Malam kian larut, dingin semakin menusuk, dan gerimis juga perlahan turun. Di rumahnya, Ame masih duduk dengan tenang, tetapi pikirannya melayang ke mana-mana. Ia begitu resah akan keadaan saat ini, menimbang dengan baik kejujuran yang akan segera terlontar dari bibirnya. Pria itu lalu melirik ke arah Elora, wanita yang akan segera dinikahinya, dan sialnya wanita yang juga membuat rasa aneh pada raganya beberapa saat lalu. “Peeter, kau bilang ada beberapa hal yang ingin dibicarakan. Apa kita bisa membahasnya sekarang?” Elora mencoba kembali, ia masih begitu penasaran. Harapannya jelas Ame segera bicara, tapi kenyataan membuatnya tidak berdaya. Menghadapi sikap Ame yang tidak teratur itu, jelas saja menguras sedikit kesabaran Elora. Ia ingin marah, menyuarakan dengan jelas jika dirinya b

