Akhirnya..
Masa orientasi SMA Cavendish berakhir hari ini. Dengan Rembulan yang sungguh tidak sabar untuk pulang.
Bukan karena penat dengan siksaan khas masa orientasi yang membuatnya ingin segera pulang. Tapi karena latihan 30 menit setelah pulang sekolah di hutan.
Dia mulai menyukai latihan ini. Karena tugasnya begitu mudah. Paling mudah di antara yang lain.
Jika Regulus membawa belati, Nara membawa crossbow, Nala melatih kekuatan esnya. Segara dan Biru berlatih bertarung, maka Rembulan hanya akan memegang tangan Biru jika perang itu memang akan terjadi.
Membuat barikade, agar kaum destroyer tidak bisa melihat dan melukai mereka.
"Tanganmu berkeringat," kata Biru. Matanya lurus menatap target buatan yang sudah dipasang Segara nan jauh di depan Biru.
Rembulan menoleh pada Biru. Sebelum pandangannya terarah pada telapak tangannya yang digenggam erat oleh Biru.
"Kau lelah?" tanya Biru lagi.
Lelah? Yang benar saja? Aku hanya berdiri bergenggaman tangan denganmu.
Tidak berlari ke sana ke mari seperti Segara yang menghindari tembakan Nala.
Atau membidik musuh seperti Regulus dan Nara.
"Aku.. Hanya sedikit merasa aneh," jawab Rembulan.
"Aneh?" kini Biru menatapnya.
"Sudah dua hari ini, setiap kita membuat barikade, perasaanku menjadi aneh. Seperti ada yang bergetar di--" Rembulan bingung menjelaskannya.
"Bergetar? Rembulan kau harus jujur padaku, tentang apa yang kau rasakan. Tentang apapun yang mengganggumu. Kita tim. Dan bagian Rembulan Biru, yang paling penting dalam tim ini," kata Biru pelan.
"Jantungku selalu berdebar setiap kau menggenggamku erat, Biru. Tidak bisakah kau menggenggamku biasa saja?"
Senyum di wajah tampan Biru, terukir begitu saja. Namun dengan pasti, Biru mengendurkan genggaman tangannya.
"Better?" tanya Biru.
Rembulan mengangguk lemah. Baru akan membuka mulut saat Segara meneriaki Biru.
"WHAT THE HELL, BIRU?" teriak Segara.
"Apa?" tanya Biru bingung.
Segara berjalan kesal mendekat pada Biru.
"Barikadenya, bodoh. Barikadenya memudar," omel Segara menunjuk pada sesuatu yang berkilau seperti pelangi di atas.
Seperti gelembung, kalian tahu? Gelembung yang besar. Transparan namun kuat.
"Kita bisa mati jika barikadenya tidak kuat," tambah Segara.
"Lalu kau ingin kami seperti apa, Segara?" kata Biru kesal.
Segara mendengus kesal. Semakin kesal saat melihat genggaman tangan Biru pada tangan Rembulan.
"Apa ini?" tanya Segara mengejek. Menunjuk genggaman tangan Biru. "Kau ini menggenggam tangan kucing?"
Segara meraih genggaman tangan itu. "Genggamlah tangan Rembulan erat-erat, Biru. Kami berusaha melindungimu, tapi kau malah ingin membunuh kami," Segara masih mengomel.
Biru menatap Rembulan sejenak, seakan meminta ijin. Rembulan mengangguk lemah.
Dan dengan pasti tangan Biru menggenggam tangan Rembulan erat.
Benar saja.. Barikade yang mereka buat kini kembali menjam.
Maksudnya, kilauannya tidak memudar.
"Nah, begitu." Segara melenggang begitu saja meninggalkan Rembulan dan Biru.
"Enak sekali dia menyuruh-nyuruh," komen Biru.
"Ini untuk hidupmu, Biru," kata Rembulan mengingatkan.
***
***
"Boss Dixon adalah makhluk immortal?" tanya Rembulan. Menatap indahnya taburan bintang di luasnya angkasa.
"Entahlah, dia akan mendapat perpanjangan usia setelah membunuh satu makhluk supernatural. Dan juga, dia akan menyerap kekuatan atau kemampuan makluk supernatural yang dia bunuh sendiri, maupun yang dihancurkan oleh kaumnya," jawab Biru. Ikut menengadahkan kepalanya. Menatap gugusan bintang yang dia temukan.
"Berati, dia memiliki kekuatan yang dulu dimiliki oleh ayah dan ibumu? Kekuatan menyeramkan darach dan yang lainnya?"
Biru mengangguk. Tanpa menoleh pada Rembulan.
"Kau tahu, Rembulan. Aku sungguh ingin menyerah saja. Aku hanya sendiri dan mereka ada banyak. Juga kekuatan milik Boss yang sudah pasti tidak bisa aku lawan. Aku sungguh takut jika nanti mereka melukai kalian," Biru menjeda. Kini mengalihkan pandang pada Rembulan. "Aku takut mereka akan melukaimu, Rembulan."
Kau saja takut, bagaimana aku?
"Kalau begitu, kau harus berusaha lebih keras agar kami tidak terluka. Aku yakin kau bisa," kata Rembulan mantap.
Ya.. Aku masih ingin hidup lebih lama. Aku masih ingin tumbuh besar, menjadi dewasa disaksikan oleh ayah dan ibuku.
Aku ingin hidup lebih lama, untuk mengenalmu lebih jauh, Biru.
Tangan Rembulan dengan pasti bergerak mengusap punggung Biru.
"Jika memang nanti kita kalah, dan salah satu atau keseluruhan dari kami tidak bisa bertahan, berjanjilah padaku, atas nama kedua orang tuamu," jeda sejenak. "Berjanjilah untuk bertahan dan tetap hidup. Berjanjilah untuk menjaga keseimbangan kehidupan. Carilah berbagai cara. Dan jangan menyerah," kata Rembulan. Menatap lekat pada kedua mata Biru yang baru saja menembak ke dalam manik hitam pekatnya.
"Kenapa kau mengatakan itu?" tanya Biru. Meski pelan tapi terdengar tajam.
"Berjanjilah," jawab Rembulan.
"Rembulan, katakan, ada apa?"
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin, kehidupan ini kembali seperti dulu. Dengan keseimbangan. Tanpa ada lagi pembunuhan atau penghancuran. Entah untuk alasan kebaikan atau apapun, semua makhluk berhak untuk hidup. Dan hanya Tuhan yang berhak memutuskan, kapan seseorang berhenti bernapas."
Biru tertegun mendengar penuturan Rembulan. Bahkan kedua matanya sama sekali tidak berkedip.
"Biru?" suara Rembulan membuat lelaki tampan itu berkedip. "Kalau kau saja tidak yakin, bagaimana dengan kami?"
Napas Biru rasanya ingin sekali berhenti sekarang. Sungguh.
Jika dia ditanya, mengapa dia berjuang untuk perang, awalnya hanya untuk membalaskan kematian kedua orang tuanya. Tapi sekarang, dia lebih memilih mengikhlaskan saja kematian kedua orang tuanya.
Melupakan balas dendam dan lainnya. Memulai hidup layaknya manusia biasa. Apa saja, asal dia bisa lebih lama hidup dan bersama dengan Rembulan.
Tapi dirinya juga tahu, segera setelah Boss Dixon mengetahui bahwa dirinya masih hidup, Boss tidak akan berhenti.
Dia akan mengejarnya. Membunuh dan menghancurkannya. Seperti yang dulu Boss Dixon lakukan pada kedua orang tuanya. Pada kedua orang tua Segara, kakak dan seluruh keluarga Segara.
Juga pada kedua orang tua Regulus.
Tidak.
Itu tidak akan berhenti. Penghancuran akan terus terjadi bahkan jika dirinya mati di tangan Boss. Atau kematian Segara maupun Regulus.
Tidak akan sampai disitu.
**
Biru masih di sana. Masih duduk di bangku taman samping rumah Rembulan.
Masih memandang lekat ke dalam pekatnya kedua mata Rembulan.
Masih mencerna semuanya.
"Biru?" kata Rembulan lagi. "Promise?"
Dengan lemah, kepala Biru terangguk. Setelah menelan salivanya susah payah, Biru pun mengatakannya.
"I promise," kata Biru lemah. Menggenggam erat tangan Rembulan.
Dan kembali membuat kilauan pelangi yang terlihat indah di malam hari.
***
***
"Kalau seperti ini terus, aku yakin kita pasti akan menang," kata Segara semangat, meletakkan busur di tangannya.
"Kalau seperti ini terus, kita bisa mati lebih dahulu, bahkan sebelum kita berperang," kata Regulus, menyandarkan badannya pada sebuah pohon.
"Regulus!" omel Nara.
"Apa? Kau memanahku 17 kali Nara!" keluh Regulus. Menatap Nara kesal.
"Tapi kan kau berhasil menghindarinya dengan baik, Regulus," kata Nala lembut. Menyerahkan botol minuman pada keseluruhan team better.
"Aku sudah memikirkan semuanya," kata Segara, menerima botol minuman yang diberikan Nala.
"Memikirkan apa?" tanya Biru.
"Strategi perang."
"Sebelumnya, apa tidak bisa kita mengganti kata 'perang', menjadi sesuatu yang tidak menakutkan?" tanya Rembulan yang sedari tadi diam.
"Kau takut?" Biru langsung saja menoleh pada Rembulan. Sendu.
Ditatap seperti itu, Rembulan langsung menunduk.
"Rembulan?" panggil Nala pelan. "Sesuatu mengganggumu?"
Rembulan mendongak, menatap Nala.
"What? Kau tidak bisa lagi membaca pikiranku?" tanya Rembulan.
"Sudah hampir 3 minggu ini aku tidak bisa membaca pikiranmu. Jadi aku rasa kau sudah tidak merasakan takut atau apapun lagi," Nala menjelaskan.
Rembulan menatap Nala. Kemudian beralih pada Biru.
Dan pada 3 pasang mata lain. Segara, Regulus, dan Nara.
Dia ingin sekali menceritakan semuanya. Tapi bibirnya sungguh kelu.
Nyalinya sungguh tidak mampu untuk menceritakan kegelisahannya.
Hingga dia teringat sesuatu.
Rembulan beranjak dari duduknya. Serta merta menarik tangan Biru.
Membuat Biru menatap heran pada Rembulan.
"Look at me!" suruh Rembulan pelan.
"I already do," jawab Biru.
"Look into my eyes," kata Rembulan lemah.
Dan yang hanya bisa Biru lakukan adalah menurut. Menghujamkan sorot birunya pada hitam pekatnya manik Rembulan.
Seakan menyelami segala kegelapan yang menggelisahkan benak Rembulan.
Semakin dalam. Semakin dalam.
Dan Biru mendapatkannya.
***
***
Regulus hendak berjalan keluar kelas. Menuju kantin, dimana tadi pagi dia sudah berjanji untuk mentraktir Nara. Karena Nara menang taruhan.
Ya, Regulus bertaruh dia akan satu kelas lagi dengan Nara. Tapi ternyata dia satu kelas dengan Rembulan.
Ya setelah lebih dari 1 bulan kelas 10 SMA Cavendish jurusan Ipa rolling. Hari ini adalah penentuan kelas.
Memang SMA Cavendish memiliki tradisi penentuan kelas yang sedikit berbeda dari SMA lainnya. Pihak sekolah hanya ingin memastikan siswanya nyaman dengan teman sekelasnya.
Baiklah, back to Regulus.
Regulus mengurungkan niatnya, saat dia melihat Rembulan yang masih duduk melamun di bangkunya.
Regulus mendekati Rembulan. Duduk di kursi depan bangku Rembulan.
"Kau kenapa?" tanya Regulus.
Rembulan masih diam. Tidak menyahuti karena pikirannya masih berlayar nan jauh dari tempatnya semula.
"Rembulan!" seru Regulus, beserta tangannya yang mengusap pipi Rembulan lembut.
Barulah Rembulan tersentak. Menatap Regulus bingung.
"Kenapa?"
"Kau yang kenapa? Kenapa kau melamun?"
"Aku hanya sedang berpikir."
"Berpikir apa? Kenapa wajahmu sendu seperti itu?"
"Aku.. Regulus, apa benar, jika Boss Dixon tidak bisa melihat dan menyakiti kita?"
Regulus terlihat berpikir. "Entahlah. Tapi dulu, dia bisa saja membunuhku dan Sirius. But you see? Aku masih hidup, dan Sirius menjadi pengikutnya," jawab Regulus berbisik.
"Kenapa Sirius? Kenapa dia tidak mengajakmu menjadi pengikutnya?"
"Karena aku keturunan Druid dan Darach? Harus dihancurkan."
Rembulan kembali terlihat berpikir.
"Aku takut Regulus. Aku.. Beberapa hari ini.. Aku mendapatkan mimpi ini. Terus menerus, hingga aku sungguh takut hanya untuk tidur," kata Rembulan lemah. Sungguh tersirat nada takut di dalamnya.
"Kau sudah cerita pada Biru?"
"Aku sudah menunjukkannya pada Biru."
"Menunjukkan?"
"Beberapa hari lalu, di hutan."
"Ah iya. Aku ingat." Regulus mengangguk. "Percayalah, kau akan baik-baik saja. Kami akan menjagamu," kata Regulus. Tangannya bergerak menggenggam tangan Rembulan.
Mengajak gadis itu bangkit dari duduknya. Berjalan mantap keluar kelas.
Rembulan hanya menurut. Mengikuti kemanapun langkah kaki Regulus mengajaknya.
Tanpa menghiraukan jika ada 2 pasang mata yang menangkap langkah beriringan keduanya.
Satu pasang yang kini pikirannya dipenuhi beragam tanya.
Satu lagi, hatinya yang dipenuhi oleh beragam rasa.
Sosok itu terus menghujam langkah Regulus dan Rembulan yang menghilang di balik gedung aula.
"Mereka kemana?" tanya Biru pelan. Berniat menyusul, namun dering ponsel di sakunya menahan langkahnya. "Ya, Segara?"
***
***
"Kata ayahku, em.. Profesor Cavanagh, mimpi adalah bunga tidur. Sebagian berisi ketakutan, sebagian lagi kekuatan. Kalau kau takut pada mimpimu itu, mantapkanlah hatimu untuk mengubahnya menjadi kekuatan," kata Regulus, mengulas senyum hangat pada Rembulan.
Benar-benar hangat sampai menjalar ke seluruh relung hati Rembulan.
"Profesor Cavanagh mengatakan itu?"
"Ya. Kan aku sudah mengatakan, jika aku sering mimpi buruk."
"Tapi bagaimana jika yang aku alami ini bukan hanya sekedar mimpi? Bagaimana jika ini menjurus ke... Takdir?"
"Memangnya kau mimpi apa?" tanya Regulus, keningnya berkerut.
"Bolehkah aku minta satu permintaan?"
Regulus tanpa ragu mengangguk.
"Jika nanti.. Misalnya, aku tidak bisa bertahan, maukah kau menjaga kedua orang tuaku?" pinta Rembulan dengan raut yang sungguh susah diartikan.
"Kau bicara apa? Kita pasti akan bisa menghadapi semuanya. Percayalah," kata Regulus, menggenggam tangan Rembulan.
"People died eventually, Regulus. Begitupun aku," ucap Rembulan. "Berjanjilah, untuk menjaga ayah dan ibu--"
"Kita akan menjaga ayah dan ibumu bersama. Ya Tuhan Rembulan. What the hell is wrong with you? What's your dream about?" kata Regulus mulai kesal.
Rembulan memilih menunduk. Menarik tangannya dari tangan Regulus.
"Baiklah kalau kau tidak ingin bercerita. Tapi kau harus tahu." Regulus menjeda ucapannya. "Dalam hidup, kalau kau menyerah pada rasa takutmu, maka kau akan mendapati, hidupmu sudah tidak berarti apa-apa."
"Kenapa kau mengatakan itu?"
"Karena aku tahu, kau Rembulan. Kau tidak kenal takut. Kau rela mengendap malam-malam hanya untuk menemui Biru di hutan. Kau menyelamatkannya. Kau tidak hanya berani, kau lebih dari berani. Kaulah yang menjadi pondasi kita nanti saat perang," tutur Regulus.
Ah.. Perang itu lagi..
"And we trust that you can through this," imbuh Regulus. "I trust you."
***
***
**
**
**