Frans melihat ke sekeliling. Ia kembali pergi ke toilet. Hanya di dalam toilet ia bisa mengelabui penjagaan Ronny dan penjaga lainnya. Saat tinggal sendirian Frans menghilang dan muncul di aula yang sepi. Lalu ia keluar perlahan dengan memakai sapu tangan sebagai penutup wajahnya.
Frans berjalan menjauh. Ia mengandalkan penciumannya untuk mencari posisi gadis yang kemarin ia cium. Ternyata baunya berasal dari ruangan perpustakaan. Frans segera masuk ke dalam ruangan tersebut.
Diabaikannya beberapa pasang mata yang menatap aneh ke arahnya. Ia hanya fokus pada penciumannya yang menuntun untuk semakin menemukan gadis yang dicarinya. Ternyata gadis itu ada di sudut perpustakaan. Di antara rak dan ruangan agak gelap. Ia duduk bersila di lantai dengan beberapa buku di sekitarnya.
Frans segera duduk di hadapannya. Ia membuka sapu tangan yang tadi menutup wajahnya. Gadis itu langsung terkejut melihat keberadaannya.
"Kau?" kejutnya.
Frans menatapnya datar. Ia mendekatkan wajahnya ke samping gadis tersebut, lalu berbisik, "Rahasiakan kejadian kemarin. Atau aku akan membunuhmu. Mengerti?!?" ancam Frans. Ia memundurkan wajahnya. Sehingga bisa saling bertatapan. Saat itulah Frans membuat bola matanya memerah. Ia ingin menakuti gadis di hadapannya. Lalu Frans menghilang di depan gadis tersebut. Sekali lagi untuk menunjukkan kekuatannya dan menyatakan jika ancamannya tidak main-main.
Frans kembali ke dalam toilet. Kemudian ia keluar.
"Lama sekali," tegur Ronny.
"Bukan urusanmu," sahut Frans.
Ronny terdiam. Kalau sudah begitu ia tidak bisa apa-apa.
"Ada telpon dari Brian. Dia meminta kita pulang. Kau kedatangan tamu dari bangsa peri," ucap Ronny membuat langkah Frans terhenti.
"Bangsa peri?" tanya Frans.
Ronny mengangguk. Ia langsung mengajak Frans ke dalam mobil. Mereka pun segera pulang karena tamu tengah menunggu
Frans disambut Brian. Mereka bertiga langsung menuju Aula. Di sana beberapa tamu sudah menunggu. Bangsa peri juga berbaur dengan manusia. Mereka nampak mengenakan pakaian manusia. Konon tugas mereka adalah menjaga kelestarian alam. Wujud mereka juga indah dan cantik. Sehingga wujud manusianya pun tak jauh beda.
"Hormat kami Yang Mulia," ucap lelaki tampan diikuti semua orang dibelakangnya.
"Duduklah," sahut Frans.
Semua orang duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Saya Rhemus, Raja dunia peri. Memiliki permohonan kepada yang Mulia," ucap Rhemus dengan penuh hormat.
"Apa itu?" tanya Frans. Ia duduk di atas singgasananya dengan santai.
"Pusaka kerajaan kami dicuri oleh serigala koloni Beta. Pusaka ini memiliki kekuatan yang Maha Dahsyat. Dan bisa menghancurkan siapa saja. Kami sama sekali tidak memiliki kemampuan melawan para serigala yang selalu bikin onar itu. Karena itulah saya berharap Yang Mulia membantu kami," ucap Rhemus.
Frans berpikir sejenak. Ia juga mengincar serigala itu namun banyak yang tidak mengetahuinya. Akan tetapi keberadaan mereka sulit dilacak, kecuali atas bantuan putri peri yang memiliki kemampuan melacak keberadaan seseorang. Brian mengatakan hal tersebut tempo hari Jadi ini adalah kesempatan untuk membuat kesepakatan.
"Apa yang akan kalian berikan jika aku melakukannya. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Apalagi ancaman nyawa taruhannya," ucap Frans.
"Kami tahu Yang Mulia sudah memiliki segalanya. Namun di istana ini tidak ada satu wanita pun yang ada. Padahal wanita ada untuk menyeimbangkan alam. Karena itulah kami memberikan putri kami kepada Yang Mulia. Juga para dayang untuk mendampinginya. Putri kami adalah gadis paling cantik di dunia ini. Kecantikannya alami, mempesona dan anggun, kurasa Yang Mulia akan langsung menyukainya," ucap Rhemus.
Frans terdiam. Baru kali ini ada seorang Ayah akan memberikannya sebagai hadiah kepada orang lain. Pusaka itu berarti sangat berharga. Sehingga hidup putrinya pantas dikorbankan untuk mendapatkannya kembali.
"Sebagai pertimbangan. Putri kami memiliki kekuatan untuk melacak keberadaan Serigala itu, sehingga Yang Mulia akan merasa terbantu dan cepat menemukannya. Namun kami tidak akan memberikan putri kami dengan percuma."
"Apa maksudmu?" tanya Frans.
"Yang Mulia harus menikahinya."
"Apa?!? Beraninya Kau!" bentak Frans.
Rhemus langsung berlutut di depan Frans.
"Anda pasti mengerti Yang Mulia. Kami adalah orang tua. Kami ingin putri kami tetap terhormat meski pernikahan ini adalah pernikahan terpaksa."
Frans kesal mendengarnya. Namun ia tidak bisa marah atau pun menendang Rhemos.
"Anda boleh menceraikannya jika nanti dikemudian hari tidak ada kecocokan," lanjut Rhemos.
Frans langsung memanggil Brian dan Ronny ke ruangan lain. Ia tidak bisa memutuskan persoalan itu secara sepihak. Brian dan Ronny perlu menyatakan pendapatnya.
"Seperti yang aku katakan seperti sebelumnya. Jika kita butuh putri bangsa peri. Jadi jika kamu ingin membalas kematian semua orang. Terima lamaran ini, menikahlah lalu balaskan dendammu. Setelah itu kau bisa menceraikannya," ucap Brian.
"Aku setuju," dukung Ronny.
Frans menghela napas. Ia sama sekali tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi. Namun semua pertimbangan Brian masuk akal. Demi membalaskan kematian semua orang pernikahan dengan gadis yang sama sekali tidak ia cintai bukanlah masalah besar.
Frans kembali ke dalam aula. Para tamu yang menunggu keputusannya nampak tegang. Mereka duduk dengan gelisah di kursi masing-masing.
"Siapa nama putrimu?" tanya Frans.
"Diana yang Mulia," ucap Rhemos.
"Baiklah, aku terima lamaranmu. Aku akan menikahinya di depan publik. Jadi, persiapkanlah apa yang perlu," ucap Frans membuat semua orang bahagia.
"Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia. Kami segera undur diri dan mengenai hal-hal yang akan dipersiapkan biar utusan kami yang akan melakukannya," ucap Rhemos seraya undur diri.
Frans mengantar tamunya ke halaman. Setelah tamunya pergi ia masuk kembali ke dalam rumah. Ia lelah sekali. Menikah lagi, memikirkannya membuat Frans pusing. Rasanya dadanya begitu sesak. Ia masih belum bisa melupakan peristiwa yang menimpa Angel. Walau tidak menyukai calon isterinya Frans tipe yang tidak bisa mengabaikan tanggung jawab. Karena itulah pernikahan bukanlah hal sepele baginya. Namun mengingat ia melakukannya demi orang-orang yang ia cintai, Frans akan berusaha melakukan apapun. Termasuk menikah lagi.
"Tenanglah, semua akan baik saja. Kamu hanya perlu bertahan sampai semua serigala itu merasakan akibat dari perbuatan mereka. Laporan atas kerusakan yang mereka perbuat sudah mengganggu bangsa lain. Bahkan koloni lain dari serigala. Pertanian manusia juga mereka rusak. Ini memang tanggung jawabmu menjaga kemanan dua dunia." Brian mengelus kepala Frans.
Meski Frans adalah pimpinannya sekarang. Namun baginya anak itu tetaplah seperti cucunya.
Frans mendongak. Ia yang tadinya tidur telungkup kini bangkit duduk menarik kepala Brian lalu menggigit lehernya. Ia meminum darah Brian sebanyak yang ia suka.
Brian sudah terbiasa dengan sikap Frans yang lebih arogant dari ayahnya. Ia sering menghisap darahnya maupun darah Ronny kapan pun ia mau tanpa pamit sekalipun. Aroma candu dari tubuhnya membuat Brian dan Ronny tidak bisa menolak untuk digigit, sebaliknya mereka senang melakukannya.