Bear bangun pagi-pagi sekali untuk memunguti baju kotor di belakang pintu, sedangkan Sean masih terbaring tak berdaya dengan wajah ditimpa guling. Dengan gerakan cepat, Bear menarik selimut Sean dengan tangannya yang tidak memegang gumpalan baju. Seketika Sean mengerjap dan bersuara serak. “Ini masih pagi.”
“Aku akan ke bawah untuk mengantar pakaian kotor, pakaianmu ada yang kotor apa tidak?”
“Semuanya kotor, tolong sekalian.”
Jika Sean bukan temannya, Bear sudah mencelupkan kepala anak itu ke dalam baskom kamar mandi. Namun, Bear menggunakan energinya untuk memasukkan pakaian kotor ke dalam keranjang hijau dengan label nomor 201, nomor kamar mereka. Ia lalu menarik gagang pintu dan menghilang dari pandangan Sean.
Koridor asrama masih cukup sepi, tetapi beberapa pintu sudah terbuka dengan menguarkan aroma segar dari pengharum ruangan pemiliknya. Beberapa ada yang menyapa Bear bahkan ada yang meminta lelaki itu untuk memelankan langkah.
“Bear aku ikut!” seru Andrew dari kamarnya. Ia lalu keluar bersama keranjang dengan tumpukan baju yang lebih tinggi. Dia tinggal bersama dua orang siswa lainnya.
“Kamu lagi yang mengumpulkan pakaian?” tanya Bear.
“Iya, mereka bilang kelelahan. Kamu sendiri?”
“Biasa, Sean masih tidur.”
Andrew tidak merespons lain kecuali dengan anggukan. Bukan hal yang mengherankan jika di suatu kamar, ada banyak karakter di dalamnya Bahkan terkadang ada yang dirugikan di sana. Andrew sendiri adalah seorang ketua kelas yang baik dan tidak pernah keberatan untuk mengambil tugas bahkan yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang lain.
Tiba di tempat laundry, mereka menyerahkan keranjang mereka dan menerima struk pengambilan. Andrew mengajak Bear untuk ke lantai dasar, mengambil jatah sarapan mereka.
Sudah ada beberapa anak yang mengambil piring dan gelas, mereka berbaris lengang untuk mengambil jatah sarapan. Bear dan Andrew memilih menu bubur ayam dengan kuah sup jagung lalu kemudian duduk di salah satu bangku kosong.
“Aku dengar kalian tidak piket meja, ya, tadi malam?”
Pertanyaan pertama Andrew dibalas Bear dengan menaikkan alisnya santai. “Aku kelupaan, Sean dan Larissa juga lupa.”
“Ge marah-marah kepadaku karena ia dan anak lain harus mengerjakan tugas kalian. Dia bersumpah tidak akan membiarkanmu mendapat hukuman yang ringan.”
Bear memaklumi, sejak awal Ge dan teman-temannya tidak menyukai mereka karena dianggap terlalu dispesialkan oleh sekolah. Bear menganggap ini semua sebagai bentuk rasa iri. “Biarkan dia, lagi pula kami akan dihukum setimpal.”
“Iya, kamu benar. Tetapi Ge tidak akan tinggal diam jika hukuman yang kalian terima terlalu ringan.”
Tiba-tiba seseorang meletakkan mangkok buburnya di sebelah Bear. Orang itu menyengir tak berdosa sambil mengucapkan kalimat selamat pagi dengan tarikan bibirnya.
“Ge tidak akan bisa berbuat apa pun kepada kami di sekolah ini, Andrew,” jawab Sean santai lalu memasukkan buburnya ke dalam mulut. “Dia hanya bermulut besar tetapi aslinya pengecut.”
Sean tidak menyadari bahwa beberapa meter di belakangnya sudah berdiri sosok Ge dengan tatapan murka.
***
Usai sarapan, mereka kembali ke kamar dan bersiap-siap untuk sekolah. Selagi menunggu Bear, Seaniel mengemaskan buku pelajaran mereka. Sean cukup merasa bersalah sudah terlalu banyak merepotkan Bear, makanya dia berinisiatif untuk mengemaskan perlengkapan sekolah Bear juga.
“Sean, pulang sekolah temani aku ke pusat perbelanjaan, ya. Stok makanan kita habis.” Bear berkata sambil mengelap rambutnya dengan handuk. Ia sudah mengenakan baju dalam warna putih dan celana bahan seragam sekolahnya.
Sean hanya berdehem menjawab ajakan Bear. Dia lalu mengambil handuknya yang menggantung di palang logam sambil membawa beberapa pakaian ganti.
Pukul tujuh mereka sudah bersiap berangkat ke sekolah. Mereka menunggu Larissa di lapangan voli untuk berangkat bersama. Larissa turun sambil mengibaskan rambutnya yang masih basah. Tidak ada wajah gelisah di wajahnya meskipun ia tahu hari ini bakal ada hukuman yang menanti. “Ayo, berangkat!”
Tiba di sekolah mereka langsung menaiki lantai dua, tetapi tangan mereka mendadak ditarik masuk ke dalam gudang. Larissa terduduk dan mengaduh kesakitan saat pantatnya terhempas ke kardus-kardus bekas.
Ge dan gengnya menatap ketiganya dengan tajam. “Enak, ya, bolos piket bisa datang ke sekolah tanpa merasa berdosa.”
Bear mengernyit. “Maksudmu apa? Kami juga siap menerima hukuman dari sekolah karena membolos. Jadi tidak usah repot menghakimi.”
“Bukan masalah dihukum atau tidak dihukum, Bear, aku mempermasalahkan sikap kalian yang sewenang-wenang terhadap tugas. Kalian merasa hebat jadi pusat perhatian di sekolah?!”
“Punya masalah apa kamu sama kita? Kamu iri? Jangan berlaku menyedihkan begini, Ge.” Sean ikut ambil bersuara. “Jangan membesarkan masalah kecil.”
Ge terdiam. Sejauh ini sebenarnya dia belum memahami betul atas dasar apa dia membenci Bear, Sean, dan Larissa. Hanya saja baginya membenci tidak butuh alasan yang jelas karena mungkin saja alasan datang terlambat. Mengikuti perasaan boleh jadi adalah pilihan yang tepat sebelum menemukan alasan-alasan dalam melakukan sesuatu.
“Kalian mungkin bilang aku terlalu membesarkan hal kecil. Tetapi semoga kalian menyesal.”
“Semoga kamu juga menyesal,” balas Sean sengit.
Ge menggertakkan giginya saat melihat Sean. Sudah dua kali Sean berani melawannya. Pertama tadi pagi saat di sarapan, dan yang kedua adalah sekarang. Namun, Ge tidak berbuat apa-apa. Dia justru mengajak teman-temannya untuk meninggalkan gudang itu sekarang.
***
Pembelajaran berlangsung seperti biasa hingga tak terasa waktu istirahat tiba. Andrew yang baru keluar beberapa menit kembali ke kelas dan menghampiri meja Bear dan Sean.
“Heh, kalian disuruh ke lapangan memanah sekarang. Ada apa, ya? Seleksi lomba?”
Bear dan Sean sudah paham kondisinya sekarang. Begitu juga Larissa. Mereka bergegas meninggalkan kelas tanpa menjawab pertanyaan Andrew.
Andrew menatap kepergian temannya dengan senyum miris. Miris karena pertanyaannya tidak dijawab.
“Mengapa di lapangan memanah? Menurut kalian apa hukuman kita?” Larissa berjalan di depan Bear dan Sean sehingga ia harus memutar lehernya beberapa radian.
“Mungkin Sean akan berdiri di depan dengan sebutir apel diletakkan di atas kepalanya. Lalu kita disuruh menembak apel itu,” jawab Bear asal yang dihadiahi toyoran dari Sean.
Bear hanya tertawa dengan leluconnya yang tidak jelas.
Mereka menuruni satu per satu anak tangga. Begitu tiba di lantai dasar mereka segera berbelok menuju lapangan sekolah. Di sana ada beberapa kawasan olahraga. Ada lapangan lompat jauh yang berhadapan dengan lapangan lempar lembing. Lalu di sebelahnya ada lapangan menembak dan memanah. Bear, Sean, dan Larissa mempercepat langkah untuk menghadap Pak Anto, guru yang kemarin tidak jadi masuk karena kehujanan.
“Saya Bear, Pak.”
“Saya Seaniel.”
“Ini saya Larissa, Pak.”
“Saya sudah kenal,” sahut Pak Anto datar dengan wajahnya yang kotak. “Tahu alasan dipanggil ke sini?”
Mereka tahu alasannya apa, makanya mereka mengangguk. Pak Anto lalu mulai mengambil beberapa anak panah dan busur, lalu mengajak ketiga muridnya untuk mendekat pada papan sasaran. Papan itu berbentuk lingkaran yang dibagi menjadi lima bagian, membentuk potongan kue warna-warni dengan nomor satu sampai lima.
“Nomor satu adalah gedung sekolah, dua adalah asrama, tiga adalah pusat perbelanjaan, empat adalah gedung mati, dan lima adalah perpustakaan umum. Sampai sini paham?”
Bear mengerutkan keningnya. Apa yang dijelaskan Pak Anto adalah lima kawasan utama di Laminad Boarding School. Sebelum pertanyaan dalam kepalanya tersusun dengan rapi, Sean sudah menyerobot.
“Kita disuruh menembak anak panah ke sasaran, nomor yang terkena akan menjadi lokasi hukuman kami. Seperti itu, Pak?”
“Ya, sempurna. Tetapi untuk mekanismenya akan saya jelaskan. Sekarang ayo duduk.” Pak Anto duduk di kursi plastik warna birunya, sedangkan tiga muridnya tidak mendapatkan bangku. Artinya mereka harus duduk di atas rumput yang basah. Tidak masalah, mereka tetap melakukannya.
Sejak berada di bangku SMP mereka sering bermain di sini, termasuk berdiskusi mengenai lomba-lomba. Lapangan sekolah adalah tempat yang teduh, anginnya seolah bertiup dari empat penjuru. Pohon-pohon rindang mengelilingi lapangan. Matahari seolah gengsi untuk bersinar terik di sini. Ah, membahas masa lalu memang menyenangkan.
***
Kelas delapan SMP, saat kompetisi di Padova Italia.
“Jelaskan korelasi Hukum Murphy terhadap potensi di masa depan, jelaskan studi kasusnya sesuai dengan kondisi sekolah.”
Sean dan Larissa menatap Bear dengan kikuk. Pertanyaan aneh terus bermunculan, entah apa yang diinginkan oleh pihak penyelenggara.
“Hukum Murphy itu apa?” tanya Larissa malu-malu. Sean dengan gaya sok kerennya mengambil bolpoin dan menuliskan sesuatu di kertas.
“Ada beberapa hal yang disampaikan oleh Murphy, tetapi aku jelaskan satu dulu. Murphy bilang bahwa sesuatu yang salah akan benar-benar salah. Apakah kalian bisa memahami?”
Larissa memejamkan matanya sebentar, lalu mengambil alih kertas yang dipegang oleh Seaniel. “Potensi kesalahan, potensi bahaya. Murphy ingin menjelaskan bahwa sekecil apa pun kesalahan itu adalah kesalahan dan akan berdampak sebagaimana kesalahan-kesalahan pada umumnya. Tugas kita adalah meniadakan kesalahan sehingga Hukum Murphy tidak berlaku. Bukankah begitu, Sean?” Itu kalimat terpanjang yang Larissa katakan saat itu.
“Benar.”
“Lalu studi kasusnya kira-kira seperti apa?” tanya Larissa.
“Rumput di lapangan sekolah. Rumput harus selalu terpangkas rapi setiap hari, ketika satu hari dibiarkan tumbuh memanjang apa yang akan terjadi?”
“Apa?” tanya Sean.
“Mungkin begini. Bayangkan ketika bak pasir lompat jauh dijalari rumput, bayangkan jika landasan lembing ditumbuhi rumput panjang. Sistemnya bisa berubah. Begitu?”
Larissa mengangguk. “Tetapi aku belum menemukan korelasinya dengan baik. Bagaimana dengan ini. Di lapangan sekolah ada area memanah, bukan? Katakanlah aku jago memanah. Aku bisa menggunakan tangan kanan dan kiri sama baiknya. Tetapi karena aku tidak kidal, aku dominan menggunakan tangan kanan dan aku selalu berlatih menarik busur dengan tangan kanan. Ketika pertandingan ternyata aku diuji dengan tangan kiri. Bagi aku, sebenarnya bisa saja menggunakan tangan kiri. Tetapi karena kesalahan informasi yang membuat aku berlatih dengan tangan kanan, kemungkinan buruk apa yang bisa terjadi?”
“Kamu kalah karena tidak terbiasa latihan dengan tangan kiri?” Sean mengangkat telunjuk dan jempolnya ke arah Larissa.
“Yap, sekarang biar aku yang tulis.” Gadis itu lalu mulai menuliskan jawabannya pada kertas jawaban.
***
“Baik akan Bapak jelaskan mekanismenya." Pak Anto meregangkan tangannya sebelum menjelaskan. “Jadi begini, dari kalian bertiga, hanya ada satu yang berhak mencoba menarik busur tanah. Seperti yang Sean katakan, sasaran yang dikenai panah kalian akan menjadi lokasi hukuman. Bapak sudah menyiapkan detail hukuman di kartu ini.” Pak Anto mengeluarkan kartu dengan nomor satu sampai lima. Di balik kartu itu sepertinya ada penjelasan lebih lanjut seperti yang Pak Anto bilang barusan. “Oh iya, hampir lupa. Papan sasaran ini bisa diputar. Untuk memperseru permainan, Bapak akan memutar papan ini.” Pria tambun itu berdiri dan menunjukkan bagaimana papan sasaran berputar. Bear dan teman-temannya tampak meneguk ludah mereka yang terasa menyangsang.
Pak Anto kemudian memberikan lima buah kartu kepada Bear agar bisa dilihat langsung oleh mereka. Sean bergeser mendekat untuk melihat, begitu juga Larissa.
“Aku memilih ini, menyusun barang di LBS mall, kita bisa jalan-jalan dan setelah itu bisa makan bersama.” Sean tersenyum membayangkan idenya yang begitu indah. “Atau ke perpustakaan, kita bisa menyusun lalu membaca buku-buku lama atau bersantai di danau untuk menikmati matahari tenggelam.” Sayangnya apa yang Sean katakan adalah ilusi.
“Apa pun asal jangan membersihkan gedung mati. Kita bahkan belum pernah menginjakkan kaki ke sana sekali pun. Dan, dari namanya tempat itu buruk.”
“Aku setuju dengan perkataan Bear.” Larissa menekuk wajahnya karena cemas jika hukuman yang mereka peroleh justru adalah ketakutan mereka sendiri. “Tetapi perasaanku tidak berpihak pada kita.”
Bear dan Sean refleks menatap Larissa. Mereka meyakini bahwa apa yang Larissa katakan biasanya jadi kenyataan. Jika dia bicara begitu, maka ....
“Ayo kita coba saja. Bapak kasih dua kali kesempatan. Jika satu percobaan menurut kalian sudah cukup, kalian bisa segera pergi dari sini.”
Larissa lalu berbisik pada dua temannya. “Siapa yang akan melakukan ini?”
Sean balas berbisik, “Seingatku kamu pernah membuat perumpamaan bahwa kamu jago memanah. Tangan kanan dan kiri sama baiknya.”
“Itu hanya perumpamaan, Sean. Aslinya mana bisa. Kamu bisa?”
Sean menggeleng sambil memanyunkan bibirnya. Itu salah satu ekspresi paling menggemaskan yang muncul di wajah Sean hari ini.
“Aku saja.” Bear berucap yakin.
“Kamu bisa, Bear?” Larissa bertanya memastikan.
“Tidak.”
“Lah, terus?”
“Setidaknya aku tidak memiliki keraguan seperti kalian. Aku akan mencobanya.” Bear berdiri setelah meletakkan kartu-kartu itu ke atas rumput. Ia lalu menepuk celananya yang kotor lantas mengambil busur dan anak panah yang sudah disediakan.
Larissa meremas jemarinya. Dia merasa bahwa percobaan pertama Bear akan sia-sia. Jika itu benar, maka kesempatan mereka tinggal satu. Tetapi jika dugaannya salah, dan sasaran yang mereka dapatkan lumayan bagus, dia akan menarik tangan Bear dan Sean untuk segera pergi tanpa melakukan percobaan kedua.
Bear menatap papan sasaran dengan serius. Tadi jantungnya baik-baik saja, tetapi mengapa sekarang rasanya ingin meledak. Dia lantas membetulkan posisi kacamatanya dan merenggangkan kaki. Tangan kirinya mengangkat busur selagi tangan kanannya meletakkan anak panah pada tali. Dia menarik tali busur dan ....
Splas
Tali busur itu dilepaskan, tetapi tak ada anak panah yang melesat. Larissa dan Sean ternganga sedangkan Bear langsung melihat ke bawah. Anak panahnya terlepas.
Larissa menarik napas berat sekaligus mengusap wajahnya. Tinggal satu kali percobaan.
Bear melemaskan jemarinya dan membuang napas dengan mulut. Ia mengambil anak panah kedua dan meletakkannya ke tali busur.
Mulutnya komat-kamit seperti membaca doa. Setelah meyakinkan diri, Bear menarik tali busur. Lalu dengan hati-hati ia melepaskannya dengan yakin. Papan sasaran yang sudah berputar menunggu anak panah. Kemudian ....