RB - DUA BELAS

1640 Kata
Suasana taman rumah Rembulan kembali ramai sore ini. Bukan karena ada pesta lagi. Tapi karena team #SaveBiru sedang berkumpul. Ada Nala, Segara, Nara, Rembulan, Regulus, dan Biru. "Save Biru? Really? Kedengarannya sungguh menjijikkan, Segara," protes Biru. "Kau ini tidak bisa diam dan menurut saja? Kita berkumpul kan memang untuk menyelamatkan nyawamu," omel Segara. "Ya. Tapi tidak bisakah kita mengganti nama tim ini? Seriously? Save Biru ini benar-benar menjijikkan. Aku tidak sedemikian lemah sehingga kalian harus save aku." "He's kinda right. Dia semalam lompat dari lantai 2 rumah ini, dan lihat!! Dia masih hidup," timpal Regulus. "Ya, dia ditembak oleh destroyer dan dia masih disini," tambah Nala. "Harusnya kita ganti saja dengan.. Save kepala batu. See?" Tangan Nala bergerak mengetuk kepala Biru. "Knock knock. Batu kan?" "Awwh!!" pekik Biru pelan. "Nala, kenapa kau menyentuhnya?" marah Segara. Menarik tangan Nala dan mengusapnya. "Lihat! Tanganmu kan jadi tidak suci lagi," lanjutnya dengan ekspresi dibuat-buat. Rembulan tanpa sadar terkekeh geli. Begitu juga Nara. Nara malah tertawa keras. "Nara diamlah," suruh Regulus. "Bagaimana kalau tim better?" usul Rembulan. "Setuju," sahut Biru. "Ya.. Aku juga setuju. Kita akan bertarung dengan destroyer kan? It means, we have to do something better than what destroyer does, right?" imbuh Regulus. "Baiklah,  team better," kata Nala. Menengadahkan telapak tangannya. Diikuti tangan Segara yang menengadah di atas tangan Nala. Lalu Rembulan, Biru, Regulus, dan Nara. "TEAM BETTER!!" seru semuanya. "And then what will we do?" tanya Nara polos. "We'll train. Kita akan berlatih untuk bertarung," jawab Segara mantap. "Kita akan apa?" ulang Rembulan. "Berlatih," jawab Biru. "Aku, Nara, dan Regulus baru mulai kelas 10. Aku rasa kami tidak ada waktu untuk itu," kata Rembulan. "We just need your 30 minutes after school, Rembulan. And we only have 2 months before the second blue moon hits him,"Nala menjelaskan dengan lembut. "Kita harus membantu Biru, Rembulan," kata Regulus. Rembulan kembali menatap Biru. Pada kedua manik yang sebiru lautan itu. Dan dia mendapatkan jawabannya. Tentang, mengapa begitu penting untuk menjaga Biru tetap hidup? Karena di dunia yang sudah mulai hancur ini, harus ada yang menjaga agar kehancuran tidak semakin parah. Harus ada yang bisa mengendalikan dan memperbaiki kehancuran yang sudah ditimbulkan oleh kaum destroyer dan pengikutnya. "Kau sudah mendapat jawabannya?" tanya Biru. Menatap balik kedua mata Rembulan. "Ya.  Sudah kudapatkan.  Seseorang harus menjaga keseimbangan. Seseorang sepertimu," jawab Rembulan tanpa mengalihkan pandangnya pada birunya mata Biru. *** *** *** MELELAHKAN. SUNGGUH!! Rembulan kembaki memaki dalam hati. Menatap Segara dan Biru yang kini mulai mengajari Regulus dan Nara untuk memegang crossbow. Menembak dengan alat yang lumayan berat itu. Rembulan tahu dan sudah memutuskan untuk membenci s*****a keren itu. Karena apa? Berat. "Melelahkan, ya?" seru Nala. Mengulurkan minum pada Rembulan. Rembulan dengan semangat menerima kaleng minuman isotonic yang diberikan Nala. "Ini tidak seberapa. Dibanding saat aku harus berlatih mengendalikan kekuatan esku. Mengendalikan agar amarah tidak menguasaiku dan membuatku membekukan segalanya," lanjut Nala. "Dulu aku berlatih sendiri. Hanya ada aku dan--" terjadi hening. Kau sudah janji untuk tidak menyebutkan namanya, Nala. Kau sudah janji memberinya kebahagiaan. "Dulu hanya ada aku, egoku, dan emosiku. Intinya aku harus melawan diriku sendiri. Tanpe target maupun hasil yang jelas," sambung Nala. "Jangan putus semangat ya, Rembulan. Entah ini akan terdengar seperti apa di telingamu, tapi.. Dunia ini sungguh membutuhkanmu. Kau, Nara, Regulus.. Kami membutuhkan kalian." Rembulan termenung sejenak. Mengalihkan pandangannya pada Biru yang memasang raut kesal karena harus mengajari Regulus. "Why me? Why us?" tanya Rembulan. Kembali menatap Nala. Dimana Segara sudah bergabung bersama Nala di samping Nala. "Because, Boss Dixon can't hurt you," jawab Segara. Menatap Nara dan Regulus, juga Biru yang kini berjalan mendekat padanya. "Or Nara, or Regulus." "Kenapa begitu?" tanya Rembulan lagi. "Aku bertanya pada ayahku. Dan ayahku menceritakan semuanya padaku semalam," jawab Segara. Menggeser duduknya untuk Nara. Sedangkan Biru duduk di samping Rembulan bersama Regulus. "Maaf, tapi aku kira ayahmu sudah tiada," ucap Rembulan. "Memang.. Aku menanyakan ini melalui kedua mata Biru," jawab Segara. Sungguh membuat yang lain heran. Termasuk Nala. Ya Tuhan, keajaiban apa lagi yang Engkau anugerahkan pada kedua mata si Biru ini? "Kemarin adalah hari dimana aku mulai ditunjuk menjadi Druid 7 tahun yang lalu. Dan menurut mitos Druid, Druid berhak mendapatkan satu permintaan yang harus dikabulkan oleh werewolf yang dia jaga. Dalam hal ini, Biru yang harus menurutinya. Dia memberikanku kesempatan untuk menemui ayahku dalam mata Biru. Jadi aku bertanya pada ayahku." "Ayahmu menjawab pertanyaanmu?" tanya Nala. Segara tersenyum kecut. "Dia tidak menjawab. Dia menjelaskan," katanya mantap. Dan mengalirlah cerita itu. Tentang awal dari semua kehancuran ini. Tentang Boss Dixon. Tentang Destroyer. Dan tentang hal-hal lain yang mungkin akan datang dan harus mereka hadapi. *** Rembulan memang seorang gadis polos dan lugu. Tapi dia bukan gadis bodoh.  Dia tidak akan dengan mudah percaya pada sesuatu. Termasuk cerita Segara tadi.  Tapi sesuatu yang kecil di dalam hatinya, mulai mengetuk pintu-pintu lainnya di seluruh hati Rembulan.  Seakan meminta untuk percaya dan tidak meragukan.  Baiklah Rembulan. Kalau mempercayai begitu sulit. Maka terimalah. Terima saja cerita dari Segara dan penjelasan Biru dan Nala tadi siang. Tiba-tiba pikiran Rembulan mulai mengepakkan sayap. Mulai terbang. Meninggalkan raganya.  Terbang pada beberapa kejadian janggal yang pernah dia alami.  Semuanya.  *** *** *** "Karena Boss Dixon tidak bisa melihatmu," kata Biru. Menatap Rembulan lekat. "Atau melihat Nara dan Regulus. Boss Dixon memang pemimpin Destroyer. But he doesn't destroy children." "Kenapa begitu? Apa bedanya?" tanya Nala. Ah dia sungguh penasaran.  "Dulunya, Boss Dixon adalah seorang pria biasa yang mengurus sebuah panti asuhan di daerah terpencil di selatan," Segara menjelaskan. "Dia memiliki 15 anak asuh yang dia besarkan bersama adiknya, Pamela Dixon. Sebelum perang, dan daerah itu dijajah. Bukan dijajah oleh manusia, tapi oleh makluk supernatural yang paling berbahaya. They called that things The Wildest Beast." "The Wildest Beast?" ulang Regulus tidak percaya, "Adakah yang lebih mengerikan dari seorang darach?" Regulus tiba-tiba teringat sang Ibu yang berubah menjadi makhluk mengerikan.  "The Wildest Beast tidak hanya mengerikan. Tapi juga meruntuhkan segala kepercayaan orang yang berhadapan dengannya, atau hanya melihatnya. Termasuk Boss Dixon. Setelah rumahnya yang dihuni oleh anak-anak asuhnya diserang oleh Wildest Beast, dan melihat keseluruhan anak asuhnya yang dicabik-cabik oleh makhluk paling buas itu. Segala kepercayaannya tentang 'selalu ada sisi baik dari semua makhluk' seketika lenyap." "Boss Dixon sungguh marah. Dan mengutuk Wildest Beast. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk mengancurkan makhluk mengerikan itu. Demi membalaskan kematian anak-anak asuhnya. Dia dan Pamela, menemui keluarga Gevaudan, keluarga werecoyote yang tinggal di desa sebelah, yang dia dengar adalah satu-satunya keluarga yang tak gentar melawan Wildest Beast." "Setelahnya, Boss mulai mencari informasi tentang makhluk supernatural yang bersedia diajak kerjasama untuk melenyapkan Wildest Beast. Dan mengumpulkan semuanya di sebuah hutan bernama Clayton woods. Mereka menyusun strategi. Dan melancarkan strategi mereka saat Blue moon." "Singkatnya Wildest Beast dikalahkan oleh selusin keluarga supernatural yang membantu Boss. Werewolf, werecoyote, kitsune, werejaguar, kanima, dan lainnya, termasuk darach. Tapi Boss lah yang benar-benar membunuh Wildest Beast dengan pistolnya. Saat Wildest Beast mencabik tubuh adiknya." "Keadaan kembali aman. Tapi tidak dengan Boss. Dia mulai merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. You know what?" Segara menjeda penjelasannya. "Kekuatan mistis Wildest Beast merasukinya. Membisikkan hal yang tidak masuk akal. Seperti membunuh. Boss mulai gila karena kekuatan itu. Dan di suatu malam, Boss tanpa sadar membunuh sebuah keluarga yang sedang berkemah di Clayton woods. Seluruh keluarga, kecuali gadis kecil anak dari keluarga itu. Karena saat Boss melihat gadis itu,dia kembali teringat pada anak asuhnya yang dibunuh oleh Wildest Beast." "Maka, sejak itu. Boss berjanji pada dirinya sendiri, dia tidak akan mengganggu anak-anak yang belum berusia 17 tahun. Dia akan menutup pandangannya dari mereka yang masih belum berusia 17 tahun." "Kekuatan mistis dalam diri Boss menolak. Tapi hati Boss tidak bisa diubah. Maka kekuatan licik itu menyuruh Boss untuk mulai membunuh semua makhluk supernatural. Dan segala yang berhubungan dengan supernatural. Karena makhluk itu pasti akan membuat kekacauan pada akhirnya. Sejak saat itu, Boss menjadi sosok yang berbeda 100%. Dia mulai merekrut orang untuk penghancuran supernatural. And call themselves, The Destroyer," tutup Segara dalam penjelasannya.  "Itulah kenapa kami membutuhkanmu, Rembulan," sambung Biru. "Kau bukan hanya gadis yang belum berusia 17 tahun. Tapi kau juga adalah barikade kami." "Why me?" "Well, kau memiliki hati yang baik, yang masih polos. Kau penuh keyakinan dan berperikemanusiaan. Kau tidak mudah menyerah pada hal yang kau anggap benar," jawab Biru. "Kau tidak memiliki masa lalu yang menyedihkan, yang akan mengganggu konsentrasimu untuk melindungi kami." Rembulan meneguk salivanya susah payah.  Menatap ke semua pasang mata di sekelilingnya. Yang menatap penuh harap padanya.  "Kau bukan hanya akan menjadi barikade kami. Kau juga yang akan menjadi penyembuh kami saat perang nanti," imbuh Segara.  Ya Tuhan, kenapa aku begitu ngeri mendengar kata 'perang'? Perang mana yang dihadiri sebatalyon musuh dan dihadapi oleh 6 orang saja?  "Entah kau akan percaya atau tidak, selama aku terperangkap dalam wujud serigala, kaulah yang selalu menjadi barikadeku. Sehingga orang jahat tidak bisa melihatku, karena kau melindungiku dengan kebaikanmu," lanjut Biru.  "Kau adalah anak seorang healer dan philosopher. Dan kau harus tahu, tidak ada makhluk supernatural, atau keturunannya yang bisa melukaimu," tambah Segara.  "That's right, you wanna try?" tanya Nala.  Telapak tangannya mulai mengeluarkan asap dingin.  Dan dengan gerakan cepat, Nala menembakkan es dari tangan dinginnya pada Rembulan.  Benar saja, es itu mental dan langsung meleleh.  Rembulan kembali dibuat kaget. Jantungnya sungguh akan meloncat jika memang tembakan es dari Nala mengenainya.  "See?" Nala mengangkat bahunya.  "Tapi Sirius bisa melihatku." "Aku mengatakan, Boss Dixon tidak bisa melihatmu. Sirius dan pengikutnya yang lain? Entahlah. Tapi mereka tidak akan bisa melukai keturunan dari healer dan philosopher," jawab Segara.  "Ayolah, Rembulan. Kita harus membantu mereka. Kau sendiri pernah mengatakan padaku, selagi kita mampu dan berguna, kenapa kita tidak membantu?" Nara menambahi.  "Ya, Nara benar Rembulan," Regulus menimpali. "Banyak orang mengatakan, kita tidak bisa mengubah dunia. But see, kali ini kita diberi kesempatan untuk membuat dunia lebih baik. Lebih damai, so... Coming?" Rembulan masih enggan menjawab. Matanya menyapu keseluruhan raut harap di sekelilingnya.  Sebelum kepalanya terangguk lemah.  **** ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN