RB - ENAM BELAS

1695 Kata
"Kenapa kau berubah pikiran sayang?" tanya Cendana pada Rembulan saat keluarga kecilnya sedang sarapan.  "Nara tidak bisa menginap, Ayah. Dia juga keluar kota hari itu. Jadi aku ikut ayah dan Ibu saja, boleh?" tanya Rembulan balik.  "Tentu saja boleh, sayang. Kami justru senang, kau mau ikut kami," jawab Cendana. Mengulas senyum pada Maretha. Sedangkan Maretha mendengus kesal.  "Ayah.. Boleh aku tanya sesuatu?" "Go ahead," kata Cendana.  "Yah.. Apa ayah tahu kalau Ibu saat masih Sma memiliki teman lelaki yang sangat perhatian pada Ibu? Lelaki itu sangat menyayangi Ibu, dan kata Ibu, aku mengingatkan Ibu pada Lelaki itu," tutur Rembulan. Membuat senyum di wajah Cendana kian melebar.  "Ibumu bilang begitu?" "Iya," potong Maretha. " Dan lelaki itu adalah ayahmu, Rembulan." "Aku tahu," jawab Rembulan santai.  "Kau tahu? Lalu kenapa kau mengatakan itu?" Entah kenapa pagi ini Maretha sungguh geram pada putri semata wayangnya  "Karena aku juga ingat,saat aku pertama masuk smp, ibu bilang ibu hanya punya satu teman, yaitu Ayah. Jadi tidak mungkin kalau ada lelaki lain yang--" "CUKUP," pekik Maretha cepat. "Kalian berdua sungguh berhasil menjatuhkan ibu sedemikian jatuhnya." Dan setelahnya hanya terdengar kekehan dari Cendana dan Rembulan. Rembulan mengamati dengan seksama wajah kedua orang tuanya.  Mengamati raut tawa sang Ayah, raut kesal sang Ibu.  Dan mengabadikan momen ini dalam ingatannya.  Ya.. Dia harus menyerap banyak-banyak ingatan bahagia ini, sebelum dirinya harus berperang lusa.  *** *** Semuanya bangun pagi-pagi sekali sabtu ini. Setelah menelpon wali kelas Rembulan, Maretha buru-buru mengecek kembali isi kopernya.  "Sayang, kau sudah mengecek koper itu lebih dari 3 kali," hardik Cendana. Menatap Maretha bingung.  "Aku hanya memastikan tidak ada yang tertinggal. Well, katamu kita tidak hanya berlibur, tapi juga melakukan penelitian. Jadi aku akan memastikan diriku tidak akan mati bosan karena kau tinggal meneliti." Maretha menutup kembali kopernya.  Saat mendengar ketukan pintu kamar mereka, disertai Rembulan yang lalu masuk.  "Kau hanya membawa itu?" tanya Cendana. Menatap Rembulan yang hanya membawa satu ransel. "Kenapa? Kita kan hanya 2 hari?" "Sayang," panggil Maretha, menarik tubuh putrinya untuk duduk. "Kita sebenarnya akan disana selama satu minggu." "Kau tidak menceritakan padanya?" tanya Cendana. "Jika kita akan seminggu di sana?" Maretha menggeleng bangga.  "Dia pasti akan menolak ikut kalau aku cerita," jawab Maretha. "Lagi pula kita bisa membelikannya baju disana. Kita kan orang kaya," lanjut Maretha.  "Sejak kapan kau menjadi begitu bangga menjadi orang kaya?" Cendana terkekeh geli melihat istrinya yang tiba-tiba berubah.  Begitu juga Rembulan. Karena dia sungguh tahu, Ibunya sama sekali tidak suka memamerkan kekayaannya.  "Aku akan mulai bangga menjadi orang kaya sekarang. Terlebih aku juga memiliki kalian berdua dalam hidup Ibu," jawab Maretha.  "Ahhm. Ibu," kata Rembulan. Memeluk ibunya. Dan tanpa dia bisa tahan, dirinya kini malah terisak dalam pelukan Ibunya.  "Sst.. Kenapa kau menangis sayang?" tanya Cendana dan Maretha panik. Kini Cendana mulai ikut merengkuh Rembulan dan Istrinya.  "Rembulan, kau kenapa sayang?" ulang Cendana.  Bukannya menjawab, Rembulan kini malah semakin terisak. Bahkan isakkanya semakin menjadi saat Cendana mencium puncak kepala Rembulan.  "Sstt.." desis Maretha, mengusap punggung Rembulan. "It's okay. Everything is going to be okay, honey," ucap Maretha lembut. Menatap penuh tanya pada Cendana.  Dan Cendana yabg sungguh tidak tahu apa-apa hanya menggeleng. Sembari mulutnya yang berucap dalam diam, "I don't know." *** *** Kau masih memikirkan yang tadi? Regulus mengetikkan pesan itu. Lalu mengirimnya ke nomor Segara, yang mana ponsel Segara dibawa oleh Biru.  Tidak lama kemudian, satu pesan baru muncul. Dari Segara.  Yang sudah jelas itu adalah Biru.  Menurutmu? Tentu saja aku masih memikirkan yang tadi.  Regulus mendengus. Tangannya kembali sibuk pada keypad ponselnya.  Tenanglah.  Sebuah balasan kembali diterima. Aku tidak bisa tenang. Kau tidak mengerti apa saja yang aku lihat dari kedua mata Rembulan, Regulus. Kau tidak mengerti ketakutan yang dialami Rembulan karena mimpinya.  Regulus kembali mendengus.  "Kau okay?" tanya Sirius yang duduk di samping Regulus. Ah, keluarga Cavanagh juga ikut dalam liburan Laboratorium tempat Cendana bekerja. Mereka sedang perjalanan menuju luar kota.  Regulus menoleh pada kakaknya.  "Ya.. Ya I'm okay. It's just.. Nara. Kau tahu kan? Temanku itu suka membuatku kesal," jawabnya berbohong.  Sirus tersenyum melihat Regulus.  "Hati-hati. Jangan terlalu kesal, nanti kau bisa jatuh cinta," tutur Sirius.  Regulus membulatkan kedua matanya.  "There's no way I can fall in love with her." Regulus kembali mendengus. Kembali fokus pada ponselnya.  Kalau begitu, bantu aku mengerti tentang ketakutan dan mimpi Rembulan. Dia bertingkah sungguh aneh belakangan ini. And I'm so freaking out because of that. Send.  Regulus bergerak gelisah. Meihat kontak Segara. Segara is typing.  Kenapa lama sekali.  Ayolah...  I can't.  "What the hell?" gumam Regulus kesal.  Apa-apaan. Dia typing lama dan hanya menjawab I can't?  Because it's not just a dream. Itu seperti lebih dari mimpi. Seperti sebuah takdir yang disampaikan lewat mimpinya. Dan itu sungguh buruk Regulus.  Boleh aku minta satu hal?  Fuck. Regulus mengumpat dalam hati.  Apa?  Segara is typing..  *** "A healer? Kau bercanda? Bagaimana bisa aku menjadi healer?" tanya Rembulan tidak percaya.  "Well, aku juga tidak percaya, Rembulan. And to be honest, aku sungguh iri padamu," kata Nala. "Aku harus mengambil jurusan kedokteran agar bisa menjadi healer. Aku harus menghabiskan waktu lebih untuk mempelajari beberapa hal agar aku bisa membantu k*****t ini sembuh dari pukulan-pukulan destroyer," lanjut Nala. Melirik sinis pada Segara.  Segara bukannya tidak melihat. Dia hanya sudah lelah berdebat dengan Nala.  Segara tahu, seberapapun dia berdebat dengan Nala, dia tidak bisa menang. Jadi dia mengalah saja. Lagi pula memang dulu dia seorang k*****t, hingga dirinya jatuh pada birunya mata Nala.  "Sudahlah kak Nala. Kan memang tadi kak Segara tidak mencium perempuan tadi," tutur Nara. Menenangkan kakaknya.  "Aku juga tidak yakin," kata Biru. "Tapi terakhir kali kita berlatih, aku ingat betul belati Regulus mengenai lengan Nara. Tapi dengan cepat luka itu menghilang. Nara bahkan sampai tidak menyadarinya," lanjutnya.  "Barikade yang kalian buat, adalah yang menyembuhkan. Jadi aku simpulkan, barikade Rembulan Biru tidak hanya melindungi, tapi juga menyembuhkan. Ini hal mistis. Jangan coba-coba untuk berpikir rasional," imbuh Segara.  Rembulan hanya melongo mendengarnya. Tidak ada yang bisa melukainya? Dan sekarang dia bisa menyembuhkan?  Keajaiban macam apa ini?  Tidak. Ini pasti kesalahan.  "Ini pasti kesalahan," kata Rembulan.  "Akan kita bahas nanti, sekarang kita harus membahas rencana," sela Segara. "Perubahan rencana." Segara lantas menjelaskan tentang sesuatu yang dijelaskan Elen padanya tadi.  Bahwa pengikut Boss akan menculik Biru dan membawa Biru di hutan Clayton untuk dihancurkan. Sebagai keturunan terakhir makhluk supernatural.  Ya Biru dan Regulus. Akan dihancurkan di tempat Wildest Beast dihancurkan.  Jadi, Segara mengubah rencananya untuk membawa team better ke hutan Clayton.  Yang mana kebetulan sekali, keluarga Regulus dan Rembulan juga akan berlibur di daerah situ.  "Strategi kita masih sama. Kita menyembunyikan Biru pada awal perang. Hingga tersisa sedikit pengikut Boss. Baru setelah itu Regulus menggantikan membuat barikade. Dan Biru menghabisi Boss," titah Segara.  "Usahakan kau jangan sampai terluka ya, Regulus?" kata Nala lembut. "Kau juga Nara." "Siap Kak," jawab Nara dan Regulus bersamaan.  "Okey.. Aku dan Nala akan tangani sisanya." *** *** Boleh aku minta satu hal?  Fuck. Regulus mengumpat dalam hati.  Apa?  Segara is typing..  Rahasiakan pada semuanya jika pagi ini kita menyelinap di rumah Rembulan.  Dan soal mimpi, aku tidak bisa menceritakan semuanya.  Tapi satu hal, dalam mimpi Rembulan, dia mendapati dirinya dalam 3 pilihan, dirinya hidup tapi kita mati, atau aku mati dan kalian hidup, dan dirinya mati, kita semua hidup.  Dia memilih yang ketiga.  Regulus hanya bisa membuka mulutnya lebar.  Pantas saja beberapa hari yang lalu Rembulan mengatakan untuk dirinya menjaga kedua orang tua Rembulan jika dirinya tidak berhasil.  "Kau benar baik-baik saja?" suara Sirius kembali menyadarkan Regulus.  "I'm fine," jawab Regulus mantap.  "Kita akan segera sampai," kata Sirius.  Dan entah kenapa malah membuat Regulus ingin segera besok.  Pada pertempuran itu. ** ** Tepat saat matahari di atas kepala, Rembulan dan yang lain sampai di penginapan dekat hutan Clayton.  Regulus dan keluarganya mendapat penginapan bersebelahan dengan keluarga Rembulan. Sedangkan Segara, Nara, dan Nala memilih untuk berkemah saja di hutan.  Sekalian mengamati hutan.  "Kau sudah siap untuk besok?" Regulus bertanya dengan berbisik, saat makan siang bersama seluruh team laboratorium.  Rembulan menoleh.  "Untuk mati? Sungguh aku tidak siap," bisik Rembulan.  "Kau tidak akan mati, Rembulan. Astaga. Kami tidak akan membiarkanmu mati. Aku tidak akan membiarkan dirimu mati." Aktivitas berbisik Rembulan dan Regulus mengundang perhatian Profesor Cavanagh, dan dengan seenaknya profesor Cavanagh berkata, "Ehm.. Sepertinya Regulus sangat menikmati makan siang bersama putrimu, Cendana." Cendana mau tak mau menoleh pada Rembulan dan Regulus yang duduk bersebelahan. Keduanya saling menatap saat ayah Regulus bersuara.  "Ya, mereka terlihat cocok sekali bukan," timpal istri profesor Cavanagh. Mengulas senyum pada Rembulan. "Ohh.. Rembulan sungguh cantik." Rembulan membalas senyuman itu. Menatap mata-mata di sekitarnya.  "Ya, Rembulan dan Regulus sangat akrab. Mereka satu kelas," kata Maretha.  "Kita jodohkan saja mereka, bagaimana Cendana?" tanya profesor Cavanagh.  Cendana terlihat berpikir. Sedangkan dua remaja muda itu membelalak. Terlebih setelah mendengar jawaban Cendana.  "Aku setuju. Kita jodohkan saja mereka." "AYAH!!" pekik Rembulan dan Regulus bersamaan.  Namun manusia-manusia di depan mereka malah terkekeh.  Berbeda dengan sepasang mata yang berdiri tak jauh dari mereka.  Dan mendengar pembicaraan mereka.  Nara. Meski dia tidak begitu suka dengan Regulus, namun ada sudut di hatinya yang tidak terima dengan perjodohan Regulus dan Rembulan.  Tapi.. Dia juga tidak bisa memungkiri jika Regulus dan Rembulan memang serasi.  Fokus Nara. Fokus. Kau tidak kesini untuk itu. Kau kesini untuk hal lain.  Fokus Nara.  ** ** "Ayah, boleh nanti malam aku dan Regulus jalan-jalan? Ayah dan Ibu kan nanti ada penelitian," kata Rembulan meminta ijin.  Saat ini dirinya dan ayah ibunya sedang berada di sebuah taman indah di pinggir hutan Clayton.  "Tentu saja boleh, jangan pulang terlalu malam." Cendana menasehati.  "Terima kasih ayah. Aku akan menemui ibu," kata Rembulan menunjuk ibunya yang sedang asyik mengambil gambar bunga-bunga di taman.  ** ** Dan malam pun tiba. Regulus sudah bersiap menunggu Rembulan di depan penginapan keluarga Rembulan.  Tak begitu lama, Rembulan keluar bersama Maretha. Rembulan kembali memeluk ibunya cukup lama.  "Sayang sekali ayah dan ibu tidak bisa ikut karena ibu harus ikut ayahmu membiarkan urusan lab," kata Maretha terdengar menyesal.  "Tak apa ibu. Kami tidak akan lama," balas Rembulan. "Ibu hati-hati ya." "Kau juga hati-hati," tutur Maretha. "Tolong jaga Rembulan, ya Regulus?" "Pasti Mrs. Maretha." Regulus mengulas senyum seraya mengacungkan ibu jarinya ke atas.  Maretha membalas senyuman Regulus. Melambaikan tangan sejenak sebelum kembali masuk ke penginapan.  "Kau harus siap," kata Regulus mantap.  Rembulan hanya mengangguk kecil.  *** *** ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN