be on my own
Feeling frightened of
The things that I don't know
When tomorrow comes
Tomorrow come
Tomorrow comes
Lirik di awal yang menceritakan bagaimana fase kehidupan baru sebagai mahasiswa perantauan dimulai. Benar-benar berat kalau diingat. Saat itulah dua cecurut kesayanganku itu hadir mewarnai hari-hari. Bisa gede kepala kayak boneka prapatan Mampang kalau mereka dengar!
Apalagi kalau sudah memasuki reffrain. Maknanya semakin mendalam banget. Membawaku pada ingatan soal masa-masa sulit. Saat tugas-tugas mulai datang menyerbu, merenggut kesengganganku. Rasanya, saat itu butuh ibun. Butuh pelukan beliau, rindu aroma masakannya yang tiap pagi selalu kuhidu. Rindu juga petuah-petuah ayah tentang kehidupan. Tapi jauh, gaes. Malang-Jakarta tidak sedekat kita mengedipkan mata. Di saat itulah, Arum dan Jejen ada merusuhi keseharianku. Kami bertiga tak jarang saling ricuh, olok-olokan, bete-betean, berantem dikit, cekikikan setelahnya, itu biasa. Dan, kebrengsekan lain yang kalau kujabarkan nggak cukup bakal selembar halaman.
Aku kembali menundukkan kepala, mengucapkan terima kasih usai lagu yang kubawakan selesai. Speechless! Suara sorakan bergemuruh memecah seisi RKB ini—membangkitkan adrenalinku. Aku memang benar-benar merindukan momen semacam ini. Teriakan namaku yang masih kudengar bergaung saat aku menuruni panggung sudah pasti bisa kukenali. Mereka, sahabat-sahabatku—Arumi dan Jeanita—sempatnya menghadiri acara yang bisa dibilang ini untuk mahasiswa muda, bukan mahasiswa bangkotan macam kami. Ya semoga saja mereka tidak sadar bahwa lagu tadi sebenarnya untuk mereka.
Niatku mencari Arum dan Jejen usai membereskan sedikit urusan dengan para panitia. Sayang, rasa sakit itu muncul lagi. Bahkan, lebih parah dari sebelumnya. Kram dan keringat dingin yang mulai mengalir di pelipis membuatku harus terhenti dan mencari tempat duduk sejenak. Sambil sedikit terhuyung, napasku pun mulai sesak dan agak tercekat. Aku panik. Perutku semakin menjadi. Kuremas pelan perutku untuk sedikit meredakan nyeri yang kurasa. Tidak mempan!
Lalu, tiba-tiba listrik padam dan aku tak tahu lagi kelanjutannya.