Chelsea dan Ben tiba di rumah yang dituju. Rumah yang berada jauh dari kebisingan, masuknya pun harus berjalan antara gang sempit dan mengeluarkan beberapa bau yang sangat mengganggu hidung Chelsea. "Astaga Ben, ini rumah lu? Terpencil dan … dan … ya Tuhan … Ben … gue harus tinggal ditempat seperti ini? Apa nggak ada tempat yang lebih baik lagi, Ben? Gue mana bisa tinggal ditempat kumuh begini? Lu tau gue Ben, dan ini …." Chelsea tidak habis pikir dengan tempat tinggal Ben.
"Nanti Nona Chelsea juga terbiasa tinggal disini. Orang-orang disini sangat rama, suka menolong dan peduli dengan hidup orang lain." Ben masih terus berjalan dan Chelsea hanya mengekor. Chelsea beberapa kali menoleh ke belakang, melihat mobil yang dinaikinya tadi semakin lama semakin jauh. Chelsea juga celingukan kesana-kemari melihat kanan dan kirinya hanya sebuah tembok tinggi.
Ben pun masuk ke sebuah pekarangan kecil dan membuka knop pintu rumah berwarna serba hijau. Cukup asri karena ada dua pohon besar menghampit rumah itu dan beberapa pot bunga yang terawat disana. Chelsea mempercepat langkahnya kemudian ikut masuk ke rumah tersebut.
"Sudah pulang kamu, Ben?" Terdengar suara berat dari seorang wanita tua yang usianya lima puluh tahunan. "Cah Ayu ini siapa, Ben?" tanya sang wanita menatap sayu Chelsea dan melemparkan senyuman. Chelsea membalas senyuman itu seraya menganggukkan kepalanya tanda menyapa sang wanita tua.
"Calon istri Ben ini, Mbok. Cantik kan? Namanya Chelsea, Mbok," jawab Ben seraya memapah wanita yang belum terlalu tua itu ke sebuah kursi. "Ayo Mbok, nanti Ben kenalkan sama calon istri Ben. Sayang … duduk sini yuk." Setelah membantu Si Mbok duduk, Ben menoleh pada Chelsea dan memanggilnya dengan panggilan sayang. Sontak saja Chelsea langsung membulatkan matanya.
"What's? Lu …." Chelsea tidak jadi bicara karena Ben mengedipkan sebelah matanya agar Chelsea diam dan menurut saja.
"Sayang, ayo duduk dulu," ucap Ben lagi. Chelsea pun mengalah dan hanya menurut lalu duduk berhadapan dengan Si Mbok. Chelsea menatap wajah wanita itu. Hatinya tiba-tiba tertegun melihatnya. Entah kenapa, rasa itu muncul begitu saja.
"Cah Ayu, maaf ya rumah Si Mbok kurang nyaman. Ben sebenarnya ngajak ke rumah yang lebih bagus. Tapi di rumah ini banyak kenangan buat Si Mbok. Kalau Cah Ayu kurang nyaman, bilang aja ya, jangan sungkan-sungkan." Si Mbok pun menatap Ben dan mengusap punggung tangan Ben yang sejak tadi menggenggam tangan Si Mbok.
"Apa wanita ini Ibunya? Tapi nggak mirip sama sekali," batin Chelsea.
"Bukan. Si Mbok ini orang yang udah nolong aku, Sayang. Maaf ya belum sempat cerita. Tapi Si Mbok udah aku anggap sebagai orang tuaku, artinya akan jadi ibu mertua kamu juga, Sayang." Chelsea tersentak mendengar perkataan Ben yang menjawab isi hatinya.
"Hah? Lu bisa tau apa yang gue pikirin?" tanya Chelsea pelan, tetapi Ben hanya tersenyum manis.
"Mbok, apa Gavin udah tidur?" tanya Ben pada Si Mbok.
"Daddy udah pulang ya?" terdengar suara anak kecil di ambang pintu yang tak jauh dari tempat duduk mereka. Anak laki-laki itu sedang mengucek kedua matanya lalu menatap silih berganti orang-orang yang ada di depannya. "Dad! Gavin kangen." Anak kecil itu berlari mendekati Ben dan memeluknya. Chelsea tentu tidak serta merta diam saja. Chelsea semakin syok dengan kehadiran sang anak. Bukan hanya julukan duda, tetapi Ben punya seorang anak laki-laki.
"Ben. Di … di … dia anak lu?" Chelsea menunjuk anak itu dengan jari telunjuknya. Sedikit gemetar, dan Chelsea langsung menelan salivanya. "Gue bakal jadi Mommy tanpa hamil? Oh my God! Salah apa gue sampe harus menikah dengan duda anak satu. Belum lagi gue harus ikut merawat wanita tua itu? Oh God … please help me. I will … I will …," batin Chelsea menggelengkan kepalanya tak percaya dengan takdir yang harus dia terima dengan pahitnya.
"Dad? Who is she?" Gavin menatap sinis Chelsea.
"Dia calon Mommymu. Sapa dulu dong!" bukannya menyapa, Gavin makin sinis menatap Chelsea setelah mendapatkan jawaban darinya. Ben terlihat tersenyum pada Gavin serasa mencubit sebelah pipi anak laki-laki itu. "Sayang, ini namanya Gavin Alexandros. Panggil aja, Gavin. Usianya baru menginjak tujuh tahun." Ben kini tersenyum pada Chelsea. Senyum yang belum pernah Chelsea lihat sebelumnya. Sungguh saat itu Chelsea terkesima dengan senyuman Ben dan lembutnya gaya bicaranya.
"Perfecto …," gumam Chelsea, tetapi Ben mendengarnya.
"Apa yang perfect, Sayang?" tanya Ben membuat Chelsea sadar dari imajinasinya dan menunjukkan gelagat malu serta salah tingkah. Chelsea pun menggaruk tengkuknya yang tak gatal diiringi senyuman kikuk.
"Gavin, calon Mommymu cantik kan? Walaupun dia sedikit nyebelin, tapi dia orang yang amat … baik loh." Lagi-lagi Ben menunjukkan senyuman manisnya, ditambah dengan kata-kata yang menyanjung Chelsea. Namun anak laki-laki itu tidak membalas senyum Ben sama sekali. "Senyum dong biar keliatan gantengnya." Ben menarik ujung bibir Gavin dengan kedua ibu jarinya agar Gavin mau tersenyum walaupun terpaksa. "Nah, anak Daddy makin tampan dan cool." Ben pun mengacak-acak rambut Gavin.
"Ah Daddy, stopped!" Gavin menepis kasar tangan Ben. "Gavin mau tidur lagi aja." Gavin pun kembali ke kamar.
"Gavin kenapa, Mbok? Kok kayak marah?" Ben kini duduk menghadap Si Mbok.
"Tadi ndak po-po loh. Tadi Gavin baik-baik saja Ben, dia tadi nurut terus sama Si Mbok," jawab Si Mbok yang heran juga dengan sikap Gavin yang tidak biasa.
"Ya udah Mbok, sekarang Si Mbok istirahat lagi ya? Yuk Ben anter ke kamar." Ben kembali membantu Si Mbok berjalan hingga masuk ke dalam kamar. Chelsea sendiri hanya duduk manis dan diam melongo melihat situasi saat itu.
Ben pun kembali setelah beberapa menit. Ben duduk di kursi kayu yang sama dengan Chelsea. Jarak keduanya sangat dekat bahkan Chelsea mencium wangi maskulin dari tubuh Ben. "Maaf Non, kita harus terlihat bahagia di mata mereka. Si Mbok punya riwayat penyakit yang cukup mengkhawatirkan, jadi kita harus terlihat baik-baik saja dan seperti sepasang kekasih." Tiba-tiba Ben yang Chelsea kenal telah kembali seperti semula.
"Lu tadi manis banget, Ben, tapi sekarang tu muka serem balik lagi," ucap Chelsea menoleh pada Ben. Mendapatkan jawaban ketus, Ben ikut menoleh dan kedua hidung mereka bertemu. Kini Chelsea pun merasakan hembusan nafas Ben.
"Saya bisa bersikap sangat manis, Nona Chelsea yang terhormat. Tapi saya takut jika saya terlalu sering menampakkan sikap manis saya ini, karena apa? Saking manisnya saya, Nona Chelsea akan jatuh cinta nanti." Ben pun menarik sebelah ujung bibirnya. Chelsea pun mundur menjauhkan tubuhnya dari Ben.
"Astaga … pede banget lu. Siapa elu hah? Inget ya Ben, kita menikah hanya karena sebuah kesepakatan. Gue nggak mau tubuh laki-laki bekas wanita lagi. Dih … amit-amit …." Chelsea tiba-tiba merinding mendengar ucapan Ben tadi.
"Baiklah, Non. Jangan sampai Nona menjilat ludah Nona sendiri. Tapi saya yakin Nona bakal jatuh cinta nanti," Ben begitu menekankan gaya bicaranya. "Tunggulah saya di kamar itu. Istirahatlah dulu. Saya akan keluar mengurus pernikahan kita." Ben mengedipkan sebelah matanya seraya tersenyum manis kemudian beranjak dari tempat duduknya. Chelsea hanya menatap sinis. Tiba-tiba ponsel Ben berdering. "Saya pergi dulu ya, Non." Ben membalikkan badannya dan mengangkat panggilan masuk itu.
Chelsea ikut beranjak, tetapi entah kenapa langkahnya malah mengikuti langkah kaki Ben yang keluar rumah. Namun, kakinya berhenti di balik pintu yang telah Ben tutup. Chelsea membuka sedikit pintu itu dan mengintip Ben.
"Dasar bego. Siall …. Kalian saya bayar mahal hanya untuk kabar menjijikan itu, hah? Oh … ya saya tahu kalian pasti udah bosen hidup, bukan? Dimana kalian sekarang, Bajingann? Saya bunuh kalian sekarang juga." Nada bicara Ben lagi-lagi berbeda. Chelsea terkejut dan membulatkan matanya mendengar Ben yang marah-marah dengan si penelpon. Chelsea semakin dibuat bingung dengan jati diri Ben yang sesungguhnya.
"Laki-laki seperti apa Ben itu? Dia terlihat dingin dan bermuka datar, tapi tadi senyumannya sangat manis dan terlihat kalau dia laki-laki yang penyayang. Bagaimana bisa wajahnya berubah jadi seperti seorang pembunuh? Oh God … bagaimana kehidupanku dengan Ben nanti?" batin Chelsea yang kembali menutup pintu secara perlahan, lalu masuk ke dalam kamar yang ditunjukkan Ben tadi.