Bear, Sean, dan Larissa menampilkan satu ekspresi yang seragam setelah keluar ruangan: kebingungan.
“Sebenarnya aku ingin membahas sesuatu. Tetapi karena aku merasa sangat lapar, ayo kita bahas ini di ruang makan!” Bear mengajak teman-temannya untuk kembali ke ruangan makan, rasanya tidak adil ketika mereka tidak makan di sana padahal sudah menyiapkannya.
Sean dan Larissa tidak menolak. Mereka menuruti Bear. Apalagi dengan malam yang sudah mulai sematang ini, ruangan makan mesti sudah mulai sepi. Mereka bisa berdiskusi di sana untuk membahas sesuatu yang memang perlu dibahas.
Ternyata dugaan mereka benar. Ruang makan sudah sepi, tetapi jatah makanan mereka masih utuh. Sean langsung menyantap lahap ayam bakar dengan sambal nanas. Bear sibuk menyesap kuah bakso ikan tenggiri. Sedangkan Larissa memotong daging asapnya dengan anggun.
Beberapa menit kemudian, makanan di hadapan mereka tandas. Mereka seperti paus terdampar yang kekenyangan.
“Larissa, Sean. Ada yang mau aku sampaikan.” Bear akhirnya menyisipkan obrolan setelah mereka cukup mengambil napas.
“Sampaikanlah walau hanya satu ayat,” sahut Sean agak kacau. Ia langsung dihadiahi toyoran dari Bear, tetapi ia hanya terkekeh. “Aku bercanda, Bear. Ayo lanjutkan!”
“Baik, begini. Tadi, aku seperti bisa membaca apa yang Laminad pikirkan.”
“Sebentar, sebentar! Maksudmu kamu bisa membaca pikiran?” tanya Larissa memastikan.
Bear mengedikkan bahunya, dia juga masih bingung. Yang ia tahu, ia seperti berbicara dengan suatu objek melalui pupil mata Laminad.
“Apa yang dipikirkan Laminad?”
“Dia seperti memikirkan sesuatu mengenai bunga yang kita bunuh kemarin. Aku rasa ada yang tidak beres dengan bunga itu.”
Larissa tampak memikirkan sesuatu yang lain. Dia mengusap jempolnya dengan telunjuk.
Sean menepuk pundak Bear. Dia seperti mengatakan agar Bear melupakan perkara itu. “Bukan urusan kita. Berhentilah membahas sesuatu yang tidak penting. Kita sudah punya masalah masing-masing. Ah, lebih baik kita kembali ke asrama dan beristirahat.”
“Aku mau membeli minuman ke pusat perbelanjaan. Apakah kalian mau ikut?”
Sebenarnya Sean dan Bear tidak memiliki rencana untuk membeli minuman, tetapi mendengar ajakan Larissa, kerongkongan mereka mendadak kering dan tandus. Mereka akhirnya sepekat untuk ikut bersama gadis itu.
***
Jalanan di kawasan Laminad Boarding School selalu sepi kalau malam hari. Kelengangan hanya ditemani oleh rembulan yang menggantung di langit. Bear meregangkan tangannya ke depan, melepas asam laktat yang menumpuk di persendian. Untuk kesekian kalinya Bear merasakan sesuatu yang aneh. Sesekali dia memperhatikan Sean dan Larissa untuk membaca apa yang teman-temannya pikirkan. Namun, dia tidak menemukan apa-apa. Lantas, yang terjadi padanya adalah realitas atau delusi? Jika realitas, ia berjanji akan meningkatkan kemampuannya. Akan sangat menyenangkan jika ia mempunyai kelebihan seperti itu.
“Kalau ternyata aku mempunyai kekuatan untuk membaca pikiran orang lain. Apa pendapat kalian?”
Larissa yang selalu berjalan di depan tiba-tiba menghentikan langkahnya. Sontak Sean menabraknya. “Ah, jangan berhenti tiba-tiba begini! Ck, menyebalkan.”
“Sean, diam!” Larissa menempelkan telunjuknya di depan bibir.
Sean mengangguk polos, lalu menggerakkan jarinya ke bibir seolah sedang menutup resleting. “Ok diam.”
“Bear, kamu akan sangat spesial jika punya kemampuan seperti itu. Dan aku akan sangat iri.”
“Apakah itu normal?”
Larissa berdecak. “Sean, coba jelaskan definisi normal.”
Sean menatap Larissa hendak protes. “Mengapa jadi aku? Jika didefinisikan dengan KBBI jelas apa yang Bear tanyakan adalah ketidaknormalan. Tidak usah dipertegas.”
“Bear, jangan dengarkan Sean. Dia hanya iri. Begini, kemampuan otak manusia sangat dahsyat. Jika kamu dapat mengoptimalkannya, hal-hal semacam ini sangat mungkin terjadi.”
“Yang ini aku setuju dengan Larissa.”
“Nah. Tetapi, pastinya kamu harus mencari tahu apakah apa yang kamu pikir sebagai kemampuan bisa divalidasi atau tidak. Sekarang coba kamu baca pikiranku.” Larissa berkacak pinggang dan menatap lurus ke depan dengan energi positifnya. Dia tersenyum seakan-akan ingin berkata lakukan apa pun padaku.
Bear lalu mencoba menatap kedua bola mata Larissa, berusaha konsentrasi. Namun, angin malam bertiup cukup kencang, Larissa berkali-kali mengedipkan matanya dan itu membuat Bear merasa terganggu. Setiap kali Bear akan menelisik melalui pupil mata Larissa, gadis itu berkedip. Dan, semuanya harus dimulai dari proses awal. “Aku tidak bisa melakukannya sekarang. Mungkin lain kali. Sekarang lebih baik kita bergegas membeli minuman.” Bear melangkah lebih dulu ke depan, membuat Larissa berseru tertahan.
***
Sean membaca buku yang tadi siang ia pinjam. Ia menyenderkan kepala pada bantalnya yang ditegakkan. Dunia Anna. Itu buku pertama yang ia baca. “Anna bisa berkomunikasi dengan dirinya di masa depan melalui mimpi. Bukankah itu menyenangkan.”
Bear yang sedang mengisi teka-teki silang di meja belajar samping ranjangnya hanya bergumam. “Siapa penemu radio?”
“Marconi. Guglielmo Marconi,” jawab Sean dengan mata fokus pada bukunya.
Bear mengangguk lalu mengisi TTS dengan pensil mekaniknya. “Kamu memang pintar.”
“Ilmu pengetahuan umumku memang luar biasa, Bear. Asal jangan kamu tanyakan soal matematika, aku akan mati berdiri mengerjakannya.” Itu benar. Jika buka prestasi yang ia bawa, Sean mungkin harus mengulang mata pelajaran matematika. Pun, jika ia tidak sekamar dengan Bear, mungkin nilai matematiknya akan semakin memburuk.
“Kamu tidak seburuk itu, Sean.”
“Aku lebih buruk dari yang kamu duga, Bear. Saat ujian matematika, aku menggunakan rumus jajargenjang untuk mencari luas trapesium. Memalukan, aku salah di soal anak SD.”
Bear terkekeh. Kalau Sean membenci matematika, Bear justru menyukainya.
Ketika sibuk dengan urusan masing-masing, ponsel Bear berbunyi. Dia terkesiap, lalu langsung melihat nama Larissa sedang memanggil.
“Iya Larissa ada apa?”
“Loudspeaker, Bear!”
Bear lalu menyalakan pengeras suara panggilannya.
“Sean, Bear. Ge menyebar rumor kalau Andrew sudah ditumbalkan oleh sekolah, dan sekarang dia membawa nama kita bertiga!”
Sean sontak menegakkan kepalanya. “Mengapa jadi melibatkan kita?”
“Dia bilang kalau kita sudah bekerja sama dengan sekolah. Makanya ketika Andrew mengamuk, kita nekat di dalam kelas. Dia bilang bahwa kita di sana untuk memenuhi perjanjian sekolah dengan roh jahat.” Jika kondisinya lebih baik, mungkin Sean akan terbahak mendengar istilah roh jahat.
“Perjanjian bagaimana? Punggungku cedera dan dia masih berani bilang begitu.”
“Katanya itu hanya pengalihan isu. Masalahnya lagi, Ge meretas situs web sekolah dan berita itu tersebar ke seluruh penjuru dunia.”
“Hah?!” Sean dan Bear berseru tertahan.
Sean buru-buru membuka situs web sekolah, tetapi ia tidak menemukan apa yang Larissa bilang.
“Tidak ada, Larissa,” ucap Bear.
“Mungkin sekolah sudah memblokirnya, tetapi itu sedang hangat di sosial media. Sebagian orang mengatakan bahwa berita itu penuh halusinasi, tetapi ada juga yang percaya dan mendukung Ge.”
Bear menyeka anak rambutnya. Mengapa masalah konyol itu bisa begitu menghangat. Apa orang-orang sudah kehabisan topik.
“Jadi apa yang harus kita lakukan? Aku sudah jengah dengan tingkah Ge. Dia sudah keterlaluan.” Sean tampak sebal, terlihat dari tautan alisnya juga bibirnya yang mengerucut.
“Kita diamkan saja rumor ini berlalu,” jawab Bear berusaha tenang.
“Mana bisa. Selama ini Ge bicara tanpa ada pendukung apa pun. Tetapi sekarang, keadaan Andrew cukup menjelaskan bahwa ada yang tidak beres di sekolah ini. Bear ....”
“Ya?”
“Cari tahulah tentang kemampuanmu. Mungkin dengan begitu kita jadi tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kita juga tahu akan berpihak pada siapa. Sekolah atau Ge?”
Bear mematung. Apa yang dikatakan oleh Larissa ada benarnya. Namun, dia masih belum bisa mengontrol kemampuannya. Terlebih lagi dia masih dipenuhi keraguan. Apa mungkin seseorang bisa membaca pikiran orang lain? Atau itu hanya imajinasinya?
“Ini terdengar konyol, tetapi juga mengkhawatirkan,” celetuk Sean. “Oh Anna, buatkan mimpi untukku malam ini, aku ingin bertanya pada diriku di masa depan.” Sean menjatuhkan kepalanya di atas tempat tidur, membiarkan matanya menatap langit-langit.
***
Seorang siswa yang bersekolah di Laminad Boarding School mendadak brutal dan membantai semua yang ada di kelasnya. Siswa ini juga sempat membuat keributan di ruang pengambilan makanan asrama. Siswa berinisial AN ini selalu meneriakkan ‘Bunga Edelia’. Ini jelas mengindikasikan sesuatu misteri berkaitan dengan bunga ini.
Beberapa tim rahasia juga menemukan bercak darah di lantai lima gedung mati, juga batang tanaman yang sudah mulai membusuk. Diduga, batang tanaman ini adalah batang bunga edelia yang dimaksud. Apa ini ada kaitannya dengan siswa kebanggaan sekolah yang dihukum di gedung mati tempo hari?
“Mereka benar-benar berbahaya. Pantas saja mereka selalu menentang Ge dan mendukung sekolah. Ternyata benar, mereka anteknya.”
“Harus berapa banyak korban yang ditimbulkan?”
“Teman sekamarku mulai pendiam belakangan ini, aku khawatir dia akan berubah seperti Andrew.”
“Dulu aku respek dengan mereka bertiga, sekarang aku benar-benar khawatir.”
Dengung percakapan mulai terdengar begitu mereka menginjakkan kaki di gedung sekolah. Semua mata seolah terarah ke mereka bertiga. Bahkan setelah berita itu diblokir, desas-desus yang terjadi terus merebak dan mengusik telinga mereka.
“Lihat! Mereka terdiam seperti anak sapi tercebur, mereka pasti merasa tidak nyaman.” Yang bicara ini adalah salah satu anggota dari gengnya Ge. Lelaki berkupluk dan berkumis hitam ini sangat tidak sesuai dengan mulutnya yang lentur. “Oh tidak, kami ketahuan. Oh tidak, kedok kami terbongkar.” Mereka lalu tertawa, tak luput Ge yang menyeringai merendahkan.
Koridor kelas mereka mendadak terasa sesak dan sempit, Bear dan teman-temannya sudah berusaha untuk tidak menjawab apa-apa. Namun, orang-orang terus memancingnya.
“Diam dan tenang, kita tidak salah.” Bear berbisik kepada dua temannya. Dia mungkin yang paling menahan murka sekarang.
Bruk! Bear jatuh tersungkur ke lantai.
“Bear!” Sean dan Larissa refleks membantu Bear. Mereka dapat melihat Ge yang tertawa senang melihat mereka kepayahan.
“Gunakan matamu kalau jalan, jangan menabrak kaki orang lain! Sudah buta hati, buta mata juga.”
Ini tidak benar. Mengapa orang-orang tidak ada yang membela mereka? Mengapa semua orang percaya dengan berita omong kosong dari Ge?
“Ge, kamu terus menerus menuduh kami tanpa bukti. Tetapi untuk kali ini, sumpah, kalian keterlaluan!” Sean berteriak, seraya membantu Bear berdiri.
“Kamu tidak apa-apa, Bear?” Larissa berbisik pada Bear.
“Aku baik-baik saja, Larissa.” jawab Bear pelan.
Ge terlihat tidak peduli dengan apa yang dirasakan oleh Bear, Sean, dan Larissa. Namun, dia merasa lelah memperpanjang urusan ini. Ia lantas meninggalkan koridor kelas, membiarkan anak-anak lain menghakimi Bear dan teman-temannya melalui tatapan mereka.
***
Pembelajaran di kelas hari ini terasa satu tahun, lama sekali. Meskipun mereka bertiga memang tidak begitu akrab dengan anak lain, tetapi kali ini rasanya sangat canggung. Mereka meyakini kalau apa yang dikatakan Ge terlalu omong kosong untuk dipercaya oleh orang lain. Pasti ada sesuatu lain yang mereka tidak ketahui.
Begitu bel pulang berbunyi, mereka bertiga langsung melarikan diri dari gedung sekolah. Mereka seperti tawanan perang yang dibebaskan.
“Aku tidak tahan. Rasanya ingin meledak.” Sean tidak berlebihan saat dia bilang ingin meledak. Itu rasanya lebih baik daripada dihadapkan pada situasi seperti ini.
“Aku benar-benar ingin merahasiakan identitasku menjadi anonim. Aku tidak menyukai ini.”
“Kalian berhentilah mengeluh. Mau membeli minuman lagi di pusat perbelanjaan?” Larissa juga merasa kesal tetapi ia tidak mau terlalu berlarut di dalamnya. Gadis itu tidak suka menunjukkan emosi. “Aku akan membeli pupuk juga.”
“Tamanmu masih bermasalah?” Sean bertanya.
“Iya. Makanya ayo, kita bisa minum es di salah satu kafe. Otak kalian butuh suasana penenang. Kita butuh hiburan.”
Ide Larissa tidak buruk. Nongkrong di kafe untuk saat ini mungkin pilihan yang baik.
Mereka pun bergegas menuju pusat perbelanjaan yang terletak di sebelah tenggara kawasan LBS. Itu seperti sebuah mall yang terdiri dari banyak gerai. Ada gerai supermarket, kafe, tempat bermain, karaoke, dan kolam renang. Usai menemani Larissa membeli sekarung kecil pupuk, mereka mampir di salah satu kafe. Di bagian depan tertulis LBS Cafe. Sebelum masuk Larissa harus menitipkan barang belanjaannya di loker penitipan. Setelah itu barulah mereka mengambil salah satu meja kosong yang agak jarang ditempati pengunjung lain.
Pusat perbelanjaan ini bukan hanya didatangi oleh siswa LBS, tetapi masyarakat luar terkadang juga mampir untuk sekadar menghibur diri. Namanya juga fasilitas umum.
“Bear. Apa kamu berhasil?” Larissa akhirnya yang pertama kali membuka obrolan.
Saat Bear akan membuka mulut, seorang pelayan datang bersama nampan. Pelayan dengan mini dress hitam dan celemek putih berlisu itu membawakan minuman yang mereka pesan.
“Ah terima kasih.” Sean mengambil ice bubble coffee miliknya. “Sangat menggugah. Baik Larissa, Bear, lanjutkan obrolan kalian!”
Bear mendelik melalui balik kaca matanya.
“Jadi bagaimana, Bear?”
Yang ditanya hanya mengangkat alisnya sekejap lalu mengaduk minuman kopi dinginnya. Jangan tanya nama minumannya, Bear hanya memesan kopi s**u dengan krim kocok dingin. “Berhasil.”
Mata Larissa berbinar. Ada pun Sean dia tersenyum senang mendengarnya.
Tadi malam, mereka bertiga merencanakan sesuatu untuk mengetahui isi pikiran Ge. Bear adalah pencetusnya. Dia ingin mengetahui apa yang Ge rencanakan dan bagaimana ceritanya kabar burung itu begitu dipercaya oleh orang-orang. Alhasil disusunlah sebuah rencana yang mengharuskan mereka tetap diam saat dipancing emosinya di sekolah. Alasannya, Bear ingin menangkap informasi lebih banyak melalui mata orang-orang di sana. Terlalu banyak keributan hanya akan membuat konsentrasinya terganggu. Makanya mereka melakukan hal ini. Kalau bukan karena hal ini Bear sudah menghajar wajah mereka semua dengan tangannya.
“Ge memikirkan banyak hal dalam satu waktu. Tetapi aku sempat melihat kalau Ge hanya ingin kita menyerah.”
Menyerah? Sean dan Larissa kembali dihadapkan dengan topik yang membingungkan. “Menyerah untuk apa?”
“Aku tidak tahu secara pasti. Tetapi aku rasa dia ingin kita mengakui argumennya selama ini, Sean.”
“Bahwa sekolah jahat?”
Anggukan Bear adalah jawaban atas pertanyaan Sean. Lelaki berkaca mata itu lalu mengisap minumannya sejenak.
“Aku juga melihat sedikit bayangan bahwa mereka meyakinkan orang-orang mengenai rumor ini berdasarkan keterangan dari petugas kesehatan yang kemarin membawa aku dan Sean.”
Larissa mengingatnya. Saat kejadian bunga misterius itu, Sean dan Bear kehabisan tenaga. Ia akhirnya meminta bantuan petugas kesehatan untuk membawa dua temannya kembali ke asrama.
“Sebentar, aku coba susun dulu. Petugas kesehatan menjelaskan kondisi kalian terakhir kali, lalu Ge bersama gengnya meninjau lokasi tempat kita bersih-bersih. Dia menemukan bercak darah bekas luka Sean juga bangkai tanaman yang sudah mati. Mereka menyebarkannya melalui sosial media bersama bukti foto lokasi kejadian. Orang-orang percaya. Apa begitu?”
Sejauh ini argumen Larissa bisa diterima.
“Aku tidak bisa menyimpulkan apa pun. Karena pikiran Ge benar-benar sulit ditebak. Apalagi aku juga belum tahu apakah bayangan yang muncul itu valid atau tidak.”
Bear benar. Mereka tidak bisa sepenuhnya percaya pada kemampuan yang ia rasakan karena kemampuan itu memang belum diuji coba. Mereka akan terus mencari tahu mengenai kemampuan Bear. “Bear, pulang dari sini kita coba validasi kemampuanmu.” Sean menepuk punggung tangan Bear dengan maksud memberi dukungan. Ia juga tersenyum meyakinkan. Semua masalah pasti akan berlalu. Dan, semua kendala pasti ada solusinya.