Cemasnya membabi buta. Doni tak bisa berpikir dengan tenang, yang dia pikirkan hanya kematian, kematian dan cara mati yang mengenaskan. Doni khawatir soal itu. Apa pun yang sedang mengejarnya itu pasti tengah membawa kematian kepadanya. Ia menggeleng, menyangkal pikiran bodohnya itu dan terus berlari ke arah mobil Rega. Jalan satu-satunya agar bisa selamat adalah kembali ke tempat di mana dia meninggalkan barang-barangnya. “Terus lari, Re. Jangan berhenti, apa pun itu.” “Aku udah enggak kuat, Don. Aku enggak kuat,” rintih Rere. Tangannya dicekal kuat-kuat oleh Doni. Doni tidak ingin mati, dan jangan sampai dia berpikiran tentang hal itu. Jangan. Jangan sampai dia berpikiran bagaimana dirinya akan mati. Itu hanya membuat semangatnya luntur dan tak ada keinginan untuk bertahan

