bc

Menjemput Hidayah

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
family
HE
sweet
love at the first sight
like
intro-logo
Uraian

Dia yang tadinya buruk menjadi baik Dia yang tadinya hina menjadi mulia Dan Dia yang tadinya tak pantas menjadi pantas.Ini tentang Kania Sasina, seorang kupu-kupu malam yang berusaha tobat dari lumuran dosa. Sina berubah menjadi lebih baik dan lebih taat, kemudian Allah berbaik hati mempertemukannya dengan pria yang menerima masa lalunya. Bagiamanakah perjalanan hidup Sina setelah menjemput hidayah Allah?

chap-preview
Pratinjau gratis
Jalan-Nya
"Setiap manusia diberi hidayah oleh Allah. Tinggal pilihan Kita, ingin menjemputnya atau membiarkannya berlalu dengan penyesalan." *** Dia berada di tempat kotor. Menjajakan diri seperti tak ada harga nya. Setiap malam ia lalui dengan melayani pelanggan, dengan senang hati dan tanpa paksaan. Tak ada beban yang ia pikul selama ini. Agaknya menjadi wanita malam telah menjadi kehidupannya. Ia senang, pun dapat uang. Dirinya tak peduli perkataan orang, tak peduli cibiran para tetangga. Yang ia butuhkan hanya uang dan kesenangan diri semata. Persetan dengan mereka yang mengolok-olok, toh ia tak mengganggu kehidupan mereka. Jadi selama ini, Kania Sasina menganggap semuanya baik-baik saja. Ya, semua baik-baik saja di awal. Hingga tiba waktu dimana hanya air mata yang dapat bicara. Waktu dimana penyesalan itu datang sedalam-dalamnya. Allah, dia ingin kembali ke jalan-Mu. Bisakah? *** "Sina! Lo belum dapat pelanggan juga?" Seorang wanita dengan pakaian serba mini menghampiri Sina, dengan kaki menghentak-hentak ke tanah. Sina mengangguk lemah kearah wanita yang bernasib sama seperti dirinya itu. Entah kenapa malam ini tidak ada pria yang berminat. Sudah banyak mobil yang Sina hampiri dan tak satupun dari mereka yang membukakan kaca mobil untuknya. "Gak dapat duit deh gue malam ini, Wi" "Sama Sin. Capek Gue!" Wanita bernama Dewi itu ikut menggurutu. "Udah jam 4 pagi nih. Pulang aja lah." Sina menyetujui ucapan Dewi. Mungkin ia akan pulang dengan tangan kosong malam ini. "Eh, ada mobil mewah Wi!" Belum beberapa langkah mereka berjalan meninggalkan trotoar, sebuah mobil putih berhenti tepat dipertigaan. Sina berharap kali ini ia bisa mendapatkan pelanggan. Tak hayal, tampa buang waktu lagi, dia langsung mengambil kesempatan. Sina berlari cepat kearah mobil itu, meninggalkan Dewi yang memanggil-manggil namanya. "Punya gua Wi!" "Sial lo!" Tok tok Sina mengetuk kaca mobil dengan senyum terukir menggoda. Tak lama kaca hitam yang menapakan siluet hitam pria didalamnya itu turun perlahan. Yes! Lampu hijau nih. Akhirnya, Sina tidak akan pulang dengan tangan kosong. Sebentar lagi dirinya akan kembali menghangatkan ranjang seseorang. Di dalam mobil ada dua pria. Yang satu tampan dan muda sedang yang satu lagi, yang ada dibalik kemudi, sudah berumur. Yang mana yang akan Sina layani? Dua-duanya tak masalah. "Mas, mau ditemanin?" Tanya Sina dengan suara rendah. "Boleh." Sina bersorak riang. "Boleh masuk dong Mas?" "Boleh silahkan." Tak ingin membuang kesempatan, Sina melenggang masuk kedalam mobil. Sang pria tua melirik Sina sekilas, ada tatapan aneh yang di tujukan pada dirinya. Seperti risih, atau... jijik? Ah masa bodoh, yang penting pundi-pundi singgah disakunya sebentar lagi. Sina duduk manis di jok belakang. Tak lupa ia melambai cantik kearah Dewi yang terlihat kesal. Mobil mulai melaju membelah jalannan yang sepi. Hanya satu dua kendaraan yang tampak lalu lalang. "Mau ditemenin berapa jam Mas?" Sina membuka suara. "Sampe selesai juga boleh." "Emang biasa nya berapa Jam?" "Cuma satu jaman." Sina mencibir. Satu jam terlalu sebentar. Itu hanya pemanasan baginya. "Ke hotel mana, Mas?" Tanya Sina lagi. Perkiraan nya sih, mereka akan pergi ke hotel bintang lima. Dilihat seberapa mewah mobil sang empunya, alphard bok! Sina yakin pria tampan ini pasti orang tajir melintir. "Kita ke Mesjid. Bukan ke Hotel." Oh ke mesjid. Ha ke mesjid?! Sina keget bukan main. Ia pasti salah dengar kan? "Tu...tunggu... Ini maksudnya apa ya Mas?" Si pria tak menjawab. Dia justru dengan santai meletakan peci bulat bewarna putih dikepalanya. Dari jok belakang Sina bisa melihat lelaki itu tersenyum. Astaga! Sina menyadari satu hal lagi. Dasar bodoh, Kenapa dia tidak lihat kalo pria itu pake baju koko. "Ana mau ngisi kajian ba'da subuh di Mesjid Agung Nurul Iman. Anti boleh kok ikut Ana." Sina kian terperanjat. "Ya ampun Ustadz, maaf, maaf. Saya turun di depan aja Ustadz." Sina kelabakan sedang si pria tua dibalik kemudi tampak menahan tawa. Betapa bodohnya ia menggoda Ustadz. Tamat lah riwayat nya. "Lah katanya tadi mau nemenin." "Gak jadi Ustadz." "Loh kenapa?" "Eh itu. Saya salah Ustadz. Maaf ya Ustadz?" Sina kelabakan. "Emang Anti salah apa?" Duh, ini Ustadz pura-pura polos atau sedang ngerjain Sina? Sudah jelas tadi dia menggoda sang Ustadz. "Udah, anti ikut saja dengan kami." "Duh, gimana ya Ustadz. Saya malu." Sumpah, kalo saat ini Sina bisa mencopot kepalanya, akan ia lakukan. Sina malu setengah mati. "Kenapa malu?" "Pakaian Saya gak pantas Ustadz. " Sina menurunkun pandangan kebaju minum yang menjadi pembungkus tubuhnya. "Anti ikut saja dulu." Diam. Sina tak sanggup lagi menjawab. Ia hanya bisa pasrah seraya menetralkan rasa sesak didada. Sungguh ia tak menyangka ia akan menggoda seorang Ustadz. Pantas saja pria ini enggan menatap nya. Sekarang apa yang akan ia lakukan? Kabur pun tak bisa. Malam tersial yang pernah Sina lalui! *** Zain membiarkan seorang wanita malam memasuki mobilnya. Sedari dulu memang begitu, ia lebih senang mendakwahi orang-orang seperti Sina, yang bisa dikatakan "tersesat" dari jalan Allah. Bagi Zain disitulah esensi dakwah yang sesungguhnya. Membawa jiwa-jiwa yang jauh pergi untuk kembali dalam pangkuan sang pencipta, dengan bimbingan lembut bukan dengan paksaan. Zain tersenyum samar tiap kali mendengar wanita dibelakangnya menghembuskan nafas frustasi. Wanita itu punya kesempatan untuk berubah, karena Allah bisa dengan mudah membolak-balikan hati seseorang. Dan barangkali ini jalan sang wanita untuk berubah. **** Mobil Alphard yang membawa Sina memasuki perkarangan mesjid. Jantung nya semakin berdebar. Ia bisa melihat dari dalam mobil para jamaah berbondong-bondong memasuki mesjid. Ya Tuhan! Ia benar-benar tak pantas berada disini. Ia tak pantas mengunjungi rumah Allah. "Anti tunggu disini dulu." "Tapi Ustadz..." "Tidak apa-apa." Zain turun dari mobil, memutar langkah cepat kearah mesjid. Sina tak bisa lagi mencegah, hanya bisa memandang punggung kokoh Zain yang kian menjauh. Kini Sina bingung sendiri. Tak pernah terpikirkan oleh nya untuk menginjakan kakinya lagi kerumah Allah dengan cara yang konyol. "Pak, baru kali ini loh ada Ustadz kayak gini. Ada w*************a malah di biarin masuk mobilnya. Kalo ada yang tahu kan bisa jatuh reputasi si Ustadz." Curhat Sina pada pria gendut yang sedari tadi duduk diam dibalik kemudi. "Tuan Zain emang gitu, Non. Dia berbuat baik sama siapa aja. Gak kenal status. Malah beliau sering ngasih dakwah ke anak punk pinggir jalan. Alhamdulillah banyak juga yang sadar." Sina terenyuh dengan fakta yang baru saja ia dengar. Ternyata si Ustadz tampan itu sungguh berhati mulia. Beruntung ia dipertemukan dengan orang sebaik ini, yang tak merendahkan siapapun termasuk dirinya. Tapi meski begitu, Sina belum siap untuk tobat. Kalo dia tobat dia kerja apa? Mau makan apa ia nanti. Penghidupannya selama ini kan hanya dari menjual diri. Ya ampun! Kepala Sina berdenyut memikirkan itu. "Ini ada baju gamis sama jilbab. Alhamdulillah dikasih istri marbot mesjid. Anti pakai disini saja. Pak ujang ayo turun." Zain yang baru saja kembali meletakan Pakaian untuk Sina di bangku depan. Sina mengambil pakaian yang diberikan pria itu dengan ragu. Rasanya ada bisikan yang menyuruhnya kabur. "Pakai saja Sina. Toh hanya sejaman." Sina mencoba meyakinkan diri. ya benar! Ia hanya perlu memakainya sebentar. Tidak akan lama. Setelah itu dia akan pulang kerumah dan semuanya akan kembali seperti biasa.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

TERNODA

read
198.9K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
62.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook