"Kamu gak capek kan, Yo?" Gunawan membuka suaranya tepat saat Rio duduk di sofa yang ada disampingnya. Rio tertawa. "Engga lah, Om. Aku maklum Alify kayak gitu." "Makasih ya, Yo. Kamu udah lakuin banyak hal untuk Alify." "Tapi diliat-liat, kamu kayak ada jiwa psikolog ya?" Tanya Gunawan dengan nada setengah bercanda. "Ketauan ya, Om?" "Eh? Bener?" Rio mengangguk. "Dulu Mama psikolog. Tapi sejak Papa minta ditemenin dinas kemana-mana jadi Mama tutup praktek dan resign dari rumah sakit. Dulu aku sering ikut Mama kerja, jadi bisa sedikit-sedikit." Gunawan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalau untuk Alify, Mamamu mau buka praktek lagi gak?" "Eh?" "Om sebenarnya lagi cari psikolog untuk Alify terapi. Tapi Om takut Alify gak mau karena disatu sisi dia cuma bisa sama kamu doang." "Kal

