Sorotan

1031 Kata
Hari itu berita pernikahan Frans dan Diana langsung tersebar ke seluruh penjuru dunia. Banyak media mulai meliput. Bahkan calon isteri yang dicurigai berada di kampus yang sama membuat banyak awak media datang ke sana. Tidak ada satupun yang berani mengusik Frans dengan pertanyaan. Apalagi dengan adanya para algojo yang terus berada di sekelilingnya. Sebaliknya yang menjadi incaran justru sang calon pengantin. Satu-satunya gadis anggun dan cantik, Diana Metis. Wartawan terus memburunya dengan pertanyaan, membuat pelajaran Diana terganggu. Bahkan, perpustakaan yang semula aman dari para penganggu dapat dengan mudah dimasuki mereka. Tatkala Diana lari dan jatuh di taman banyak kamera langsung memotretnya. "Ya ampun. Kau sampai terjatuh," ucap Felyx. Ia segera memapah Diana dan membawanya ke ruangan aman yakni UKS. Media tidak akan diijinkan masuk ke dalam ruangan tersebut. "Kau akan aman di sini. Aku akan mengambil beberapa makanan dan air," ucap Felyx. Ia adalah penjaga Diana. Sementara itu di ruangan lain. Ronny menemukan foto Diana yang di upload di berita nasional. "Frans, sepertinya calon ratumu diburu banyak wartawan. Lihat!" ucap Ronny menunjukkan foto Diana. Frans menajamkan penglihatannya. Tidak salah lagi, itu adalah si gadis toilet. "Gadis jelek begitu, bagaimana bisa jadi isteriku," keluh Frans. "Jelek ? Cantik kok. Aku sudah ditolak sama dia," Ronny memijit kepalanya. "What?" kejut frans. "Keep Calm, Okay Yang Mulia. Itu dulu. Sekarang mana berani," ucap Ronny. Dia tadi keceplosan mengakuinya. Frans berdiri dengan kesal. Ia langsung keluar dari kelas. Melihat itu Ronny langsung mengejarnya bersama para algojo. Frans langsung masuk ke ruang UKS. Biasanya kalau sudah di sana, ia akan mengunci pintu dan tidur. Ia akan keluar jika ada kelas dimulai. Namun hari ini tidak ada kelas sama sekali. Berarti ia akan membuat Ronny menunggu lama. *** Frans mengunci pintu ruang UKS dari dalam. Kemudian ia berjalan ke ranjang dan merebahkan diri. Sejenak, diingatnya lagi wajah calon isterinya. Gadis itu memang gadis yang ia temui di toilet dan di perpustakaan keesokan harinya. Frans menghela napas panjang. Tiap mengingat akan menikah lagi moodnya langsung memburuk. Ia langsung berbalik dan memeluk guling di sampingnya. Tapi mengapa gulingnya mirip postur tubuh perempuan. Frans meraba-rabanya. Yakin seratus persen dari gundukan yang tak sengaja ia sentuh, itu adalah bentuk depan perempuan. Otomatis Frans langsung menyingkap selimut. Matanya langsung membulat begitu menemukan seorang gadis di bawah selimutnya. Wangi darahnya yang harum langsung tercium. Saking terkejutnya hampir saja Frans berteriak. Andai telapak tangan gadis itu tidak membungkam mulutnya. Ia meminta Frans untuk tidak berisik. Saat Frans tenang dan keduanya saling tatap. Kini giliran gadis itu yang hampir berteriak. Beruntung ia menutup mulutnya sendiri. "Kau... Mengapa Kau di sini. Gila," bisik Frans penuh penekanan. "Aku yang lebih dulu di sini," ucap gadis tersebut yang tak lain adalah Diana. Frans marah karena dibantah. Ia yang tak terima diperlakukan tidak sopan. Ia langsung menarik rambut panjang Diana ke belakang. "Jangan menggugat aku," bisik Frans. "Sakit," keluh Diana. Ia menahan rambutnya yang ditarik Frans ke belakang. Melihatnya kesakitan, Frans melepaskannya. Diana segera merapikan rambutnya. "Kau membuat moodku tambah buruk," ucap Frans. Ia segera turun dari kasurnya. Namun entah sejak kapan gelang juntai yang dipakai Diana ngangkut di kancing baju Frans. Begitu Frans bangkit beberapa kancingnya langsung tertarik dan terlepas. Diana yang melihat itu langsung menutup mulutnya. Apalagi ketika kancing baju Frans terlepas sebagian d**a bidangnya langsung terlihat. "Kau..." Frans menahan amarah. "Maaf aku tak sengaja, ucap Diana. Frans tak menyahut. Tapi jelas ia tidak bisa keluar dalam keadaan seperti itu. "Akan kupastikan kau akan menerima akibat dari perbuatanmu ini." Frans merapikan bajunya lalu menghilang dari hadapan Diana. "Astaga. Apa yang harus aku lakukan," Diana tahu ia telah kembali berbuat kesalahan. Bagaimana jika Frans menuntutnya. Di luar Felyx datang membawa beberapa makanan. Ia ingin masuk ke dalam ruang UKS namun dihalangi oleh Ronny dan penjaganya. "Aku mau ngasih ini ke dalam. Diana ada di dalam," ucap Felyx. "Tidak mungkin. Yang ada di dalam adalah Frans. Kau jangan beralasan," ucap Ronny. "Aku serius, kalau kau tidak percaya cek sendiri," ucap Felyx. Beruntung pintu terbuka. Nampak Diana saja yang keluar. "Loh, mana Frans?" tanya Ronny. "Tidak ada. Dia tidak pernah ke dalam ruangan," sahut Diana. Ronny langsung masuk ke dalam. Ternyata benar Frans sudah tidak ada. Dia pasti sudah pindah ke tempat lain. Akhirnya Ronny meminta seluruh Algojo pulang bersamanya dan mengecek keberadaan Frans di rumah. *** Diana akhirnya bisa pulang dengan tenang setelah berhasil mengecoh pada wartawan. Ia segera pulang melewati jalan pintas tengah hutan bersama dengan Felyx. "Mengapa Anda tidak menolak pernikahan ini" tanya Felix pada Diana penasaran. "Aku tahu mungkin ini keputusan yang buruk. Tapi aku melakukannya demi rakyatku," ucap Diana. Felyx tahu Diana sangat menyayangi rakyat bangsa peri. Ia peri yang lembut dan sangat baik hati. Karena itulah, bersanding dengan vampir bukanlah pilihan tepat baginya. Dalam dunia bangsa peri sosok vampir dikenal sebagai sosok yang dingin, kasar dan tega menyingkirkan siapapun. Meskipun terkecuali untuk kalangan pangeran Cezad. Meski para pangeran Cezar terkenal baik dan bijaksana tetap saja Felyx khawatir. Ia tidak ingin putri Diana yang lemah lembut terluka oleh calon suaminya. "Mungkin ada cara lain Putri. Selain menikahkanmu dengan Pangeran Vampir itu," ucap Felyx. Diana mengehentikan langkahnya. Ia menoleh dan menatap Felyx dengan kelembutan. "Dia itu kaisar bangsa kita. Dia penghubung dan pengambil kebijakan antara manusia dan dunia kita. Jadi meski dia tidak menyukaiku dia tidak akan menyakitiku," sahut Diana dengan penuh kelembutan dan kebijaksanaan. Felyx berharap demikian. Selama ini di dalam penilaiannya Frans terlihat sangat dingin dan anti sosial. Ia memasang benteng agar tidak ada seorang pun mendekatinya. Ia juga terlalu terkenal di dunia manusia. Banyak manusia menyorot segala bentuk aktivitasnya. Membayangkan Diana ada di dalam lingkaran kehidupannya yang terlihat famous, glamour, tapi sepi, dingin, jutek dan kaku itu rasanya Felyx tidak rela. Tapi keputusan raja sudah dibuat. Bahkan Putri Diana menerimanya. Ia hanya bisa berharap Diana akan baik saja. Apalagi dengan usia keduanya yang masih muda. Menikah di usia muda seperti itu tidak lumrah di negara ini. Tapi karena keadaan bangsa peri yang kritis, raja mendesak pangeran vampir itu untuk melaksanakannya dalam waktu dekat. Akhirnya pengumuman pun dibuat, pernikahan akan dilaksanakan beberapa bulan lagi. Selama itu, kedua pasangan akan dimasukkan dalam program percepatan kuliah agar bisa lulus sebelum menikah. Beberapa ujian harus diikuti keduanya. Karena itu Felyx harus membuat jadwal belajar yang padat untuk Diana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN