Larissa Si Pahit Lidah
Bu Aida baru keluar kelas setelah memakan lima belas menit waktu istirahat. Hampir semua muridnya jengkel begitu wanita itu keluar ruangan. Ini namanya kezaliman, membunuh hak mereka untuk menyantap semangkok bakso di kantin, atau sekadar mengisap satu gelas es jeruk. Sean menutup pintu kelas dan menyuruh teman-temannya diam. Ini trik lama yang mereka gunakan untuk mengusir guru yang akan mengisi kelas selanjutnya. Dengan mengunci pintu dan diam, guru akan mengira pembelajaran di kelas ini belum selesai sehingga akan memutuskan pergi beberapa waktu.
“Itu tidak sopan, Sean.”
Lelaki berbadan kecil dan berkulit putih itu memanjangkan lehernya untuk melihat siapa yang berbicara. “Salahkan Bu Aida yang mengambil waktu baca novelku.” Seaniel lalu duduk kembali dan membaca buku karangan Paulo Ceolho berjudul The Alchemist versi terjemahan bahasa Portugis. Sebuah informasi kecil, Sean memiliki hampir satu lusin buku ini dalam berbagai bahasa. Setiap ditanya alasannya membeli satu buku yang sama dalam bahasa yang berbeda, Sean selalu berkata, “Aku menemukan karakter yang berbeda dalam sebuah cerita yang sama saat bahasa yang digunakannya berbeda.”
Bear, lelaki yang menegur Seaniel barusan, hanya menggelengkan kepalanya. Dia lalu beranjak dan membuka pintu kelas. “Kita sekolah dengan gratis, setidaknya kita membayar sekolah dengan sikap baik kita.”
Sean hanya mengedikkan bahunya saat Bear membiarkan cahaya matahari berteduh di dalam ruang kelas. Teman-teman lain di kelasnya tidak banyak bicara, mereka tidak berani mencampuri urusan Bear. Oh, salah. Mereka tidak pernah ikut campur urusan tiga siswa terbaik di sekolah ini.
Begitu Bear hendak kembali duduk di bangkunya, datang seorang perempuan berambut ikal yang masuk ke dalam kelas. Namanya Larissa. Dia sebenarnya sangat disiplin. Keterlambatannya hari ini pastilah keterlambatan yang terhormat. Misalnya terlambat karena membantu guru menyusun rencana pembelajaran atau konfirmasi pendaftaran lomba melukis.
“Ada guru, tidak?”
Larissa hanya menggeleng dan meletakkan tasnya di kolong meja.
“Memangnya Pak Anto ke mana?” tanya Sean sekali lagi. Ia rela memutar kepalanya ke bangku belakang untuk berbicara dengan Larissa.
“Sepertinya kehujanan di jalan.”
Sean mengerutkan hidungnya mengingat langit tengah terang benderang saat ini.
Bear membawa buku matematikanya ke meja depan lalu duduk di sebelah Sean. Mereka memang aslinya teman sebangku, hanya saja sering bertengkar untuk masalah sepele.
“Hujan apa? Orang terang begini—“
“Helm, helm! Yang menaruh helm di parkiran buruan ambil! Mau hujan!”
Satu per satu anak di sana berdiri lalu berlarian ke luar kelas setelah Andrew, anak yang hobinya duduk bergelantungan di jendela berseru. Dalam hitungan detik hujan deras turus. Langit yang semula terang seperti disemprot dengan tinta gurita hingga menghitam. Seaniel menatap Larissa dengan heran. “Benar-benar hujan?”
Larissa menggerakkan bola matanya ke kiri dan kanan, lalu memutuskan menggeleng. “Kebetulan, mungkin.”
“Bagaimana bisa kebetulan. Ini bukan kali pertama kamu menebak dengan benar.”
“Ya, terus aku harus bilang apa?”
“Bilang kalau kamu bisa memprediksi kematiannya juga.” Celetukkan Bear mengundang tatapan bengis dari Sean. “Lah, memangnya salah? Kamu yang selalu bilang kalau Larissa adalah titisan Jayabaya. Dan berkata kalau dia mungkin bisa menebak celana dalam yang akan kita kenakan nanti malam.”
Mata Larissa melotot. “Kalian suka membicarakanku?!”
Bear menutup mulutnya rapat-rapat saat Sean menginjak sepatunya dengan keras.
“Akhirnya aku tahu kelakuan kalian. Sangat mengecewakan.”
“Ya maaf,” sahut Sean. “Bear yang mulai duluan.”
“Bisa-bisanya menyalahkan anak ayam yang baru lahir.”
Larissa memutar bola matanya dengan malas. Malas dengan percakapan tidak penting ini.
“Jadi Larissa, apakah akan ada guru?” Itu adalah pertanyaan utama Seaniel pagi ini. Alasannya satu, dia ingin menyantap mietiaw goreng di kantin Bu Adi. Hujan-hujan begini hampir tidak ada satu spesies Homo Sapiens pun yang menolak makanan seenak ini.
“Satu jam pelajaran, apa cukup? Kalau menurutmu cukup, aku akan ikut.”
“Wow, lihat Bear! Dia menawarkan diri untuk makan bersama dua laki-laki paling eksis di sekolah.”
“Jangan senang dulu, setelah makan kalian harus mengganti celana dalam kalian.” Usai mengatakan kalimat itu, Larissa beranjak dan meninggalkan dua orang laki-laki ini dengan rasa bingung.
***
Bear menatap teh hangat di hadapannya yang beradu dengan aroma mietiaw milik Sean. Larissa menusuk tahu balado miliknya dengan lidi. Kantin Bu Adi selalu ramai, apalagi kalau sudah hujan begini. Suara rintik hujan yang jatuh pada tanah melantunkan mantra yang membuat perut terasa lapar dua kali lipat.
“Kalian pernah masuk ke area gedung terlarang?”
Segerombolan siswa yang suka cari muka mengobrol di bangku seberang. Mereka adalah sekumpulan laki-laki penyebar berita bohong yang hobi membuat satu sekolah panik. Mereka pernah menempel selembar kertas di mading yang mengungkapkan bahwa kepala sekolah mereka adalah penyihir hanya karena identitasnya yang begitu dirahasiakan. Adalah Laminad IV, kepala sekolah Laminad Boarding School yang hanya muncul di depan siswanya ketika amanat pembina upacara. Selebihnya ia menghabiskan waktu di gedung lantai lima, di sebuah ruangan yang entah seperti apa rupanya. Tidak ada satu siswa bermasalah pun yang diundang ke ruangannya untuk menandatangani surat perjanjian. Semua diselesaikan oleh guru, termasuk perihal hukuman dan surat peringatan. Yang mereka tahu, Laminad IV mempunyai tanda tangan yang rumit. Hal ini cukup mengindikasikan bahwa pria itu memiliki selera seni yang baik.
”Memangnya ada?” Sosok yang lain pura-pura bertanya. Dengan suara nyaring milik mereka, seisi kantin terpaksa mendengar berita sok misterius itu. “Yang dijadikan markas sekte penyembah Laminad IV, ya?”
Bear menyedot minumannya. “Mulai menyebar berita. Mereka tidak sadar bahwa sosok yang mereka bicarakan adalah orang yang berjasa bagi kita. Tidak tahu terimakasih.”
“Kamu tidak tertarik untuk membuktikannya?” tanya Sean. “Kita mungkin bisa bergabung dengan sekte itu dan dapat uang insentif.”
Larissa melempar Sean dengan satu buah tahu baladonya. “Bisa-bisanya memikirkan uang insentif. Kalau Laminad tahu ada yang membicarakannya, kita bisa dikeluarkan.”
Bukannya marah, Seaniel malah mengambil tahu yang bertengger di kepalanya dan memasukkannya ke dalam mulut. “Tapi, kan, uhuk.”
“Nih, minum.”
Sean langsung menerima gelas dari Bear dan meminum teh hangatnya.
“Tapi kan kalau kita jadi pengikutnya, dia bakalan senang.”
“Senang bagaimana? Kalau dia senang seperti itu, sejak awal kita sudah jadi pengikut sektenya.”
Seaniel kemudian mengangguk, mengamini perkataan Bear.
“Eh katanya tiga siswa terbaik itu membayar mahal untuk dapat perlakuan spesial. Mereka hanya siswa titipan, lewat jalur belakang.”
Pembicaraan grup penyebar berita palsu itu mulai berkembang menjadi sesuatu yang menyebalkan. “Orang tuanya membayar tumbal yang besar sehingga anaknya bisa di posisi ini.”
Larissa dan Sean memilih diam dan menikmati obrolan bodoh dari mereka. “Orang-orang iri,” bisik Seaniel.
Namun, Bear tidak suka berdiam diri. Dia mulai mengambil ancang-ancang untuk membalas. “Orang tuaku memang memakai tumbal, tunggu saja tanggalnya, ya. Paling tidak sampai seminggu.” Bear mendengus angkuh sebagai bukti kalau ia tidak terganggu sama sekali.
“Jangan ditumbalkan, Bear. Iblis mana mau menerima orang seperti mereka. Masa raja iblis mau ditumbalkan ke iblis. Kan, kasihan.”
Byurrr! Salah satu anggota mereka menyiram s**u cokelat kental ke tubuh Sean. Membuat sekujur tubuhnya kotor. “Oh begini cara mainnya? Pakai siram-siraman? Culun sekali.”
“Jangan cari gara-gara sama kita!”
“Lah, siapa yang cari gara-gara? Kalian duluan yang mengusik kami. Kok marah?”
Lelaki tadi, namanya Ge, dia menarik kerah baju Sean hingga kakinya nyaris terbang. “Jangan sok berani. Badan ringkih sepertimu tidak akan menang.”
“Buktinya kamu emosi. Emosi tanda kalah.”
Bear berdiri, menyuruh Ge melepas cengkeraman leher Sean. “Jangan bikin keributan! Ini sekolah!”
Ge menyengir menjengkelkan. “Peduli apa? Kalian cuma anak cupu!” Ia melempar tubuh Sean hingga jatuh terjerembab di antara kursi-kursi. Larissa membantu Sean untuk bangkit setelah hanya diam menatap keributan. Sebagai seorang perempuan, ia tidak berani melakukan perlawanan apa-apa.
Ge menepuk-nepuk bahu Bear dengan tingkah merendahkan. Lalu tangannya dengan cepat menarik gagang kacamata Bear dan melemparnya ke lantai. Saat itu darah Bear mulai mendidih menyaksikan lensa kacamatanya rontok. Terlebih ekspresi Ge yang sok tekejut. “Ups, salah.”
Bugh!
Sebuah bogeman melayang tepat di rahang Ge. Ge tumbang dan teman-temannya mulai berdiri untuk membantunya bangkit.
“Ups, salah.” Bear lalu balik kanan dan menginjak kacamatanya sendiri hingga makin hancur. Sebelum meninggalkan lokasi, Bear sempat berkata. “Besok-besok mau injak badan kamu seperti kacamata ini juga. Hahahaha!”
***
Sean mengganti pakaiannya di toilet laki-laki. Sedangkan Bear menumpang salah satu bilik toilet untuk buang air kecil. Ketika Bear membuka pintu toilet, tiba-tiba sepatunya menginjak beberapa butir kelereng dan membuatnya jatuh terduduk. Lantai koridor toilet entah sejak kapan digenangi oleh banyak air dan seketika celananya basah. “Sial!” Bear lalu mengambil satu butir kelereng berwarna putih dengan logo khas grup pembuat berita bohong. Gambar bibir dan sebuah kunci sudah cukup menjelaskannya.
Tak berselang lama, Seaniel keluar dari toilet dan melihat Bear terduduk. “Lagi apa? Berdoa?”
“k*****t. Aku dijebak sama anak grup penyebar berita bohong.”
“Anak grup Secret Info?”
“Hmmm. Tolongin!” Bear mengulurkan tangan, dengan cepat Seaniel membantunya walaupun sampai tertawa tak jelas. “Malah ketawa.”
“Ya habis lucu. Kamu mau bisa-bisanya cari gara-gara sama mereka. Mereka kan begitu.”
Bear menepuk celananya yang kotor. “Biarin ah, mau ganti pakaian dulu.”
Usai berganti pakaian, Sean dan Bear kembali ke kelas dan meletakkan tas di dalam loker. Teman-temannya sudah siap mengikuti pelajaran selanjutnya, dapat dilihat dari posisi duduk sambil bertopang dagu. Beberapa bahkan sudah siap untuk tidur di dalam lemari besar belakang kelas. Sangat konyol hingga membuat Bear berpikir bahwa mereka adalah titisan doraemon.
“Lama sekali. Ada apa?”
Dari bangku depan, Sean dan Bear memutar kepalanya untuk menatap Larissa. Lalu Sean menjawab, “Aku dan Bear benar-benar mengganti celana dalam barusan.”
***
Laminad Boarding School adalah sebuah sekolah asrama paling terkenal di negara ini, bahkan namanya juga sudah dikenal hingga mancanegara. Sekolah ini dipimpin oleh seorang kepala sekolah yang dipanggil Laminad. Menurut buku database sekolah, setidaknya sudah ada empat Laminad yang memimpin sekolah ini.
Sekolah yang terletak di kawasan khusus ini cukup jauh dari pemukiman warga. Namun, segala fasilitas sudah tersedia dengan sangat lengkap. Di pusat kawasan, gedung sekolah lima lantai berdiri anggun dengan ribuan kaca jendela. Dinding putihnya tampak bersih tidak berani dijamah oleh debu, lantai keramiknya sangat licin dan berkemilau, sampai-sampai sekolah membuatkan sepatu khusus untuk setiap siswa sebagai upaya menghindari kecelakaan konyol.
Di sebelah timur laut, gedung asrama berdiri. Ada asrama putra dan putri, pembatasnya adalah lapangan voli yang sering mereka gunakan untuk berolahraga. Lalu di sebelah tenggara ada pusat perbelanjaan, tempat anak-anak asrama membeli keperluan selama menjadi siswa. Di sana mereka bisa bermain bersama teman, makan, hingga sekadar jalan-jalan.
Di sebelah barat daya gedung sekolah ada perpustakaan umum, di halamannya ada danau buatan yang biasa digunakan banyak anak untuk bersantai menatap matahari tenggelam. Sebenarnya di gedung sekolah juga ada perpustakaan kecil, tetapi buku yang tersedia sangat terbatas, hanya digunakan kalau mereka tidak diperkenankan untuk berburu literatur di luar gedung sekolah. Kemudian di sebelah barat laut ada area gedung tua yang tidak terpakai. Di sana ada sebuah menara yang entah fungsinya untuk apa. Area ini adalah area yang paling jarang didatangi oleh anak-anak.
“Sore main voli sama teman-teman, ya, Sean.” Bear mengingatkan selagi mereka berjalan kaki menuju area asrama.
Sean hanya mengangguk sambil menunduk, enggan menatap matahari yang bersinar terik sekali. Beberapa temannya menegur selagi mengemudikan kendaraan mereka.
“Nanti aku lihat dari atas, jadi mainnya yang benar. Jangan bikin malu,” celetuk Larissa.
“Dih, ngatur.”
Larissa mengabaikan jawaban jengkel dari Sean. “Kalian tahu?”
“Tahu apa?” Bear berusaha bersikap baik dengan merespons pertanyaan Larissa.
“Tanaman yang aku tanam di vertical garden malah mati. Aku benar-benar bingung bagaimana cara merawatnya.”
Sean dan Bear hanya berdeham untuk menjawab keluhan Larissa. Mereka sangat tidak tertarik dengan topik itu.
“Menyebalkan,” cemberut Larissa. Ia lalu berjalan lebih cepat meninggalkan Bear dan Sean yang berjalan dengan lemas.
“Jangan lupa piket meja makan malam ini!” teriak Bear sebelum Larissa menghilang lebih jauh.