Dengan mata yang masih menempel di kayu runcing, Riani menjerit kesakitan. Tubuhnya merespons rasa nyeri itu cepat. Menggelinjang. Dia kemudian menarik posisi tubuhnya ke belakang sembari menahan rasa sakit di matanya yang kini sudah pecah dan berlinang darah.
Riani merasa setengah dunia mendadak gelap dan rasa nyeri yang tak pernah dia rasakan sebelumnya memeluknya dari segala arah.
“Aaaa ....” Dia menjerit lagi, berjalan tak tentu arah. Kepalanya terasa nyeri ketika luka tusukkan itu berdenyut-denyut. Darah mengaliri tangannya yang masih menutup sebelah mata, mengucur di sela-sela jari, melewati hidung dan Riani bisa mencium bau amis dari darahnya sendiri.
Air mata dan darah bercampur, sampai dia sendiri tak tahu apa yang mengaliri tangan serta hidungnya.
“Mataku,” teriaknya. Dia menjerit-jerit. “Aah ... mataku. Sakit. Tolong!”
Takutnya naik tajam, menguasai pikirannya. Kontrol tubuhnya tak seimbang, Riani sempoyongan sembari menekan darah yang terus meronta keluar.
Cekikikan dari dalam hutan kembali terdengar. Walau samar-samar, dia bisa tahu jika sosok itu tengah menertawakannya.
“Sial,” teriaknya.
Riani mundur, dan tanpa sadar, ranting di belakang kepalanya menusuknya dengan kencang. Refleks saja gadis itu menjerit lagi saat belakang kepala mulai mengeluarkan darah.
Rambut sebahunya berbelit dengan sulur dan tanaman kering yang tergantung di dahan-dahan pohon. Dia terlilit kencang.
Gadis itu berusaha melepaskan diri sambil mengumpat, mengucapkan semua sumpah serapah.
“Siaal!”
Setelah sekuat tenaga berusaha menjauh, dia terlepas dan tubuhnya terhuyung ke depan.
Tanpa sadar, langkah kakinya terus menuntunnya pada semak belukar penuh duri dan ranting yang mencuat ke angkasa. Kakinya lincah ke sana ke mari tanpa terkontrol hingga dalam hitungan detik tergelincir setelah menedang sebuah batang pohon yang telah mati.
Tubuh langsing itu terpeleset kemudian menghantam tanah dengan gundukan ranting yang menggunduk runcing, dan sukses membuat sisa mata Riani tertusuk.
Wajah mulus putihnya terkoyak oleh ranting, sobek dan mengeluarkan darah. Riani menjerit nyeri. Menahan wajahnya yang sudah berlumur darah agar tak terasa nyeri. Namun, rasa sakit itu ribuan kali lipat terasa.
Riani kejang. Darah makin deras keluar dari matanya. Rasa sakit dan ngilu berputar di tubuhnya. Memaksa gadis itu terus menggelepar seperti seekor ikan kekeringan.
Riani merintih kesakitan. Terus berusaha untuk bersuara. Namun tenggorokannya terisi penuh oleh darah yang kental dan bau amis.
Dia hanya bisa menahan napas beberapa detik karena gumpalan darah mulai menutup kerongkongannya.
“Kh ... kh ... kha ....”
Napas terakhirnya terkikis, diiringi teriakan yang mulai terdengar serak. Hingga akhirnya dia kehilangan darah dan mati saat itu juga.
“Aaaa ....”
Riani terbangun dari tidurnya dengan keringat yang bercucuran di seluruh tubuhnya. Dari pelipis hingga pipi sukses basah peluh, detak jantungnya mencoba mengatur udara yang masuk dan keluar secara teratur.
Napasnya naik-turun bak diagram yang menunjukan sejumlah ketegangan dan takut yang tertera di dalamnya. Untuk beberapa detik, Riani terdiam dengan masih ngos-ngosan. Ia menilik tiap sudut tempat di mana dirinya terdiam.
Kilas balik kejadian itu berkeliaran di ingatannya. Mata Riani sesekali terpejam setelah satu-dua kali mengingat. Itu terasa begitu nyata, sebuah mimpi buruk yang melibatkan dirinya dalam kematian yang mengenaskan.
Untuk yang kedua kalinya, dia mengurut pelipis sembari mengingat sosok menyeramkan berupa monyet raksasa yang mencoba membunuhnya.
Seketika saja dia teringat Rega. Dia terkejut dan celingukan mencari lelaki itu.
“Rega?” katanya, sembari berusaha mendengar percakapan yang terdengar dari luar tendanya. Dari samar-samar yang terdengar, ada suara Rega yang bisa dia kenali dengan jelas.
Napasnya mengembus pelan, kemudian merasa lega.
Dipindainya kain tenda yang menyelimuti seluruh ruangan itu, kemudian kaki yang mulai terasa kokoh dia entak dan mulai melangkah berjalan keluar. Dilihatnya seorang gadis dengan tiga pria yang tengah mengobrol di depan tenda sembari menikmati sesuatu di sebuah gelas yang terlihat mengepul.
Riani sempoyongan menghampiri teman-temannya dan sesekali mengurut pelipisnya yang terasa pusing. Bau embun pagi dan asap pembakaran mengisi penciumannya. Membuat dia semakin pusing.
Doni sadar akan kedatangan Riani, dia tersenyum.
“Oh, lu udah sadar?” tanya Doni ketika matanya melihat Riani yang berjalan menghampiri.
“Riani,” teriak Rere, nyaris bangkit dan berlari ke arah gadis itu jika tak segera dihentikan oleh sosok cowok yang sedang mengunyah sesuatu.
Riani hanya tersenyum pada Rere yang terlihat khawatir. Bukan hanya dia, tapi semua orang menatapnya dengan tatapan lega.
Apa yang terjadi selama dia tidur?
“Sadar? Emangnya gue kenapa?” tanya Riani sembari mulai duduk di samping Rere. Rere menyodorkan segelas s**u hangat mengepul.
“Lu gak inget?” tanya Soni. Cowok yang tadi menghentikan Rere. Cowok itu masih mengunyah dengan tampang tanpa dosa.
“Eh? Lu udah balik, Son?” ucap Riani samar-samar melihat pria yang suka pecicilan itu di depannya.
“Gue? Oh, udah.” Soni nyengir.
Riani menoleh ke segala arah, pada teman-temannya yang juga membalas tatapannya. Alis matanya naik satu, minta penjelasan tentang semua yang sudah terjadi selama dia tidak mengikuti kegiatan.
“Kemaren kamu pingsan, Ni,” timpal Rere sembari menyuap beberapa kali makanan di tangannya.
“Iya, Rega bawa elu ke tenda udah dalam keadaan pingsan. Dia bilang sih elu kecapean kemaren,” ucap Doni.
Riani tak berbicara apa pun, hanya diam memastikan ingatannya pulih dan setidaknya bisa tahu apa yang membuatnya pingsan selain kelelahan.
“Semua gara-gara Soni,” celetuk Rere. Doni menoleh dengan cepat padanya, kemudian menggeleng. Soni yang tak terima mulai angkat bicara. Namun ditahan oleh ucapan Rega yang membuatnya bungkam.
“Udah gue hajar dia, Ni,” kata Rega. Menggosok kepalan tangannya. Soni terkekeh-kekeh.
“Dan itu Soni kapan ketemu?” tanyanya masih linglung.
“Pas gua bawa elu ke tenda, eh si Soni udah ada di sini bareng Doni sama si Rere,” jawab Rega menjelaskan.
“Oh gitu, syukur deh.”
Riani tersenyum simpul. Ia merasa lega untuk beberapa saat, pasalnya tak harus bersusah payah lagi untuk mencari Soni dan membuatnya menjadi tak sadarkan diri untuk yang kedua kali.
Tidak, dia tidak mau.
Untuk beberapa menit hati Riani merasa tenang. Namun seketika berubah saat ingatannya kembali pada mimpi buruk yang dialaminya. Ia tersentak dan terdiam tanpa kata. Teman-temannya yang melihat hal itu merasa aneh.
“Masih pusing?” Rere mengusap pelipis Riani pelan.
“Ehm, enggak. Gue gak apa-apa.”
**
Setelah membereskan peralatan dan kembali ke penginapan, mereka punya banyak waktu untuk beristirahat sejenak, untuk setidaknya melonggarkan ikatan-ikatan saraf yang melilit fungsi otak. Mereka tidak bisa terus bekerja, apalagi melakukan kegiatan di bawah tekanan.
Rere serta Riani sudah lebih dulu istirahat dan tanpa a i u e o lagi mereka meringkuk di atas kasur dengan nyamannya. Toh, mereka punya waktu sekitar belasan jam hingga pagi lain tiba. Itu sudah lebih dari cukup hanya untuk istirahat.
Soni menceritakan semua yang dilihatnya kala itu. Bercerita soal kepala hijau, lalat hijau dan penumbalan.
“Sumpah, gue lihat semuanya. Gue rasa tempat ini dipakai semacam pemujaan.” Soni mencomot roti yang tengah Rega makan.
“Lo jangan asal nyimpulin, Son. Gue pernah bilang, hargai apa pun budaya yang ada di sini.”
Soni tidak bisa membantah, tapi dia juga ingin pendapatnya tentang pemujaan atau apa pun itu benar adanya. Melihat dari sesajen dan semua benda yang ada di altar itu, membuat Soni berasumsi jika Galunggung memiliki sesuatu yang patut diusut sampai ke akarnya.
“Kalian enggak akan percaya apa yang gue lihat.”
“Apa?” tanya Rega dan Doni nyaris bersamaan.
“Sembilan kepala kerbau dan ... gue gak tahu berapa jumlahnya, tapi ada kepala kambing, lengkap sama lalat hijau dan belatung.”
Lelaki bergidik ketika mengingat kepala kerbau. Itu membuat Soni ingin muntah lagi. Perutnya bergolak. Ada sesuatu yang melonjak dari perutnya, naik ke d**a dan dia siap muntah.
Soni meraih ponselnya dan memperlihatkan semua gambar yang diambilnya kemarin. Dan satu hal yang membuat Soni tak habis pikir adalah, batinnya terus saja memaksanya untuk kembali ke tempat itu.
“Gue ingin, kita kembali ke sana. Gue rasa tempat ini beneran enggak beres.”
“Jangan ngawur!” Doni mengembalikan ponselnya pada Soni dan menggeleng tidak setuju.
“Lo kalau mau membahayakan nyawa, silakan. Jangan bawa-bawa gue,” kata Rega. Soni mengernyit.
“Setidaknya ada yang mau gue pastiin,” jawabnya.
“Apa lagi? Semua udah jelas, kan? Kita hanya enggak usah ganggu apa pun itu, dan lo enggak perlu ke sana lagi,” ucap Doni. Rega menyilangkan kedua tangan di d**a sambil mengangguk setuju.
Seolah ada satu hal yang harus dicari tahu, Soni tetap bersikeras menolak.
“Gue enggak mau kita kenapa-kenapa, Don. KKN masih lama, dan ... gue takut kalau---“
“Kalau gitu enggak usah cari masalah,” sambar Rega.
“Gue akan pikirkan itu,” jawab Doni.
Soni ingin melihatnya lagi, dan dia sama sekali tidak menceritakan soal bayangan itu.
Dia menyangkal pemikirannya sendiri. Lelaki itu bergidik ngeri hanya dengan mengingatnya saja, tapi seakan ada sebuah tarikan magnet yang terus merayunya untuk kembali lagi ke sana, mulut Soni tidak singkron dengan otak.
Ia mengatakan jika dirinya ingin mencoba kembali lagi ke sana.
Doni sudah memperingatkan jika tindakan seperti itu hanya akan membuatnya dalam masalah. Seolah tak mau dengar, Soni memaksa Doni untuk ikut kembali ke sana.
Berselang beberapa jam, Soni kembali mengobrol dengan Rega. Dia membahas tentang bayangan. Rega memang tertarik dengan hal-hal semacam itu, jadi Soni memanfaatkannya. Dia bercerita jika dirinya melihat penampakan yang aneh. Itu malah membuat Rega ingin ikut.
Peluang untuk kembali ke sana setingkat naik satu level, kini dia punya Rega yang berada di pihaknya. Mengingat
“Don, gue udah memutuskan,” kata Soni. “Gue dan Rega akan kembali ke sana. Kita akan caritahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Doni yang tengah meminum kopi nyaris saja tersedak jika dia tidak buru-buru menelannya dengan kasar. Bibirnya belepotan, menghitam.
“Kalian cari mati?”
“Enggak. Gue enggak akan mati di sini,” jawab Soni, percaya diri. Rega mengangguk.
“Gue jamin semua akan baik-baik saja setelah melihatnya lagi. Gue pengin banget cek ulang.”
“Gila!” Doni menggeleng.
“Gimana? Mau ikut enggak?” tanya Rega sembari menyiapkan senter. Mereka akan kembali saat malam. Jika menunggu besok, Soni akan mati penasaran, katanya.
Awalnya Rega menyarankan untuk ditunda sampai hutan kembali terang. Namun dia sama sekali tidak suka saat rasa ingin tahunya harus menunggu selama itu.
“Malam ini?” Doni menggaruk pelipisnya tanpa alasan.
Rega mengangguk.
“Enggak besok aja?” tanyanya.
Soni memutar bola mata.
“Yaelah banyak mikir,” ucap Soni ketus.
“Anak cewek ikut gak?” kata Rega lagi.
“Ajak aja, mereka biar tahu,” jawab Soni antusias.
“Eh, jangan sembarangan. Kita gak boleh ajak mereka. Bahaya,” ucap Doni sembari menjitak kepala Soni pelan. Bagaimana dia bisa berpikir seperti itu? Membahayakan gadis-gadis.
Doni terlihat diam beberapa jenak. Menimbang. Batinnya sangat ingin ikut. Dia hanya penasaran dengan apa yang dikatakan Soni, tapi di sisi lain juga khawatir jika terjadi apa-apa setelahnya.
“Kita akan kembali setelah tahu apa yang terjadi. Gue janji, gue enggak akan lakukan apa pun. Hanya memeriksa,” kata Soni, mengangkat satu tangannya, kelingkingnya mencuat, ingin memastikan jika ucapannya bisa dipercaya.
“Gue ragu.”
“Apa pun yang lo pilih, gue sama Rega akan tetap ke sana.”
“Tapi kalian tanggung jawab gue,” kata Doni sesegera mungkin.
“Makanya, lo harus pastikan kita berdua selamat. Lo enggak bisa meninggalkan kita berdua,” ucap Soni, menghasut. Rega hanya diam.
“Anak cewek aman di sini, mereka ada di penginapan dan ... mereka aman,” ucapnya lagi. Mengingatkan jika gadis-gadis tak perlu menjadi beban pikiran.
Doni kembali merenung. Bagaimana ini? Batinnya bergelut. Dia ingin sekali ikut. Apa yang harus dilakukannya? Bagaimana jika dia salah mengambil keputusan?
Doni ingat jika dia sering membaca novel tentang tempat-tempat terlarang yang menyimpan makhluk mengerikan. Tak boleh ada yang masuk atau melanggarnya. Sekarang, dia merasa jika dirinya berada dalam novel dan tengah mencoba untuk melanggar.
Dia bergidik ngeri memikirkannya. Membayangkan orang-orang dalam novel yang tetap melanggar pantangan dan berakhir dengan mengerikan. Mereka dikutuk karena tak menghargai budaya dan larangan yang ada.
Doni terlihat berpikir untuk beberapa saat. Pikirnya bergelut dengan ego, dia menimbang baik-buruknya tindakan kali ini.
“Gue tanya sekali lagi. Lo mau ikut atau enggak?”
“Oke deh, gua ikut,” jawab Doni pada akhirnya. Dia berusaha tersenyum pada Soni, kemudian pundaknya ditepuk oleh Rega sekali.
“Oke, kita akan kembali lagi ke sini dengan selamat. Tenang aja,” ucap Rega. Doni mengangguk.
“Pasti,” kata Doni. Nadanya pasrah. Mau bagaimana lagi? Toh, itu hanya untuk memeriksanya saja.
Doni akan melarang Soni melakukan hal-hal gila. Jika nanti dia tak bisa mencegahnya, ada Rega yang akan dia mintai bantuan. Di sisi lain Soni sudah berjanji tidak akan melakukan hal gila.
Namun secepat pemikiran itu datang, Doni mulai merasa dia akan menyesali keputsannya.
“Nah, gitu dong. Kita berangkat sekarang juga,” ucap Soni. Dia menyerahkan senternya pada Rega setelah lelaki itu tadi menaruhnya di dekatnya.
Doni dan kedua temannya beranjak dari duduk dan mulai meninggalkan penginapan, tanpa memberitahukan pada gadis-gadis jika mereka akan kembali ke hutan.
Terakhir Doni tanya-tanya soal tingkat keamanan tindakan itu pada Rega, dengan yakin dan mantap menjawab semua akan baik-baik saja. Doni sih, setuju saja, selain itu memang rasa penasaran di benaknya belum tersalurkan.
Soni menepuk pundak dua temannya dengan bangga.