Sudah delapan belas jam lebih Doni dan Rega berputar-putar di tempat itu. Seakan tiada ujung dari lingkaran kesesatan, mereka hanya melewati batu yang sudah ditandai itu berkali-kali. Rega sudah gemas dan tentu mulai merasa stres. Mentari sudah seperempat jalan di angkasa. Ia melihat arloji di tangannya, menunjukan pukul lima belas lebih sepuluh menit. Sudah jam tiga sore? Selama itu? “Pasti ada cara buat kita kembali,” ucapnya sembari menaruh tangan di dagunya yang mulus. Wajahnya seperti bayi baru lahir. Sangat terawat dan tampan. “Oke, kita coba ingat-ingat jalan pertama datang,” tambah Rega sembari mulai beranjak dari duduknya. Ia menghampiri Doni yang ulet berpikir. “Ini udah mau malem lagi, Don.” Rega kembali menyambung ucapanya. Lelaki itu mulai risi kembali. Dia takut jika

