Pernahkah kalian mencari tahu kehebatan dari kata "I Trust You"
Ya kata "Aku percaya padamu" yang dilontarkan oleh seseorang kepada kita, akan sangat berdampak pada keputusan orang yang menerima 3 kata ajaib itu.
Seperti saat Biru akhirnya mendapat kata itu dari Rembulan.
Juga saat kemarin Regulus mengatakannya pada Rembulan. Itu sangat berdampak pada latihan siang ini.
"Istirahat," kata Segara. Meletakkan pelaratannya pada rerumputan.
Kemudian tanpa isyarat dia merebahkan badannya pada pangkuan Nala yang baru saja duduk.
"Sungguh lelah," kata Segara.
"Segara, tidak bisakah kau ini profesional? Ada anak di bawah umur," keluh Biru.
"Siapa? Kau?" Segara terdengar mengejek. Yang langsung mendapat jitakan oleh Nala. Juga Nala yang tiba-tiba beranjak dari duduknya.
"Astaga Nala, sakit!" keluh Segara. Mau tidak mau kini terduduk. Memegangi bagian belakang kepalanya.
"Baiklah, jadi begini, karena kau," Nala menunjuk Biru. "Biru, kau sendiri yang harus menghabisi Boss Dixon, jadi kau hanya akan fokus membuat barikade bersama Rembulan."
"Apa?" pekik Biru, terdengar kurang setuju.
"Diamlah kau Serigala besar," omel Segara. "Aku dan Nala yang akan menyerang, atau mengatasi pasukan Destroyer dari arah yang lain. Sedangkan Nara dan Regulus akan menyerang dari dalam barikade. Di arah yang tidak sama dengan aku dan Nala," tutur Segara. Tangannya mengambil kertas yang berisi gambar strategi perang yang semalam dia susun.
"Saat pasukan Boss Dixon sudah tinggal sedikit, Regulus akan menggantikan Biru membuat barikade, dan Biru langsung menembak Boss," imbuh Nala. "And we don't kill people, okay? Only Boss."
"That's the plan? Kak Nala, tidakkah kakak ingat bahwa pengikutnya si Boss itu telah menghancurkan banyak orang?" protes Nara.
"Nara, kita sudah membahasnya, okay?" kata Nala masih dengan suara lembutnya. "Tidak peduli apa yang sudah mereka perbuat, pengikut Boss dalam pengaruh Boss. Mereka kehilangan kepercayaan mereka dan kekuatan mereka."
"Ya, mereka masih memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik, setelah Boss tiada," tambah Segara.
"Baiklah," gerutu Nara.
"Berapa banyak pengikut Boss yang akan berperang nanti?" tanya Rembulan.
"Entahlah, beberapa lusin mungkin. Pengikut Boss memang banyak, tapi Boss tidak bodoh dengan membawa semuanya. Kota ini kecil. Dan Boss hanya mengejar Biru," jawab Segara.
Rembulan mengangguk mengerti. Pandangannya lalu jatuh pada Biru.
Sosok tampan itu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Pandangannya entah terarah kemana.
"Baiklah, sekarang giliran Regulus dan Rembulan yang berlatih membuat barikade," usul Nala.
Regulus langsung beranjak mendekat Rembulan. Mengulurkan tangannya pada Rembulan.
Senyum Regulus terukir begitu saja saat tangan kurus Rembulan menyambut ulurannya.
Barikade yang dibuat berbeda dari barikade Rembulan Biru.
Barikade dari Rembulan dan Regulus lebih terlihat terang. Bukan berkilauan seperti pelangi pada gelembung. Lebih ke.. Bersinar seperti bintang.
Andai ini terlihat di malam. Pasti sungguh indah.
***
***
***
"Kau baik-baik saja, sayang?" tanya Maretha, saat dia memergoki Rembulan sedang melamun saat makan malam.
"Baik Bu. Rembulan lupa kalau ada pekerjaan rumah," jawab Rembulan bohong.
"Kau mau ibu membantu?"
"Tidak Bu. Terima kasih," tolak Rembulan.
Maretha tersenyum menatap Rembulan. Dia menggeser piring makan malamnya. Meletakkan kedua tangannya di atas meja makan.
"Kau tahu? Dulu saat ibu seusiamu, Ibu memiliki satu teman. Dia sungguh pemalu. Pendiam. Dia tidak banyak bicara dan misterius," kata Maretha. Menekankan kata misterius. "Dia sungguh baik pada Ibu. Dia penuh kejutan. Dan dia hanya mau bersikap ramah pada Ibu saja. Dia akan sangat acuh pada teman perempuan lainnya.
"Ibu sempat heran, penasaran, dan berburuk sangka padanya. Tapi Ibu terlalu takut untuk mencari tahu, hingga dia sendiri yang menceritakan rahasia gelapnya."
"Tunggu Ibu, dia ini lelaki apa perempuan?"
Terdengar tawa Maretha. Maretha terkekeh geli melihat Rembulan.
"Dia lelaki sayang, lelaki tampan yang kesepian. Ya itu rahasia gelapnya. Dia tidak memiliki siapapun di dunia ini," jelas Maretha. "Beberapa sifatnya mengingatkan ibu padamu."
"Maksud Ibu?"
"Sayang, meski Ibu tidak selalu ada bersamamu, mendengarkan segala keluh kesahmu, tapi ibu ini tetap Ibumu. Ibu tetap tahu, kapan kau ada masalah, kapan ada sesuatu yang mengganggumu. Sesuatu mengganggumu, kan?"
Rembulan bingung. Dia hanya menatap Maretha. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Rembulan, berceritalah," kata Maretha lagi. "Ini Ibu, sayang."
Maretha beranjak, mendekat pada Rembulan. Memeluk putrinya itu.
"Ibu, bolehkah aku tidak ikut acara laboratorium ayah minggu depan?" tanya Rembulan.
"Kalau kau tidak ikut, kau akan di rumah sendiri, sayang. Ibu tidak tega." Maretha mengusap lembut puncak kepala Rembulan.
"Aku bisa minta Nara dan kakaknya menginap di rumah. Atau aku bisa menginap di rumah Nara."
Maretha menatap Rembulan sejenak.
"Ibu, aku belum ada 2 bulan sekolah di Sma Cavendish. Aku tidak ingin absen hanya untuk liburan laboratorium ayah."
"Ibu akan membicarakan ini pada ayahmu sayang."
"Aku hanya.. Aku menyukai teman-teman baruku. Dan.. Aku juga menyukai lingkungan sekolah."
"Ibu mengerti sayang. Sekarang pergilah tidur. Ibu akan menelpon ayahmu," suruh Maretha.
Rembulan menurut. Menyudahi makan malamnya. Kemudian beranjak dari meja makan.
Tak lupa mencium pipi ibunya. "Good night, Mom," kata Rembulan.
"Night honey, sweet dream," kata Maretha mengusap pipi Rembulan.
Setelahnya Rembulan berlalu. Dengan pasti menuju kamarnya. Membuka pintu kamarnya.
Dan alangkah terkejutnya dia, mendapati kamarnya yang....
***
"What happened to him?" seru Rembulan. Buru-buru menutup pintu kamarnya. Segera berlari menuju sudut kamarnya.
Dimana Regulus tergeletak, dengan memar di hampir seluruh wajahnya.
Rembulan membantu Biru untuk mengangkat tubuh Regulus ke atas ranjangnya.
"Kenapa dia?" tanya Rembulan lagi. Menatap Biru yang terengah.
"Dia mendatangiku, menanyakan tentang.." Biru ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Tentang?" Rembulan menatap Biru. Perlahan dia mendekatkan wajahnya pada wajah Biru.
Pada sesuatu yang mengganggunya. Sesuatu di sudut bibir kanan Biru.
Tangan Rembulan bergerak pasti pada bagian merah itu.
"I'm okay," sergah Biru. Menahan tangan Rembulan.
"I was going to ask about your dream," kata Regulus lemah. Dia berusaha untuk duduk. "Then there's a girl came after us. Dia menyerang kami."
Jika Biru langsung menoleh pada Regulus, Rembulan masih menatap luka di sudut bibir Biru.
"Itu kenapa?" tanya Rembulan. Sungguh Biru langsung berusaha meyakinkan dirinya, bahwa tidak ada nada khawatir pada suara Rembulan.
Tapi memang itu nada suara khawatir.
"Dia gadis yang dulu menembakku. Aku sedang bersama Segara saat Regulus menemuiku. Lalu aku mengajak Regulus untuk membicarakan hal itu di tempat lain, tapi malah kami diserang oleh gadis itu. Aku bisa menghindar, tapi tidak dengan Regulus, gadis itu menghajar Regulus," tutur Biru.
"Dia pacar Sirius," kata Regulus. Sungguh langsung membuat mulut Rembulan dan Biru menganga. "Or, ex, I guess. Sirius bilang dia sendiri. Gadis itu sepertinya mengetahui semuanya."
"Dia mengetahui semuanya? Bagaimana dengan Segara dan yang lain?"
"Segara sedang mengurus gadis itu. Tenanglah. Aku membawa Regulus kemari, karena kau harus menyembuhkannya," kata Biru.
"Ke.. Kenapa aku?"
"Rembulan, kau seorang healer," kata Regulus.
"My mom is a healer. Not me."
Biru kembali menatap Rembulan. Tanpa meminta persetujuan Rembulan, Biru menggenggam erat tangan Rembulan.
Dan barikade itu kembali terbentuk.
Dan ajaibnya, perlahan luka di wajah Regulus memudar.
"Told you, right?" Biru menyeringai.
"So, is this what I'm capable of now?" kata Rembulan dengan bergetar.
Tidak bohong, dia merasa merinding. Sehebat itukah dirinya?
Dia bisa menyembuhkan?
"Yes. You are a healer. For us," kata Biru, menatap Rembulan lekat.
Begitupun Rembulan, gadis itu balik menatap Biru. Sungguh mengabaikan kehadiran Regulus.
"Ehm.." Regulus berdehem. Namun Rembulan dan Biru masih saling memandang.
Regulus mendengus kesal. Lalu berujar, "Guys.. Aku masih disini. Kalian bisa lanjut saling berpandangan setelah aku pulang."
Hening.
Tidak ada perubahan.
Baru Regulus menyadari.
Rembulan dan Biru tidak hanya saling berpandangan.
Tapi keduanya sedang saling mengungkapkan sesuatu yang tidak bisa diucapkan oleh mulut mereka.
Ya. Regulus bisa melihat itu. Obrolan tak kasat mata dari kedua pasang manik 2 manusia di depannya.
Maka, Regulus memilih untuk turun dari ranjang. Mengawasi keadaan sekitar.
Tiba-tiba batinnya kembali bergemuruh. Merasakan sesuatu yang aneh.
Perang itu tinggal beberapa hari lagi.
Dan dia harus sungguh siap jika nanti dia berhadapan dengan Sirius.
Ya. Dia harus siap.
***
***
***
In your eyes, there's heavy blue. One to love and one to lose.I wanna feel the way that we did that summer night.
What summer night?
The night that I give you necklace. I know it's after rain. But, it's in the summer.
Then the night when I just lay down on your stomach. Looking at the stars.
Can we just forget about the war? I just wanna be alive. Spend the rest of my life with my family, with you, and with our friends.
Rembulan terpaksa melepas genggaman tangan Biru. Karena Regulus menarik bahunya.
"Ya?" kata Rembulan bingung.
Lalu suara ketukan pintu langsung mengembalikan segala pikirannya pada tempatnya.
"Kalian.. E.. Sembunyi.. Sembunyi.." suruh Rembulan.
"We don't have to hide. We can make a barricade," kata Biru. Mengulurkan tangannya. Dan langsung disambut dengan ekspresi ingin muntah oleh Regulus.
"Seriously? Aku tidak akan menggenggam tanganmu dan membuat barikade bersamamu," cibir Regulus.
"Ayolah kalian lakukan sesuatu. Bersembunyi atau apalah. Aku akan membuka pintu."
Rembulan beranjak. Menuju pintunya. Membukanya dan..
"Mereka baik-baik saja?" tanya Nara khawatir. Tanpa menunggu jawaban Rembulan, Nara langsung masuk.
Langkahnya terhenti saat tak menemukan siapapun di dalam kamar Rembulan.
"Dimana mereka?" tanya Nara lagi.
Rembulan juga tak menjawab. Dia juga bingung dimana Regulus dan Biru.
"Di.. Dimana mereka?" gumam Rembulan lirih.
***
***
***
Healer itu penyembuh. Ky semacam dokter
Btw, bntar lagi mau enddddd... Aaalaaakhhh...
Ohya, aku mau jelasin soal barikade.
Kalian pernah lihat anime One Piece? Disitu ada tokoh, kalau ga salah namanya Bartholomew.. Dia punya kekuatan bikin barikade, aku sih jujur aja, terinspirasi dari itu. Tapi aku tambahin dengan kekuatan "room"nya Dr
Trafalgar law. Ya pokok gitu lah..
Kalau kalian suka anime One Piece, psti ngeh, kalau nama SMA di cerita2 ku.. Aku ambil dari nama karakter anime itu.
Druid - utusan atau pendamping werewolf.
Darach - druid yang salah arah. Dark druid, druid jahat. Penganut human sacrifice.
Werewolf - pasti udah pada tau.
Wildest Beast - supernatural creature yang paling jahat. Dia menghancurkan semuanya. Memengaruhi kepercayaan orang yang berhadapan dengannya. Dia merasuki Boss Dixon. Mengambil alih tubuh dan pikiran Boss.
Barikade - benteng atau tameng transparan yang dihasilkan dari kekuatan Biru dan Rembulan. Atau Rembulan dan Regulus. Bentuknya seperti gelembung, membuat siapa saja yang ada di dalamnya menjadi invicible. Tidak terlihat oleh Boss dan pengikutnya, jika yang ada di dalamnya berumur kurang dari 17 tahun,atau pembuat barikade itu sendiri.
Crossbow - cari di google
Belati - juga cari Google sana
Healer - penyembuh
Udah.. apalagi yang mau ditanyakan??