“Woey, ngapain lo ngelamun gitu? Kesambet baru tahu rasa deh.” Tepukan keras di pundak sontak membuatku tersentak kaget. Pandanganku memutar ke samping mencari si pelaku utama.
Hah, mereka?
“Ngapain sih lo, Val?” Arum mengambil posisi di kursi panjang gazebo di sebelahku. Sementara satu lagi, Jeanita—atau lebih sering kita panggil Jejen—mendaratkan pantatnya tepat di seberangku sambil mengulum lolipop dan gadget yang tak pernah bisa lepas.
“Gue lagi bete, parah.”
“Kenapa-kenapa? Cerita dong, Beib!” Kekepoan Arum mulai beraksi. Aku cuma menatapnya datar.
“Paling mikirin Mas Gaga lagi,” sahut satunya cuek, masih dengan pandangan fokus ke gadget tanpa beralih. Nih anak kayaknya memang sudah kena sindrom nomophobia[1] deh gara-gara keasyikan dengan barang pintar satu itu. Temanku memang, ya. Cuek dengan aktivitas Jejen, aku fokus pada Arum yang masih melihatku kepo dengan mata binarnya, tidak sabar dengan alasan kebeteanku.
“Nggak usah bahas Mas Gaga deh. Males!” Asli, aku paling malas kalau nama satu cowok itu mulai disebut atau masuk ke gendang telingaku meski samar-samar. Sebab, efeknya sungguh luar biasa. Mood-ku bisa mendadak swing kalau udah ada pembahasan nyerempet ke dia.
“So, lo kenapa?”
“Gue nggak sreg sama tempat magang yang gue dapat,” jelasku lesu.
“Eh, sumpah-sumpah gue juga mau ngomongin ini dari tadi. Mmm, gue sih seneng banget, Val.” Arum spontan memelukku erat dan berseru heboh. Sementara aku hanya mengernyit jengah cenderung risih dengan pelukan Arum yang membabi buta. Gimana coba kalau ada cogan lewat pas kayak gini? Duh, bisa turun pamor gue.
“Ih, Rum. Jijik tahu.” Aku mendorong tubuh Arum paksa, membuatnya mencebik kesal dengan mata yang berkata kalau aku nggak sayang lagi sama dia. Idih, lebay tuh anak. Sayang sih sayang, tapi nggak gini juga, kan? Main meluk di depan orang. Tengsinlah!
Aku melirik si Jejen yang masih anteng-anteng di tempat. Jejen hanya menengok kami sekilas kemudian kembali lagi dengan gadget di tangan. Duh, tuh anak kalau sudah berkutat dengan namanya handphone, lupa deh sama sekitar. Berasa lagu ‘dunia milik kita berdua’ dia sama tuh ponsel buatan Korea.
“Kalian tuh, ya. Orang ada temen seneng bukannya diucapin selamat malah pada cuek gitu. Sebel ah sama kalian.”
“Jiah, nih anak pakai ngambek segala. Nggak cocok kali, Rum.” Aku sodorin kaca kecil yang selalu aku bawa di tas ke depan wajahnya, biar dia lihat bagaimana rupanya kalau lagi ngambek. Jelek. Asli, deh. Nggak Pantes cewek kepo macam dia ngambek karena hal sepele. “Emang lo seneng kenapa?” tanyaku baik sembari merangkul pundak sahabat gesrekku satu ini.
“Pengajuan magang gue ke bank di ACC. Kalian kan tahu gimana perjuangan gue selama ini buat dapetin itu. Jadi, pas dapat serasa dapat durian runtuh tahu nggak, sih?”
Mata Arum berbinar senang. Aku dan Jejen saling melempar pandang sebelum berseru, “B AJA!”
Sontak bibir Arum yang tipis tapi cipokable itu manyun semanyun-manyunnya, bikin tanganku gatal buat ambil karet dan kuncir tuh bibir. Gemes tahu lihat dia ngambek unyu gitu. Jahat, ya gue? Haha.
Tapi tenang, aku nggak lakuin ide jahat dalam otak itu, kok. Jadi, tuh bibir Arum masih aman dari karet gelang.
“Gue yang magang di tempat om gue sih B aja. Malah enak gue bisa main nepotisme,” sahut Jejen tak ingin kalah dengan Arum soal pamer.
Oke, jadi sepertinya hanya aku yang merasa paling tidak beruntung soal penentuan tempat magang. Dan, bagaimana reaksi mereka begitu tahu di mana aku bakal magang skripsi selama tiga bulan?
Neraka!
“Terus ... terus ... lo dapet di mana, Val? Serius, pasti perusahaan multinasional yang kapan hari lo incer itu ya?” tanya Arum heboh sendiri.
“Nggak kaget sih, kalo si Vale dapet magang di situ. Siapa yang bisa nolak CV dia? Di saat anak lain cuma selembar dua lembar, tuh anak bisa sampe empat. Isinya apa coba?” Jejen menyahut, masih dengan ketidakpeduliannya tanpa melihat ke arah kami.
“Betul tuh. Kaget itu pas lo dapet tempat macem Top Manajemen, whuahaha.” Tawa keras mereka membahana memenuhi warung makan tempat kami biasa nongkrong. Mana lagi coba kalau bukan kantin kampus yang super murah, enak, banyak, dan satu hal, nggak bikin kantong mahasiswa perantauan macam kita-kita orang jebol dalam sekali makan. Dan sekarang, aku benar-benar menatap mereka horor. Belum tahu aja mereka sudah ketawa setan gitu, bahagia banget kayaknya melihat aku bakal menderita. Apalagi kalau sudah tahu nanti? Bisa-bisa mereka ngetawain tujuh hari tujuh malam nggak berhenti nanti.
“Kalau yang lo omongin beneran, gimana?”
Seketika tawa mereka berhenti. Balik menatapku dengan saksama seolah kini aku yang mengajak mereka bercanda.
“Apanya yang beneran, Val?”
“Gue bakal magang di rektorat lantai dua belas, Top Manajemen kampus kita tercintaaaah.”
Arum dan Jejen saling tatap seolah mata mereka ingin keluar dari tempatnya. Anjir, serius mereka bikin gue pengen nampol satu-satu.
“Serius lo, Val?” tanya mereka sendu, seakan apa yang kudapatkan ini adalah cobaan besar yang menuntutku untuk memiliki ekstra sabar. Namun, aku sangsi dengan raut wajah mereka. Yakinlah bahwa itu hanya kepura-puraan belaka. Aku tak semudah itu percaya.
“Lo nggak lagi bercandain kita ‘kan?” sahut Jejen sambil membelalakkan mata masih tak percaya.
“Gue lagi males bercanda.”
“Yah, sabar aja deh, Val. Ini ujian,” ujar Arum sambil menepuk pundakku.
“Ujian nenek lo?! Skripsi aja gue masih ngawang mau bahas apaan! Segala ujian lo kata,” kesalku melihat mereka sok simpati terhadapku.
Karena aku tahu, asli ini drama. Aku paham kegesrekan mereka itu sudah level parah. Jadi nggak mungkin ekspresi mereka hanya seperti itu. Dan, itu bukan mereka sama sekali. Aku sudah mengenal luar dalam mereka selama empat tahun ini.
Sedetik, dua detik, mereka masih memasang wajah prihatin sambil menepuk pundakku pelan. Tiga detik, empat detik kemudian tawa mereka membahana, membuat kupingku pengang dan orang-orang di gazebo mengalihkan pandangan ke arah kami. Malu, ey! “Anjir gue ngempet ngakak dari tadi! Sumpah ... ini momen langka. Kapan lagi lo ngerasain adventure tiada duanya itu.”
See? Sudah kuduga. Dan, apa katanya tadi? Adventure?
“Adventure nyai lo pe'a!” sungutku kesal dengan mereka.
“Ini bukan cuma ujian, Nak. Ini cobaan ....”
Aku cuma geleng-geleng melihat kelakuan mereka yang absurd maksimal. Tapi, inilah mereka. Sahabat empat tahunku di rantau. Teman berbagi kesah, resah, dan—anjir, bukan desah. Ah, lupakan.
Intinya, mereka yang selama ini selalu menemaniku menaklukkan kejamnya ibu kota. Sekalipun masih kejam ibu tiri sih kata si bawang putih.
Aelah, apa sih gue?
Banyak orang bilang, orang-orang seperti mereka inilah yang layak disebut sahabat. Tapi, kami tak sepemahaman. Sahabat secara harfiah itu mereka yang berada dalam kasta yang sama kemudian dipertemukan lewat kesukaan yang sama. Mereka cocok, dan jadilah mereka bersahabat. Hangout bareng, makan di kafe kenamaan, menghabiskan berjam-jam obrolan ngalor-ngidul yang kebanyakan tak berfaedah. Ber-selfie ria, nggak lupa upload via i********: dan saling tag. Check in via Path, and social media either. Berburu barang-barang branded di mal, dan tak jarang beli grosir cuma buat kembaran biar terkesan semakin kompak. Sempak!
Astaga, mulut anak gadis!
Karena nyatanya, kami tak seperti itu. Jadi kami bukan sahabat. Ya bayangkan saja, boro-boro makan di kafe kenamaan, antre nasi Padang bungkus terus dimakan bareng di kos saja sudah merupakan kemewahan bagi kami. Dilanjutkan dengan guling-gulingan di kasur kosan yang udah tipis dimakan zaman bahkan sobek-sobek di beberapa sudut dengan seprei kumalnya sampai ketiduran bareng karena kecapekan setelah mengghibah dosen A sampai dosen Z.
Sama tak berfaedahnya!
Itulah kami, katanya sahabat sehidup, tapi janganlah semati. Enak aja, mati ajak-ajak!
“Trus, apa rencana lo, Val?” Arum bertanya lagi setelah merasa perutnya kram akibat tertawa tak berkesudahan.
“Ya, menurut lo?”
“Udahlah jalanin. Orang Top mah tinggal lo kedipin juga bakal dikasih deh data-data yang lo perluin.”
“Enak lo tinggal ngemeng, lah gue?” Tanganku menggeplak Jejen yang semudah itu melihat perkara ini.
Serius, belum mulai skripsi saja sudah terkesan horor begini. Apalagi nanti? Ya, inilah nasib mahasiswa semester akhir. Mahasiswa tingkat empat dengan nasib kelulusan tergantung dari para dosen. Seperti saat ini, penentuan magang skripsi yang ditentukan dari pihak jurusan dengan semena-mena tanpa persetujuan kami terlebih dahulu.
Skripsi memang banyak macamnya. Bisa kuantitatif ataupun kualitatif secara garis besar. Bagi anak eksak, jelas kuantitatif adalah skripsi yang banyak mereka usung. Nge-lab berjam-jam sampai menginap demi mendapatkan data akurat dengan ulangan sekian kali. Entahlah, dan beruntungnya aku menjadi kaum sosial yang tak perlu ribet harus uji ini, percobaan itu, seperti mereka para eksakta.
Eh, tapi kualitatif juga tak bisa dipandang remeh begitu saja. Bukan sekadar sebar kuisioner kemudian diolah dan bim salabim langsung jadi begitu. Contoh saja kami, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Rajendra University, yang mengharuskan pengerjaan skripsi dengan magang, bukan sekadar bagi angket.
Sabar .... Demi gelar SE di depan mata.
Saat ini, setelah Arum dan Jejen pamit untuk pulang terlebih dahulu, tersisalah aku sendiri. Masih dengan ratapan perihal ketentuan magang skripshit (Baca: bukan scriptsweet seperti kebanyakan kata mereka).
Menyusuri jalanan kampus yang masih basah sisa hujan sesaat tadi, aku mengandaikan betapa sulitnya hidupku tiga bulan mendatang. Pasalnya, tidak satu dua orang yang sudah membuktikan bahwa Top Manajamen itu ‘horor’.
Bukan sembarang mahasiswa bisa magang di sana. Ada kriteria khusus bagi mereka yang menginginkan. Sialnya, semua kriteria itu ada dalam diriku.
Jangan katakan sombong, aku hanya ingin membaginya kepada kalian. Aktif organisasi, IPK cumlaude, prestasi tak perlu diragukan, dedikasi bisa dijamin, dan yang terakhir adalah bersedia dengan sukarela. Poin terakhir tersebutlah yang perlu digarisbawahi. Menjadikan tempat ini pilihan terakhir pengajuan tempat magang skripsi, itulah prinsip kebanyakan kami, termasuk aku. Tapi daripada mempersiapkan tuntutan karena tidak bersedia dengan sejuta alasan yang harus dirancang agar ACC, bagiku itu hanya buang waktu dan energi. Selebihnya sekalipun sudah ACC, lantas mau magang di mana? Cari sendiri!
Nah, lebih ribet lagi kan? Jika ada yang bertanya, mengapa sebegitu nggak terimanya ditempatkan di Top Manajemen? Horor gimana sih?
Aish, kenapa jadi membuka sesi QnA begini?
Intinya, Top Manajemen itu ribet. Sedikit horor dalam artian sebenarnya. Proses pengurusan data yang belibet dan tak kunjung jelas. Juga orang-orang yang terkesan bossy, sok, intinya begitulah.
“Arrgh, kenapa sih harus gue yang dapet di tempat horor kek gitu? Gak ada yang lain apa?” Aku menggerutu, kesal sendiri.
Sesaat kemudian, tersadar bahwa aku masih berada di dalam kampus. Pantas saja, beberapa dari mereka memandangku aneh.
Apa kayak orang gila ya gue?
Haish, serius aku harus segera mengenyahkan segala pikiran buruk tentang Top Manajemen. Kata orang, apa yang kita pikirkan bisa kejadian di kemudian. Amit-amit! Jadi, stop Val!
Sesaat kemudian, genangan di sebelahku tadi, muncrat nggak tahu diri mengguyur tubuhku. Sebuah mobil melaju kencang tanpa sungkan melewatiku setelah menyemburkan cokelat s**u barusan itu.
“KAMPRET!!! WOEY KALAU BAWA MOBIL JANGAN SEENAKNYA DONG!!!”
Astaga, demi langit dan bumi yang nggak mungkin bersatu, apalah ini sore indah tanpa dosa meskipun sedikit mendung sisa hujan tadi pagi? Tapi nggak gini juga kali!
What the day it is?!
“WOEY BERHENTI LO!”
Dengan geramnya aku mengambil kuda-kuda, dan ... suara pecahan kaca terdengar begitu nyaring hingga mampu merebut perhatian sekitar. Ooops, O'o.
Benar saja Porsche White itu berhenti begitu saja. Mati! Seorang laki-laki keluar dari mobil mewah tersebut. Dari kejauhan bisa kulihat, bahwa dia menjulurkan telunjuknya untuk memintaku mendekat. Mampus!
Aku masih berdiri di tempat yang sama sambil menahan badanku yang menegang. Sebisa mungkin kupasang wajah tak berdosa saat orang tersebut semakin mendekat ke arahku.
Astaga astaga!
Seolah sekitar menjelma menjadi ruang kosong. Suara bising dari kendaraan yang berlalu lalang sudah tak terdengar lagi. Kicauan para mahasiswa yang berjalan di sekitar pun seketika senyap. Fokusku hanya pada lelaki di depanku kali ini. Matanya memancarkan aura sihir yang membuatku terpaku tak bisa berkedip. Postur tegap dan bibir seksinya. Ya Tuhan, bagaimana mungkin ciptaan-Mu begitu sempurna?
“Lo sarap?”
Aku mengerjap tersadar. Dia memasang wajah garangnya siap menerkamku sewaktu-waktu. Semua kegantengannya luntur seketika. Kok ngeri ya?
Oke, seperti belum terlambat untuk melarikan diri. Aku berbalik dan siap untuk berlari, tapi naas,satu tangan besar meraih lenganku dan menahannya.
“Jangan pernah berpikir lo bisa kabur setelah apa yang lo lakukan barusan!”
“Gu-gue—”
“Lo harus tanggung jawab!”
Belum sampai aku mengutarakan segala pembelaan diri, laki-laki itu sudah memutuskan sesuatu. Tanggung jawab. Ya Tuhan, yang namanya Porsche White saja baru kali ini aku menjumpainya secara real. Terkesan ilusi karena biasanya aku hanya menemukannya di novel-novel picisan bacaannya si Jejen.
“Ta-tanggung jawab gimana?”
“Lo mahasiswa sini?”
Masih dengan rasa deg-degan yang kelewatan, aku hanya bisa mengangguk berulang kali seperti boneka boble head tanpa suara.
“Tahun ke berapa Fakultas apa?” Ia kembali melayangkan pertanyaan interogasi.
“Empat, Fakultas Ebis,” jawabku berusaha setenang mungkin.
“Nama?”
Aku mengernyit sejenak. Tersadar bahwa semacam ada niatan lain dari lelaki ini.
“Heh, lo pikir ini FTV! Gue tahu lo modus. Lo manfaatin kejadian barusan buat kenalan sama gue? Minta nomor hape gue kemudian besoknya ngajak kencan. Drama lo!” Aku menyemburkan celaan tepat di depannya.
Ya, jangan jadi perempuan lemah. Sekali lagi kukatakan, ibu kota itu kejam. Sekalipun sudah empat tahun di sini, tidak lantas kita bisa percaya saja sama orang baru yang tiba-tiba datang seperti lelaki ini. Iya sih awalnya memang aku yang salah. Tapi?
“Apa?” tanya lirih.
“Apa? Salah lo sendiri ya, siapa yang nyuruh bawa mobil beginian ke kampus. Mau pamer? Lo pikir ini kampus punya kakek moyang lo?”
Semakin menjadi amarah yang mengubun-ubun ini. Tapi yang kuheran, dia masih anteng begitu saja. Dia patung atau bagaimana sih?
“Terus, gimana?”
“Gimana apanya?”
“Mobil gue—”
“Itu sih derita lo. Bye!” Aku menyentak genggamannya dan segera berbalik untuk pergi secepatnya.
“Heh, tunggu!”
Cukup sekali pertemuan ini. Aku yakin, orang itu mampu untuk servis mobilnya sendiri. Bengkel ketok magic ada di mana-mana. Jadi, jangan berharap ada pertemuan-pertemuan selanjutnya berkedok tanggung jawab dan segala macamnya. Cih, ini bukan sinetron ya, Mas!
***
Setelah kejadian terkutuk itu, aku memutuskan untuk pulang ke indekos tercinta di Kawasan Jingga Mutiara, deretan Indekos Putri Ekslusif yang lokasinya hanya perlu satu kali naik TJ (Trans Jakarta) dan hanya menempuh kurang lebih sepuluh menit ke Rajendra University jika tanpa macet. Nah, gimana? Sudah cocok jadi sales apartemen, atau hunian super block seperti di teve-teve, kan? Minat? Segera hubungi karena Senin harga naik.
Bah! Abaikan!
Menghempaskan tubuh lelahku di atas kasur kosan memang suatu kenikmatan yang haqiqi. Ah, leganya. Namun, itu hanya sementara, karena kejadian tadi sore itu tiba-tiba muncul dalam ingatan seperti kaset yang diputar kembali. Untung saja tak sampai menimbulkan serangan jantung mendadak karena ulah bodohku tersebut.
Tolong, aku tak ingin mati muda. Belum kewong cuy!!!
Oke lupakan. Kali ini aku masih beruntung karena bisa melarikan diri dari mas-mas Porsche White tadi. Jika dilihat-lihat, laki-laki itu ganteng sih. Ah, nggak!!! Jangan sampai aku termakan oleh tipu dayanya. Siapa tahu itu adalah salah satu trik untuk menjeratku ke dalam penjara. Astaga! Ampuni hamba Ya Tuhan!
Yang namanya Porsche White secara nyata saja baru tahu tadi. Kalau sampai orang itu minta tanggung jawab untuk ganti, memangnya bisa? Uang bulanan saja harus diatur sedemikian rupa untuk bisa cukup sampai akhir bulan. Apalagi setelah ini bakal lebih membutuhkan pengeluaran ekstra untuk pengerjaan skripsi, print draft proposal, revisi, print lagi, revisi lagi, begitu terus sampai monyet ubanan.
Duh, Val!
Tiba-tiba saja aku teringat Ayah juga Ibun. Ah, penyakit anak rantau yang hanya bisa sembuh dengan bertemu. It's called homesick. Kangen Malang dan seisinya. Termasuk seseorang yang Arum dan Jejen panggil Mas Gaga. Entah sekarang dia masih di sana atau memang sudah benar-benar kembali ke sini. Aku tidak tahu. Yang jelas, aku merindukannya.
Hari itu, hari terakhir aku memakai seragam putih abu-abu ini. Satu kata yang dinanti. Lulus, dan itu memang terjadi. Sudah menjadi tradisi, perayaan dengan beragam kesenangan khas anak sekolahan. Pawai, corat-coret seragam, farewell party, prom night, dan segala macamnya. Namun, tidak denganku. Tidak ada ketertarikan untuk mengikuti semua itu. Bagiku, menghabiskan waktu bersama dengan lelaki itu, adalah bahagia tersendiri. Saat itu—di Bukit Bintang Paralayang, Gunung Banyak, Batu—kami menikmati senja yang perlahan kembali ke peraduan.
Tidak ada prioritas lain ketika lelaki itu sudah mengeluarkan ajakannya. Kesibukannya sebagai Residen Bedah di Syaful Anwar menjadikan waktu yang ia tawarkan kepadaku begitu berarti. Perlahan, aku mulai paham bahwa profesinya menuntut orang-orang terdekatnya untuk merelakan ia menghabiskan waktu lebih banyak bersama pasien-pasiennya. Dia, lelaki yang setahun lalu hadir mengisi hati ini. Arganata Reikhan.
“Kamu nggak ikut pawai?” tanyanya begitu kami duduk di salah satu omah kayu dan memandang lepas hamparan lembah dengan beragam pohon rindang di depan kami.
“Nggak, bahaya. Kecuali kalau situ mau nemenin.”
“Yah, masak aku ikutan anak SMA sih?”
“Tuh, kan! Iya-iya aku cuma anak SMA. Eh, tapi udah lulus ye. Habis ini jadi anak kuliahan.” Aku mencebik tak terima.
Sikap usilnya, jahilnya, itulah yang membuatku merasa bahwa rasa sayangnya terhadapku begitu besar. Ah, semoga.
“Eh, memangnya pengumuman SNMPTN sudah ada?”
“Nah itu! Belum, hehehe.” Aku meringis mengingat hal tersebut.
Rasa deg-degan akhir SMA seperti ini selalu berlapis-lapis. Bukan hanya ketika kita menunggu kabar kelulusan UN, tapi juga tentang pengumuman lolos perguruan tinggi favorit.
“Val, sebenarnya aku ngajak ke sini karena mau ngomong sesuatu hal penting.”
Seketika aku terdiam. Raut wajah Arga begitu serius. Ia meraih kedua tanganku, membawanya ke dalam genggaman. Duh, mau dilamar nih? Tolong, aku nggak siap sekarang!
“A-Apa?”
“Tegang banget sih?”
Nah, itu salah satu contoh keusilan Arga yang lain. Sudah menahan nervous yang hampir menghentikan jantungku, eh, dia hanya terkekeh tak berdosa. Lupakan lamaran! Ya kali, secepat itu.
“Udah ... Udah, kali ini serius.”
“Males!” Aku melengos mengalihkan pandangan.
“Besok aku ke Jakarta, Val.” Seketika aku tercekat. Aku berusaha terlihat biasa saja walaupun hati ini mengingkarinya.
“Yauda sih, semingguan aja kan paling?” balasku nggak begitu khawatir awalnya.
Lalu aku sedikit ragu ketika dia menggeleng, tidak bisa memastikan kapan dia kembali. Hanya raut kebingungan yang kutampakkan.
“Ada sesuatu yang harus kuselesaikan di sana,” jelasnya sambal pandangan lurus ke depan mengawang jauh.
“Tapi, residensimu gimana?” Aku masih belum terima, kembali kulayangkan pertanyaan lain yang mungkin saja bisa membuatnya berubah pikiran.
“Aku sudah mengurus izinnya,” sanggahnya.
“Tapi—”
“Kamu jaga diri baik-baik selama nggak ada aku. Jangan nakal, jaga kesehatan. Nggak usah jajan yang pedes-pedes. Ingat pencernaanmu itu lemah. Dan, tunggu aku balik.”
Detik itu menjadi perpisahan tanpa kata pisah yang sesungguhnya. Segala petuah yang dilontarkan Arga saat itu, kiranya adalah ucap terakhir sebelum akhirnya aku berada di kota ini sekarang. Karena Arga, dan untuk Arga.
Tapi, ini sudah empat tahun. Mungkinkah ada takdir lain yang mempertemukan kami kembali?
Aku tak yakin.
[1] Nomophobia: Suatu sindrom ketakutan tidak memiliki telepon genggam atau berjauhan dengan ponsel barang sebentar saja