BAB 7 antara cinta dan bahaya

1256 Kata
### **Terjebak di Antara Cinta dan Bahaya** Alya menatap mata Arsenio yang gelap, mencari kepastian dalam lautan rahasia yang tersembunyi di balik tatapan itu. Udara di antara mereka terasa berat, bukan hanya karena gairah yang masih menggantung, tetapi juga karena ketegangan yang kini menyelimuti mereka. *"Dia dulu milik saudaramu?"* Alya mengulang kata-kata itu pelan, seolah ingin memastikan ia tak salah dengar. Arsenio mengangguk, wajahnya kembali menjadi topeng tanpa emosi yang selalu ia kenakan di dunia bisnis. *"Dante dan aku... kami berbagi lebih dari sekadar darah. Dulu, kami juga berbagi wanita yang sama. Tapi bukan aku yang merebutnya darinya. Dia yang datang padaku."* Alya merasakan sesuatu yang dingin menjalar di tulang punggungnya. *"Apa yang terjadi?"* Arsenio mendesah, lalu berjalan ke arah jendela besar apartemen Alya, menatap keluar ke langit malam yang kelam. *"Dia memanfaatkan cintaku untuknya, Alya. Dia ingin membuat Dante cemburu, ingin menghancurkannya. Aku bodoh karena percaya bahwa dia mencintaiku, padahal dia hanya bermain dengan kami berdua."* Alya diam, membiarkan kata-kata itu meresap. Ia bisa merasakan sakit yang masih tersisa di suara Arsenio, meskipun pria itu berusaha menyembunyikannya. *"Lalu apa yang terjadi pada mereka?"* Arsenio memejamkan mata sejenak sebelum berbalik menatapnya. *"Dante kehilangan segalanya. Wanita itu meninggalkannya, dan sejak saat itu dia bersumpah akan membuatku menderita seperti dirinya."* Alya merasa napasnya tersangkut di tenggorokan. Jika Dante benar-benar ingin menghancurkan Arsenio, maka itu berarti ia juga dalam bahaya. *"Apakah dia sudah tahu tentang kita?"* tanyanya dengan suara bergetar. Arsenio menatapnya lama sebelum menjawab, *"Jika foto-foto kita sudah tersebar, maka dia pasti tahu. Dan aku yakin dia tidak akan tinggal diam."* Jantung Alya berdegup kencang. Ia bukan hanya terjebak dalam skandal dengan bosnya, tapi juga dalam perang dendam keluarga yang bisa menghancurkannya kapan saja. Namun, sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, ponselnya kembali berdering. Kali ini, bukan dari Dina. Alya menatap layar dan dadanya langsung mencengkeram ketakutan. Sebuah nomor asing. Arsenio melihat ekspresi tegangnya. *"Angkat."* Dengan tangan gemetar, Alya menekan tombol hijau dan membawa ponsel ke telinganya. *"Halo?"* Suara dalam di ujung sana terdengar tenang, tapi ada sesuatu yang membuat bulu kuduk Alya meremang. *"Alya... akhirnya kita berbicara."* Alya menelan ludah. *"Siapa ini?"* Tawa kecil terdengar sebelum suara itu menjawab, *"Aku Dante. Dan aku hanya ingin mengatakan satu hal—jika kau berpikir Arsenio bisa melindungimu, kau salah besar."* Seketika, udara terasa hilang dari paru-paru Alya. Arsenio mendekat, meraih ponselnya dan berbicara dengan nada tajam, *"Jangan berani-berani menyentuhnya, Dante."* Dante tertawa lagi, dingin dan penuh ejekan. *"Kau tahu aku selalu menepati janjiku, saudaraku. Dan kali ini, aku akan memastikan kau merasakan kehilangan yang lebih dalam daripada yang pernah kau bayangkan."* Panggilan terputus. Alya menatap Arsenio dengan mata membesar, tubuhnya mulai gemetar. *"Dia akan menghancurkan kita, Arsenio..."* Arsenio menariknya ke dalam pelukannya, jemarinya mengusap rambutnya dengan lembut. *"Tidak, Alya. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu. Aku bersumpah."* Tapi bahkan saat pria itu berusaha meyakinkannya, Alya tahu... badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. ### **Badai yang Tak Terhindarkan** Alya masih bisa merasakan getaran di tangannya saat Arsenio menutup ponselnya dengan rahang mengeras. Suasana di apartemennya berubah drastis—bukan lagi dipenuhi dengan sisa-sisa gairah semalam, tetapi dengan ketegangan yang begitu pekat hingga hampir membuatnya sulit bernapas. Arsenio melangkah ke jendela, matanya menatap kota yang bersinar di bawah cahaya bulan. *"Dante tak akan menyerah begitu saja,"* katanya pelan, tapi penuh kepastian. *"Dia akan memanfaatkan setiap kelemahanku untuk menghancurkan segalanya."* Alya menelan ludah, mencoba mengumpulkan keberanian. *"Dan aku adalah kelemahanmu?"* Arsenio berbalik dengan cepat, ekspresinya tajam. *"Tidak. Kau adalah yang paling berharga bagiku sekarang. Dan justru karena itu, aku tidak akan membiarkan Dante menyentuhmu."* Kata-katanya membuat sesuatu di dalam d**a Alya bergetar. Ia seharusnya takut—dan memang begitu. Tapi ada bagian lain dari dirinya yang tak bisa mengabaikan betapa protektifnya Arsenio. Betapa pria itu bersedia menghadapi apa pun demi dirinya. *"Lalu apa yang harus kita lakukan?"* Arsenio terdiam sejenak, sebelum mendekatinya dengan langkah mantap. Tangannya meraih pinggang Alya, menariknya hingga tubuh mereka hampir bersentuhan. Mata hitamnya menyelidik wajah wanita itu. *"Kita harus menghadapi ini bersama. Tapi kau harus tahu, Alya… begitu kau memilih tetap di sisiku, tidak ada jalan kembali."* Alya menatapnya dalam, jantungnya berdebar kencang. Ia tahu apa yang dipertaruhkan. Ini bukan hanya tentang skandal atau reputasi—ini tentang keselamatan mereka, tentang perang yang siap meletus kapan saja. Namun, saat Arsenio menelusuri garis rahangnya dengan ibu jarinya, lalu membungkuk dan mencium bibirnya dengan lembut namun penuh kepastian, Alya tahu jawabannya sudah jelas. *"Aku tidak akan pergi ke mana-mana, Arsenio."* Pria itu menghembuskan napas berat, seolah lega. *"Baik. Kalau begitu, bersiaplah. Karena Dante tidak akan menyerang dengan cara biasa."* Dan tepat saat itu, suara dentingan notifikasi terdengar dari ponsel Alya. Dengan jantung berdegup kencang, ia meraihnya dan melihat pesan masuk. **Pesan dari nomor tak dikenal:** *"Kau membuat pilihan yang salah, Alya. Sekarang, bersiaplah membayar harganya."* Sebuah foto menyusul—gambar dirinya dan Arsenio di apartemen tadi malam, saat pria itu menciumnya dengan penuh gairah. Gambar itu diambil dari sudut yang mustahil… seolah seseorang telah mengawasi mereka sepanjang waktu. Alya merasakan darahnya membeku. *"Arsenio..."* suaranya nyaris tak terdengar. Arsenio melihat layar ponselnya, lalu wajahnya langsung mengeras, tatapan matanya menjadi lebih gelap dan berbahaya. *"Dia sudah lebih dekat dari yang kita kira,"* gumamnya. Dan malam itu, Alya tahu… mereka telah memasuki permainan yang jauh lebih berbahaya daripada yang pernah mereka bayangkan. ### **Terjebak dalam Hasrat dan Bahaya** Alya menatap layar ponselnya dengan jantung berdegup kencang. Foto dirinya dan Arsenio yang tertangkap kamera dari sudut tersembunyi membuatnya bergidik ngeri. Ini bukan hanya skandal biasa. Seseorang—mungkin Dante—sudah memantau mereka lebih dekat dari yang mereka sadari. Arsenio mengambil ponsel itu dari tangan Alya, matanya menyelidiki gambar tersebut dengan ekspresi berbahaya. *"Dia ingin membuat kita takut,"* gumamnya, suaranya rendah dan dalam. Alya mengangguk pelan, masih mencoba mengendalikan napasnya yang tak beraturan. *"Dan itu berhasil."* Arsenio menatapnya, lalu tanpa peringatan, menariknya ke dalam pelukannya. Tubuh Alya yang sempat tegang perlahan melemas dalam dekapan hangat pria itu. *"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu, Alya. Kau percaya padaku?"* bisiknya di telinga wanita itu. Alya mengangguk, merasakan jari-jari Arsenio menelusuri punggungnya dengan lembut, menciptakan percikan listrik yang membuat tubuhnya merespons tanpa sadar. Ia menutup matanya sejenak, mencoba membiarkan dirinya tenggelam dalam ketenangan yang diberikan pria itu. Tapi ketika bibir Arsenio menyentuh pelipisnya dengan lembut, lalu turun ke pipinya, ke garis rahangnya, dan akhirnya berhenti di dekat bibirnya, Alya tahu bahwa ketenangan itu hanya sementara. *"Arsenio…"* gumamnya lemah. Pria itu menatapnya dengan intens, seolah membaca setiap pikirannya. *"Aku ingin memastikan satu hal sebelum badai benar-benar datang."* *"Apa?"* tanya Alya dengan suara nyaris berbisik. Arsenio menangkup wajahnya, ibu jarinya mengusap bibir bawahnya dengan lembut. *"Bahwa aku bisa memiliki malam ini bersamamu. Tanpa ancaman, tanpa rasa takut. Hanya kau dan aku."* Hati Alya berdebar keras. Ia tahu ada bahaya yang mengintai, tahu bahwa mungkin besok segalanya akan lebih kacau. Tapi di saat itu, di dalam apartemennya yang sunyi, di dalam pelukan pria yang membuatnya merasa paling diinginkan, Alya hanya ingin melupakan segalanya. Tanpa ragu, ia menarik wajah Arsenio lebih dekat, menyambut bibir pria itu dengan ciuman penuh gairah. Arsenio mengerang rendah, lalu membalas ciumannya dengan lebih dalam, seolah ingin meyakinkan Alya bahwa hanya ada mereka berdua di dunia ini. Dalam sekejap, dunia di luar menghilang. Yang tersisa hanyalah desir napas mereka, sentuhan panas yang semakin menggoda, dan api yang berkobar di antara mereka. Malam itu, mereka membiarkan diri mereka tersesat dalam satu sama lain, menikmati kebahagiaan yang mungkin tidak akan bertahan lama. Karena mereka tahu, begitu matahari terbit, dunia nyata akan menunggu mereka dengan segala kekacauannya. Dan mereka harus siap menghadapi apa pun yang akan datang. **Bersama.**
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN