Darah keluar bagai sungai yang deras dari mulutnya ketika terbatuk. Mata Rega membulat, bibirnya menggigil, kedua tangannya dia taruh di perut yang sudah dilumuri darah. Erangan sakitnya terdengar melengking malam itu. “Argh ... sial. Datangnya enggak ketahuan,” rintihnya. Seperti tidak mau berhenti, darah itu terus meronta keluar, bersamaan dengan bau amis dan nyeri yang selalu saja membuat Rega meringis. Seperti seekor Serigala yang berhasil menemukan mangsanya, makhluk itu melolong keras di hadapan Rega, di bawah cahaya rembulan yang remang. Suara melengking membuat siapa saja merinding tak tahan. Burung-burung berlarian ke angkasa. Rega terbelalak ketika melihat makhluk itu sudah siap dengan kedua tangannya yang diposisikan menyerang. Cakarnya mencuat ke atas, dengan lengan-l

