RB - LIMA BELAS

958 Kata
Part khusus SegAla Rembulan berjaga-jaga. Barang kali Regulus dan Biru bersembunyi dengan membuat barikade. Ah tapi tidak mungkin, barikade hanya invisible untuk manusia 17 tahun ke atas. Sedangkan dirinya dan Nara kan masih 16 tahun. Jadi tidak mungkin Biru dan Regulus membuat barikade. Lalu dimana mereka. "Mereka di hutan," seru Nara. Menunjukkan layar ponselnya. Dimana ada pesan Nala. *Meet us in the woods* "Di.. Di hutan?" gagap Rembulan. "Bagaimana bisa? Mereka baru saja ada disini," kata Rembulan menunjuk ranjangnya yang kosong. "Ya.. Aku tadi menerima pesan dari kak Nala. Regulus ada di rumahmu." "Aku tidak bisa pergi ke hutan malam-malam begini, Nara." "Ini masih setengah 8. Kita harus pergi," kata Nara mantap. Memasukkan ponsel ke dalam tasnya. "Astaga, Nara. Ada Ibuku di rumah, dan ayahku sebentar lagi pulang." "Aku akan mengurus Ibumu," kata Nara. Menganggukkan kepalanya. "Ya.. Aku akan mencari alasan agar kita bisa keluar." "Kau akan berbohong?" "Ya.. Ya Tuhan." Nara meraup wajahnya. "Jangan hukum aku karena membohongi 3 Ibu dalam satu malam," lanjutnya. Menengadahkan tangannya. "3 orang Ibu?" "Iya, Rembulan. Aku harus berbohong pada Ibuku, Ibumu, dan Ibunya kak Nala. Kau.. Pokoknya kita berbagi dosa," putus Nara. "Ya, kita harus berbagi dosa." "Kau ini, apa-apaan?" pekik Rembulan saat pergelangan tangannya ditarik oleh Nara. ** ** Rembulan dan Nara baru saja sampai di hutan. Dimana secara tiba-tiba ada tangan yang menarik tangan Rembulan kuat. Sedetik setelahnya, kilauan pelangi itu muncul. Biru yang menarik tangannya. Menggenggam erat tangan Rembulan. Kembali membentuk barikade. Biru menggiring Rembulan untuk masuk lebih dalam ke hutan. Semakin dekat dengan suara berisik itu. Suara adu pendapat. Antara Segara dan seorang perempuan. Bukan Nala. Karena gadis cantik itu tengah bersembunyi di balik pohon besar di dekat barikade Rembulan Biru. Nala tidak bisa melihatnya, tapi Rembulan dengan jelas melihat sesuatu terjatuh dari pelupuk mata Nala. Nala menangis? "Menyerahlah Segara, kau tidak akan dibunuh. Aku akan membujuk Boss. Menyerahlah, dan serahkan Serigala itu," kata sang perempuan. "Aku tidak bisa. Dan aku tidak peduli jika aku harus mati. Asalkan Boss juga mati," kata Segara mantap. "Apa yang harus aku lakukan agar kau mau menurutiku? Aku hanya ingin kau hidup. Bersama denganku." "Kau tidak harus melakukan apapun. Kau.. Kau tidak perlu melakukan apa-apa," kata Segara lagi. "Bagaimana dengan ini?" Dan tanpa ada yang menyangka, perempuan itu menarik tengkuk leher Segara, dan mencium bibir lelaki tampan itu. Shit! Biru mengumpat. Dengan cepat dia berdiri di depan Rembulan, menutupi mata Rembulan dengan tangannya yang bebas. Rembulan hanya diam. Karena sungguh dia merasa terkejut. Begitupun Nara di sebelahnya. Juga Regulus yang berdiri tak jauh dari Nala. Regulus mencoba meraih tangan Nala yang mulai mengeluarkan asap dingin. Dan tetesan air mata Nala yang menyentuh rumput, membuat rumput itu membeku. Tidak. Mereka tidak boleh ketahuan. Regulus mengambil resiko untuk berpindah, mengabaikan kakinya yang masih sedikit sakit karena melompat dari jendela kamar Rembulan. Berhasil!! Regulus merasa bangga. Dia berhasil menggenggam tangan Nala. Mencoba menyalurkan sesuatu pada Nala agar kebekuan tidak kembali menguasainya. "Rileks, Kak," lirih Regulus. Namun pandangan Nala sama sekali tidak beralih dari Segara yang sedang dicium perempuan tadi. "I can't," balas Nala lirih. Sedangkan Segara disana. Dia buru-buru melepas ciuman Elen. Ya perempuan itu Elen. Dia salah satu kaum Destroyer. Dia yang menembak Biru. Dan juga yang memukuli Regulus tadi. "Kenapa?" tanya Elen tidak terima. "Kenapa kau lebih memilih Biru? Kenapa Segara? Kau tidak tahu? Apa saja yang harus aku alami, hingga aku bisa menemukanmu?" Dan air mata itu lolos dari pelupuk mata Elen. Segara diam. Menatap dingin perempuan di depannya. "Aku nyaris gila karena kau tiba-tiba menghilang. Aku bahkan berpikir, kau ikut dihancurkan bersama ayahmu dan Gaillard. Aku mencari ke semua penjuru kota. Aku bahkan harus.. Aku harus mengencani pria yang tidak aku suka karena pria itu pernah menyinggung keberadaanmu. Aku menjadi pengikut Boss Dixon, dan aku sudah bersumpah untuk setia menjadi pengikutnya. Itu demi dirimu, Segara. Agar aku bisa menemuimu, bisa kembali--" Segara menyela ucapan Elen dengan satu tangannua yang terangkat. "Enough," kata Segara. "Kau sudah membuat sumpah kan? Maka penuhilah sumpahmu itu. Dan aku akan memenuhi sumpahku." Tanpa menunggu balasan Elen, Segara berbalik. Hendak melangkah, namun tertahan oleh sesuatu yang mengkilap di bawah pohon besar. Sesuatu seperti es. Ya. Nala. Segara menghela napas kasar. "Dan kalau kau menyakiti Nala," kata Segara, menoleh sedikit pada Elen. "Kau akan menemukan dirimu sendiri terbunuh oleh tanganku sendiri," lanjut Segara tajam. "Segara!" pekik Elen. "Kau akan menyesal." "Aku sudah menyesal sekarang." Segara kembali menatap Elen. "Aku menyesal kenapa saat kau menembak Biru, aku tidak membunuhmu saja. Persetan aku akan menjadi darach atau apapun." Elen menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Air matanya masih terus berlinang. "Pergilah, sebelum kami menghilangkan ingatanmu," kata Segara, menatap remeh pada Elen. Elen hanya menatap Segara tidak terima. Namun toh perempuan itu melangkah. Berlari menjauh dari hutan. Segara buru-buru menyusul Nala di balik pohon besar itu. "Don't say sorry," ucap Nala cepat. "I'm done with people saying sorry." Nala menatap Segara tajam. Segara mengangguk patuh. Balik menatap Nala. Sendu. Segara menatap Nala sendu. Tangannya bergerak pasti menggenggam tangan kanan Nala. Regulus yang sudah merasa tidak dibutuhkan mundur. "I just wanna say.. Tidak peduli apapun yang terjadi pada kita, aku tetap mencintaimu. Masih sama besarnya saat aku pertama mengenalmu dua tahun yang lalu," kata Segara. Sungguh terdengar indah. "I will always do." "You do?" suara Nala terdengar gemetar. "I do." "But you kissed her." "Well, technically, she kissed me. I didn't kiss her back," sanggah Segara. "Well, you kissed her lips, Segara," sahut Biru. Menjauhkan tangannya yang menutupi wajah Rembulan. "You didn't kiss her back (punggung)," canda Biru. Sungguh merasa menang. "Shut up, Serigala besar," omel Segara. "Yah, You have sense of humor, Blue wolf," puji Regulus. "Kita ke sini untuk melihat drama?" tanya Renbulan. "No," jawab Segara cepat. "Kita disini untuk mengubah rencana." *** *** Udah ada pandangan yang jadi Segara???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN