7.2

2037 Kata
Rembulan selalu tersenyum di gelapnya malam, tak ada bintang tak ada awan. Ia berkuasa, meraup semua perhatian milyaran mata di bawahnya. Ia selalu bangga akan hal itu. Terkadang burung malam menjadi pengalih perhatian. Manusia selalu bergidik ngeri dan enggan berlama-lama di luar, untuk sekedar menyaksikan indahnya rembulan. Cahaya yang terang semu redup itu terpantul lurus dari riak air danau. Sudah menjadi sebuah hiburan mata bagi siapa saja yang melihat danau kawah di malam hari. Bukan hanya menyejukan mata, tapi juga membuat batin berdecak kagum tak ketulungan. Gelombang yang dihasilkan sepoi angin membuat pantulan cahaya tampak berbinar bak kunang-kunang dalam air. Malam itu Doni, Soni dan Rega sudah setengah jalan menuju hutan. Entah apa yang dipikirkan Soni, tapi dia bersikeras agar mengecek tempat sesajen itu malam hari. Doni hanya setuju semu ragu dengan ajakannya. Dengan tiga cahaya yang dihasilkan dari senter, mereka menyusuri tiap inchi tanah bergelimang rumput liar. Kaki-kaki kokoh menyusuri jejak bekas mereka beberapa hari lalu. Cahaya rembulan menjadi sedikit berguna bagi penglihatan. Pasalnya, sejauh mata memandang, terlihat ratusan pohon pinus yang menjulang tinggi ke angkasa. Soni ingat betul tempat di mana melihat benda-benda aneh itu. Walau saat akan kembali dari tersesat hari itu, terasa sulit sekali. “Sekitar beberapa meter dari tempat sini, kita sampai,” ujarnya sembari berjalan lebih dulu. Senternya dia matikan karena jalannya tak terlalu gelap. Di bawah cahaya rembulan, pohon pinus menjulang ke langit. Dari kegelapan di depan mereka, Soni bisa melihat ada sesuatu yang tampak menyaksikannya dalam diam. Namun, secepat pandangan itu tertangkap matanya, secepat itu pula dia mengenyahkannya. “Kenapa harus malem?” Rega mengeluh di belakang. Senternya dia matikan karena merasa jika cahaya bulan sudah cukup menerangi jalan. Rega bergidik ketika burung malam menjerit di antara pohon pinus. Bergema. Dia menoleh ke segala arah, kemudian mendongak pada bulan di langit. Menyeramkan. “Soalnya biar terasa kesan mistisnya,” jawabnya sembari terkekeh-kekeh. Doni hanya menjitak kepala lelaki itu pelan sampai akhirnya mereka kembali berjalan untuk bisa sampai di lokasi. Soni berjalan di depan, memimpin dan kedua temannya mengikuti di belakang. Seperti ada kobaran api menyala-nyala di kepalanya, Soni merasa ekspedisi kecil-kecilan ini akan sangat menarik. Telepas dari bayangan hitam yang mengikutinya hari itu. Dia tak peduli. Jika nanti ada hal aneh pun, mereka hanya perlu meninggalkan Galunggung secepatnya. Tanpa banyak omong, Doni dan Rega hanya bisa mengikuti langkah Soni dari belakang. Rega bukan tidak ingin melihat tempat itu malam-malam, hanya saja tindakan ini terlalu berisiko. Sekitar lima belas menit perjalanan dengan mendobrak rumput liar, mereka sampai di sebuah altar persembahan. Terlihat sebuah anyaman bambu yang berdiri sekitar dua meter ke atas, lebarnya hampir sama dengan meja makan. Tertata rapi penggalan-penggalan kepala kambing dan kerbau seperti yang dikatakan Soni. Dalam remang cahaya rembulan, semua sesajian itu tampak mengerikan. Mengundang rasa gidik meremangkan bulu kuduk. Doni melihatnya hanya bisa menahan agar lonjakan sesuatu yang terasa dalam perutnya tidak muncul ke permukaan. Perutnya melilit ingin muntah. Tak jelas berapa kepala kerbau dan berapa kepala kambing yang tergeletak di atas altar. Rega tidak sempat menghitung jumlahnya. Karena selain gelap, juga itu tak termasuk pada bagian terpenting. “Huek.” Doni akhirnya muntah saat bau bangkai masuk ke penciumannya tanpa permisi. Rega hanya mengusap pundak lelaki itu sambil masih menatapinya dalam-dalam. “Tuh kan gue bilang apa? Ada kayak penyembahan gitu di sini,” bisik Soni sembari bersembunyi di balik pohon pinus. Doni dan Rega berada di belakangnya, ikut mengintip. “Thanks,” kata Doni pada Rega. Dia sudah merasa baikkan sekarang, dan bau bangkai tidak menganggunya lagi. “Gila.” “Berarti emang ada yang gak beres sama tempat ini,” seru Doni sembari melakukan posisi yang sama dengan Soni. “Pemujaan?” Rega yang berdiri di belakang Doni mengucap pelan. Beberapa kali dia menoleh ke belakang, seakan-akan ada sosok menyeramkan yang ikut bersembunyi bersama mereka. Namun Rega berusaha tak memikirkannya. “Kayaknya sih gitu.” “Tujuan penumbalannya apaan?” tanya Rega. Mereka sama-sama tak mengerti apa yang sedang terjadi. Namun apa pun itu, sesuatu yang pasti besar dan mengerikan. “Lah, gue juga gak tahu.” Soni menggeleng pelan, matanya tak teralihkan sedikit pun dari gundukan kepala di altar di depannya. Seiring embus angin malam yang dingin mencekam, aroma kemenyan memenuhi penciuman mereka. Menyesakkan dan sukses membuat bulu pundak mereka meremang kuat. Soni menoleh ke arah Doni dengan tatapan was-was. “Tapi kayaknya semacam pesugihan, iya gak?” terawang Doni. Dia tampak terkejut ketika melihat wajah Soni menegang. Namun sebisa mungkin tetap bersikap normal. Mendadak hawa sekitar menjadi dingin mencekam, seperti tengah diselimuti aura negatif tiba-tiba. Rega yang berdiri paling belakang merasakan lebih dulu perubahan drastis itu dengan indera perabanya yang peka. Ia mengusap tengkuknya berulang-ulang hingga terasa lebih hangat untuk seperkian detik. Hawa negatif yang cukup besar membuat Rega tidak tahan dibuatnya. “Udahlah, gue mulai merasa enggak enak nih. Balik yuk!” ajaknya sembari berbalik. Rega berdiri tegap dari sebelumnya membukuk sambil bersembunyi. Dia menggosok tengkuknya berulang kali. Doni dan Soni saling tatap, dan mengangguk ketika merasakan hal yang sama. Ada hawa mencekam di sana. Mereka harus segera pulang. “Iya, lebih baik segera pulang.” Doni setuju, membetulkan posisi berdirinya, sekarang tubuhnya sejajar dengan pohon pinus. Setelah yakin ada yang tidak beres dengan tempat persembahan itu, Doni mulai berjalan memutar, memilih pulang saja mengikuti Rega yang sudah berjalan lebih dulu. Soni terlihat kesal ketika dua temannya pergi. Dia masih penasaran dengan altar itu. Apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa dengan semua persembahan itu? Untuk apa? Soni menggeleng, membalikkan badannya lagi ke tempat persembahan sambil masih menilik satu per satu benda di atasnya. Namun ketika kedua matanya terarah pada kepala kerbau di ujung altar sebelah kanan, dia melihat satu kepala yang terasa berbeda. Lelaki itu mengerjapkan matanya beberapa kali, dan ketika matanya masih fokus memerhatikan, kepala yang sejak tadi terasa aneh itu membukakan matanya. Soni terbelalak, menegang dan menelan ludahnya kuat-kuat. Kepala itu ... hidup. Matanya berkedip seperti makhluk hidup biasanya. Soni berbalik dan menjerit. “Tunggu gu---“ Belum sempat Soni merumpangkan ucapannya, sesosok makhluk berawakan jangkung berdiri tegak di hadapan Soni dengan menyeringai jahat. Tingginya sekitar tiga meter atau bahkan lebih, dengan bulu di seluruh tubuhnya merambat hingga kaki. Kedua tangannya dipenuhi cakar yang tajam serta kotor. Makhluk itu mendongakkan pandangannya ke atas kemudian melolongkan lantunan suara yang memekakan telinga. Nyaris seperti suara gigil yang mengerikan. Mendengar lolongan mengerikan itu, Doni dan Rega mendadak berhenti, menoleh ke belakang dan terbelalak ketika melihat sosok mengerikan berdiri di depannya, membelakangi. Tidak bisa berbuat apa-apa selain diam mematung, Soni terbelalak dengan kaki yang bergetar. Rasa takutnya naik pitam, pikirnya tak terkontrol. Saking takutnya dia hanya melongo di tempat. “Soni,” teriak Doni. Namun pandangannya terhalang oleh punggung makhluk besar berbulu yang ada di depan mereka. Doni yang sadar akan hal itu berlari mendekat, tapi dengan cepat Rega menahannya. Dia berpikir jika makhluk itu telah melakukan sesuatu pada Soni, dan sudah terlambat untuk menolongnya. “Don,” kata Rega, mencekal tangannya. “M-ma-makhluk apa i-ini?” ucap Soni terbata-bata. Saking takutnya, bibir bawah Soni mengigil bak kedinginan. Darahnya bagai membeku. Rasa panas menjalar dari kepala sampai kaki. Mendidih.s Tak cukup lama makhluk itu meraung, kemudian berhenti dan menatap Soni dalam-dalam. Tangannya yang berbulu dan bercakar kotor kemudian bergerak tanpa aba-aba, memelesat dengan cakar yang siap merobek isi perut Soni kapan saja. Makhluk itu siap mengeksekusi Soni saat itu juga. Ia mengarahkan cakarnya untuk menyayat d**a Soni yangtak bisa melakukan apa pun. “Tidak!” teriak Doni melihat cakar makhluk itu mulai melayang di udara dan siap menghantam Soni yang ada di depannya. Teriakan lantang Doni membuat Soni sadar seketika dan sukses menghindar dalam hitungan detik. Dengan agak terkejut, tubuhnya terdorong ke belakang sekaligus terhindar dari cakaran makhluk buruk rupa itu. “Cepetan lari,” pinta Doni sembari mulai melangkah meninggalkan Soni yang masih terduduk di atas tanah. Soni mengerjap, lalu merangkak cepat melewati makhluk itu dan mulai bangkit berlari ketika sukses melewati monster dengan tinggi tiga meter di belakangnya. “Tunggu gue,” teriaknya beringas. Soni susah payah bangkit dan kembali, menginjaki ilalang. Napasnya naik-turun dan dadanya terasa berat serta kerongkongan tersekat. Makhluk itu berputar, kemudian diam untuk sejenak dan menyaksikan tiga remaja yang sudah jauh berlari meninggalkan dirinya. Merasa dilecehkan, dia kemudian meraung lagi dan membuat burung malam berterbangan. Raungannya disertai gerak tubuh yang meruncingkan kuku-kuku tajam dan kotor di tangannya. Hanya dalam hitungan detik, dia memelesat ke arah Soni. Lelaki itu terlambat menyadari saat tiba-tiba sosoknya sudah berada di belakangnya hanya dalam jarak sekian sentimeter saja. “Khaa ....” Soni terbelalak, menengadah sambil mulutnya terbuka lebar ketika kuku-kuku tajamnya berhasil mendarat di punggung Soni. Tertancap rapi. Memuncratkan darah segar dan bau amis. Makhluk itu sukses menumbangkan dan menindih Soni sekaligus mencengkram kedua tangan Soni dengan posisi tengkurap. Kuku-kuku tajamnya berhasil melubangi kulit lengan pria malang itu dengan penuh gairah. “Doni, tolong,” teriaknya ketika tubuh Soni sudah luput dalam ruang lingkup monster berawakan tak wajar itu. Dengan penuh ambisi, makhluk itu mengeratkan cengkraman di lengan Soni dengan terus berusaha merobeknya keluar. Jeritan rasa sakit Soni bergema di hutan. Mendengar hal itu Doni membulatkan matanya seketika. Tidak tahu harus melakukan apa untuk menolongnya. Rega terbelalak dengan sejuta keterkejutan. “T-toolongin g-gue,” teriaknya terpotong-potong karena rasa ngilu yang dirasakannya. Tangan yang berbulu serta cakar yang sudah berlumur darah itu masih haus akan rasa sakit. Tak cukup dengan melubangi kedua lengan pria yang mengenaskan itu, dia kemudian mencoba menarik kedua tangan Soni ke kanan dan ke kiri secara bersamaan. Alhasil, darah bermuncratan ketika makhluk itu sukses mencabut dua engsel sendi yang terpasang rapi di tubuh yang kini sudah terbanjiri cairan merah pekat. “Soni,” teriak Rega histeris. “Aaa,” teriakan malang itu terdengar melengking, mengumbar rasa sakit yang dirasakannya. Tapi seakan belum puas dengan kegiatannya, makhluk berbulu itu merobek tubuh Soni dengan ganasnya kemudian mencabut usus halus, usus besarnya dan mencabiknya hingga berceceran. “Cepetan lari!” Doni menarik tangan Rega dengan terus menahan tangis. Ia tahu tak ada lagi yang bisa dilakukannya setelah melihat makhluk itu mencabik temannya tanpa ampun. Tak ada lagi harapan untuk Soni hidup. “S-soni, Don. Soni mati?” Masih diam mematung. Rega tak percaya jika temannya akan mati dihabisi makhluk menyeramkan itu. “Iya, cepetan,” pinta Doni sembari menarik tubuh Rega yang diam mati kutu. Taring kuning berbalut lapisan hemoglobin itu terlihat mengilap di bawah sinar rembulan. Cakar hitam tak lagi terlihat, kini merah darah mendominasi semuanya. Seakan tak cukup puas dengan apa yang dilakukannya, dia mencabut kepala Soni yang masih terpasang rapi dan membawanya pergi menjauh dari tempatnya semula. ** “Apa gua bilang. Huh ... huh. Jangan main-main sama hal mistis. Nah sekarang lo liatkan?” Doni membentak Rega yang diam mati kutu. Napasnya masih ngos-ngosan setelah berusaha lari dari monyet bertubuh raksasa itu. Tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut yang masih bergetar. Pria di hadapan Doni itu masih mematung tak percaya jika sahabatnya mati dengan cara yang mengenaskan. Nafsu Doni berderu tak terkontrol, ingin rasanya dia marah-marah dan mengamuk. Genangan air mata di pelupuknya sudah penuh, hanya menunggu untuk meluncur hingga pipi. Kepalan tangan erat membulat, siap diluncurkan kapan saja. “Tcih ....” Ia memalingkan wajah lalu mondar-mandir di tengah hutan. Mereka masih belum keluar dari hutan semenjak menjauh dari tempat kejadian. “Sekarang kita balik, peringatin semua orang tentang makhluk itu,” sambung Doni sembari meyeka habis air matanya. Masih seperti sebelumnya, Rega hanya diam melongo. Pikirannya masih kacau. Menurutnya jika dia tidak menyetujui ajakan Soni, hal ini tidak akan terjadi. Tapi semua sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur. “Ga ... Rega?” sentak Doni sembari mengguncang tubuh Rega yang kaku. “Lo harus sadar, kuat.” “S-soni, Don. Si Soni udah gak ada!” Dengan panik yang menggebu dia berusaha menjelasakan. Napasnya naik-turun bagai alat pompa air otomatis. Kedua matanya tertuju pada ilalang, menatap kosong. “I-iya, gue tahu.” Teriakan, cipratan, erangan, semua itu terngiang jelas. Kilasan-kilasan kejadian mengenaskan itu melintas liar di pikiran Rega. Sesekali dia teriak histeris tak terkontrol. Bayang-bayang bagaimana Soni dihabisi dengan kejam berputar lagi di kepalanya. Rega seakan sulit untuk menolak mekupakan apa yang baru saja dilihatnya. Itu benar-benar gila dan Rega tahu jika semua orang dalam bahaya. Doni menepuk pundaknya dua kali, menyadarkan. Namun sampai lelaki itu menepuk pundak untuk yang ketiga kali, Rega masih belum kembali dalam lamunan panjangnya. “Ayo, sebelum makhluk itu dateng lagi, kita harus segera balik ke pondok. Abis itu pulang,” titahnya sembari menarik tangan Rega yang dingin. Rembulan tertawa puas di angkasa, burung-burung menyanyi ria merayakan kematian Soni. Embusan angin malam menambah kesan ngeri. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, mereka mencoba kembali ke pondok dan memberitahukan sesuatu yang tidak beres tengah terjadi, dan mereka harus memberitahukan perihal .... Soni yang telah tiada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN