Perempuan itu?
Ah, kenapa jadi kepikiran begini?
Rasanya, nggak penting untuk tahu siapa dia. Tapi, bagaimanapun dia itu tersangka penimpuk pewe. Gara-gara tuh cewek gila, pewe jadi cacat. Yah, meskipun mudah sih buatku perbaiki cacatnya si pewe, tapi tetap aja kesal.
Kalau diingat-ingat, perempuan itu cantik juga?!
Anak Ebis tahun keempat? Tapi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis itu kan luasnya sekecamatan sendiri. Bego! Ah, baru kali ini ada seseorang yang berhasil mengalihkan pikiranku akan Freya. Eh, tidak! Freya tetap dan masih akan tetap berada di sini. Hati ini.
Ya, sekalipun aku nggak yakin perasaan ini berbalas, tapi ya sudahlah.
“Baang!!”
Timpukan bantal dan suara melengking dari sosok paruh baya yang entah sejak kapan berdiri di dalam kamar, seketika membuyarkan lamunanku dari perempuan sarap yang tadi hilir mudik memenuhi otak.
“Sudah ditunggu papa untuk makan malam di bawah, ayo!” ajaknya. Oh bukan, lebih tepat disebut sebagai titahnya. Titah sang Baginda Ratu Syailendra Rajendra. Itulah mama. Sebaiknya aku segera menuruti sebelum beliau mengeluarkan semburan api yang siap memorial-porandakan semuanya, termasuk hati ini. Dunia dan seisinya akan selesai kalau emak-emak sudah tersulut emosinya.
Sudah lengkap personil di ruang makan, rasanya mereka hanya menunggu satu orang lagi, ya siapa lagi kalau bukan aku.
“Si pewe kenapa, Bang?” tanya Fahira, yang duduk di sebelah mama.
“Ditimpuk orang,” jawabku datar.
Kulihat mereka saling bertatap. Sudah tentu mereka belum puas dengan jawabanku barusan. Lihat saja, bakal ada sesi interview lanjutan setelah ini.
“Kok bisa?” kejar Fahira.
“Gila kali,” utarku, tetap singkat.
“Gak ada asap kalau nggak ada api.” Papa menyahut tanpa basa-basi.
Strike! Telak memang aku sendiri yang menyebabkan si pewe sampai bisa cacat begitu. Ya .... Memang sih. Tapi tetap saja, perempuan itu pelakunya.
“Memangnya Abang ngapain? Sampai orang itu nimpuk pewe?”
Kali ini Mama yang mengintimidasiku, melancarkan segala tanya asal muasal kenapa pewe bisa jadi begitu.
“Iya, emang aku duluan yang salah. Aku bawa mobil nggak lihat kalau depan ada kubangan air. Muncrat deh. Terus, tuh cewek nggak terima. Ngelempar batu ke kaca belakang pewe. Lebay memang. Mahasiswa Papa tuh,” jelasku lengkap.
Sementara mereka saling melempar pandang kemudian geleng-geleng dengan sendirinya. Ada yang anehkah dengan ceritaku?
“Memangnya itu kejadiannya di kampus, Bang?” Papa giliran bertanya.
“Ya, sebelah lapangan rektorat. Jalanan mau ke pintu keluar kampus. Perlu diperbaiki tuh, Pa.”
“Memangnya jalannya rusak sampai ada kubangan gitu?” tanya Mama penasaran.
“Nggak, ah. Di kampus kita nggak ada ya jalan yang rusak. Itu karena memang kontur tanahnya yang nggak rata tinggi. Jadi ada satu bagian di mana lebih rendah dari yang lain. Jadilah itu menimbulkan kubangan.”
Kini, giliran aku dan Fahira yang saling memandang. Oke, kalau papa sudah mulai berbicara panjang seperti itu, bersiaplah untuk kuliah malam yang akan segera dimulai. Segala pakai bahasan kontur tanah. Tolong, Pah!
“Eh ... Eh. Yang nimpuk pewe cewek, Bang? Cantik, nggak?” topik pembicaraan beralih. Kampret si Fahira! Nggak tahu apa kalau bahasan begini mengarah ke hal-hal sensitif? Jelas bakal ada pertanyaan lanjutan, asli, aku yakin itu!
“Biasa aja. Khas mahasiswa, ya begitulah. Kayak lo!” balasku.
“Jangan-jangan, itu jodoh Abang. Macam FTV gitu, Bang. Pertemuan pertama tak terduga yang membawa takdir.” Anjir! Fahira kalau nyeletuk nggak pakai mikir. Ya, kali!!
Bagiku, pertemuan singkat seperti itu, hanyalah sebuah kebetulan tak bermakna. Tidak perlu diperpanjang atau sampai ada pikiran jauh ke depan seperti Fahira tadi. Dunia nyata itu luas. Tidak sesempit layar televisi di mana takdir bisa tercipta hanya dalam beberapa episode saja.
“Kebanyakan nonton drama lo! Hidup lo jadi ikutan drama kan?!”
Dan, semprotanku barusan malah menimbulkan gelak tawa renyah sepenjuru meja makan. Tolong! Rasanya aku sedang ngelawak. Apa yang lucu?
“Adikmu nggak salah kali, Bang. Ya, kita kan nggak pernah tahu soal jodoh. Jangan bilang nggak mungkin dulu.” Mama menyahut.
“Nah, Yik. Dengerin tuh, bukan cuma Papa yang pengin kamu segera bawa calon mantu ke sini. Mama juga pengen. Iya kan, Ma?” Sekarang, papa ikutan mengompori obrolan yang kian menjurus ke sebuah topik yang membuatku jengah sendiri. Apalagi kalau bukan soal nikah dan jodoh. Emang gampang apa ya dapatin anak gadis buat diajak nikah? Mau ngomong sama Freya aja susahnya minta ampun. Apalagi sama anak orang nggak dikenal macam tuh cewek pelaku pewe rusak.
“Pa, Ma, sepertinya aku udah selesai makan. Duluan ya, ada bawa pulang kerjaan soalnya.” Aku pamit, beranjak dari meja makan, ninggalin mereka yang masih cekikian entah ngetawain apa lagi. Mungkin, sekarang sedang bahas aku. Antara merasa bersalah atau malah mencari cara lain agar aku segera tertarik soal pernikahan dan segala macamnya. Tapi, terserahlah. Toh, jodoh udah ada yang ngatur, kan? Ngapain dipusingin.
Lebih baik, aku berkutat lagi dengan tumpukan status pasien yang perlu ku-review. Tapi, dering panggilan masuk membatalkan niatku untuk mulai menekuri kertas demi kertas di meja kerja. Fokusku beralih ke layar ponsel—ada nama perempuanku memanggil-manggil manja di sana. Freya.
Tolong, jangan salahkan kalau aku mengabaikan status pasien untuk saat ini. Lagi, ini bukan jam kerja kan? Mungkin lepas Subuh nanti bisa kukerjakan. Sekarang, perempuan ini adalah prioritas. Tak ingin lebih lama lagi, aku segera menggeser ikon hijau di layar lima inch itu.
“Hallo, iya Frey?” sapaku, tetap dengan nada ganteng yang memesona.
“Lo besok nganggur?” tanyanya langsung tanpa basa-basi.
Jelas gue nganggur! Nggak ada kata sibuk untuk lo, Darling!
Itu cuma kubatin, masih dengan intonasi yang sama, berusaha tetap kalem, aku menjawab, “Tergantung.” Singkat.
Menaikkan sedikit gengsi itu tetap wajib. Sekalipun lawan bicara kali ini adalah perempuan paling spesial, tapi menjadi ganteng adalah hal mutlak yang nggak bisa disanggah. Sekalipun begitu, Freya sudah pasti fasih menerjemahkan bahasa kalbuku. Karena kami entah bakat dari mana bisa saling paham walaupun kadang obrolan kami nggak sinkron satu sama lain. Lucunya, kami nyaman-nyaman saja dengan semua itu. Naluri dari zigot kali ya.
“Jemput gue jam sepuluh dan temenin cari buku,” pintanya.
“Oke, Cantik,” balasku sedikit menggoda.
Berharap, Freya di sana sedang merona merah karena godaanku barusan, tapi—klik, naas sambungan telepon terputus nggak tahu diri. Ya, Freya memang nggak pernah bisa sedikit berbasa-basi.
Freya, mungkin wujud perempuan dari seorang Fachry Anugrah.
Kami sama-sama keras, dingin mohon ampun, tapi ketika bersama, rasanya dingin itu bisa melebur. Meleleh kemudian membaur menjadi suatu emulsi. Kenapa emulsi? Karena aku masih ragu, kita bisa bersatu dalam suatu ikatan keabadian atau tidak. Karena perihal cinta, lagi-lagi tak pernah sesederhana teorinya. Satu hal yang membedakan kami, perhatian yang Freya berikan tanpa tapi. Itulah yang membuatku takluk dan dirundung rasa penasaran teramat dalam. Lagi pula, sepertinya hanya Freya yang bisa meruntuhkan bongkahan es dalam hati ini.
***
Freya yang dari tadi sudah berdiri di deretan rak buku yang berlabel 'medical' ini sepertinya memang belum mendapatkan apa yang ia cari. Sementara aku, cukup memandanginya begini saja bisa menimbulkan rasa berdesir. Rasa aneh yang entah sejak kapan hadir mengisi hati ini. Perasaan yang nggak bisa kuberontak begitu saja, karena mengelak lebih menyakitkan daripada mengakui sendiri kemudian menyembunyikan dari Freya. Sampai sekarang.
Bagaimana mungkin ini menjelma nyata atau berimbang, jika hubungan yang terjalin antara aku dan Freya sudah begitu dekat sehingga sulit untuk diubah statusnya, dari persahabatan yang hampir seperti kakak-adik ini ke hubungan berlabel 'cinta'.
Kampret! Perasaan terkutuk ini kenapa hinggap tanpa permisi?
“Cari apa sih?” tanyaku mencairkan suasana dingin seperti kutub.
Kami itu sama-sama kutub. Dingin, saling berjauhan tapi seirama. Kutub utara dan selatan yang entah kapan bisa bersatu. Rasanya mustahil. Apalagi kutub sepolar. Begini banget cinta-cintaan.
“Mmm, nggak tahu nih belum nemu juga. Ada satu referensi dari profesor gue katanya ini referensi baru dan bagus. Ya, itung-itung buat nambah asupan lah kalau ada seminar biar nggak kudet amat. Lumayan kan bisa nambah poin SKP,” tuturnya menjelaskan kebingungannya yang sedari tadi muter-muter di depanku. (Read: Satuan Kredit Profesi)
“Oh, apa judulnya?” sahutku sambil ikutan berpura sibuk di depan jejeran buku-buku tebal ini.
Nah, ini salah satu langkah pendekatan kepada sahabat. Menyediakan diri ketika ia membutuhkan bantuan. Sebagai partner berbagi sekalipun terkadang ada hal-hal yang nggak kita ketahui. Cukup melebarkan telinga sebagai pendengar yang baik, itu lebih dari apa pun. Menurutku, sih.
Freya masih berkutat dengan segala ingatan terkait buku yang sedang ia cari. Aku tak bisa memberikan suggest sekalipun kami bekerja dalam ranah yang sama. Spesialisasi kami berbeda, ia dengan kegemarannya membius orang sementara aku sibuk menangani jeroan manusia. Jadi, soal textbook atau referensi dan segala macamnya, sedikit banyak kami berbeda.
Ya, semoga perbedaan kami yang satu ini bisa sedikit menyatukan. Abaikan.
Aku membiarkan Freya memilah setiap judul buku di rak. Sedikit beralih ke rak berlabel lainnya. Mengusir kebosanan yang mulai mendera, kukeluarkan ponsel dari saku kanan. Tapi, mataku menangkap satu sosok yang—anjir! Itu perempuan penimpuk pewe.
Aku penasaran. Nekat, aku mendekati perempuan meski masih dalam jarak aman. Bisa kulihat kalau dia itu perempuan baik-baik dan berkelas. Tempat nongkrong di book store, bukan kafe kekinian seperti perempuan lain seusianya. Geraian rambut hitamnya tertata apik dengan salah satu sisi disampirkan ke belakang telinga. Terlihat intelek saat dia memindai sekilas buku-buku yang akan dibelinya. Cantik juga tuh cewek. Jangan salahkan mataku yang autoscanning begitu.
Bodo amat lah sama tuh cewek! Aku nggak mau memperpanjang masalah, menambah episode drama dan khayalan Fahira menjelma nyata. Oh, tidak akan! Lagian, soal pewe bukanlah masalah besar. Si pewe sudah kumasukkan bengkel. Seminggu lagi mungkin sudah kembali ke keadaan semula. Jadi, perempuan itu nggak ada pentingnya sama sekali.
Aku berniat balik mencari Freya, tapi—”Heh, lo!!”—satu suara menginterupsi langkahku. Perempuan itu menyadari kehadiranku yang sedari tadi memperhatikannya. Oke, ini menarik. Sudah kadung ketahuan, jadi mari kita lakoni drama ini.
“Lo?” teriaknya kaget seolah baru tahu bahwa yang dipanggilnya tadi adalah orang yang—mungkin dihindarinya dari kemarin-kemarin.
Boleh aku tertawa? Asli, kalau bisa kugambarkan ekspresinya, mungkin seperti orang yang menahan BAB dengan muka merah padam hampir hitam. Lucu banget!
“Lo nguntit gue? Astaga, please! Lo belum terima soal kejadian kemarin? Dan sekarang lo nguntit gue sampai ke toko buku? Parah lo!” Oh Men! Sandiwaranya bagus juga. Dengan cepat tuh cewek sudah berubah ekspresi sok garang menantang.
Kejadian itu tak pelak mengundang perhatian orang-orang yang berada di toko buku ini. Fix! Perempuan ini cari masalah. Sementara aku cengo harus menanggapinya dengan kalimat apa. Gila! Jangan sampai aja mereka ngira aku melakukan hal hina dina ke tuh cewek.
“Apa? Lo nggak bisa jawab? Heh, asal lo tau ya, gue nggak takut sama lo. Harusnya gue yang minta tanggung jawab. Bawa mobil seenak jidat lo di area kampus. Banyak pejalan kaki dan lo asal injek rem gas semau lo. Sarap lo!!!”
Astaga, dia kembali menyemburku tanpa memberi sedikit jeda untuk menimpalinya.
“Saya—”
“Hah? Apa? Saya? Sok formal lo, biar dikira lo penting pake saya-sayaan? Gue yakin lo cuma mahasiswa bangkotan yang kerjaannya menghambur-hamburkan duit ortu sampai lupa kuliah dan sekarang lo cuma nunggu surat DO keluar. Iya kan?” Aku speechless.
“Bentar, kamu tahu nggak kalau sekarang kita lagi jadi pusat perhatian?” selaku sebelum ia lebih panjang lagi mengeluarkan ocehannya.
Dia terdiam sejenak, sebelum memutar pandangan ke sisi dan kanannya. Ekspresi kesekian yang kembali berbeda dengan sebelumnya. Dia meringis malu dan meringsek ke arah belakangku. Menunduk sambil merapalkan kata maaf kepada pengunjung lain.
Ya ampun, perempuan ini ajaib. Sarap lebih tepatnya.
“Ngapain kamu ngumpet gitu? Malu?”
“Kok lo nggak bilang sih kalau dilihatin orang banyak?”
“Gimana saya mau kasih tahu kalau kamu terus nyerocos kayak tadi?” Dia keluar dari balik punggungku dan mencebik.
“Intinya gue nggak mau kalau lo minta tanggung jawab. Enak aja! Gue nggak salah!” Masih dengan nada ngeyel bin ngotot, perempuan ini masih punya seribu silatan lidah untuk berkilah.
“Kamu—”
“Yik, lo di sini? Dicariin dari tadi juga.” Belum selesai aku akan menghakiminya, Freya datang menginterupsi.
Selamatlah lo bocah tengik!
“Sorry, Frey. Gimana? Udah selesai?” tanyaku mengabaikan perempuan itu dan beralih ke Freya.
“Mmm, ini siapa, Yik?” tanya Freya menyadari kalau aku nggak sendiri saat ini.
“Gue bukan siapa-siapa kok, Mbak, tenang aja. Mbak pacarnya Mas ini ya? Siapa? Yik? Ah siapa pun itu. Kalau gitu gue permisi dulu ya. Anggap saja ini pertemuan terakhir kita. Dan, jangan pernah ada lagi pertemuan-pertemuan lain yang memang lo sengaja. Please, case close!” Kembali dia berucap panjang sebelum akhirnya merapikan tas selempang dan pergi begitu saja.
Sementara Freya tentu saja butuh penjelasan soal kejadian yang baru aja dia lihat. Ya, sekalipun nggak minta secara langsung, tapi aku sudah hafal dengan kedua alis yang dia naikkan. Tandanya dia mau tahu cerita lengkapnya. Tapi, aku nggak mau cerita. Lagi malas.
“Itu ... Ah nggak penting. Eh, gimana udah dapet?”
“Kok mengalihkan sih, Yik?” Sialan, Freya tuh begitu. Itulah kenapa Freya kubilang istimewa.
“Anu, ceritanya panjang, Frey. Sambil makan aja yuk,” ajakku sambil merangkulnya keluar book store.
Freya menurut saja dengan perlakuan yang kuberikan. Sementara aku menikmatinya, setiap detik yang terlepas di antara kami. Sebelum saat itu tiba, di mana untuk jalan bersama seperti ini saja akan terasa menyulitkan.
Aku tak ingin hal itu terjadi. Sungguh.