Frans sama sekali tidak memiliki kendala apapun untuk ikut program percepatan. Ia memiliki tingkat IQ yang di luar nalar. Dengan cepat Frans bisa mempelajari semuanya. Ia bisa menjawab semua pertanyaan dosen dengan baik. Ia terlihat santai dan menikmati ujian demi ujian. Dua ujian untuk dua semester ia selesaikan dengan sangat baik.
Ronny yang terus mendampingi hanya mengarahkan Frans tentang apa saja yang harus dipelajari dan jadwal apa saja yang harus ia hadiri. Sebagai pengganti Adam. Kesibukan Frans tidak hanya kuliah saja. Kadang pertemuan penting yang tidak bisa diwakili oleh Brian terpaksa harus ia hadiri.
Seperti hari itu, Frans harus menghadiri pernikahan salah satu keluarga kerajaan. Di dampingi Brian ia datang mengenakan setelan jas yang membuatnya semakin bersinar di atas karpet merah. Banyak kamera langsung menyorotnya. Ketampanan dan karisma yang diwarisinya dari para pendahulunya membuat Frans menjadi idola banyak orang. Setelah acara selesai banyak wanita yang langsung mendekat, namun Brian melindunginya dengan begitu protektif. Ia tidak ingin Frans mengalami hal yang dialami ayahnya.
"Brian, kamu sombong sekali. Aku hanya ingin kenalan dengannya," protes Shella. Salah satu putri menteri luar negeri.
"Maaf, kau boleh berkenalan tapi jangan terlalu dekat," ucap Brian.
Shella mengangguk, meski sebenarnya ia cukup kesal dengan aturan Brian. Namun dari pada kehilangan kesempatan langka lebih baik ia ikuti saja aturan mainnya. Ia segera duduk di depan Frans yang tengah minum sirup dengan santai.
"Hai," sapa Shella.
Frans hanya menatap sekilas. Ia merasa risih ada wanita asing yang mengajaknya bicara. Soalnya, sejak kematian Tony, ia hampir tidak pernah bertegur sapa dengan banyak orang.
"Namaku Shella. Aku ingin kenal denganmu," ucap Shella tak menyerah.
"Senang berkenalan denganmu," Sahut Frans berusaha menolerir perasaannya sendiri. Ia ingin gadis itu menyingkir, namun tidak sopan jika sungguh melakukannya. Apalagi di tempat umum dan pada putri salah satu menteri.
"Kau suka pada pestanya?" tanya Shella.
Frans mengangguk.
"Ah, iya. Aku lupa. Kau juga hampir menikah juga kan, kudengar kau ikut percepatan dan nilaimu semua A plus. Wow, aku sangat mengagumimu. Sayang, calon isterimu hanyalah putri seorang petani. Seharusnya kau bisa mendapatkan yang lebih baik dari mereka," ucap Shella.
Hampir saja Frans memecahkan gelas di tangannya. Ia langsung emosi mendengar ucapan Shella. Meski begitu Frans sama sekali tidak menampakkannya. Ia tetap berusaha terlihat tenang dan tidak mudah ditebak.
"Begitukah?" tanya Frans.
Shella senang mendengar ucapannya mendapat respon.
"Haruskah aku mengajak ayahku untuk melamarmu?" tanya Shella terus terang. Ia tidak ingin menyembunyikan ketertarikannya cukup lama.
"Sayang sekali. Petani itu lebih dulu melakukannya ketimbang dirimu. Kurasa mereka sangat cerdas hingga melakukannya lebih dulu ketimbang yang lain," sahut Frans.
Shella nampak kesal mendengar jawaban Frans.
"Apa sih, kelebihan calonmu itu. Dia biasa saja. Tidak ada bakat. Tidak punya kelebihan. Oh ya, bagaimana kalau dia tidak lulus percepatan. Kudengar nilainya biasa saja di kampus. Apakah pernikahan kalian akan gagal?" Shella terus memojokkan sosok Diana dan membandingkannya dengan dirinya.
"Kurasa hanya yang memiliki kelebihan khusus yang bisa melihat kelebihan calon isteriku. Gadis seperti kamu tidak di level itu," sahut Frans, semakin memanaskan hati Shella. Gadis di depannya kehilangan kata-kata. Namun harga diri dan kesombongannya yang tinggi membuatnya tidak bisa mengontrol dirinya.
"Akan kupastikan pernikahan kalian berdua gagal," ucap Shella. Lalu ia bangkit dari kursinya meninggalkan Frans dengan wajah kesal.
Brian yang tadi memperhatikan mimik wajah Shella dengan serius langsung mendekati Frans. Ia penasaran apa yang gadis itu lakukan atau apa yang Frans katakan sampai membuat ekspresi kesal di wajah Shella.
"Dia ingin melamarku. Dan mengancam pernikahanku akan gagal," sahut frans santai.
Brian terkejut mendengarnya. Ia tahu betul siapa Shella. Gadis itu akan selalu berusaha keras mendapatkan apa yang diinginkan tanpa mengandalkan orang tuanya. Ia akan berusaha dengan kemampuannya sendiri sampai tercapai. Brian tidak yakin apa semua akan baik saja setelah keduanya bertemu. Semoga ancaman itu hanyalah omong kosong.
Brian segera mengajak Frans kembali ke Blue Sky. Namun sebelum itu ia berhenti di butik miliknya sendiri. Hari itu ia ingin Frans mencoba rancangan baju pernikahannya yang terbaru. Dengan melihat Frans mencobanya ia akan semakin tahu letak kekurangannya dimana.
Frans menatap baju-baju yang dipajang. Semua terlihat bagus. Selama ini baju yang Frans pakai adalah buatan Brian. Katanya, baju Ayah bahkan kakek semua dia yang buat. Frans sendiri memakainya bukan karena mengikuti pendahulunya semata. Tapi kualitas jahitan dan bahan yang digunakan Brian memang bagus. Sehingga siapapun yang memakainya merasa nyaman. Di sisi keahlian itu Frans pikir tak ada seorang pun yang bisa menyamai keahlian Brian.
"Tuan, silahkan," ucap Brian.
Frans berdiri di depan cermin. Brian mulai melepas baju Frans satu persatu lalu memakaikan baju pengantinnya. Setelah selesai Frans menatap dirinya di cermin sementara Brian menilai bajunya di tubuh Frans.
Melihat dirinya, bayangan Angel kembali menghantui Frans. Ia kembali mengingat saat dimana ia menikahi Angel. Tidak ada saksi, tidak ada lamaran, juga tidak ada acara fitting baju yang kini dilakukannya. Hatinya kini mendadak sakit. Seolah telah berbuat tidak adil pada Angel. Ia merasa telah memberikan penderitaan kepada Angel bukanlah sebuah kebahagiaan.
"Kenapa Tuan?" tanya Brian melihat Frans memegang kepalanya. Ia segera membimbing Frans untuk duduk di kursi.
"Aku hanya lelah," ucap Frans mencari alasan.
Brian mencoba memahami. Ia melepas baju di tubuh Frans perlahan. Kemudian memasangkan kembali baju sebelumnya.
"Apakah ada kabar dari Sean?" tanya Frans.
"Belum," sahut Brian. Ia mencoba menutupi kebenaran agar Frans tidak memikirkan yang lain dahulu.
"Kau berbohong," tuding Frans. "Jangan membuatku marah."
Brian membeku di tempatnya. Ia belum sempat meninggalkan ruangan itu padahal ia sudah berniat sesegera mungkin untuk pergi agar Frans tidak bertanya lebih jauh lagi. Namun, siapa yang bisa mengakali Frans.
"Mohon maaf Yang Mulia. Kau konsentrasi dulu dengan acara pernikahanmu ini." Brian mencoba menjelaskan situasinya. Begitu ia hendak meneruskan langkahnya. Ia terkejut melihat Frans yang kini sudah berdiri di depannya dengan tatapan menusuk.
"Aku tidak akan tenang jika kau menyembunyikannya dariku. Kuharap kau mengerti," tekan Frans lagi.
Brian menghela napas dalam. Ia tidak bisa menekan apalagi membantah junjungannya. Terpaksa Brian mengeluarkan handphonenya lalu ia menunjukkan foto Sean dan seorang bayi dalam pangkuannya.
Melihat foto tersebut Frans langsung terduduk lemas. Matanya berkaca-kaca. Ia bahagia melihat bayi tampan dan menggemaskan di dalam gendongan Sean dalam keadaan sehat dan tersenyum ceria. Ia mengusap wajah bayi di dalam layar itu. Matanya mirip sekali dengannya. Berwarna biru langit. Kulitnya mirip Angel, indah.
"Anakku," gumam Frans.