Malam itu, apartemen Alya dipenuhi keheningan yang menegangkan. Pikirannya masih dipenuhi dengan ciuman panas Arsenio di kantor tadi. Setiap kali mengingat sentuhan bibirnya, tubuh Alya merespons dengan cara yang tak bisa dia kendalikan. Ia mencoba fokus pada dokumen di tangannya, tapi pikirannya terus kembali ke tatapan mata pria itu—penuh hasrat, penuh janji.
Suara bel apartemen tiba-tiba berbunyi, memecah lamunannya. Alya melirik jam dinding. *Siapa yang datang malam-malam begini?* Dengan hati-hati, ia melangkah menuju pintu dan mengintip dari lubang kecil. Jantungnya langsung melompat saat melihat siapa yang berdiri di sana.
Arsenio.
Ia mengenakan setelan kasual, tapi tetap memancarkan aura dominan yang membuat napas Alya tercekat. Dengan ragu, Alya membuka pintu.
*"Apa yang kau lakukan di sini?"* suaranya bergetar, campuran antara terkejut dan... antisipasi.
Arsenio menatapnya tajam, matanya berkilat di bawah cahaya lorong. *"Kau tahu kenapa aku di sini."*
Alya menggigit bibirnya, mencoba menahan badai emosi yang berkecamuk di dadanya. *"Ini bukan ide yang baik, Arsenio."*
Arsenio melangkah masuk tanpa menunggu undangan, menutup pintu di belakangnya. Tangannya langsung meraih pinggang Alya, menariknya hingga tubuh mereka bersentuhan. Nafas mereka bertautan, panas di antara mereka nyaris membakar.
*"Aku tidak datang untuk ide yang baik, Alya,"* bisiknya serak di telinga wanita itu. *"Aku datang karena aku tidak bisa berhenti memikirkanmu."*
Alya merasa lututnya melemah. Suara Arsenio, sentuhan tangannya, aroma maskulin yang begitu dekat—semuanya membuatnya kehilangan kendali. Namun ia tetap mencoba melawan. *"Arsenio, jika ini diketahui orang—"*
*"Biarkan mereka tahu,"* potong Arsenio, matanya menembus jauh ke dalam mata Alya. *"Aku tidak peduli dengan dunia luar. Aku hanya peduli dengan ini..."* Tangannya meluncur naik, menyentuh pipi Alya dengan lembut sebelum menariknya dalam ciuman yang penuh gairah.
Kali ini, Alya tidak melawan. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa yang membakar. Bibir mereka saling menjelajahi, tangan Arsenio menjelajahi lekuk tubuhnya dengan keahlian yang membuat Alya mengerang rendah. Ia merasakan dirinya terbakar di bawah sentuhan pria itu, seolah setiap inci kulitnya merindukan kontak yang lebih dalam.
Arsenio mengangkatnya dengan mudah, membawa Alya ke sofa tanpa melepaskan ciuman mereka. Nafas mereka terengah, jantung mereka berdetak kencang, tapi tak ada yang bisa menghentikan mereka sekarang.
*"Kau membuatku kehilangan akal,"* gumam Arsenio di antara ciumannya, suaranya dalam dan penuh hasrat.
Alya menarik napas dalam, merasakan kehangatan menyebar di seluruh tubuhnya. *"Mungkin karena kita berdua memang gila,"* balasnya dengan senyum menggoda.
Malam itu, mereka melepaskan semua kendali. Setiap sentuhan, setiap ciuman, setiap bisikan di telinga masing-masing adalah ledakan gairah yang tak terbendung. Mereka bukan lagi CEO dan sekretaris. Mereka adalah dua jiwa yang terbakar oleh hasrat, terperangkap dalam permainan emosi yang tak lagi bisa mereka abaikan.
Namun di balik malam penuh gairah itu, ada bayangan yang menunggu. Rahasia masa lalu Arsenio masih mengintai, dan ketika semuanya terungkap, Alya harus memutuskan—apakah dia siap terjebak selamanya di pelukan pria yang bisa menghancurkan hatinya?
Atau… justru dia akan menjadi satu-satunya yang bisa menyelamatkan pria itu dari kegelapan masa lalunya?
---
Pagi harinya, sinar matahari yang lembut menyelinap melalui celah tirai, menyapu tubuh mereka yang masih terbungkus selimut tipis. Alya terbangun perlahan, merasakan kehangatan tubuh Arsenio di sampingnya. d**a pria itu naik turun dengan napas teratur, wajahnya yang biasanya dingin kini terlihat lebih tenang dalam tidur.
Alya mengamati garis rahangnya yang tegas, bulu mata panjang yang menyentuh pipinya, dan bibir yang semalam membuatnya terbuai dalam dunia yang hanya milik mereka. Hatinya berdebar, bukan hanya karena hasrat, tapi juga karena ketakutan. *Apa yang telah aku lakukan?*
Namun sebelum ia bisa melarikan diri dari pikirannya sendiri, Arsenio bergerak pelan. Matanya yang tajam terbuka, langsung menatap dalam ke mata Alya. Seketika, dunia kembali terasa sempit.
*"Selamat pagi,"* bisiknya, suaranya serak karena baru bangun, tapi tetap terdengar menggoda.
Alya merasa pipinya memanas, tapi ia berusaha menjaga sikap santai. *"Pagi. Aku... aku harus bersiap untuk kerja."*
Arsenio mengerutkan alis, lalu dengan gerakan cepat menarik Alya lebih dekat ke dadanya. *"Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja setelah malam seperti itu?"* tanyanya dengan suara rendah yang membuat jantung Alya berdetak lebih kencang.
*"Arsenio..."* Alya mencoba berbicara, tapi pria itu menundukkan kepala, mencium lembut garis rahangnya, membuat kata-katanya menguap di udara.
*"Katakan padaku kau tidak menyesal,"* bisiknya di telinga Alya, napasnya membuat wanita itu menggigil.
Alya menutup mata, mencoba menahan badai emosi yang kembali membuncah. *"Aku... aku tidak tahu."* Suaranya lirih, tapi jujur.
Arsenio menarik diri sedikit, menatap wajahnya dengan serius. *"Aku tahu ini rumit. Tapi jangan berpura-pura kau tidak merasakannya, Alya. Aku melihatnya di matamu. Sama seperti aku merasakannya di setiap sentuhanmu."*
Alya menelan ludah, hatinya berperang antara logika dan perasaan. *"Ini salah, Arsenio. Kita... kita bekerja bersama. Dunia kita berbeda."*
Arsenio tersenyum miring, jemarinya mengusap pipi Alya dengan lembut. *"Mungkin dunia kita berbeda. Tapi kau tak bisa menyangkal apa yang ada di antara kita."*
Ia kemudian mencium bibir Alya dengan lembut, tapi penuh dengan janji. Ciuman itu bukan sekadar tentang hasrat, tapi tentang sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang menakutkan sekaligus menggoda.
Namun sebelum mereka bisa tenggelam lagi dalam gelombang gairah, suara ponsel Alya berdering keras, memecah momen tersebut. Dengan napas terengah, Alya meraih ponselnya, melihat nama di layar yang membuat hatinya hampir berhenti.
*"Dina."* Sahabat sekaligus rekan kerja yang selalu tahu jika ada sesuatu yang tidak beres.
Arsenio mengerutkan alis. *"Angkat."* Perintahnya tegas, tapi matanya masih menatap Alya dengan penuh hasrat.
Dengan tangan gemetar, Alya menjawab panggilan itu. *"Halo?"*
*"Alya! Kau lihat berita pagi ini? Foto-foto kalian tersebar lagi, dan kali ini lebih... intim."* Suara Dina terdengar cemas, membuat Alya membeku di tempat.
Alya melirik Arsenio, yang wajahnya langsung mengeras mendengar kata-kata itu. *"Aku akan mengurusnya,"* bisik Arsenio pelan, tapi dengan nada yang membuat Alya merinding.
Setelah menutup telepon, Arsenio bangkit dari tempat tidur, mengenakan pakaiannya dengan cepat. Wajahnya kembali menjadi topeng dingin yang selama ini Alya kenal, tapi matanya masih menyimpan bara api dari malam sebelumnya.
*"Kita akan menghadapi ini bersama, Alya. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu atau merusak apa yang kita punya."* Suaranya penuh keyakinan, tapi juga ancaman terselubung bagi siapa saja yang berani mengusik mereka.
Alya hanya bisa menatapnya, hatinya dipenuhi dengan campuran rasa takut, gairah, dan... harapan. Mereka telah membuka pintu yang tak bisa ditutup kembali. Dan sekarang, mereka harus menghadapi badai yang datang bersama hasrat yang membara di antara mereka.